The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label NIHR-GHRC NCDs & EC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NIHR-GHRC NCDs & EC. Tampilkan semua postingan

Masjid Jamae (Chulia): Jejak Muslim Tamil dan Keindahan Arsitektur Warisan di Jantung Chinatown Singapura

Architecture is the very mirror of life. You only have to cast your eyes on buildings to feel the presence of the past, the spirit of a place; they are the reflection of society.” -- I. M. Pei

Masjid Jamae (Chulia) Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Di tengah hiruk-pikuk Chinatown Singapura, di persimpangan South Bridge Road dan Mosque Street, berdiri sebuah bangunan yang seolah menyimpan lapisan-lapisan sejarah kota pelabuhan itu. 

Dalam rangkaian Free Singapore Tour dari Bandara Changi, pemandu wisata memperkenalkan bangunan tersebut sebagai Jamae (Chulia) Mosque atau Masjid Jamae (Chulia), salah satu masjid tertua di Singapura yang hingga kini tetap menjadi penanda penting warisan multikultural negeri itu.

Masjid Jamae (Chulia) terletak di 218 South Bridge Road, tepat di jantung Chinatown yang bersejarah. Keberadaannya berdampingan dengan Kuil Sri Mariamman menghadirkan gambaran nyata tentang Singapura awal abad ke-19, yakni sebuah kota pelabuhan kosmopolitan tempat komunitas-komunitas pendatang hidup berdampingan, membawa bahasa, keyakinan, dan tradisi masing-masing.

Masjid ini dibangun antara tahun 1830 hingga 1835 oleh para migran Muslim Tamil dari India Selatan yang dikenal sebagai komunitas Chulia. Namun sejarahnya dipercaya lebih tua dari bangunan yang terlihat hari ini. 

Konon, sejak 1827 komunitas Muslim Tamil yang dipimpin Anser Saib telah mendirikan tempat ibadah di lokasi tersebut, berdampingan dengan makam keramat Muhammad Salih Valinvah yang sudah ada sebelumnya.

Nama “Chulia” sendiri merujuk pada komunitas Muslim Tamil dari Pantai Coromandel di India Selatan. Dalam sejarah migrasi Asia Selatan, istilah ini diyakini berasal dari kata “Chola”, nama kerajaan maritim Tamil besar yang pernah mengendalikan jalur perdagangan Samudra Hindia. 

Pada puncaknya di bawah Rajaraja I dan Rajendra Chola I pada abad ke-11, Kerajaan Chola bahkan menaklukkan Sriwijaya pada tahun 1025 M. Melalui perdagangan dan navigasi inilah diaspora Muslim Tamil tiba di Singapura pada tahun 1820-an.

Di era kolonial, Stamford Raffles melalui Rencana Kota 1822 membagi kawasan permukiman berdasarkan identitas etnis dan agama. Sebuah kawasan bernama “Chuliah Campg” ditandai sebagai permukiman bagi sekitar seribu Muslim Tamil di dekat Sungai Singapura. 

Kini wilayah itu diyakini berada di sekitar Cross Street, tak jauh dari Chinatown modern. Penempatan mereka di kawasan pelabuhan bukan tanpa alasan: komunitas Chulia dikenal aktif dalam jasa pengangkutan barang dan perdagangan maritim.

Dari komunitas kecil itulah lahir Masjid Jamae (Chulia), yang juga dikenal sebagai “Periya Palli” atau “Masjid Besar” dalam bahasa Tamil. Sejak awal, masjid ini dibangun melalui sistem wakaf, yaitu tanah dan properti disumbangkan demi kepentingan umat. 

Pendanaan berasal dari hasil sewa properti wakaf yang dikelola wali amanat keluarga dan komunitas. Pada akhir abad ke-19, pengelolaan masjid berada di tangan sejumlah wali amanat seperti Mohamed Syed bersama pengelola Dargah Nagore dan Masjid Al-Abrar. 

Setelah muncul berbagai persoalan administrasi, pemerintah kolonial membentuk Dewan Wakaf Muslim dan Hindu pada 1906. Pengelolaan itu kemudian berada di bawah MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura) sejak 1968.

Meski beberapa rencana pembangunan ulang dan perluasan pernah diajukan - termasuk pada 1897, 1911, dan 1986 - wujud asli masjid tetap dipertahankan. Perbaikan besar dilakukan pada 1996, sementara status lahannya diperkuat melalui perpanjangan sewa selama 999 tahun pada 1981. Kini masjid berdiri di atas lahan seluas sekitar 4.809 meter persegi, tetap menjadi bagian penting dari lanskap heritage Singapura.

Keistimewaan utama Masjid Jamae terletak pada arsitekturnya yang eklektik. Gerbang depannya memperlihatkan pengaruh India Selatan yang kuat, yaitu sepasang menara bertingkat dengan kubah berbentuk bawang mengapit pintu masuk utama. Di antara kedua menara itu terdapat fasad dekoratif menyerupai istana miniatur empat tingkat, menghadirkan siluet yang khas di antara deretan bangunan Chinatown.

Namun begitu melangkah ke dalam, suasana berubah. Ruang salat tambahan memperlihatkan deretan kolom Tuscan bergaya Neo-Klasik, sementara ruang salat utama ditopang kolom-kolom Doric yang mengingatkan pada rancangan arsitektur kolonial karya George Drumgoole Coleman. 

Jendela-jendela besar dengan ubin glasir hijau Cina di bagian bawah memungkinkan sirkulasi udara alami, menciptakan kesejukan tropis di tengah kepadatan kota. Perpaduan unsur India Selatan, Eropa Neo-Klasik, dan sentuhan Tionghoa itu menjadikan Masjid Jamae (Chulia) sebagai cermin pertemuan budaya yang membentuk identitas Singapura.

Arsitektur masjid ini bukan sekadar estetika, melainkan rekaman sosial dari sebuah kota pelabuhan yang dibangun oleh para pendatang. Kutipan arsitek ternama Ieoh Ming Pei, FAIA, RIBA (lahir 26 April 1917), yang biasa dikenal sebagai I. M. Pei, adalah seorang arsitek Tionghoa-Amerika, terasa relevan ketika memandang bangunan ini: 

“Arsitektur adalah cermin kehidupan itu sendiri. Anda hanya perlu melihat bangunan untuk merasakan kehadiran masa lalu, semangat suatu tempat; bangunan adalah cerminan masyarakat.” 

Pada Masjid Jamae (Chulia), masa lalu itu hadir melalui perpaduan gaya bangunan, jejak perdagangan maritim, dan kisah diaspora Muslim Tamil yang menjadi bagian dari denyut awal Singapura.

Tak mengherankan bila sejak abad ke-19 bangunan ini kerap muncul dalam kartu pos dan foto-foto lama Singapura. Siluet gerbangnya yang ikonik telah lama menjadi landmark visual kota. Pada 19 November 1974, Masjid Jamae (Chulia) resmi ditetapkan sebagai monumen nasional Singapura. 

Ia diyakini sebagai masjid tertua di antara lima masjid nasional yang dilindungi negara: Masjid Jamae (Chulia), Masjid Al-Abrar, Masjid Sultan, Masjid Abdul Gafoor, dan Masjid Hajjah Fathimah.

Kini, fungsi Masjid Jamae (Chulia) tidak hanya sebagai tempat ibadah. Selain menyelenggarakan salat dan khutbah, masjid ini berkembang sebagai pusat pendidikan dan dialog lintas masyarakat. 

Seminar, diskusi sosial-keagamaan, hingga kegiatan untuk Muslim dan non-Muslim rutin digelar di sana untuk melanjutkan tradisi keterbukaan yang telah menjadi bagian dari sejarahnya sejak dua abad silam.

Di tengah modernitas Singapura yang terus bergerak cepat, Masjid Jamae (Chulia) tetap berdiri tenang. Menara berkubah bawangnya tidak hanya memanggil umat menuju ruang salat, tetapi juga mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota sering kali tersimpan paling indah di dalam bangunan-bangunan tuanya. *** [100526]


Kepustakaan:

Cornelius-Takahama, V., & Tan, J. (n.d.). Jamae Mosque. National Library Singaporo. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=53aebdc2-d0fb-423d-b12f-05b09ce40239

Masjid Jamae (Chulia) Singapore. (n.d.). History of this Mosque. Masjid Jamae (Chulia). Retrieved May 10, 2026, from http://www.masjidjamaechulia.sg/welcome/history

Mukhaer, A. A. (2023, October 08). Sejarah India: Kerajaan Chola yang Sempat Menguasai Sriwijaya - Semua halaman | National Geographic. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/133892737/sejarah-india-kerajaan-chola-yang-sempat-menguasai-sriwijaya?page=all

National Library Singapore. (n.d.). Chulias: Encyclopedia of Singapore Tamils. National Library Singapore. Retrieved May 10, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=8adca0bb-2918-4c19-8e91-d28199575b76



Share:

People’s Park Complex: Mutiara Urban di Antara Lorong Chinatown

Architecture is a visual art and the buildings speak for themselves” – Julia Morgan

Keluar dari Chinatown Heritage Centre, langkah kaki seolah belum ingin beranjak jauh dari riuh sejarah Chinatown atau Pecinan di Singapura. Pemandu Free Singapore Tour mengajak menyusuri lorong-lorong yang masih menyimpan denyut lama kota. Di persimpangan Trengganu Street dan Temple Street, pandangan tiba-tiba tertarik ke arah barat laut, sebuah gedung menjulang, tegas, dan tak terbantahkan kehadirannya.

Dari arah Rest Chinatown Hotel, bangunan itu tampak mendominasi cakrawala dengan warna merah yang mencolok. Pada fasadnya, tiga aksara Tionghoa (hanzi) berukuran besar - 珍珠房 - menjadi penanda yang tak mungkin terlewat. 

Dibaca Zhēnzhū fáng, istilah ini memuat makna puitis, yaitu zhēnzhū berarti mutiara, sementara fáng dapat dimaknai sebagai rumah atau ruang. Sebuah “rumah mutiara” - metafora yang terasa tepat bagi bangunan yang memantulkan begitu banyak fungsi dan kehidupan di dalamnya.

Namun, bagi kebanyakan orang, gedung ini lebih dikenal sebagai People’s Park Complex, atau Kompleks Taman Rakyat. Nama yang sederhana, tetapi menyimpan lapisan sejarah urban yang kompleks.

Menurut catatan National Library Singapore [1], kompleks ini rampung pada 1973, berdiri setinggi 102,7 meter di atas lahan sekitar satu hektar. Pada masanya, ia bukan sekadar bangunan tinggi melainkan sebuah eksperimen kota. Inilah pusat perbelanjaan terbesar di Singapura kala itu, sekaligus pelopor konsep atrium terbuka pertama yang disebut sebagai “ruang kota” di dalam bangunan.

Gedung People's Park Complex yang ikonik di Chinatown dilihat dari pertemuan antara Trengganu Street dan Tempel Street, atau dari depan Rest Chinatown Hotel (Sumber: Potret dari Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Konsepnya terinspirasi oleh gagasan Metabolist Movement dari Jepang, sebuah visi arsitektur yang memandang kota sebagai organisme hidup yang dapat tumbuh dan beradaptasi. 

Di tangan para arsitek seperti William Lim, Koh Seow Chuan, dan Tay Kheng Soon dari Design Partnership, visi itu diterjemahkan menjadi struktur bergaya Brutalism, dengan garis tegas, beton ekspos, dan komposisi geometris yang jujur.

Di sinilah gagasan “kota vertikal” mulai berdenyut. Podium ritel, ruang kantor, hingga apartemen 25 lantai disatukan dalam satu tubuh bangunan yang menantang konsep zonasi tunggal yang lazim saat itu. 

Sebuah “jalan di udara” (street in the air) tercipta, menggemakan pengaruh pemikiran Le Corbusier. Bahkan arsitek Jepang Fumihiko Maki pernah memuji kompleks ini sebagai realisasi nyata dari teori urban yang selama ini hanya hidup dalam gagasan.

Namun sebelum menjadi ikon modern, lahan ini pernah berfungsi sebagai taman publik, lalu berubah menjadi Pasar Taman Rakyat, hingga akhirnya dilalap kebakaran besar pada 1966. 

Dari abu itulah pembangunan dimulai kembali pada 1967, melalui program penjualan lahan pemerintah. Podium dibuka pada 1970, disusul menara hunian tiga tahun kemudian. Dibangun oleh Low Keng Huat dengan biaya sekitar S$12 juta, perjalanan awalnya pun tidak mulus di man pernah terjadi pemadaman listrik dan getaran sempat menjadi persoalan.

Meski demikian, tidak seperti proyek saudaranya, Katong People’s Complex, yang kehilangan relevansi dan akhirnya dijual, People’s Park Complex tetap bertahan sebagai jangkar identitas Chinatown. Berdiri di antara Eu Tong Sen Street dan New Bridge Road, ia menjadi penanda visual sekaligus sosial.

Kini, akses menuju kompleks ini begitu mudah. Ia hanya sepelemparan batu dari Chinatown MRT Station, serta dekat dengan Outram Park MRT Station dan Clarke Quay MRT Station. Terhubung pula dengan jaringan jalan utama seperti AYE, CTE, dan MCE, menjadikannya simpul mobilitas yang efisien di jantung kota.

Namun lebih dari sekadar lokasi strategis atau inovasi arsitektur, People’s Park Complex adalah narasi tentang transformasi tentang bagaimana ruang publik, perdagangan, dan kehidupan urban berkelindan dalam satu struktur. Ia adalah mutiara yang terbentuk dari tekanan sejarah dan ambisi modernitas.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Julia Hunt Morgan (1872–1957), arsitek wanita pelopor California di Amerika Serikat: 

“Arsitektur adalah seni visual dan bangunan-bangunan itu berbicara sendiri.”

Dan di sudut Chinatown ini, People’s Park Complex masih terus berbicara, tentang masa lalu yang terbakar, masa depan yang dibayangkan, dan masa kini yang tetap hidup di antara keduanya. *** [050526]


Kepustakaan:

[1] Lee Hong Hwee, M. (n.d.). People’s Park Complex. National Library Singapore. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=3cc85ca4-650c-47be-b933-ed3241f93e38



Share:

Tin Sing Goldsmiths: Jejak Emas dan Waktu di Jantung Chinatown Singapura

Toko Perhiasan Tin Sing atau Tin Sing Goldsmiths di kawasan Chinatown Singapura (Foto: Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

A building is not just a place to be but a way to be” -- Frank Lloyd Wright

Di sela perjalanan pulang dari Third Annual Symsposium di Hyderabad (India), langkah saya sempat terhenti di satu sudut bersejarah kawasan Chinatown Singapura. Program Free Singapore Tour dari Bandara Changi menghadiahkan pengalaman singkat namun berkesan ketika transit 10 jam di sana pada Ahad (14/12/2025), dengan menyusuri jejak waktu yang masih berdenyut di antara deretan rumah toko tua. Di antara bangunan-bangunan itu, satu yang mencuri perhatian adalah Tin Sing Goldsmiths.

Berdiri anggun di 205 South Bridge Road sejak 1937, bangunan dua lantai ini bukan sekadar toko perhiasan. Ia adalah kapsul waktu. Fasadnya memancarkan aura nostalgia melalui papan nama bergaya lama, pilar-pilar kuning yang hangat, serta jendela panel panjang berwarna hijau yang khas. 

Di bagian atas, ventilasi atap menyerupai dormer kecil menambah detail arsitektural yang memikat, seolah mengintipkan kisah-kisah lama dari masa lalu. Atapnya, dengan genteng tanah liat kemerahan berbentuk pelana, mencerminkan gaya Eclectic Shophouse yang lekat dengan identitas arsitektur kolonial-peranakan di kawasan ini.

Lebih dari sekadar wujud fisik, Tin Sing Goldsmiths menyimpan kisah ketekunan lintas generasi. Berawal dari usaha rumahan keluarga, keahlian mengolah emas diwariskan dengan disiplin tinggi sehingga mengukuhkan reputasi mereka sebagai pengrajin terpercaya. 

Integritas dan presisi menjadi alasan pelanggan terus kembali, bahkan hingga puluhan tahun kemudian. Transformasi penting terjadi pada 6 September 1950, ketika usaha keluarga ini berkembang menjadi entitas resmi bernama Ting Sing Goldsmiths (Pte.) Limited (天成金铺), menandai langkah profesionalisasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Nama mereka pun sempat terukir dalam sejarah melalui karya-karya pesanan istimewa. Salah satunya adalah medali emas bergambar dua burung layang-layang yang kembali ke sarang, dipersembahkan kepada bintang opera Kanton Hong Kong Sek Yin-Tsi pada tahun 1952. 

Karya lain yang tak kalah bergengsi adalah medali emas dari Kamar Dagang dan Industri Tionghoa Singapura yang diberikan kepada Perdana Menteri Lee Kuan Yew pada peresmian gedung organisasi tersebut tahun 1964. Setiap karya bukan hanya perhiasan, tetapi juga simbol penghormatan dan cerita yang terukir dalam logam mulia.

Kini, meski denyut aktivitasnya tak lagi seramai dahulu, interior toko tetap nyaris tak berubah, sebuah keputusan yang justru memperkuat nilai historisnya. Rak-rak kayu, etalase klasik, dan suasana yang intim menghadirkan pengalaman berbeda, seakan mengajak pengunjung melangkah mundur ke era ketika Chinatown lebih riuh dan penuh warna kehidupan.

Tin Sing Goldsmiths masih membuka pintunya setiap hari, kecuali Minggu, dari pukul 10 pagi hingga 6 sore. Ia tidak sekadar menawarkan perhiasan, tetapi juga kesempatan untuk menyentuh warisan budaya yang hidup.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Frank Lloyd Wright (1867–1959), seorang arsitek Amerika yang berpengaruh dan dikenal karena arsitektur organiknya, yang menekankan harmoni antara tempat tinggal manusia dan alam:

“Sebuah bangunan bukan hanya tempat untuk berada, tetapi juga cara untuk hidup.” 

Kutipan ini terasa begitu tepat menggambarkan Tin Sing Goldsmiths, bahwa sebuah bangunan tua yang tidak hanya berdiri sebagai artefak, tetapi juga sebagai saksi kehidupan, nilai, dan identitas yang terus berlanjut di tengah modernitas Singapura. *** [040526]



Share:

Menjaga Ingatan di Ujung Timur Jawa: Menyusuri Jejak Blambangan di Museum Blambangan

Non-living things are not living, yet they live longer than the living.” -- John Joclebs Bassey, Night of a Thousand Thoughts

Usai menatap kemegahan arsitektur Klenteng Hoo Tong Bio, perjalanan pulang terasa belum lengkap tanpa satu persinggahan sunyi namun sarat makna, yaitu Museum Blambangan. Terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, di dalam kompleks Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, museum ini seakan menjadi ruang jeda yang menjadi tempat refreshing bagi peminat heritage maupun sejarah.

Didirikan pada 25 Desember 1977 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soenandar Priyoseodarmo (1976-1983), Museum Blambangan lahir dari kesadaran akan pentingnya merawat ingatan kolektif. 

Fasad Museum Blambangan di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Namanya museum merujuk pada Kerajaan Blambangan, sebuah entitas historis yang pernah menjadi penanda kejayaan di ujung timur Pulau Jawa. Jejak kerajaan itu kini tidak lagi berupa istana megah atau benteng kokoh, melainkan serpihan artefak yang disimpan dan dirawat di dalam museum ini.

Pada awalnya, museum menempati bangunan kolonial peninggalan Belanda yang pernah berfungsi sebagai kantor kawedanan. Bangunan tersebut mulai difungsikan sebagai museum pada 2003, sebelum akhirnya direlokasi ke kompleks saat ini pada 2 Januari 2004, seiring dengan perubahan tata kelola pasca otonomi daerah. Kini, pengelolaannya berada di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Blambangan.

Memasuki ruang pamerannya, pengunjung seolah diajak menelusuri lorong waktu. Ada ratusan koleksi yang terpajang dalam ruang pameran utama museum tersebut, mulai dari etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, hingga seni rupa. Dominasi peninggalan Hindu-Buddha menjadi penanda kuat betapa wilayah ini pernah menjadi simpul penting peradaban masa lampau.

Daftar penguasa Blambangan yang terpampang di dinding dekat pintu masuk ruang pamer Museum Blambangan

Salah satu koleksi yang paling memikat adalah tablet dan materai tanah liat bertuliskan YT Mantra, sebuah mantra Buddha yang digunakan dalam praktik pemujaan. Pada materai, terukir lima baris aksara Jawa Kuno di bagian tengah, sementara tablet menampilkan relief Dhyani Bodhisattwa yang halus dan penuh simbolisme. 

Temuan dari Situs Gumuk Klinting, Kecamatan Muncar ini membuka kemungkinan bahwa eksistensi Blambangan telah hadir sejak abad ke-9 hingga ke-11 atau lebih tua dari era Majapahit. Sebuah fakta yang memperluas horizon sejarah Jawa Timur.

Museum ini tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga menghadirkan cara baru untuk memahami masa lalu. Setiap koleksi dilengkapi barcode yang memungkinkan pengunjung mengakses informasi detail secara mandiri. 

Kereta Kyai Rajapeni yang pernah menjadi tunggangan PB X dan permaisuri dalam membagikan uang logam kepada masyarakat Solo setiap hari Kamis

Selain ruang pamer utama, terdapat pula ruang Banyuwangi Tempo Doeloe, ruang Geopark Ijen, ruang Biskop, dan ruang Rumah Adat Osing. Masing-masing menghadirkan fragmen identitas lokal yang membentuk Banyuwangi hari ini.

Di halaman depan museum, berdiri kokoh sebuah meriam hitam legam, berdampingan dengan kereta kencana Kyai Rajapeni. Kereta ini bukan sekadar artefak, melainkan saksi hubungan historis lintas wilayah. 

Dibuat di Inggris dan pernah digunakan oleh Pakubuwono X, kereta ini dahulu berkeliling setiap hari Kamis, membawa koin untuk dibagikan kepada rakyat. Tradisi itu menciptakan lanskap sosial yang khas di mana warga duduk menunggu di tepi jalan, sementara kusirnya, menariknya, justru berasal dari Banyuwangi. 

Etalase ruang pamer utama Museum Blambangan

Sebuah simpul kecil yang menghubungkan dua dunia. Pada era Bupati H. Turyono Purnomo Sidik (1991-1998), kereta ini dihadiahkan kepada masyarakat Banyuwangi oleh pihak Kraton Surakarta Hadiningrat, dan kini menjadi bagian dari narasi museum.

Museum Blambangan bukan sekadar ruang penyimpanan benda mati. Ia adalah ruang hidup bagi ingatan, tempat generasi kini belajar memahami akar sejarahnya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh John Joclebs Bassey, seorang penulis asal Nigeria dalam karya kolaboratifnya berjudul Night of a Thousand Thoughts (2023):

“Benda-benda mati bukanlah makhluk hidup, namun mereka hidup lebih lama daripada makhluk hidup.” 

Koleksi arkeologi berupa serpihan artefak dari Candi Macan Putih

Kutipan ini terasa menemukan maknanya di sini, di antara artefak yang diam, namun menyimpan cerita panjang yang melampaui usia manusia.

Dengan jam operasional yang terbuka dari pagi hingga menjelang sore – kecuali hari Jumat dan hari Sabtu maupun Ahad libur, museum ini menawarkan lebih dari sekadar kunjungan. Ia adalah pengalaman tentang bagaimana masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, melainkan menunggu untuk ditemukan kembali, dalam sunyi yang penuh arti. *** [240426]



Share:

Sri Mariamman Temple: Jejak Dewi Hujan di Jantung Chinatown Singapura

Kuil Sri Mariamman (Sri Mariamman Temple) di 244 South Bridge Road, Chinatown, Singapura (Foto: Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A./14 Desember 2025)

Begitu bus wisata bandara melambat dan berhenti di jantung kawasan Chinatown, Singapura, suasana Ahad pagi (14/12/2025) terasa berbeda. Peserta Free Singapore Tour turun satu per satu, lalu berjalan kaki mengikuti pemandu menuju Chinatown Heritage Centre. Di tengah hiruk-pikuk persimpangan dan derap langkah wisatawan, sebuah bangunan penuh warna tiba-tiba menarik perhatian peserta.

Saat di persimpangan lampu lalu lintas, Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A. - atau akrab disapa Pak Nino, sosiolog Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) - mengangkat kamera. Bidikannya tertuju pada sebuah kuil yang berdiri anggun tak jauh dari Jamae (Chulia) Mosque. Di antara masjid dan ruko-ruko tua Chinatown, bangunan itu seolah menjadi penanda bisu tentang lapisan sejarah Singapura yang majemuk.

“Ini Sri Mariamman Temple,” ujar sang pemandu, perempuan paruh baya dengan suara mantap. “Kuil Hindu tertua di Singapura.”


Kuil Tertua dan Jejak Awal Singapura

Sri Mariamman Temple, atau dahulu dikenal sebagai Mariamman Kovil atau Kling Street Temple, didirikan pada tahun 1827. Usianya nyaris setua Singapura modern. Kuil ini dibangun sebagai tempat ibadah bagi para imigran India Selatan, khususnya dari distrik Nagapattinam dan Cuddalore, yang datang mencari penghidupan di pelabuhan baru ciptaan Stamford Raffles.

Awalnya, bangunan kuil hanyalah struktur sederhana dari kayu beratap jerami di South Bridge Road. Namun di sanalah sebuah patung kecil Dewi Mariamman - dikenal sebagai Sinna Amman - dipasang oleh pendirinya, Naraina Pillai. Menariknya, patung kecil tersebut masih tersimpan hingga kini di ruang suci utama kuil, menjadi penghubung nyata antara masa lalu dan masa kini.

Naraina Pillai sendiri adalah figur penting dalam sejarah awal Singapura. Ia tiba pada Mei 1819 bersama Sir Thomas Stamford Raffles, meninggalkan Penang karena terpikat visi besar tentang Singapura. Kariernya berliku, mulai dari kepala juru tulis pemeriksa koin di perbendaharaan kolonial, hingga akhirnya diberhentikan. Namun nasib membawanya menjadi kontraktor bangunan pertama di Singapura - dan namanya pun tercatat sebagai pendiri Kuil Sri Mariamman.


Dari Bangunan Sederhana ke Mahakarya Dravida

Seiring waktu, kuil ini berkembang. Pada 1843, bangunan dari plester dan batu bata didirikan. Lebih dari satu abad kemudian, tepatnya pada 1962, struktur kuil diperbarui secara menyeluruh dengan ukiran rumit yang mencerminkan arsitektur kuil India Selatan. Gopuram, yakni menara gerbang utama, yang semula polos dan dibangun pada akhir abad ke-19, direkonstruksi pada 1930-an dan diperkaya detail pahatan pada 1960-an.

Kini, gopuram lima lantai menjadi ciri paling mencolok. Setiap tingkatnya mengecil ke atas, menciptakan ilusi ketinggian yang megah. Relief dewa-dewi Hindu, binatang mitologis, dan tokoh budaya menghiasi permukaannya. Konon, seluruh pahatan itu dikerjakan oleh pengrajin terampil yang didatangkan langsung dari Nagapattinam dan Cuddalore - daerah asal komunitas Tamil yang membangun kuil ini.

Ungkapan arsitek modern berkebangsaan Jerman, Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969), terasa relevan di sini: “God is in the details.” Dewa memang hadir dalam rincian - dalam setiap pahatan, warna, dan proporsi yang menjadikan Sri Mariamman Temple bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan karya seni spiritual.


Pusat Ibadah, Perlindungan, dan Komunitas

Lebih dari fungsi religius, Kuil Sri Mariamman pernah menjadi tempat berlindung bagi para imigran baru di masa kolonial. Di sinilah mereka mencari dukungan sosial, spiritual, bahkan legal. Pada masa ketika hanya kuil yang berwenang mengesahkan pernikahan Hindu, Sri Mariamman Temple berperan sebagai Kantor Pencatatan Pernikahan umat Hindu di Singapura.

Denah kuil mengikuti pakem arsitektur Dravida, yang umumnya terdiri dari ruang suci para dewa, aula utama bagi pemuja, dan menara gerbang sebagai transisi sakral dari dunia luar. Bagian-bagian inti, seperti dinding luar, kubah, dan tempat suci, berasal dari 1840-an, sementara serambi penghubung ditambahkan pada 1916. Semua elemen ini menjadikan kuil tersebut sebagai arsip hidup perjalanan komunitas Hindu di Singapura.


Dewi Hujan dan Harapan Manusia

Nama Sri Mariamman berakar jauh di India Selatan. Dalam tradisi Tamil Nadu dan Karnataka, pemujaan terhadap Dewi Mariamman diyakini lebih tua dari agama Hindu Weda itu sendiri, hal ini mungkin telah berusia lebih dari 4.000 tahun. “Mari” berarti hujan, dan “Amman” berarti ibu. Ia adalah Dewi Ibu Hujan, pemberi kesuburan tanah dan manusia.

Dalam masyarakat desa kuno, Mariamman juga menjadi pelindung dari wabah penyakit seperti cacar dan campak, penyakit yang dahulu sangat ditakuti. Hingga kini, perempuan hamil masih mempersembahkan gelang kaca sebagai doa untuk persalinan yang selamat. Tradisi-tradisi itu menyeberang laut bersama para perantau Tamil dan berlabuh di Singapura, di dalam dinding Kuil Sri Mariamman.


Warisan di Tengah Kota Modern

Di tengah gedung-gedung modern dan lalu lintas Chinatown, Kuil Sri Mariamman berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah, migrasi, dan keyakinan. Ia bukan hanya tujuan wisata religi, tetapi juga penanda bahwa Singapura dibangun dari perjumpaan banyak budaya.

Bagi Pak Nino, satu jepretan kamera di persimpangan lampu merah itu menangkap lebih dari sekadar bangunan. Ia merekam kisah tentang iman, detail arsitektur, dan sejarah panjang yang menyatu, merupaka sebuah fitur perjalanan yang mengingatkan bahwa di kota modern sekalipun, jejak masa lalu tetap hidup, berwarna, dan bermakna. *** [210126]


Kepustakaan:

BIMsmith. (2021, January 07). Top Architecture Quotes (2021) - Quotes about Architecture from Famous Architects. Bimsmith. https://blog.bimsmith.com/Top-Architecture-Quotes-2021-Quotes-about-Architecture-from-Famous-Architects

Hindu Endowments Board. (n.d.). Sri Mariamman Temple. Sri Mariamman Temple. Retrieved January 20, 2026, from https://heb.org.sg/smt/

Sri Mariamman Temple. (n.d.). Temple History. Sri Mariamman Temple; Hindu Endowments Board. Retrieved January 19, 2026, from https://smt.org.sg/HEB/Template3/history

Storytrails. (n.d.). Mariamman: The Village Goddess Who Travelled - Storytrails. Storytrails. Retrieved January 19, 2026, from https://storytrails.in/culture/mariamman-the-village-goddess-who-travelled/

Tan, B. (n.d.). Naraina Pillai. National Library and Archives Board. Retrieved January 19, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=e751791b-cc41-4eb2-abb8-ff5b43b46ff9

Taskos, N. (2020, May 13). Sri Mariamman Temple. Atlas Obscura. https://www.atlasobscura.com/places/sri-mariamman-temple



Share:

Keindahan Arsitektur Masjid Mekkah Hyderabad: Harmoni Sejarah, Iman, dan Budaya Kota Tua

I began to travel, explore and pray within countless masjids around the world, that I realized how much local culture, politics, and interpretations of history influence the shaping of a mosque and its architecture.” -- Rizwan Mawani

Usai menyaksikan kemegahan Charminar dan menuruni 149 anak tangganya, rombongan peserta Third Annual Symposium NIHR Global Health Reseach Centre for Non-Communcable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) yang mengikuti Hyderabad City Tour (HCT) kembali berbaur dengan kerumunan orang di sekitar bangunan heritage ikonik tersebut. 

Suasana Kota Tua Hyderabad terasa hidup. Pedagang kaki lima, wisatawan, peziarah, serta warga lokal saling berpapasan dalam ritme kota yang tak pernah benar-benar diam. Dari menara Charminar, pandangan seolah ditarik mundur ke masa lalu, ketika Hyderabad tumbuh sebagai pusat perdagangan, kebudayaan, dan peradaban Islam di India bagian selatan.

Panitia HCT dari The George Institute for Global Health (TGI) India kemudian mengajak rombongan mencicipi chai tea dan roti banmaskin di Nimrah Café & Bakery yang legendaris, tak jauh dari Charminar. Aroma teh susu yang hangat berpadu dengan manisnya roti khas Hyderabad menjadi jeda yang menyenangkan sebelum perjalanan dilanjutkan. Usai menikmati chai tea, rombongan berjalan santai menyusuri jalanan yang dipenuhi pedagang kaki limat, membiarkan diri larut dalam keramaian dengan nuansa yang sarat sejarah.

Fasad Masjid Mekkah di Hyderabad dekat Charminar menjelang Maghrib pada Rabu (10/12)

Saya bersama Pak Tatang (Ismiarta Aknuranda, S.T., M.Sc., Ph.D.), Dr. Ian Hamilton (Imperial College London), dan Alexandra Olid Stepanchuk (Imperial College London) menyempatkan diri mengunjungi Masjid Mekkah, yang terletak hanya beberapa meter di arah barat daya Charminar. 

Alexandra mengenakan hijab sesuai aturan yang tertera di pintu masuk masjid - sebuah pengingat bahwa ruang sakral ini terbuka bagi siapa saja, selama adab dan penghormatan dijaga. Beberapa menit berkeliling, kumandang azan Maghrib terdengar menggema, menyatu dengan hiruk pikuk kota. Saya dan Dr. Ismiarta pun mengikuti salat Maghrib berjamaah, menutup kunjungan dengan ketenangan spiritual yang kontras namun selaras dengan suasana urban di sekitarnya.

Masjid Mekkah, atau Makka Masjid (మక్కా మస్జిద్), merupakan salah satu masjid paling mengesankan dan berornamen indah di Hyderabad, India. Pembangunannya dimulai oleh Sultan Mohammed Quli Qutub Shah pada tahun 1617 di bawah bimbingan Choudhary Rangaiah dan Daroga Mir Faizullah, lalu diselesaikan oleh Kaisar Mughal Aurangzeb pada tahun 1694. 

Proses panjang selama 77 tahun itu mencerminkan kesungguhan, visi, dan ketekunan para penguasa serta ribuan pekerja yang terlibat. Nama “Mekkah” disematkan karena tanah dari kota suci Mekah digunakan dalam pembuatan batu bata untuk lengkungan tengah masjid - sebuah simbol ikatan spiritual lintas wilayah.

Papan dekat tempat wudlu di Masjid Mekkah, Hyderabad, Telangana, India

Masjid ini merupakan mahakarya arsitektur Indo-Islam yang berdiri anggun di dekat Charminar dan berfungsi sebagai masjid utama Kota Tua Hyderabad. Dengan kapasitas hingga 10.000 jamaah, Masjid Mekkah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat sosial dan budaya. 

Seorang penjelajah Prancis, Jean-Baptiste Tavernier, tercatat sebagai salah satu pengamat awal yang terpesona oleh kemegahan masjid ini. Dalam catatan perjalanannya, ia menulis bahwa bangunan tersebut kelak akan menjadi “pagoda termegah di seluruh India” ketika selesai dibangun sebuah kesaksian dari luar tradisi Islam yang menegaskan daya tarik universal arsitekturnya.

Masjid Mekkah menampilkan perpaduan gaya arsitektur Persia, Mughal, dan India yang khas, dengan menara, kubah, pagoda, serta motif bunga yang diukir dengan detail rumit. Sekitar 8.000 pekerja dikerahkan untuk membangun monumen besar ini. 

Sebelum memasuki kompleks utama, pengunjung melewati sebuah gerbang dengan kolam air besar dan dua bangku batu di sisinya, menghadirkan kesan transisi dari dunia luar menuju ruang kontemplatif. 

Arsitektur lengkungan di dalam ruang utama tempat salat para jamaah di Masjid Mekkah, Hyderabad, India

Ruang salat utama berukuran sekitar 220 kaki lebarnya dan 75 kaki tingginya, ditopang dua pilar segi delapan yang masing-masing dipahat dari satu batu granit utuh, sebuah pencapaian teknik yang luar biasa pada masanya.

Ruang utama salat dihiasi 15 lengkungan berdesain indah, lima lorong utama, serta lampu gantung kristal Belgia yang menggantung anggun di langit-langit, memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Di halaman masjid seluas kurang lebih 108 meter persegi, terdapat jam matahari dan fasilitas pemandian umum (hammam), menegaskan fungsi masjid sebagai pusat kehidupan sehari-hari umat. 

Di ujung selatan kompleks, makam marmer para penguasa Asaf Jahi dan anggota keluarga mereka menambah lapisan sejarah yang kental. Bahkan, terdapat sebuah ruangan khusus yang menyimpan peninggalan kuno, seperti rambut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, menjadikan masjid ini juga sebagai ruang ziarah yang penuh penghormatan.

Pintu dan dinding Masjid Mekkah diukir dengan prasasti Al-Qur’an yang halus, memperlihatkan perpaduan antara seni, iman, dan teks suci. Selesai menunaikan salat Maghrib berjamaah, saya sempat mengabadikan keindahan masjid tersebut dengan kamera Xiaomi Redmi Note 14 Pro 5G. Rasa lega dan tenteram menyertai langkah keluar dari kompleks masjid. Sebuah perasaan yang sulit diungkapkan, namun nyata hadir di tengah gemerlap dan kebisingan kota.

Halaman terbuka Masjid Mekkah sebelum jamaah memasuki ruang utama masjid

Konon, kompleks Masjid Mekkah dan situs-situs terkait di wilayah Deccan dimasukkan UNESCO ke dalam “daftar sementara” Situs Warisan Dunia pada tahun 2014 dengan nama Monuments and Forts of the Deccan Sultanates. Pengakuan ini menegaskan nilai universal luar biasa dari warisan arsitektur dan sejarah Hyderabad.

Mengulas keindahan Masjid Mekkah Hyderabad tak hanya soal estetika bangunan, tetapi juga tentang bagaimana sejarah, budaya lokal, dan interpretasi keagamaan membentuk ruang ibadah. Seperti ujaran (quote) Rizwan Mawani, seorang pendidik dan peneliti Kanada yang berspesialisasi dalam antropologi dan studi agama komparatif serta penulis buku Beyond the Mosque: Diverse Places of Muslim Worship (2019):

“Saya mulai bepergian, menjelajah, dan berdoa di banyak masjid di seluruh dunia, dan dari situlah saya menyadari betapa besar pengaruh budaya lokal, politik, dan interpretasi sejarah terhadap pembentukan sebuah masjid dan arsitekturnya.” 

Masjid Mekkah Hyderabad adalah perwujudan nyata dari pernyataan tersebut, sebagai sebuah ruang suci yang merekam jejak zaman, menyatukan iman dan budaya, serta menawarkan ketenangan spiritual di jantung Kota Tua yang tak pernah tidur. *** [251225]


Kepustakaan:

Santhoshini , C. N. R., Homma, R., & Iki, K. (2017). Analysis of tourism resources for sustainable tourism development of Hyderabad City, Telangana, India using Geographical Information System (GIS). International Journal of Civil Engineering and Technology (IJCIET), 8(10), 762–772. https://iaeme.com/MasterAdmin/Journal_uploads/IJCIET/VOLUME_8_ISSUE_10/IJCIET_08_10_080.pdf

Digit Insurance. (n.d.). Things to Know about Mecca Masjid Hyderabad. Digit Insurance. Retrieved December 25, 2025, from https://www.godigit.com/explore/spiritual-places/mecca-masjid-in-hyderabad

Hyderabad. (n.d.). Mecca Masjid Hyderabad . Hyderabad. Retrieved December 25, 2025, from https://www.hyderabad.org.uk/worship-places/mecca-masjid.html

KP’s 21st Century IAS. (n.d.). Mecca Masjid Hyderabad | Historic 17th Century Mosque. KPs 21st Century IAS Academy. Retrieved December 25, 2025, from https://kpiasacademy.com/mecca-masjid-hyderabad-history-2/

Wanderlog. (n.d.). Makkah Masjid. Wanderlog. Retrieved December 25, 2025, from https://wanderlog.com/place/details/19742/makkah-masjid



Share:

Charminar: Empat Menara yang Menyimpan Doa Kota Hyderabad

 "Ancient monuments are full of wisdom, for they have been filled with what they have seen and heard for hundreds of years!" - Mehmet Murat ildan

Rabu siang, 10/12, selepas makan siang hari kedua Third Annual Symposium di May Flower Hall, The Golkonda Resorts & Spa, rombongan peserta tak langsung kembali ke kamar. Panitia dari The George Institute for Global Health (TGI) India mengajak mereka menyusuri denyut Hyderabad lewat sebuah agenda bertajuk Hyderabad City Tour. Bus Sagar bergerak sekitar 20 kilometer dari resor Golkonda, dan di ujung perjalanan, berdirilah sebuah monumen yang seolah memanggil sejarah untuk bercerita: Charminar.

Antusiasme langsung terasa. Peserta dari Imperial College London (ICL), University College London (UCL) Energy Institute, TGI (India dan Australia), Sri Ramachandra Institute of Higher Education and Research (SRIHER), hingga Universitas Brawijaya (UB) larut dalam kekaguman. Charminar berdiri tegak di jantung Hyderabad, ibu kota Telangana, kota yang dulu menjadi pusat Kerajaan Hyderabad, India. Di titik inilah masa lalu dan masa kini saling bertegur sapa.

Bangunan Charminar yang megah di Hyderabad, Telangana, India

Secara arsitektural, Charminar memikat sejak pandangan pertama. Bangunan berbentuk persegi dengan sisi sepanjang 31,95 meter ini dibingkai lengkungan-lengkungan megah setinggi 11 meter. Empat menara - yang menjadi asal namanya, char (empat) dan minar (menara) - menjulang hingga 56 meter, masing-masing bertingkat tiga. Dipercaya bahwa keempat menara tersebut melambangkan empat Khalifah pertama Islam.

Di dalam menara, tangga spiral dengan 149 anak tangga dan 12 bordes mengantar pengunjung menuju puncak, tempat panorama kota terbentang luas. Dinding ganda lengkungan di atap, ornamen menara, dekorasi plesteran, pagar dan balkon yang tersusun rapi, serta motif bunga yang dieksekusi halus, menyatu dalam harmoni estetika Indo-Persia hingga sintesis Mughal dan Hindu.

Charminar didirikan pada tahun Hijriah 1000 (1591–1592 M) oleh Mohammed Quli Qutub Shahi, sultan kelima Dinasti Qutub Shahi sekaligus pendiri kota Hyderabad. Monumen ini bukan sekadar penanda kekuasaan, melainkan tugu syukur – batu doa yang dipanjatkan untuk merayakan berakhirnya wabah penyakit mematikan yang pernah melanda kota. Sebuah pengingat bahwa kota ini lahir dari harapan, dari ikhtiar manusia melampaui krisis.

Peserta Third Annual Symposium NIHR-GHRC NCD & EC mengantre tiket masuk ke Charminar pada Rabu (10/12)

Di balik kemegahan itu, termaktub sosok Mir Momin Astarabadi, arsitek Persia yang menjadi perancang utama Charminar. Ia bukan hanya arsitek, tetapi juga perencana kota, pencinta budaya, dan penyair. Bersama Sultan, Astarabadi membayangkan Hyderabad sebagai “Isfahan baru” di Deccan. Dalam tulisannya, ia menyebut Haidarabad sebagai Isfahan baru, sebuah kota taman, sebuah pusat peradaban yang dirancang dengan visi jauh ke depan.

Catatan para pengembara Eropa turut memperkaya kisah Charminar. Jean Baptiste Tavernier, penjelajah Prancis abad ke-17, menulis tentang Hyderabad yang ia saksikan dari Purana Pul (Jembatan Tua). 

Ia mencatat bahwa meski nama resminya Haidarabad, masyarakat menyebutnya Bagnagar atau Baagh Nagar, yang berarti kota taman. Pada pertengahan abad ke-18, Charminar bahkan pernah menjadi markas Komandan Prancis, Jenderal Charles Joseph Patissier Marquis de Bussy-Castelnau atau Jenderal Bussy. Sejarah berlapis-lapis itu seakan terpatri di setiap batu prasastinya.

Ornamen di dalam bangunan Charminar

Waktu terus bergerak, dan Charminar pun beradaptasi. Pada 1889, empat jam ditambahkan menghadap ke empat arah mata angin. Di bagian dasar, yang semula merupakan vazu - wadah air dengan air mancur kecil untuk wudhu sebelum salat - fungsi ruang pun berevolusi. Dari atap dan menaranya, mata dapat memandang Benteng Golkonda di barat, serta Laad Bazaar yang bersebelahan, pasar ramai yang masyhur dengan gelang pernis bertabur kaca dan batu berwarna.

Para sejarawan melihat Charminar lebih dari sekadar bangunan. Phillip Wagoner, misalnya, meyakini Charminar sebagai chaubara (alun-alun kota), mengacu pada struktur serupa di Bidar, Warangal, dan Udgir. Ibu kota Qutb Shahi menandai pusat kota dengan bentuk bulat, yang membuka jalan ke empat penjuru. Ketika ibu kota dipindahkan dari Golkonda ke Hyderabad, ruang di sekitar Charminar dirancang untuk menampung sekitar 14.000 toko, menghidupkan denyut ekonomi kota baru.

Maka Charminar adalah simbol yang berlapis makna, yakni ketahanan sebuah kota, doa untuk kemakmuran, penanda milenium Islam, dan pusat budaya yang memadukan gaya Indo-Islam. Ia bukan hanya saksi, tetapi juga pelaku sejarah yang menyimpan gema langkah pedagang, doa para peziarah, dan bisik rencana para penguasa.

Pemandangan dari atas bangunan Charminar

Seperti kata Mehmet Murat İldan, seorang penulis, novelis, dan dramawan kontemporer Turki yang lahir pada 16 Mei 1965 di Elazığ, dikenal karena karya-karyanya yang mencakup novel, drama, dan esai, sering kali menggabungkan pemikiran filosofis dan sosial: 

“Monumen-monumen kuno penuh dengan kebijaksanaan, karena telah diisi dengan apa yang telah mereka lihat dan dengar selama ratusan tahun!” 

Charminar membenarkan kata-kata itu. Di bawah empat menaranya, Hyderabad terus bergerak, namun kebijaksanaan masa lalu tetap berdiam untuk menjaga jantung kota agar terus berdetak. *** [241225]


Kepustakaan:

Britannica Editors (2025, October 13). Charminar. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/topic/Charminar

Nanisetti, S. (2018, July 02).   The very many mysteries of Hyderabad’s Charminar. The Hindu. https://www.thehindu.com/society/history-and-culture/the-very-many-mysteries-of-hyderabads-charminar/article24311906.ece

Rajjak, S. M. (2015). Mir Mohammad Momin Astarabadi’s Contribution to Qutb Shahi Deccan History. JRSP, 52(2), 203–209. https://pu.edu.pk/images/journal/history/PDF-FILES/15.%20Shaikh%20Musak%20Rajjak_v52_2_15.pdf

Saidulu, Prof. H. C., & Manu, A. r. (2025). Holistic Vision Of The Monument Charminar. International Journal of Creative Research Thoughts (IJCRT), 13(2), 73–80. https://www.ijcrt.org/papers/IJCRT2502478.pdf

Seshan, K. S. S. (2018, March 24).   General Bussy’s Charminar home. The Hindu. https://www.thehindu.com/society/history-and-culture/bussys-charminar-home/article23342015.ece



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami