The Story of Indonesian Heritage

Menjaga Ingatan di Ujung Timur Jawa: Menyusuri Jejak Blambangan di Museum Blambangan

Non-living things are not living, yet they live longer than the living.” -- John Joclebs Bassey, Night of a Thousand Thoughts

Usai menatap kemegahan arsitektur Klenteng Hoo Tong Bio, perjalanan pulang terasa belum lengkap tanpa satu persinggahan sunyi namun sarat makna, yaitu Museum Blambangan. Terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, di dalam kompleks Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, museum ini seakan menjadi ruang jeda yang menjadi tempat refreshing bagi peminat heritage maupun sejarah.

Didirikan pada 25 Desember 1977 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soenandar Priyoseodarmo (1976-1983), Museum Blambangan lahir dari kesadaran akan pentingnya merawat ingatan kolektif. 

Fasad Museum Blambangan di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Namanya museum merujuk pada Kerajaan Blambangan, sebuah entitas historis yang pernah menjadi penanda kejayaan di ujung timur Pulau Jawa. Jejak kerajaan itu kini tidak lagi berupa istana megah atau benteng kokoh, melainkan serpihan artefak yang disimpan dan dirawat di dalam museum ini.

Pada awalnya, museum menempati bangunan kolonial peninggalan Belanda yang pernah berfungsi sebagai kantor kawedanan. Bangunan tersebut mulai difungsikan sebagai museum pada 2003, sebelum akhirnya direlokasi ke kompleks saat ini pada 2 Januari 2004, seiring dengan perubahan tata kelola pasca otonomi daerah. Kini, pengelolaannya berada di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Blambangan.

Memasuki ruang pamerannya, pengunjung seolah diajak menelusuri lorong waktu. Ada ratusan koleksi yang terpajang dalam ruang pameran utama museum tersebut, mulai dari etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, hingga seni rupa. Dominasi peninggalan Hindu-Buddha menjadi penanda kuat betapa wilayah ini pernah menjadi simpul penting peradaban masa lampau.

Daftar penguasa Blambangan yang terpampang di dinding dekat pintu masuk ruang pamer Museum Blambangan

Salah satu koleksi yang paling memikat adalah tablet dan materai tanah liat bertuliskan YT Mantra, sebuah mantra Buddha yang digunakan dalam praktik pemujaan. Pada materai, terukir lima baris aksara Jawa Kuno di bagian tengah, sementara tablet menampilkan relief Dhyani Bodhisattwa yang halus dan penuh simbolisme. 

Temuan dari Situs Gumuk Klinting, Kecamatan Muncar ini membuka kemungkinan bahwa eksistensi Blambangan telah hadir sejak abad ke-9 hingga ke-11 atau lebih tua dari era Majapahit. Sebuah fakta yang memperluas horizon sejarah Jawa Timur.

Museum ini tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga menghadirkan cara baru untuk memahami masa lalu. Setiap koleksi dilengkapi barcode yang memungkinkan pengunjung mengakses informasi detail secara mandiri. 

Kereta Kyai Rajapeni yang pernah menjadi tunggangan PB X dan permaisuri dalam membagikan uang logam kepada masyarakat Solo setiap hari Kamis

Selain ruang pamer utama, terdapat pula ruang Banyuwangi Tempo Doeloe, ruang Geopark Ijen, ruang Biskop, dan ruang Rumah Adat Osing. Masing-masing menghadirkan fragmen identitas lokal yang membentuk Banyuwangi hari ini.

Di halaman depan museum, berdiri kokoh sebuah meriam hitam legam, berdampingan dengan kereta kencana Kyai Rajapeni. Kereta ini bukan sekadar artefak, melainkan saksi hubungan historis lintas wilayah. 

Dibuat di Inggris dan pernah digunakan oleh Pakubuwono X, kereta ini dahulu berkeliling setiap hari Kamis, membawa koin untuk dibagikan kepada rakyat. Tradisi itu menciptakan lanskap sosial yang khas di mana warga duduk menunggu di tepi jalan, sementara kusirnya, menariknya, justru berasal dari Banyuwangi. 

Etalase ruang pamer utama Museum Blambangan

Sebuah simpul kecil yang menghubungkan dua dunia. Pada era Bupati H. Turyono Purnomo Sidik (1991-1998), kereta ini dihadiahkan kepada masyarakat Banyuwangi oleh pihak Kraton Surakarta Hadiningrat, dan kini menjadi bagian dari narasi museum.

Museum Blambangan bukan sekadar ruang penyimpanan benda mati. Ia adalah ruang hidup bagi ingatan, tempat generasi kini belajar memahami akar sejarahnya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh John Joclebs Bassey, seorang penulis asal Nigeria dalam karya kolaboratifnya berjudul Night of a Thousand Thoughts (2023):

“Benda-benda mati bukanlah makhluk hidup, namun mereka hidup lebih lama daripada makhluk hidup.” 

Koleksi arkeologi berupa serpihan artefak dari Candi Macan Putih

Kutipan ini terasa menemukan maknanya di sini, di antara artefak yang diam, namun menyimpan cerita panjang yang melampaui usia manusia.

Dengan jam operasional yang terbuka dari pagi hingga menjelang sore – kecuali hari Jumat dan hari Sabtu maupun Ahad libur, museum ini menawarkan lebih dari sekadar kunjungan. Ia adalah pengalaman tentang bagaimana masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, melainkan menunggu untuk ditemukan kembali, dalam sunyi yang penuh arti. *** [240426]



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami