The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Sukoharjo Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukoharjo Heritage. Tampilkan semua postingan

Pabrik Gula Kartasura

Kartasura atau yang biasa disebut “Kartosuro” oleh warga setempat, merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Sukoharjo, letaknya di sebelah barat Kota Surakarta (Solo). Letaknya sangat strategis di mana pertigaan di jalan arteri yang ada di Kartasura merupakan penghubung tiga kota besar antara Surakarta-Yogyakarta-Semarang, sehingga sehari semalam tidak pernah sepi dari aktivitas warga masyarakat. Sebagai sebuah kota kecamatan, perkembangannya lebih pesat ketimbang ibu kota kabupatennya yang berada di Sukoharjo.
Posisi Kartasura pada perbatasan wilayah Kabupaten/Kota menjadikan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh perkembangan Kabupaten/Kota sekitar. Kedekatan lokasi dan historis antara Kartasura dengan Surakarta menyebabkan karakteristik perkembangan Kartasura memiliki tipologi yang hampir sama dengan Kota Surakarta, sebagai kota perdagangan yang berakar pada kultur budaya Jawa.
Salah satu bukti akan ‘kejayaan’ Kartasura yang masih bisa kita saksikan adalah situs Pabrik Gula (PG) Kartasura, atau dalam literatur Belanda kerap disebut dengan Suikerfabriek Kartasoera bij Poerwosari in de Vorstenlanden (Pabrik Gula Kartasura dekat Purwosari di Vorstenlanden). Vorstenlanden merupakan satu istilah yang dipakai pada sejarah Jawa untuk menyebut daerah-daerah yang berada di bawah otoritas monarki asli Jawa pecahan Dinasti Mataram Islam: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman). Sehingga, pengertian Vorstenlanden yang berkenaan dengan PG Kartasura adalah Kota Surakarta (Solo), karena wilayah Kartasura memang berbatasan dengan Solo.

Bekas PG Kartasura

Situs PG Kartasura terletak di Jalan Permata Raya Dukuh Tegalmulya RT 02 RW 08 Desa Pabelan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi situs ini berada di sebelah utara perempatan lampu merah Gembongan ± 300 m, atau berseberangan jalan dengan Menara One Apartment. Lokasi ini juga tak jauh dari situs PG Colomadu yang sekarang menjadi Destinasi Wisata De Tjolomadoe. Jaraknya sekitar 3,5 kilometer. Kedua bekas pabrik gula ini dalam posisi saling membelakangi. PG Kartasura menghadap ke selatan, dan PG Colomadu menghadap ke utara.
Sejauh penelusuran literatur, penulis tidak menemukan dengan pasti kapan PG Kartasura itu didirikan. Hal ini mungkin disebabkan karena sepanjang perjalanan pabrik gula tersebut, mulai dari berdiri, mencapai puncak kejayaan hingga meredup kerap berpindah tangan atau gonta-ganti pemiliknya.
Diperkirakan berdiri pada masa penerapan cultuurstelsel (sistem tanam paksa) dari tahun 1830 hingga 1870. Meskipun di daerah Vorstelanden tidak diberlakukan cultuurstelsel, namun para penyewa tanah (landhuurder) menyukainya. Selain tanahnya subur, juga adanya jaminan keamanan akan tanah yang yang disewa tersebut mengingat tanah tersebut umumnya milik kraton.
Dalam Koloniaal Verslag 1869 Bijlagen Vel. 67 (hal. 350) disebutkan bahwa pada tahun 1868 ada dua alat pabrik diperkenalkan di PG Kartasura, dan akan diujicoba pada pada tahun 1869. Namun akhirnya kedua alat tersebut tidak jadi digunakan. Tetapi secara umum telah menunjukkan adanya kegiatan yang memuaskan di PG Kartasura tersebut pada tahun 1867 dan 1868.

Bekas PG Kartasura

Pemilik awal PG Kartasura ini tidak diketahui dengan pasti. Kepemilikan baru diketahui setelah PG Kartasura ini dioperasionalkan oleh Naamloze Vennotschap (NV) Kartasoera Cultuur Maatschappij. Semula Kartasoera Cultuur Maatschappij merupakan bagian dari Samarangsche Cultuur Maatschappij. Kemudian dalam perjalanannya, Samarangsche Cultuur Maatschappij dalam likuidasi (1885-1892). Likuidasi berkaitan erat dengan masalah finansial. Perusahaan yang dilikuidasi umumnya memiliki likuiditas yang rendah. Artinya, perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Sebab itu, perusahaan yang dinyatakan likuidasi cenderung memiliki total kewajiban atau utang yang lebih besar dibandingkan dengan total asetnya. Selain itu, perusahaan yang dilikuidasi juga cenderung tidak mampu menghasilkan aliran kas yang cukup.
Situasi ini mengakibatkan Kartasoera Cultuur Maatschappij diambil alih oleh kreditornya. Lalu oleh kreditornya, Kartasoera Cultuur Maatschappij dikelolanya. Nama perusahaan tetap dipertahankan, tetapi terjadi perubahan anggaran dasar perusahaan. Dalam sertifikat Kartasoera Cultuur Maatschappij diterangkan, bahwa Kartasoera Cultuur Maatschappij didirikan berdasarkan Undang-Undang 3 November 1887 dihadapan Notaris J.C.G. Pollonea di Amsterdam, dan disetujui berdasarkan Koninklijk Besluit 3 Desember 1887 No. 26.
Anggaran dasarnya diubah pada 4 Mei 1892 dihadapan Notaris J.C.G Pollonea di Amsterdam melalui tindakan tertanggal 17 November 1892 No. 56 dan 8 Februari 1893 No. 32 dihadapan Notaris B.V. Houthuysen di Semarang. Tindakan ini disetujui berdasarkan Gouverment Besluit tertanggal 8 Maret 1893 No. 6. Kemudian diubah lagi berdasarkan Gouverment Besluit tertanggal 3 Oktober 1910 No. 13 di depan Notaris J.H.A. van Barneveld.
Dari situ diketahui bahwa Kartasoera Cultuur Maatschappij tidak lagi berpusat di Negeri Belanda tapi pindah ke Semarang, dan semenjak itu perusahaan perkebunan mulai menunjukkan geliat PG Kartasura yang dikelolanya. Pada tahun 1899 bangunan pabrik mengalami perbaikan dari sebelumnya. Perbaikan itu disematkan dalam cerobong asapnya dalam tulisan “Kartasoera 1899”. Dari sinilah kemudian banyak orang mengira kalau PG Kartasura ini dibangun pada tahun tersebut.

Bekas PG Kartasura

Pada tahun 1915 Kartasoera Cultuur Maatschappij diakusisi oleh Internationale Crediet- en Handelsvereeniging “Rotterdam” (Internasio), sebuah perusahaan besar milik Belanda dalam bidang ekspor-impor. Dalam kepemilikan yang baru ini, PG Kartasura mengalami perkembangan pesat dalam hal produksi dan penjualannya. Sebagai wujud keberhasilannya, Internasio mengganti bangunan lawas pabrik gula dengan bangunan yang lebih modern di zamannya pada tahun 1920. Langgam Art Deco mewarnai bangunan PG Kartasura sejak saat itu, dan sampai sekarang kemegahan bangunan tersebut masih kelihatan pesonanya.
Pada waktu depresi ekonomi melanda dunia pada tahun 1929, hampir semua negara mengalami kehancuran ekonomi. Suatu zaman yang dikenal dengan malaise ini memporakporandakan kehidupan ekonomi negara, tak terkecuali Hindia Belanda. Hindia Belanda yang baru saja mengalami eforia ekonomi berkat perkebunan dan produksi olahannya harus menghadapi kenyataan pahit. Banyak pabrik gula yang gulung tikar pada waktu itu.
PG Kartasura sedikit masih bisa beroperasi pada waktu itu meski mengalami penurunan volume penjualannya, dan sempat bertahan sampai tahun 1935. Itupun Internasio sejak tahun 1933 sudah tidak membagikan dividennya kepada para pemegang saham.
Setelah Indonesia merdeka, PG Kartasoera dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia, dan pengelolaan maupun asetnya diserahkan ke PTPN (PT Perkebunan Nusantara). Kompleks pabrik itu kemudian dipecah menjadi dua kepemilikan. Sebagian milik PTPN dan sebagian menjadi milik ABRI.
Pada tahun 1968 lahan milik PTPN dijual kepada PT Karep Bojonoegoro. Kemudian pada tahun 1985, bangunan PG Kartasura dijual lagi kepada PT Pandusata Utama. Setelah itu itu bangunan pabrik gula ini beberapa kali pindah tangan. Terakhir dimiliki oleh PT Sinar Grafindo.
Semasa berhenti beroperasi sebagai pabrik gula dan berubah menjadi gudang dari pemiliknya, bangunan PG Kartasura sempat terlihat menyeramkan. Namun sejak 9 Juni 2018, lahirlah destinasi wisata The Heritage Palace yang merupakan hasil revitalisasi dan pengembangan bekas PG Kartasura.
Destinasi wisata The Heritage Palace tak kalah menariknya dengan De Tjolomadoe yang terlebih dahulu direvitalisasi. Di dalam The Heritage Palace, pengunjung bisa menyaksikan Museum Angkutan yang berisi beberapa mobil antik berbagai merek, beberapa bangunan bersejarah, Museum 3 D, dan juga Omah Walik. Banyak spot menarik yang instagramable bagi pengunjung. *** [200715]

Kepustakaan:
https://repository.overheid.nl/frbr/sgd/18691870/0000420199/1/pdf/SGD_18691870_0000398.pdf
http://rri.co.id/surakarta/post/berita/683681/daerah/the_heritage_palace_wahana_wisata_baru_di_kabupaten_sukohaejo.html
https://www.colonialbusinessindonesia.nl/en/database-en/catalog/item/kartasoera-cultuur
http://www.gahetna.nl/archievenoverzicht/pdf/NL-HaNA_2.20.01.ead.pdf
http://www.stockold.com/site2009/sos-dind-0140.JPG

Share:

Stasiun Kereta Api Pasarnguter

Stasiun Kereta Api Pasarnguter (PNT) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Pasarnguter, merupakan salah satu stasiun kereta api kecil atau stasiun kelas III yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta, yang berada pada ketinggian + 105 m di atas permukaan laut. Stasiun Pasarnguter terletak di Jalan Raya Nguter, Dukuh Nguter, Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah tenggara Toko Pakaian Hanyboth atau sebelah utara/belakang Pasar Jamu Nguter ± 400 meter.
Stasiun Pasarnguter ini dibangun oleh perusahaan kereta api milik swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada tahun 1922 setelah jalur kereta api Solo-Wonogiri diselesaikan. Stasiun ini merupakan pintu masuk ke Kabupaten Sukoharjo dari arah Stasiun Wonogiri menuju Stasiun Sukoharjo dan akan berakhir di Stasiun Purwosari Solo.


Pembangunan stasiun ini berhubungan dengan adanya pembangunan jalur kereta api Solo Kota-Wonogiri-Baturetno sepanjang 80 kilometer, yang dimulai pada tahun 1922 dan selesai pada tahun 1923 oleh NISM. Jalur kereta api ini memiliki garis normal rel (normaalspoorlijnen) 1067 mm. Pembangunan jalur ini, oleh pemerintah Hindia Belanda, awalnya ditujukan untuk mengangkut hasil bumi atau perkebunan yang berasal dari daerah Wonogiri dan Sukoharjo menuju Solo yang kemudian akan dikirim berikutnya baik ke Surabaya, Semarang dan Batavia.


Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah selatan (menuju Wonogiri) dan utara (menuju Solo), serta mempunyai peron berjumlah tiga. Dua peron sisi dan satu peron pulau yang sama-sama cukup tinggi.
Saat ini Stasiun Pasarnguter hanya disinggahi oleh railbus Bathara Kresna sebanyak empat kali dengan jadwal dua kali keberangkatan pulang pergi dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Wonogiri dan sebaliknya. Selain, untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, Stasiun Pasarnguter ini sesungguhnya memiliki masa depan yang cerah bagi kepariwisataan di daerah Nguter. Lokasinya yang dekat dengan Pasar Jamu Nguter, seharusnya ditangkap peluang untuk menciptakan wisata jamu. Penumpang kereta api yang bercorak wisata, bisa berhenti di Stasiun Pasarnguter, kemudian dipandu ke Pasar Jamu Nguter. Namun Pasar Jamu Nguter juga harus siap menampilkan jamu-jamu yang siap diminum dengan kedainya masing-masing dengan mengadopsi model jamu gendong, seperti gula asem, beras kencur, dong kates, dan sebagainya. Multiplier effect akan terjadi di daerah ini. *** [030417]
Share:

Stasiun Kereta Api Sukoharjo

Stasiun Kereta Api Sukoharjo (SKH) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sukoharjo, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 98 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api kelas 3 atau kecil.


Stasiun ini terletak di Jalan Bima, Dusun Larangan RT.03 RW.02 Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur SDN Gayam 5 Sukoharjo, dan tidak begitu jauh dengan Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo.
Bangunan Stasiun Sukoharjo ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solokota-Wonogiri-Baturetno yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, dari tahun 1922 dan selesai pada tahun 1923, sepanjang 51 kilometer.


Stasiun ini hanya memiliki 2 jalur saja. Jalur 1 dan jalur 2 terhubung dalam persilangan di sebelah selatan maupun utara stasiun. Karena untuk jalur ini masih single track. Jalur yang ke utara menuju ke Stasiun Solo Kota, dan jalur yang ke selatan menuju ke Stasiun Pasar Nguter.
Stasiun ini tergolong sepi karena hanya dilewati oleh railbus Bathara Kresna saja, dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Wonogiri dan sebaliknya. *** [110716]
Share:

Pesanggarahan Langenharjo

Pesanggrahan Langenharjo terletak di Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, ± 6 Km dari Solo kea rah selatan, dan sebelum jembatan Bacem menuju ke arah barat ± 1,5 Km lagi kita akan sampai di tempat tersebut.
Bangunan yang sudah kelihatan kurang terawat itu, masih meninggalkan kesan penuh keagungan dan keanggunan.
Lingkungan yang nyaman dengan pepohonan yang besar dan rindang serta kondisi lingkungan yang diwarnai dengan Sungai Bengawan Solo yang terkenal itu pantaslah apabila tempat itu dahulu merupakan tempat peristirahatan raja beserta permaisuri dan keluarganya, sebagai tempat untuk berekreasi dan menghibur diri.
Apabila kita menyimak sejarah tahun dibangunnya Pesanggrahan Langenharjo itu oleh Paku Buwono IX (PB IX) pada tahun 1870, bangunan ini sudah dapat dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sehingga perlu memperoleh perhatian untuk pelestariannya.

Awal Mula Pembangunan Pesanggrahan Langenharjo
Pesanggrahan berarti tempat untuk beristirahat dan bersenang-senang bagi raja beserta keluarganya. Pesanggrahan seperti ini banyak dibangun raja-raja umumnya di Indonesia, khususnya raja-raja di Jawa.
Pemilihan tempat selalu dilakukan dengan seksama dan penuh perhitungan. Udara yang nyaman, lingkungan yang mendukung, bahkan tidak jarang masih disertai pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan spiritual, dijadikan persyaratan baku apakah tempat itu layak untuk pesanggrahan seorang raja.
Raja-raja Surakarta semenjak PB IX senang membangun pesanggrahan. Di Boyolali, ada Pesanggrahan Paras, di Klaten ada Pesanggrahan Tegalgondo, di Karangpandan, di Parangjoro, Sukoharjo, kita dapati pesanggrahan tinggal puing-puingnya saja. Hanya Langenharjo yang hingga kini masih kelihatan tapak-tapak bangunannya yang masih utuh.
Pesanggrahan seperti layaknya Langenharjo pada umumnya dibangun di luar Kraton, dan berfungsi sebagai tempat untuk rekreasi raja beserta keluarganya, juga untuk bersemedi (meditasi), agar dapat mengadakan kontak spiritual dengan para leluhurnya.
Di pesanggrahan ini pulalah kadang-kadang seorang raja mengambil keputusan yang bersifat kebijaksanaan dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Mungkin dari pesanggrahan ini Sang Raja mendapat wisik ataupun ilham yang di dapat dari Sang Pencipta, sehingga keputusan-keputusan yang diambil oleh raja dapat tepat serta bermanfaat.
PB IX, putra dari PB VI telah membangun Pesanggrahan Langenharjo di samping terdorong oleh kebutuhan lahiriah, PB IX juga suka sekali meninjau keadaan rakyatnya, dan juga tidak pernah meninggalkan kesenangan beliau untuk prihatin (tirakat) dengan laku kungkum. Kungkum itu merendam diri di sungai/di kedung (bagian yang paling dalam dari sebuah sungai).
Pada suatu ketika PB IX tengah melakukan meditasi sambil kungkum di Kedung Ngelawu, sebelah selatan Pesanggrahan Langenharjo (± 3 Km), telah mendapat wisik dari Tuhan untuk membangun sebuah pesanggrahan.
Di balik itu semua sebenarnya tekad PB IX untuk membangun pesanggrahan itu diilhami dari cerita yang didapatnya tentang ilham yang pernah diperoleh ayahandanya yaitu Gusti Sapardan yang kemudian naik tahta bergelar PB VI.
Diceritakan setiap putra mahkota yang dicalonkan menduduki tahta kerajaan, pasti suka tirakat di tempat-tempat yang keramat, dan sepi dari keramaian.
Demikian diceritakan waktu itu Gusti Supardan sedang “nepi” untuk mencari wahyu di lereng Gunung Merapi. Alhasil dari usahanya itu mendapat wisik dari Yang Maha Pencipta bahwa kelak akan menjadi raja, tetapi tidak berlangsung lama. Setelah menerima “wisik” tersebut, Sang Gusti belum dapat menafsirkan secara sempurna atas wisik tersebut dan masih penuh tanda tanya. Mengapa justru menjadi raja tidak bertahta lama? Kemudian Sang Gusti pada suatu ketika “nepi” lagi di perbukitan Selo, dan dari situ mendapat wisik dari Kyai Selo, yang memberikan petunjuk bahwa Sang Gusti bisa menjadi raja dalam waktu yang lama asal mau membangun pesanggrahan. Kemudian PB VI dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya PB V pada tahun 1823.
Beberapa tahun kemudian PB VI diasingkan oleh Belanda ke Ambon. PB VI yang dikenal Sinuwun Bangun Topo, karena memang suka prihatin, dan dikenal sebagai raja yang anti Belanda itu kemudian wafat dan dimakamkan di Ambon.
Kepahlawanan PB VI yang gigih melawan Penjajah Belanda, akhirnya beliau diangkat oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.
Cerita tentang wangsit ayahandanya itu selalu terngiang di telinga PB IX yang bercita-cita hendak membangun pesanggrahan kelak apabila sudah menjadi raja. PB IX tak pernah mengalami belaian kasih sayang seorang ayah, karena sejak masih di dalam kandungan sudah ditinggal ayahnya, maka kemudian terkenal dengan raja yang suka tirakat (gentur topo: Jawa) dan sampai beliau dinobatkan menjadi raja masih senang melakukan tirakat dan terutama dengan menggunakan sarana air, seperti kungkum, tidur di atas bibir sumur hanya dengan selembar papan, dan dengan cara-cara lain.
Kegemaran Sinuwun untuk tirakat itu diikuti jejaknya oleh putranya yaitu PB X yang semenjak umur 3 tahun, PB X telah dinobatkan menjadi putra mahkota yang kelak dipersiapkan akan mengganti menduduki tahta kerajaan ayahandanya. “Tunjangan” Putra Mahkota yang cukup besar itu terus ditabungnya, oleh karena itu tak heran apabila PB X akhirnya terkenal sebagai Raja Surakarta yang kaya, sehingga banyak bangunan-bangunan seperti gapura-gapura, pesanggrahan, dan lain-lain yang dibangun paa zamannya dan selalu diberi tanda tulisan PB X, seperti Gapura Keraton dan Pagelaran, Gapura Batas Kota Solo dari arah timur, barat dan selatan.
Pembangunan Pesanggrahan Langenharjo oleh PB IX dipersiapkan layaknya membangun keraton kecil, karena bangunan pesanggrahan itu sendiri ternyata penuh dengan gaya arsitektur Jawa yang mengandung nilai-nilai filosofis. Seperti layaknya bangunan keraton zaman dahulu pasti dikelilingi oleh “jagan” atau selokan yang memungkinkan orang tidak bisa langsung masuk ke istana dengan jalan darat. Dengan cara seperti ini, upaya deteksi dini terhadap kemungkinan datangnya musuh sudah dapat ditanggulangi.



Bangunan Yang Ada di Pesanggrahan Langenharjo
Pesanggrahan Langenharjo ternyata memiliki nilai-nilai filososfis, baik dalam tata ruang, tata bangunannya maupun tata lingkungan yang kesemuanya telah berhasil diciptakan oleh PB IX dan tang kemudian dikembangkan oleh PB X.
Apabila kita amati tata ruangnya, diawali dari arah timur (arah terbitnya matahari) yang dianggap sebagai lambang dari sumber segala kegiatan manusia. Ujud bangunan di bagian timur ini berupa kuncungan (kanopi) menghadap ke timur (arah matahari), kemudian pada bangunan tengah untuk kegiatan semi sakral, dan untuk kegiatan yang bersifat sakral disediakan bangunan-bangunan yang memiliki unsur-unsur magis di bagian barat.
Bagian atas dari pesanggrahan ini berupa atap berbentuk hampir mempunyai kesamaan dengan bangunan Keraton Surakarta.
Demikian diceritakan selanjutnya PB IX yang suka meninjau/mengunjungi daerah, sampailah ke bagian Bengawan Solo di Desa Ngelawu di pinggir bengawan itulah di Kedung Ngelawu, PB IX mendapat wisik untuk segera membangun pesanggrahan yang bagus, dan diperintahkanlah untuk membuka hutan Klajeran yang akhirnya tempat itu diberi nama Langenharjo hingga sekarang.
Bagian-bagian penting dari Pesanggrahan Langenharjo yang mengandung falsafah itu dapat diceritakan di sini, sebagai berikut:
a.       Plataran/halaman luar yang begitu luas ini berada di depan pintu gerbang yang merupakan lambang awal perjalanan bagi siapa saja yang ingin menghadap raja. Pada plataran ini dihiasi dengan pohon beringin berjajar dua yang dikenal seperti halnya di alun-alun utara Keraton Surakarta “Ringin kurung sakembaran”. Pohon beringin yang dilingkari dengan bangunan semacam bingkai.
Pohon beringin yang ditanam di situ selain melambangkan pengayoman bagi raja terhadap rakyatnya, juga menandakan bahwa tempat tersebut tempat yang “ayem”, karena bersifat dingin, dan sifat dingin ditandai bahwa di sekitar pohon beringin itu pasti terdapat sumber air yang cukup. Bagi kita orang hidup itu kalau sudah dekat dengan air tak mungkin mati, karena dengan air kita bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup ini.
Dari sisi ini kita sebenarnya sudah dapat memetik ajaran nenek moyang kita yang menjurus kepada upaya pelestarian lingkungan hidup.
Gemarlah menanam pohon-pohon besar seperti beringin yang mempunyai daya serap 12 kali lipat terhadap air dalam tanah jika dibanding dengan pohon-pohon lain.
Nenek moyang kita yang bijaksana sebenarnya sudah mampu memberikan pelajaran-pelajaran dengan memberikan contoh-contoh yang mudah ditiru.
Dari bentuk plataran yang luas dan pepohonan yang hijau dan sejuk itu dikandung maksud hendaknya siapa saja yang hendak bertemu dengan rajanya dengan maksud yang baik, harus berpandangan yang luas tak pernah rasa was-was dan disertai rasa senang dan tenang. Sehingga terwujudlah rasa manunggal antara rakyat dan rajanya (manunggaling kawula lan Gusti).
b.      Plataran dalam yang melambangkan sebagai tempat kegiatan menemui tamu secara informal yang sifatnya terbuka. Ini semua melambangkan adanya sifat keterbukaan antara rakyat dan rajanya.
Rakyat akan dengan segala suka cita menghadap kepada rajanya. Sebelum pendopo dibangun kanopi (kuncungan).
c.       Pendopo Depan (Probosono) yang ada di bagian depan dengan segala komponennya adalah tempat untuk menerima  tamu-tamu terhormat lebih dari derajat masyarakat biasa, dan di tempat ini acara-acara resmi dilakukan, dan sebagai akhir perjalanan yang diawali dari plataran depan (pintu masuk), merupakan lambang dari kemuliaan dan keluhuran jiwa.
d.      Kamar tamu yang dibangun di bagian utara Pendopo Depan Probosono ini menunjukkan keterbukaan dan ketulusan jiwa dalam menerima tamu-tamu negara.
e.      Dapur Pitono yang dibangun di bagian selatan dari Pendopo Depan Probosono ini merupakan tempat yang melambangkan keagungan rakyat (abdi dalem) dalam mempersiapkan jamuan bagi para tamu.
Pada bagian ini dilengkapi dengan sumur dan ruangan-ruangan yang lain sebagai pendukung fungsi dapur itu sendiri.
f.        Bangsal Keprajuritan, dulunya terletak di bagian selatan/tenggara, namun bangunan itu sekarang sudah tidak ada lagi, di samping sudah lapuk di makan usia, juga karena akibat terkena proyek pelurusan Bengawan Solo.
g.       Dalem Ageng bagian dalam yang merupakan faktor tertinggi kegiatan-kegiatan yang bersifat kenegaraan yang merupakan inti acara kenegaraan.
Pada bagian atas dari Dalem Ageng ini juga terdapat ruang untuk semedi yang digunakan raja apabila ingin mengadakan kontak spiritual dengan Nyai Loro Kidul.
h.      Ruang Keputren. Ruang ini memang dikhususkan bagi putera-putera raja/kerabat keraton paling dekat, yang melambangkan kemuliaan pribadi.
i.         Dalem Pungkuran merupakan ruangan tertutup untuk menyelenggarakan pertemuan kenegaraan yang bersifat terbatas dari keluarga keraton, lambang dari keakraban tertutup, sekaligus juga lambang pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
j.        Sanggar Pamujan/Ruang Semedi ini dapat lebih leluasa digunakan bukan bagi pribadi raja, akan tetapi bagi putera-putera raja yang memerlukannya. Hingga kini ruang semedi tetap tertutup untuk umum, dan masih aktif digunakan oleh raja dan keluarganya, tidak untuk umum. Dari keunikan yang ada, Pesanggrahan Langenharjo nampaknya memungkinkan untuk rekreasi meditasi.
k.       Pemandian Air Hangat ini dibangun di bagian belakang dan disekat dengan pagar. Air hangat ini mengandung kadar belerang yang cukup tinggi dan hangat, sehingga airnya dianggap bertuah untuk menyembuhkan penyakit kulit.
Air yang diambil dengan sistem artesis perpipaan ini dari kedalaman 100 m, kemudian ditampung dalam bak penampung dan dialirkan ke bak-bak mandi dalam ruangan yang tertutup.
Bangunan kolam pemandian air hangat ini konon dibangun oleh PB X (1893-1939) dan merupakan salah satu komponen yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Lingkungan yang sejuk dan dihias dengan pepohonan besar dan plataran yang luas telah dimanfaatkan bagi wisatawan yang hendak mandi/habis mandi untuk duduk bersantai sambil menikmati sajian makanan khas seperti nasi pecel, nasi liwet dan makanan khas yang lain. Dahulu tempat ini mestinya dijadikan tempat rekreasi raja beserta keluarganya.
Pada tahun 1985 telah mendapat dana rehabilitasi dari Provinsi Jawa Tengah, untuk merehab kamar-kamar mandi dan ada salah satu ruangan yang tetap dipertahankan keasliannya yang terletak pada deretan utara. Air hangat yang mengandung belerang yang sangat berkhasiat itu memiliki kandungan mineral. ***

Kepustakaan:
  • RT. Soehadi Darmodipuro & Drs. Soeharto Hartoto, 1993, Pasanggrahan Langenharjo, Sukoharjo: Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tingkat II Sukoharjo




Share:

Bedhaya Sukoharjo

Tari Bedhaya Sukoharjo diciptakan Sri Susuhunan Paku Buwono IX, seorang Raja Kraton Surakarta yang menggemari seni dan tari.
Tari Bedhaya Sukoharjo melambangkan tarian dengan gaya gembira. Tarian ini mengandung filosofi bahwa setiap manusia yang hidup di dunia ini senantiasa dihadapkan pada persoalan-persoalan hidup yang tak akan ada habis-habisnya, oleh karena itu hendaknya harus selalu bersikap gembira, senang dan optimis dalam menghadapi kenyataan hidup ini.
Bedhaya Sukoharjo yang diiringi dengan gending Sukoharjo ini sering dipentaskan di Pesanggrahan Langenharjo untuk acara-acara resmi dan pentas bedhaya ini akan memakan waktu kurang lebih selama 55 menit. ***
Share:

Situs Kraton Kartasura Hadiningrat

Kota Kartasura menarik dibicarakan bukan saja karena sejarah yang telah dimainkannya selama kurun waktu ratusan tahun silam, namun juga eksistensinya yang memiliki peran penting bagi sejarah berdirinya dua Kerajaan Dinasti Mataram, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.


Sejarah Kartasura diawali munculnya pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1650 terhadap Sunan Amangkurat I di Keraton Plered yang menyebabkan Sunan melarikan diri daerah Imogiri dan meneruskan perjalanannya ke arah barat. Namun dalam perjalanan itu, Sunan Amangkurat I meninggal di Wanayasa (daerah Banyumas) pada 10 Juli 1677 dan dimakamkan di Tegalwangi, Kabupaten Tegal.


Sebelum meninggal, Sunan Amangkurat I mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai penggantinya dengan gelar Sunan Amangkurat II. Putra lain Sunan Amangkurat I yaitu Pangeran Puger melarikan diri ke arah Bagelen (Purworejo) dan mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga. Setelah kembali ke Plered, ia menobatkan dirinya menjadi Raja Mataram.


Dengan bantuan VOC, Sunan Amangkurat II berhasil melenyapkan pemberontakan Trunojoyo. Setelah Trunojoyo tewas, beliau tidak mau menempati keraton di Plered karena menurut kepercayaan Jawa, Kerajaan yang sudah diduduki musuh berarti telah ternoda. Sunan Amangkurat II kemudian memerintahkan kepada Senopati Urawan untuk membuat Keraton baru di kawasan Pajang. Perintah ini dituruti dan akhirnya Senopati Urawan dibantu Nerang Kusuma dan rakyat berhasil mendirikan Keraton di sebelah barat Pajang yakni Wanakerta. Amangkurat II beserta para pengikutnya lalu menempati Keraton Baru itu yang diberi nama Kraton Kartasura Hadiningrat. Secara ekologis, Wanakerta dipilih dengan pertimbangan wilayahnya datar, daerahnya subur dan terlindung oleh Gunung Merapi dan Laut Selatan.  Keraton di Wanakerta secara resmi mulai ditempati tahun 1680 oleh Sunan Amangkurat II.


Gejolak di Kerajaan Mataram ternyata tidak berhenti di situ saja. Tahun 1742 terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi di Kartasura dan berhasil menduduki Keraton Kartasura. Raden Mas Garendi adalah putra Pangeran Teposono, sedangkan Pangeran Teposono adalah putra Susuhunan Amangkurat II (Amangkurat Amral). Pemberontakan di Kartasura ini dikenal peristiwa Geger Pacinan atau bedahnya Keraton Kartasura awal jatuhnya Keraton Kartasura. Ketika para pemberontak menduduki Keraton Kartasura yang ketika itu diperintah oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II, Susuhunan Paku Buwono II berikut pengawal dan abdi dalem yang setia, mengungsi ke Ponorogo, Jawa Timur. Setelah Raden Mas Garendi berhasil menduduki Keraton Kartasura dikenal dengan nama atau sebutan Sunan Kuning atau Sunan Amangkurat III. Disebut Sunan Kuning, karena Mas Garendi memimpin orang-orang Cina yang berkulit “kuning” yang memberontak.


Susuhunan Paku Buwono II berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari kaum pemberontak, namun Keraton Kartasura sudah dalam keadaan rusak sehingga tidak pantas untuk dijadikan keratin lagi. Melihat keadaan Keraton Kartasura yang telah rusak ini, Susuhunan Paku Buwono II berkehendak memindahkan Keraton Kartasura ke tempat lain dan pilihan jatuh di Desa Sala (sekarang dikenal dengan Kota Solo), letaknya 14 kilometer sebelah timur Keraton Kartasura, walaupun ketika itu Desa Sala masih berwujud rawa-rawa, masih tergenang air.


Kini Keraton Kartasura (1680 – 1745) tinggal bekasnya saja, dengan pagar tembok/benteng dari batu bata setebal 2-3 meter dan tinggi kurang lebih 3 meter. Peninggalan (petilasan) yang membuktikan keberadaan Keraton Kartasura, antara lain: Alun-alun, Kolam Segaran (sekarang menjadi lapangan), Gedong obat (dahulu gudang mesiu), Tembok berlubang akibat Geger Pacinan, Sumur Madusaka yang digunakan untuk memandikan pusaka-pusaka kerajaan, makam B.R.Ay. Sedah Mirah, masjid yang dibangun Sunan Paku Buwono II.
Peninggalan  lainnya antara lain Genthong batu, Yoni, Lingga, Masjid Zaman Paku Buwono X serta tombak Kyai Jangkung dan Tombak Kyai Slamet. Sayangnya, kompleks Keraton Kartasura, khususnya di lingkungan benteng kedhaton sudah berubah menjadi tempat pemakaman kerabat Keraton Surakarta. Makam-makam yang terkenal karena dikeramatkan oleh masyarakat, diantaranya adalah Makam Mas Ngabehi Sukareja, Makam B.R.Ay Adipati Sedah Mirah (garwa ampil/ selir PB IX), Makam KPH Adinegoro, Makam Ki Nyoto Carito (dalang terkenal) dan masih banyak yang lainnya.
Pada hari-hari tertentu, Keraton Kartasura sangat banyak dikunjungi orang (berziarah). Tujuan utama para peziarah adalah makam B.R.Ay Adipati Sedah Mirah. Selir Pakubuwana IX ini semasa hidupnya dikenal cantik, pandai berdiplomasi dan memiliki pengasihan.
Peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai di situs Keraton Kartasura berupa reruntuhan bangunan dan nama-nama tempat (toponim). Luas kota Kartasura di masa lampau  diperkirakan mencakup seluruh wilayah Kecamatan Kartasura saat sekarang ditambah beberapa kawasan yang masuk wilayah Kabupaten Boyolali dan Karanganyar. Saat sekarang, Kartasura  menjadi kota kecamatan biasa. Melalui peninggalan sejarah  berupa reruntuhan bangunan, toponim serta beberapa tradisi budaya masyarakat, maka masih dapat ditelusuri mengenai struktur kota ataupun masyarakatnya yang bermukim.
Kartasura sebagai kota bersejarah di Indonesia memiliki warisan budaya yang kaya warna. Warisan budaya merupakan potensi yang luar biasa guna meningkatkan kesejahteraan hidup penduduknya. ***


Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami