The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata di Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata di Surabaya. Tampilkan semua postingan

Rumah Wafat WR Supratman

Di tengah pemukiman penduduk yang lumayan padat di sekitar belakang Taman Mundu, terdapat rumah mungil yang tampak lain dengan rumah yang ada kebanyakan berdiri di daerah itu. Rumah yang berdinding tembok dan beratap kayu membentuk meruncing ke atas tersebut menyimpang banyak memori historis yang dikenang oleh anak bangsa ini. Rumah tersebut tak lain adalah Rumah Wafat WR Supratman.
Rumah ini terletak di Jalan Mangga No. 21 Kelurahan Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah ini berada di sebelah barat Gelora 10 November Surabaya, atau tepatnya berada di sebelah barat daya dari Taman Mundu.
Menilik nama rumah ini memang tampak aneh, akan tetapi bila menelusuri sejarah terhadap orang yang menempati terakhir rumah ini akan salut. Alkisah, disebutkan bahwa WR Supratman lahir di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) pada hari Senin Wage tanggal 9 Maret 1903 pukul 11.00 siang. Ia anak ketujuh dari sembilan bersaudara, namun kedua kakak laki-lakinya meninggal ketika masih kecil. Ayahnya bernama DJoemeno Senen Sastrosoehardjo alias Abdoel Moein, seorang serdadu Kompeni KNIL, dan ibunya bernama Siti yang berasal dari Desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah. Sedangkan, kakek dari ayahnya, bernama Mas Ngabehi Notosoedirjo, yang tergolong kaum priyayi kaya dan memiliki tanah persawahan yang luas dan terkenal dalam bidang kesenian, khususnya seni musik dan seni suara Jawa. Jadi tidak salah lagi jika darah seni WR Supratman turun dari kakeknya tersebut.
Ibunya meninggal sewaktu Supratman masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) di daerah Meester Cornelis. Namun, setelah ayahnya pensiun dari KNIL, Supratman dijemput oleh kakak tertuanya, Ny. Roekijem Soepratijah van Eldik untuk disekolahkan di Makassar pada tahun 1914.
Atas usaha Ny. Roekijem Soepratijah dan suaminya, W.M. van Eldik, Supratman masuk sekolah Belanda Europese Lagere School setelah menambahkan “Rudolf” pada namanya menjadi Wage Rudolf (WR) Supratman, sebagai suatu siasat agar ia diterima di sekolah Belanda tersebut. Karena pada saat itu anak yang tergolong inlander (pribumi) seperti WR Supratman sukar diterima masuk sekolah Belanda.


Tak lama menikmati sekolah Belanda, Supratman ketahuan bahwa dia ternyata bukan anak van Eldik, melainkan adik iparnya. Kenyataan ini membawa Supratman untuk masuk ke sekolah Melayu. Di sekolah ini malah bakat seni Supratman mengalir, hingga menyelesaikan dari Normaal School, yaitu Sekolah Guru.
Sepulang sekolah, Supratman selalu belajar memainkan gitar dan menggesek biola. Kakak iparnya, van Eldik yang pandai dalam bidang seni, baik kesenian Barat maupun Timur, menjadi gurunya bermain gitar dan menggesek biola. Karena WR Supratman memiliki bakat, maka sebentar saja ia sudah pandai memainkan alat musik. Ia bukan saja pandai memetik gitar atau menggesek biola, ia pun mahir melahirkan perasaan seninya dalam bentuk lagu dan kata, bahkan ia dapat menggubah syair.
Melihat adiknya yang sangat berbakat itu, kakaknya menghadiahkan sebuah biola kepada WR Supratman pada tahun 1920, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-17.
Ketika Supratman diangkat menjadi guru bantu untuk ditempatkan di daerah Singkang, yang berada di tepi Danau Tempe, ia tidak diizinkan oleh kakaknya karena di daerah tersebut sering terjadi gejolak yang mengancam jiwanya. Akhirnya ia bersama kawan-kawanya yang berkulit putih mendirikan Jazz Band Black dan White yang kerap tampil dalam berbagai perhelatan yang digelar di Makassar, dan menjadikannya semakin dikenal di kalangan inlander maupun Belanda. Dalam menekuni di bidang musik, Supratman pernah bekerja sebagai clerk pada Firma Nedem, dan terakhir di sebuah kantor pengacara milik Mr. Schulten, teman baik van Eldik.
Pada tahun 1924, Supratman berlayar dari Makassar ke Surabaya. Ia tinggal di rumah kakaknya yang bernama Roekinah Soepratirah. Kemudian ia bergabung dalam aktivitas pergerakan, akan tetapi lantaran dalam pergerakan itu antar golongan saling bertentangan, Supratman meninggalkan Surabaya, kemudian ke Jakarta. Selang beberapa tahun, Supratman kembali lagi ke Surabaya. Ia mendiami rumah kakaknya tertua, Ny. Roekijem Soepratijah van Eldik di lingkungan Tambaksari.
Selama di Surabaya, Supratman juga tidak bisa lepas dari biolanya. Dengan biola ini, WR Supratman telah berhasil menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dari lagu inilah, Supratman menjadi incaran daftar yang dicari oleh pihak Kompeni.
WR Supratman menghembuskan nafas terakhir pada hari Rabu Wage jam 12 tengah malam tanggal 17 Agustus 1938. Ia meninggal di rumah kakaknya tertua Ny.  Roekijem Soepratijah di Jl. Mangga lingkungan Tambaksari Surabaya.
WR Supratman meninggal dunia tanpa meninggalkan harta. Ia hanya meninggalkan secarik kertas not-not musik lagu ciptaannya yang terakhir kepada bangsanya. Atas sumbangsihnya kepada bangsa inilah, rumah tersebut akhirnya dijadikan sebagai Rumah Wafat WR Supratman.
Bila masuk ke rumah ini, kesan yang nampak adalah seperti sebuah museum. Karena di dalam rumah tersebut terdapat koleksi dari benda-benda yang pernah menjadi milik WR Supratman atau paling tidak terdapat hubungan dengan kehidupan WR Supratman. Seperti foto-foto WR Supratman dengan keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu, di pojok terdapat almari berisi replika biola karena biola aslinya saat ini disimpan di Gedung Sumpah Pemuda Jakarta. Biola ini sebagai alat untuk menciptakan persatuan bangsa Indonesia telah dipamerkan di beberapa provinsi di Kalimantan dan Sulawesi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Rumah Wafat WR Supratman ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dalam pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor: 188.45/251/402.1.04/1996 dengan nomor urut 56. *** [230314]

Kepustakaan:
Anthony C. Hutabarat, 2001, Wage Rudolf Soepratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia “Indonesia Raya” dan Pahlawan Nasional, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia
Share:

Kebun Binatang Surabaya

Tidak semua kota atau daerah berkesempatan memiliki kebun binatang, akan tetapi Surabaya masih beruntung bisa memilikinya. Bahkan, Kebun Binatang Surabaya (KBS) tergolong sebagai kebun bintang yang lumayan lengkap.
KBS terletak di Jalan Setail No. 1 Kelurahan Kutisari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi KBS ini terletak di jalur transportasi kota yang hidup dan dinamis, sehingga bila ingin menemukan lokasi tersebut sangatlah mudah karena tepat berada di simpul empat jalan protokol, yaitu Jalan Raya Wonokromo, Joyoboyo, Darmo, dan Diponegoro. Hanya sekitar 200 meter jaraknya menuju Sub Terminal Joyoboyo, atau beberapa menit saja berjalan kaki menuju ke Stasiun Wonokromo.
Sebagai kawasan konservasi flora dan fauna, menjadikan KBS sebagai hutan kota (urban forest) dengan struktur tanah berupa lapisan aluvial, di mana ribuan kubik oksigen diproduksi sepanjang tahun yang memberi manfaat bagi kehidupan warga Kota Surabaya. Curah hujan di KBS ini rata-rata adalah 127 mm³/ml yang berada di ketinggian 3-6 meter di atas permukaan laut. Suhu udara rata-rata pertahun adalah 27,6ᵒ C dengan kelembaban berkisar 74 %.
Berdasarkan catatan historis yang ada, KBS didirikan dengan nama Soerabaiasche Planten-en Dierentuin (Kebun Botani dan Binatang Surabaya) atas jasa H.F.K. Kommer berdasar Surat Keputusan (SK) Gubernur Jenderal Belanda Nomor 40 tanggal 31 Agustus 1916. Kommer adalah seorang jurnalis berkebangsaan Belanda yang memiliki hobi mengoleksi binatang langka.


Dalam mewujudkan KBS ini, Kommer mendapat bantuan financial dari beberapa orang yang mempunyai modal yang cukup. Awalnya, lokasi KBS berada di daerah Kaliondo pada tahun 1916, kemudian pada tanggal 28 September 1917 dipindahkan ke Jalan Tamarindelan, Groedo (kini Jalan Pandegiling). Lalu, pada tahun 1920 pindah ke daerah Darmo (lokasi KBS sekarang) untuk areal kebun binatang yang baru atas jasa Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) atau perusahaan maskapai kereta api yang mengusahakan lokasi seluas 8 hektar di dekat Stasiun Trem Wonokromo.
Seiring perkembangan itu juga, KBS ini juga pernah mengalami pasang surut dalam pengelolaannya dan sempat akan dibubarkan oleh pengurusnya yang diketuai oleh J.P. Mooyman, akan tetapi segera dicegah oleh Gemeente (Pemerintah Kotamadya) Surabaya pada waktu itu.
Walikota Dijkerman bersama anggota dewan, A. van Genrep berhasil membujuk Dewan Kota Surabaya untuk sudi menyelamatkan KBS. Akhirnya, Dewan Kota Surabaya berkenan untuk membeli tanah sumbangan dari OJS, perusahaan maskapai kereta uap, dan ditunjuk W.A. Hompes untuk menggantikan Mooyman dalam mengurus segala aktivitas kebun binatang sebagai pimpinannya.
Setelah Indonesia merdeka, kebun binatang tersebut dinasionalisasi dan tetap dipergunakan sebagai kebun binatang. Namun, dalam perkembangannya KBS ini berubah fungsinya dari tahun ke tahun. KBS yang dahulunya hanya sekadar sebagai tempat rekreasi telah dikembangkan fungsinya menjadi sarana perlindungan dan pelestarian, pendidikan, penelitian dan rekreasi.
KBS yang sejak tahun 1939 mempnyai luas lahan 15 hektar ini, memiliki 351 spesies satwa yang berjulah sekitar 2.500 hewan dari berbagai jenis, mulai dari mamalia, aves, pisces maupun reptil. *** [190114]
Share:

Gedung PT Inoscco Surya Pratama

Jalan Bibis merupakan salah satu jalan yang berada di kawasan Pecinan, Surabaya. Dahulu, kawasan ini termasuk di dalam Chinesevoorstraat. Kawasan ini senantiasa sibuk dengan aktivitas orang Tionghoa dalam perdagangan maupun pergudangan pada siang harinya, dan sarat dengan deretan bangunan tua yang menghiasi daerah tersebut.
Salah satu bangunan tua yang berada di daerah tersebut adalah gedung milik PT Inoscco Surya Pratama (Agen Resmi Pelumas dari PT Pertamina), yang terletak di Jalan Bibis No. 17 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur atau tepatnya berada di sebelah timur Kantor GPPS Jemaat Bibis.


PT Inoscco Surya Pratama (ISP) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha pendistribusian produk dari Pertamina, yaitu pelumas dan obat-obatan pertanian, seperti Meditran 40, Mesran Super 20 W/50, Mesran 40, Meditran S40, Rored HAD 140, Rored HAD 90, Rored EPA 90, Masri RG 220, Meditran S10W, Meditran P40, Medipral 412, dan Meditran S30.
Dalam situsnya, disebutkan bahwa PT ISP didirikan berdasarkan akte notaris dan disahkan oleh Menteri Hukum melalui Surat Keputusan (SK) yang anggaran dasar dan perubahannya telah diumumkan dalam Berita Negara RI Nomor 58 tertanggal 19 Juli 1985 (Tambahan Nomor 955/1985), Berita Negara RI Nomor 89 tertanggal 7 November 1989 (Tambahan Nomor 2884/1989), dan Berita Negara RI Nomor 14 tertanggal 17 Februari 1998 (Tambahan Nomor 1053/1998), yang selanjutnya diubah dengan akta-akta risalah RUPS, Akta Perubahan Terakhir tertanggal 26 April 2010 Nomor 10.


Sesuai dengan akta pendirian dan perubahannya, maksud dan tujuan perusahaan ini adalah untuk menyelenggarakan usaha perdagangan, pengangkutan dan jasa. Salah satu kegiatan usaha perdagangan yang dijalankan adalah sebagai agen pelumas dan transportasinya.
Bangunan PT ISP ini merupakan bangunan tua yang terdiri atas dua lantai, dan hingga kini masih terawat dengan baik. Yang khas dari bangunan ini adalah adanya pintu besar yang diapit oleh jendela yang menyerupai pintunya. Pintu tersebut berada di lantai bawah berukuran sekitar 1,8 meter yang di atasnya membentuk arcade (lengkungan) dengan hiasan besi berongga.
Di samping kiri bangunan PT ISP ini terdapat bangunan kembarannya, akan tetapi tidak seberuntung kepunyaan PT ISP. Bangunan tersebut kusam dan tampak tidak terawat.
Dari kedua bangunan tersebut, sayangnya tidak bisa didapatkan rekam jejak perihal gedung tersebut akibat minimnya informasi yang bisa digali di lapangan. *** [020314]

Kepustakaan:
Share:

Gedung Bank Internasional Indonesia Surabaya

Bangunan tinggi besar berwarna putih di pojok Willemskade (sekarang Jl. Jembatan Merah) dan Roomschkerkstraat (kini Jl. Cenderawasih), mengundang setiap orang yang melintas di kawasan tersebut untuk sejenak memandangnya. Di antara deretan bangunan kuno di kawasan yang sekarang dikenal dengan Jalan Jembatan Merah dan Jalan Cenderawasih ini, bangunan tersebut terlihat memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan bangunan lainnya yang berada di daerah tersebut. Selain warnanya yang putih, bangunan ini dihiasi dengan lima balkon dengan menara yang ada jam analognya. Bangunan tersebut adalah gedung Bank Internasional Indonesia (BII).
Gedung BII ini terletak di Jalan Jembatan Merah No. 3 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tepat berada di sebelah utara Kantor Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Surabaya.


Sebelumnya, Gedung BII ini adalah gedung Nederlands Spaarbank atau yang biasa disebut dengan Nutsspaarbank atau Bank Tabungan untuk Manfaat Umum. Nutsspaarbank merupakan satu-satunya Bank Tabungan Umum di Kota Surabaya kala itu.
Mulanya timbul ide untu mendirikan sebuh bank tabungan untuk umum pada Mei 1833, mengingat pada saat itu pemerintah Belanda sudah stabil. Ide ini ditangani oleh Maatschappij Tot Nut Van Het Algemente yang berlokasi di Amsterdam. Untuk sementara, kantor tersebut berada di Jalan Embong Malang.
Lalu, pada 18 Maret 1853, Dr. R.W.C.J. Barke mengusulkan untuk membangun gedung baru yang lebih representatif guna menggantikan gedung yang lama. Gedung tersebut dibangun pada tahun 1914 dan mulai digunakan sejak tanggal 8 Maret 1916. Arsitek bangunan gedung ini adalah Fritz Joseph Pinedo, yang lahir pada 12 Juni 1883 di Haarlem, Provinsi Belanda Utara. Ayahnya bernama Egbertus Pinedo dan ibunya adalah Maria Salomonson. Usai merampungkan Hotel Kartika Chandra di Jakarta pada tahun 1970, Pinedo meninggalkan sejumlah proyek ke Brasil di mana ia meninggal pada tahun 1976.


Bangunan ini merupakan bentuk dari penyelesaian klasik bangunan pojok yang banyak terdapat pada arsitektur kolonial. Yang dominan dari gedung ini adalah dominasi gevel depan dan tower atau tiang pada pintu masuk utamanya.
Bangunan Nutsspaarbank karya Pinedo ini merupakan karya arsitektur pada masa peralihan trend gaya desain dunia, yaitu pada tahun 1890-1915. Elemen interior dengan gaya pada masa itu tampil dengan gaya rancangan peralihan, seperti gaya Dutch Colonial, Empire Style, Art and Craft, Art Nouveau, Amsterdam Schools, dan menuju ke Nieuw Bowen yang lebih modern.
Dalam kesehariannya, bangunan ini masih berfungsi sebagai bank umum yang melayani para nasabah BII, sementara di sisi lain, arsitektur bangunan kolonial dari Nutsspaarbank ini sekarang sebagai penunjang kawasan kota lama di Surabaya, dan sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB).  *** [230214]

Kepustakaan:
Share:

Gedung PT Boma Bisma Indra

Di sudut barat daya dari perempatan lampu merah antara pertemuan Jalan K.H. Mas Mansyur di sebelah selatan, Jalan Sultan Iskandar Muda di sebelah timur, Jalan Hang Tuah di sebelah utara dan Jalan Benteng di sebelah barat terdapat bangunan kuno megah nan menawan. Bangunan tersebut milik PT Boma Bisma Indra (BBI) yang terletak di Jalan K.H. Mas Mansyur No. 229 Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di sebelah utara Hotel Mesir yang berjarak sekitar 500 meter.
Berdasarkan catatan sejarah, Surabaya menunjukan geliat ke arah kota industri ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), seorang Gubernur Jenderal ke-36 yang bertugas di Hindia Belanda, memandang perlunya didirikan beberapa bengkel yang dapat memproduksi dan memperbaiki peralatan pertahanan untuk menopang pertahanan kota. Yang kemudian menyusul dibukanya sejumlah jalur kereta api di Surabaya menuju ke kota lain di sekitarnya atau sebaliknya guna mengangkut komoditas ekspor yang berasal dari perkebunan-perkebunan.
Pada tahun 1808 didirikan perusahaan konstruksi baja yang diberi nama Constructie Winkel di Werfstraat (sekarang dikenal dengan Jalan Penjara). Ketika itu, bengkel konstruksi pertama dan terbesar ini sudah dilengkapi dengan mesin cor, mesin bubut dan beberapa jenis lainnya.
Kehadiran Constructie Winkel di Surabaya mendorong pemodal Belanda lainnya juga mendirikan bengkel konstruksi di Kampemenstraat (sekarang Jalan K.H. Mas Mansyur) pada tahun 1878. Bengkel yang diberi nama NV Nederlandsch Indische Industrie melayani kebutuhan pabrik-pabrik gula yang pada waktu itu sudah banyak beroperasi di berbagai daerah di Jawa Timur, dan juga melayani reparasi kapal-kapal kecil karena dilengkapi dengan sebuah dermaga menghadap Kali Mas yang berada di sisi belakang bangunan tersebut. Pada foto lawas yang diunggah di sejumlah media maya, memberitakan bahwa pada 7 September 1922, perusahaan Belanda ini pernah menerima kunjungan Gubernur Jenderal Dirk Fock bersama istrinya, dan berpose tepat di depan pintu utama perusahaan yang memiliki lahas seluas 7.549 m² dan luas bangunan sekitar 4.888 m² ini.


NV Nederlansch Indische Industrie ini merupakan cikal bakal PT BBI, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia yang bergerak di bidang diesel maupun jasa pembuatan besi-besi untuk keperluan industri atau pabrik di seluruh Indonesia.
PT BBI berdiri berdasarkan Akta No. 76 tanggal 30 Agustus 1971 yang dibuat dihadapan Bebasa Daeng Lalo, SH, Notaris di Jakarta, yang memperoleh pengesahan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehakiman Republik Indonesia nomor J.A.5/175/5 tanggal 22 November 1971 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Nomor 19 dan Tambahan Berita Negara Nomor 5 tanggal 18 Januari 1972. Anggaran Dasar BBI telah mengalami perubahan, dan terakhir dengan Akta Perubahan Anggaran Dasar Nomor 05 tanggal 11 Agustus 2008 dibuat dihadapan Nurul Larasati, SH, Notaris di Jakarta, dan telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat keputusannya No. AHU-7452.AH.01.02 Tahun 2008 tanggal 15 Oktober 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara 4252 dan Tambahan Berita Negara Nomor 13 tanggal 13 Februari 2009.
Sejarah perusahaan ini diawali dari nasionalisasi tiga perusahaan Belanda yaitu NV. Constructie Winkel De Bromo (1865) yang berada di Pasuruan, NV. Nederlandsch Indische Industrie (1878) dan NV. Machinefabriek en Constructie-Werkplaats De Vulkaan (1918) yang berada di Ngagel, diambilalih Pemerintah Indonesia pada tahun 1958 yang dijadikan 3 perusahaan milik negara, yaitu PN Boma, PN Bisma dan PN Indra. Dalam perkembangannya bersama Stork Werkspoor Sugar (Belanda) pada tahun 1974, sebuah perusahaan patungan yang didirikan dengan nama PT Bromo Steel Indonesia (PT Bosto) yang mengkonsentrasikan bisnisnya pada desain, manufaktur dan pembangunan pabrik gula, palm oil, steam boiler dan pressure vessel. Selanjutnya sesuai dengan berkembangnya sektor industri minyak dan gas, PT BBI melakukan kerjasama dengan beberapa kelompok perusahaan untuk mendirikan Panca Perkasa Inti Konstruksi (PPIK) yaitu perusahaan yang bergerak di bidang engineering, procurement dan construction (EPC).
Pada tahun 1987, melalui kerjasama teknis dengan Klocker Humboldt-Deutz (KHD), PT BBI membentuk divisi baru yang bergerak dalam manufaktur mesin-mesin diesel berkekuatan 21 sampai 4000 HP. Pada tahun 1989 (28 Agustus 1989) melalui Keppres No. 44, PT BBI bersama 9 perusahaan milik Negara yang lain dikonsolidasikan menjadi Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) di bawah koordinasi Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS).
Pada tahun 1998 melalui PP. No. 35/1998 dan Inpres No. 15/1998 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di bidang industri yang sebelumnya 10 BUMNIS dikoordinasi oleh BPIS dan sekarang berubah menjadi PT. Pakarya Industri (Persero) atau disingkat PT. PI. Pada tahun 1999 PT. PI berubah menjadi PT. BPIS (Bahana Pakarya Industri Strategis) hingga saat ini.
Pada tahun 2002 terbit Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 52 tahun 2002 tanggal 23 September 2002 tentang penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam modal saham PT BBI dan pembubaran perusahaan PT Bahana Pakarya Industri Strategis (Persero), yang menetapkan Negara Replublik Indonesia mengambilalih seluruh penyertaan modal BPIS pada PT BBI sehingga saham yang diambil alih menjadi kekayaan negara, yang dikelola oleh Menteri Keuangan, serta menghapus Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1998, sehingga sejak saat itu PT BBI menjadi Persero, dan di bawah koordinasi Kementerian Negara BUMN. 
Gedung yang dulu dikenal dengan sebutan De Industrie ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) sesuai Surat Keputusan Walikota Nomor 188 45/251/402.104/1996 Nomor Urut 37. ***

Share:

Kantor Pos Besar Surabaya

Kantor Pos Besar Surabaya terletak di Jalan Kebon Rojo No. 10 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di sebelah utara gedung Bank Indonesia. Makanya kantor pos ini biasa disebut dengan Kantor Pos Kebon Rojo.
Dahulu daerah ini dikenal dengan istilah Regentstraat karena hingga tahun 1881 terdapat rumah dinas Adipati (regent) berada di sana. Sebelum menjadi gedung kantor pos, bangunan tersebut sesungguhnya adalah Dalem atau tempat tinggal bagi Bupati Surabaya yang dibangun pada awal 1800. Kala itu, Dalem Kadipaten Surabaya masih berhadapan dengan Kebon Rojo yang tempo doeloe juga disebut Stadtuin atau Taman Kota.
Lalu, pada tahun 1881, gedung tersebut ditempati Hogere Burger School (HBS). Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak bangsa Eropa, putra bangsawan pribumi atau putra para tokoh pribumi terkemuka. Bahasa pengantar di HBS ini adalah bahasa Belanda, dengan lama belajar tujuh tahun.


HBS ini begitu terkenal karena telah melahirkan sejumlah tokoh yang kelak menghiasi lembaran sejarah negeri ini, di antaranya Hubertus Jan van Mook (1906-1913) yang dikemudian hari menjadi Gubernur Jenderal van Mook, Christian Eichholtz (1916-1923) yang kelak bekerja pada Departemen Binnenland Bestur  urusan Politieke Inlichtingen Dienst atau Dinas Intelijen Politik, dan Soekarno (1916-1923) yang kelak menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.
Pada tahun 1923, HBS pindah ke daerah Ketabang (sekarang gedung SMA Kompleks di Wijaya Kusuma). Bekas gedung HBS itu kemudian digunakan sebagai Hoofdcommissariaat van Politie atau Kepala Komisaris Polisi Soerabaia sampai tahun 1926. Setelah itu, gedung ini direnovasi dan digunakan sebagai Hoofdpostkantoor atau Kantor Pos Besar hingga sekarang.
Pembangunan gedung Kantor Pos Kebon Rojo dimulai pada tahun 1926, dan selesai pada tahun 1928. Perancang gedung ini adalah G.P.J.M. Bolsius dari Departemen Burgerlijke Openbare Werken (BOV) Batavia. Sebelumnya, Hoofdpostkantoor menjadi satu dengan Kantor Residen Surabaya yang berada di daerah Handelstraat (sekarang Kembang Jepun).
Sepintas dari tampak depan, bangunan gedung ini mirip dengan Stasiun Beos Jakarta Kota yang ditandai dengan lengkungan setengah lingkaran dengan kaca di atas pintu utama gedung. Hanya saja, di gedung Kantor Pos Kebon Rojo memiliki atap yang terkesan oriental dan klasik.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini dikuasi oleh Jepang namun fungsinya tetap menjadi kantor pos. Kemudian pada Oktober 1945, gedung ini berhasil diambilalih kembali oleh para pegawai pos pribumi. Di dalam gedung utama, terdapat plakat yang mengabadikan dua orang karyawan Post Telefone dan Telegraf (PTT) yang gugur dalam perebutan gedung tersebut, yaitu Soepojo dan Soeprapto.
Belum genap sebulan, gedung ini direbut oleh bangsa Indonesia, pada 26 Oktober 1945, gedung ini diduduki oleh Tentara Sekutu, dan kemudian dijadikan sebagai markas sementara bagi pasukan mereka yang mendarat di Surabaya.


Pada 27-29 Oktober 1945, pejuang Indonesia melakukan penyerbuan. Pertempuran sengit kembali berlangsung selama tiga hari di sekitar gedung kantor pos yang membuat pasukan Sekutu kewalahan. Selama gedung Kantor Pos Kebon Rojo dijadikan ajang pertempuran, layanan pos dialihkan ke gedung Kantor Pos Simpang yang berada di depan Gedung Grahadi.
Situasi tersebut memaksai Mayjen Hawthorn meminta bantuan Presiden Soekarno untuk mengurangi tekanan arek-arek Suroboyo. Perundingan ini dilakukan di Kantor Gubernur yang lokasinya tidak begitu jauh dengan gedung ini. Ultimatum Sekutu ini pada pukul 23.00 WIB ditolak oleh Gubernur Soerjo, dan esok harinya meletus peristiwa 10 November 1945 hingga akhirnya para pejuang berhasil mengusir pasukan Sekutu. Terusirnya pasukan Sekutu dari Surabaya, maka sekitar awal tahun 1946 gedung Kantor Pos Kebon Rojo kembali dibuka untuk memberikan layanan pos kepada masyarakat Surabaya.
Perjalanan kisah yang dimiliki oleh gedung Kantor Pos Kebon Rojo ini memang cukup mengaggumkan. Sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Wali kota Surabaya Nomor 188.45/251/402.104/1996 dengan nomor urut 19, gedung ini ditetapkan menjadi salah satu bangunan cagar budaya (BCB) yang dilindungi keberadaannya oleh Undang-Undang. *** [180114]
Share:

Gedung Bima Alfa

Di sepanjang Jalan Karet, Surabaya, terdapat banyak bangunan tua yang masih difungsikan, baik itu semenjak awal atau pun yang sudah berganti-ganti kepemilikannya. Umumnya, bangunan tua tersebut sebagian besar sebagai kantor jasa pengiriman.
Daerah Jl. Karet atau Chinesevoorstraat, dulunya terkenal sebagai daerah perdagangan yang maju pesat. Deretan gedung-gedung berarsitektur kolonial Belanda tempo doeloe tersebut menghiasi jalan tersebut dan sebagian belakangan bangunan tersebut ada pula yang menjadi pemandangan di tepi Kali Mas sekitaran Jembatan Merah. Salah satunya adalah gedung Bima Alfa, sebuah bangunan kuno milik PT. Bima Alfa.
Gedung ini terletak di Jalan Karet No. 79 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi tidak begitu jauh dari Jembatan Merah.


Awalnya, gedung ini merupakan gedung milik Nederlandsch Handels Maatschappij (NHM) yang dibangun pada tahun 1910. Gedung kantor NHM ini merupakan hasil rancangan arsitek Marius J. Hulswit, seorang arsitek Belanda yang datang ke Hindia Belanda pada tahun 1890. Mulanya Hulswit bekerja sendiri di Hindia Belanda, lalu ia bergabung dengan biro arsitek Hulswit, Fermont and Ed. Cuypers yang mendapat banyak proyek besar di Surabaya.
NHM merupakan perusahaan dagang Belanda yang didirikan di Den Haag, Belanda, pada Selasa, 9 Maret 1824 atas prakarsa Raja William I. NHM ini didirikan dalam upaya untuk membangun kembali perekonomian Belanda, mengaktifkan perdagangan dengan Hindia Timur, dan sekaligus menjadi pengganti VOC yang telah mengalami kebangkrutan. Selain itu, kisah pemberontakan terhadap kekuasaan kolonial yang cukup lama, seperti Perang Padri (1821-1838) dan Perang Jawa (1825-1830) memberikan andil juga bagi kesulitan keuangan pemerintah kolonial Belanda.


Peristiwa inilah yang mengakibatkan munculnya cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa. Dalam cultuurstelesel ini, peraturan yang dikeluarkan Pemerintah Hindia Belanda yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan nila. Sistem tanam paksa ini telah menyengsarakan penduduk penduduk pribumi. Selain harganya sudah ditentukan juga oleh mereka, wilayahnya terkena pungutan pajak. Akan tetapi, bagi NHM, hal ini sangat menguntungkan sekali. NHM yang terlibat dalam perdagangan yang membuka perwakilan di Hindia Belanda jelas memanfaatkan sistem seperti ini untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Sehingga, bisa kita saksikan dari bangunan NHM yang ada di daerah Kembang Jepun tersebut yang berdiri cukup megah. Gedung tersebut juga menjadi landmark bagi kawasan kota lama.
Kemegahan gedung ini sampai sekarang masih bisa dilihat dan dikunjungi, akan tetapi sesuai dengan plakat kuningan yang dipasang di dinding depan gedung tersebut mengindikasikan bahwa bangunan kuno tersebut sepertinya sudah beralih kepemilikannya kepada PT. Bima Alfa, dan diplakat itu juga disebutkan bahwa bangunan gedung tersebut merupakan bangunan cagar budaya (BCB) sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Wali kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 dengan nomor urut 36. *** [150214]
Share:

Masjid Serang Surabaya

Komunitas Arab merupakan salah satu pendatang yang ada di Nusantara. Di Surabaya, orang-orang Arab lebih dulu datang ketimbang bangsa Portugis, Belanda maupun Inggris. Cikal bakal kampung Arab (Arabische Kamp) berada di sekitar Masjid Ampel berbarengan dengan syiar Sunan Ampel sekitar 1451, yang terus meluas hingga ke arah Kembang Jepun.
Meski di sekitar Masjid Ampel, ada pedagang Jawa, Madura maupun India, tapi mayoritas adalah keturunan Arab. Umumnya, para pedagang keturunan Arab itu berasal dari Hadramaut, daerah Yaman Selatan. Selain sebagai pedagang, mereka juga menyebarkan agama Islam.


Ampel sebagai kawasan atau kampung Arab memiliki beberapa warisan peninggalan sejarah yang lumayan banyak. Salah satunya adalah masjid tua di sekitar Ampel, seperti Masjid Serang.
Masjid Serang terletak di Jalan Panggung No. 141 Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tepat berada di sudut belokan Kalimas Udik yang mengarah ke Kembang Jepun.


Awalnya, bangunan masjid ini berupa sebuah langgar yang dibangun sekitar tahun 1630, dan merupakan wakaf daeri seorang saudagar kaya raya dari India bernama Srangh. Oleh karena itu, langgar tersebut dinamakan langgar Serang, yang berasal dari kata Srangh. Bentuknya kala itu hampir mirip dengan Langgar Bafadol, yang berada sekitar 1 kilometer ke arah timur, hanya saja menaranya agak lebih lancip. Langgar tersebut memiliki design arsitektur yang khas dengan menara yang menyerupai menara di Yaman.
Saat ini, Langgar Serang tersebut sudah banyak berubah terutama dari segi arsitekturnya, dan juga telah meningkat menjadi masjid. Namun, tempat untuk shalatnya masih tetap sama, yaitu di lantai dua. Karena memang sejak awal, lokasi masjid ini adalah kawasan perdagangan yang cukup ramai dan padat. Sehingga, lantai bawahnya digunakan sebagai tempat berjualan atau berdagang. Sekarang di bawah masjid ini, ada Toko Serba Wangi, Toko Bibit Wangi, dan Toko Toyibah Parfum. *** [150214]
Share:

Kantor Gubernur Provinsi Jawa Timur

Berjalan di titik nol kilometer Kota Surabaya, seolah-olah terbayang masa lalu. Masa lalu kota yang diwarnai sederetan bangunan kuno, peninggalan kolonial Hindia Belanda. Termasuk salah satunya adalah gedung Kantor Gubernur Provinsi Jawa Timur.
Kantor Gubernur atau Gouverneur Kantoor ini terletak di Jalan Pahlawan No. 110 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tepat berada di sebelah timur Tugu Pahlawan, sebuah monumen heroik arek-arek Surabaya.
Sebelumnya, Kantor Gubernur berada di Kembang Jepun hingga tahun 1930. Gedung kantornya tepat berada di mulut Jembatan Merah. Sehingga, kawasan Kembang Jepun dulu, selain sebagai pusat pemerintahan Kota Surabaya, juga sebagai kawasan bisnis utama pada waktu itu.


Seiring perjalanan waktu, kepadatan Kembang Jepun tak bisa dihindari lagi. Bangunan kantor gubernur yang dari segi arsitektur tidak begitu anggun, dan di depannya banyak kendaraan di parkir di sekitar jalan itu, harus dipindahkan ke daerah yang belum padat.
Akhirnya, gedung yang baru mulai dibangun pada bulan Mei 1929 oleh NV Nederlandsche Aanneming Maatschappij (Nedam), dan selesai pada bulan Agustus 1931. Setelah itu mulai digunakan pada tanggal 10 Desember 1931 sebagai Kantor Gubernur, Kantor Residen, dan Kantor Kepolisian Karesidenan. Arsiteknya adalah Ir. W. Lemei, HA. Breuning dan WB Carmiggelt dari Landsgebouwdienst atau Djawatan Gedong-Gedong Negara di Surabaya.
Gedung yang berada di lokasi sekarang ini berdiri di atas sebidang tanah seluas 11.612 m², bangunan utama terdiri atas dua lantai dengan luas bangunan 7.865 m². Ciri khas bangunan ini adalah berwarna putih seluruhnya dengan menara jam yang memiliki ornamen kubah kecil keemasan di puncaknya. Konon, gedung ini merupakan salah satu simbol pembangunan gedung-gedung berarsitektur modern di Surabaya. Banyak orang mengatakan bahwa ide gedung ini mirip dengan bangunan gedung balai kota Hilversum di Belanda, hasil karya arsitek Belanda terkenal Ir. W. Dudok.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah diambilalih oleh Jepang dan difungsikan sebagai Kantor Syuuchokan (Karesidenan) karena jabatan gubernur dalam tata pemerintahan Jepang tidak dikenal.


Setelah Indonesia merdeka, gedung ini difungsikan kembali seperti sebelum direbut oleh Jepang, yaitu sebagai Kantor Gubernur, Kantor Residen, dan Kantor Kepolisian Karesidenan. Akan tetapi, dalam perkembangannya, Kantor Kepolisian Karesidenan ini selanjutnya menempati gedung tersendiri bekas Hoofdbureau van Politie di Paradestraat atau Jalan Sikatan. Sedangkan, Kantor Karesidenan sebagai Kantor Pembantu Pembantu Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur dipindahkan ke Jalan Raya Gubeng.
Seiring kebutuhan akan sumber daya manusia, penambahan jumlah pegawai di lingkungan Kantor Gubernur pun tidak bisa dihindari. Konsekuensinya, perlu penambahan ruangan untuk memenuhi ruangan kantor yang harus melebihi kapasitas di atas 300 orang. Akhirnya, dibangun kantor baru di belakang gedung lama pada tanggal 10 Oktober 1981 dengan mensinergikan gaya arsitektur bangunan lama yang ada di depannya. *** [180114]
Share:

Masjid Peneleh Surabaya

Setelah langgar atau mushalla yang dibuat oleh Sayyid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) yang berada di Kembang Kuning dan beliau sempat berdakwah,  lalu langgar tersebut dipercayakan untuk diasuh oleh salah satu muridnya yang bernama Wirosroyo.
Lantas Raden Rahmat melanjutkan perjalanannya menuju Ampel Denta (yang kelak bergelar Sunan Ampel) dengan menyusuri Kali Mas. Sesampainya di sebuah delta tempat pertemuan antara Kali Mas dan Sungai Pegirian, Raden Rahmat tertarik untuk tinggal beberapa waktu sambil menjalankan dakwahnya di daerah tersebut. Daerah tersebut sudah membentuk perkampungan yang dikenal dengan nama Peneleh.  Nama Peneleh lahir di zaman Kerajaan Singasari. Asal kata peneleh berasal dari tempat tinggal Pangeran Pinilih (pilihan), putra Raja Wisnuwardhana, yang memiliki pangkat setara dengan bupati. Pangeran tersebut kemudian diangkat menjadi pemimpin di daerah yang berada antara pertemuan dua sungai tersebut.
Lalu, Raden Rahmat mengajak menepi dan mencari tempat untuk tinggal. Mereka akhirnya mendapat lokasi untuk dijadikan tempat tinggal yang begitu jauh dari Kali Mas. Di tempat baru itu, Raden Rahmat juga mendirikan sebuah mushalla yang lebih besar ketimbang mushalla yang dibangun di Kembang Kuning.


Setelah beberapa waktu berdiam di Peneleh, dan melakukan syiar dari mushalla tersebut, Raden Rahmat beserta rombongan melanjutkan perjalanannya ke Ampel Denta melalui Kali Mas. Ampel Denta terletak di pesisir utara. Di sana, Raden Rahmat dipinjami lahan yang cukup luas oleh Raja Brawijaya V.
Pada awalnya, mushalla yang didirikan di Peneleh ini masih begitu sederhana meskipun sudah lebih bagus atau lebih luas ketimbang mushalla pertama (langgar Kembang Kuning) yang dibangun di Surabaya. Sehingga, mushalla di Peneleh ini merupakan tempat ibadah umat Islam yang kedua yang didirikan oleh Raden Rahmat beserta rombongannya.
Sekitar tahun 1800, mushalla peninggalan Raden Rahmat diadakan renovasi menjadi Masjid Peneleh. Pada saat renovasi tersebut, bangunan di dalam masjid tetap dipertahankan seperti aslinya yang ditopang oleh sepuluh tiang penyangga dari kayu jati, dan langit-langitnya pun juga terbuat dari kayu jati. Sedangkan bagian luarnya, dibuat dinding yang tinggi dengan pintu dan jendela yang besar. Sepintas bangunan ini mirip dengan gaya arsitektur yang ada di Gedung Grahadi yang berlanggam Indische Empire.
Pada tahun 1945, di masa kemerdekaan, kubah masjid tersebut pernah terkena sambaran tembakan meriam Belanda dari arah Jembatan Merah. Kubahnya tidak hancur tapi di sisi timurnya sedikit mengalami kerusakan. Lalu, langsung diperbaiki.
Sekitar tahun 1970, serambi masjid mengalami perluasan tanpa mengubah ornamen dalam maupun keaslian masjid tersebut.


Sepintas bangunan tembok Masjid Peneleh ini, kualitasnya mirip dengan Masjid Ampel. Sehingga, pada waktu itu, kemegahan masjid seluas 950 m² ini tidak diragukan lagi. Keelokan masjid ini terpancar setelah dilakukan renovasi pada 1800 dengan dipasangi hiasan kaca-kaca patri di setiap ventilasi di sela-sela atap.
Seiring perkembangan zaman, dilingkungan masjid tersebut semakin berubah menjadi pemukiman yang padat. Masjid Peneleh, secara administratif terletak di Jalan Achmad Djais Gang Peneleh V No. 41 Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tidak begitu jauh dengan rumah HOS Cokroaminoto yang berada di Gang Peneleh VII maupun berjarak sekitar 400 meter dari Kerkhof atau makam orang Belanda.
Semula masjid tersebut bisa disaksikan dari tepi Kali Mas, kini sudah terhimpit oleh bangunan rumah milik warga. Hal ini menyebabkan pamornya kalah dengan MasjidRahmat yang ada di Kembang Kuning maupun Masjid Ampel. Padahal sampai tahun 1900-an, daerah ini masih menarik untuk disinggahi tapi sekarang seolah-olah terbenam. Bahkan, masyarakat Surabaya sendiri jarang yang mengetahuinya.
Sebenarnya, bila kawasan Kampung Peneleh ini direvitalisasi secara komprehensif dan integratif, kawasan kuno ini bisa menjadi potensi wisata heritage andalan bagi Kota Surabaya. Karena situs lawas Kampung Peneleh ini sarat dengan nilai sejarah dengan bertebarannya bangunan kuno yang terdapat di kampung ini. Mulai dari pemukiman lawas, bangunan publik bergaya kolonial, masjid peninggalan salah seorang Walisanga maupun De Begraafplaats Peneleh. *** [080214]
Share:

Rumah Sakit Mata Undaan

Sepanjang Jalan Undaan Kulon merupakan kawasan kuno yang ada di Kota Surabaya, yang dulu dikenal dengan Oedaanstraat. Sebagai kawasan kuno tentunya daerah ini dulunya merupakan salah satu bagian penting bagi pertumbuhan suatu kota yang mempunyai nilai sejarah dan ekonomi. Salah satunya adalah dengan berdirinya Rumah Sakit Mata Undaan.
Rumah Sakit Mata ini terletak di Jalan Undaan Kulon No. 17-19 Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di sudut pertemuan antara Jalan Undaan Kulon dengan Jalan RP Soenario Gondokoesoemo, atau tepatnya berada di sebelah utara Panti Asuhan Yatim Piatu Undaan.
Awalnya rumah sakit ini berbentuk klinik yang kala itu masih menyewa sebuah bangunan (kini dikenal dengan Panti Wreda) di sebelah selatan lokasi rumah sakit sekarang ini. Pembukaan klinik mata ini pada 15 Oktober 1915 atas prakarsa dr. A. Deutman karena keprihatinannya atas wabah penyakit mata yang pada waktu itu menular dengan cepat dan menyebabkan kebutaan.


Penderita mata di Surabaya kian hari kian banyak, dan para dokter Belanda terus berjuang hingga menghasilkan izin dan status dari Pemerintah Belanda dengan berdirinya sebuah perhimpunan yang bernama De Soerabaiasche Oogheekundige Kliniek yang diketuai oleh dr. J.F. Terburgh. Seluruh kegiatan dilakukan di rumah kontrakan tersebut.
Dalam buku peringatan “75 Tahun Rumah Sakit Mata Undaan 1933-2008”, dikisahkan bahwa pada November 1932, tepat di sebelah kiri rumah yang disewa bagi kegiatannya, mulai dibangun gedung klinik yang lebih representatif yang kemudian menjadi Rumah Sakit Mata Undaan atas usul dr. J.F. Terburgh, dr. A. Deutman, dan Egas. Dengan luas bangunan sekitar 2.400 m² yang berdiri di atas lahan seluas 7.009 m² ini, Rumah Sakit Mata Undaan pertama kali dibuka untuk umum pada 29 April 1933, di bawah pimpinan dr. A. Deutman sebagai Direktur hingga 1942. Di sisa lahan yang ada, dibuat ruang terbuka dengan penghijauan semacam hutan kecil yang sejuk dan rindang.
Bangunan gedung rumah sakit ini dirancang oleh Biro Arsitek Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA) yang didirikan oleh Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels (kelahiran Tulungagung, 8 September 1882) di Batavia pada 1916. Biro ini merupakan kombinasi antara biro perancangan dan pelaksanaan bangunan, didirikan bersama dua rekannya, yaitu Ir. Hein van Essen dan arsitek Stoltz. Pada waktu mengerjakan gedung Rumah Sakit Mata Undaan ini, biro arsitek tersebut membuka kantor yang beralamatkan di Jalan Sumatera 59 Surabaya.
Ghijsels memang dikenal sebagai arsitek yang karyanya sering digunakan untuk  desain-desain rumah sakit maupun bangunan resmi lainnya, sehingga desain-desainnya cenderung terkesan rapi dan resmi. Ruangan berukuran besar dan tinggi, sehingga suasana di dalamnya terasa sejuk.


Semasa pendudukan Jepang, semua kegiatan di Rumah Sakit Mata Undaan terhenti karena situasi keamanan yang tidak memungkinkan. Baru pada 8 Januari 1946, rumah sakit ini kembali dibuka untuk umum yang dipimpin oleh dr. IH. Go, seorang peranakan Tionghoa berkebangsaan Belanda. Beliau dibantu oleh dr. J. Ten Doesschate, seorang dokter wanita dari Belanda yang datang pada 1947.
Dengan diberhentikannya bantuan dana pemerintah pada 1950, pengelolaan rumah sakit diambil alih oleh Perhimpunan Perawatan Penderita Penyakit Mata (P4M) yang merupakan nama baru dari perhimpunan yang lama.
Pada 1968, dr J. Ten Doesschate kembali ke Belanda. Sejak itu,pengelolaan rumah sakit ini seluruhnya dilakukan oleh putra Indonesia di bawah pimpinan dr. Moh. Basuki, SpM. Pada waktu itu, Fakultas Kedokteraan Universitas Airlangga sudah mulai menghasilkan dokter mata, dan mulailah dikembangkan kerja sama dengan dimanfaatkannya fasilitas Rumah Sakit Mata Undaan sebagai salah satu teaching hospital hingga sekarang.
Sekalipun tahun ini, bangunan Rumah Sakit Mata Undaan usianya akan genap 81 tahun akan tetapi kondisi bangunannya masih tampak kokoh, dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Wali kota Surabaya Nomor 188.45/283/436.1.2/2011. Sehingga sesuai ketentuan UU Cagar Budaya yang berlaku, bangunan rumah sakit ini harus dipelihara dan dilindungi. ***[080214]
Share:

Panti Asuhan Undaan

Tempo doeloe daerah Undaan merupakan kawasan tua yang ada di Kota Surabaya. Daerah ini merupakan “perluasan” dari Kampung Peneleh yang telah ada jauh sebelumnya, karena Kampung Peneleh tersebut sudah ada semenjak zaman Singasari. Peneleh berasal dari nama anak Raja Wisnu Wardhana, Pangeran Pinilih, yang tinggal di daerah tersebut.
Sebagai kawasan tua maka lazim bila di daerah tersebut banyak bermunculan bangunan lawas, baik itu rumah milik perorangan, rumah sakit maupun bangunan publik lainnya. Salah satu bangunan kuno yang masih memancarkan pesonanya adalah Panti Asuhan Undaan.


Panti Asuhan Undaan terletak di Jalan Undaan Kulon No. 9-15 Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tepat berada di sebelah selatan Rumah Sakit Mata Undaan.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, awalnya bangunan berlahan sangat luas dengan langgam Indische Empire merupakan rumah kediaman keluarga Polack, salah satu keluarga Belanda yang tinggal di daerah itu. Akan tetapi, pada tahun 1932, rumah laksana kraton ini akhirnya dibeli oleh seorang opsir Tionghoa yang mendapat dukungan dana dari sejumlah dermawan Tionghoa lainnya.


Mayor The Toan Ing bersama Mayor Han Tjion Khing mendirikan Panti Asuhan Thay Tong Bon Yan di bekas rumah keluarga Polack tersebut. Mayor Han Tjing Khing merupakan Mayor Tionghoa terakhir di Surabaya yang mengundurkandiripada tahun 1924. Istri Mayor Han Tjiong Khing adalah The Gwat Bio, putri dari Mayor The Boen Khe, dan saudara dari Mayor The Toan Ing.
Sedangkan Mayor The Boen Khe adalah seorang tokoh Tionghoa yang disegani, yang pernah memberikan bantuan sebidang tanah di Kapasan seluas 500 m² untuk didirikan Klenteng Boen Tjiang Soe, dan ketika klenteng tersebut berubah menjadi tempat ibadah Khonghucu diganti namanya menjadi Klenteng Boen Bio.
Bangunan kuno peninggalan zaman Hindia Belanda sampai saat ini masih berfungsi sebagai gedung panti asuhan, namun sekarang namanya berganti menjadi Panti Asuhan Undaan.
Panti Asuhan Undaan adalah tempat penampungan untuk anak yang tidak memiliki orang tua. Selain sebagai tempat tinggal, panti asuhan ini juga mengkhususkan diri untuk mengurusi setiap anak-anak yang ada di bawah naungannya.
Dilatarbelakangi sejarah yang dimiliki gedung ini, maka bangunan ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Wali kota Surabaya Nomor 188.45/421/436.1.2/2012. *** [080214]
Share:

Gedung Lindeteves Stokvis Surabaya

Bangunan yang cukup megah di sudut perempatan Jalan Kebon Rojo dan Jalan Pahlawan, senantiasa mengundang pandangan mata bagi yang melintas di jalan tersebut. Gedung tersebut adalah milik Bank Mandiri yang ditandai dengan logo Mandiri yang terpampang di gedung tersebut, yaitu sebuah lambang yang konon dimaksudkan sebagai sikap ramah dan rendah hati.
Gedung tersebut terletak di Jalan Pahlawan No. 120 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Dulu kawasan ini terkenal dengan nama Aloon-Aloonstraat. Lokasi tersebut tidak begitu jauh dengan keberadaan bangunan kuno lainnya, seperti gedung Pertamina UPDN V, Kantor Pos Besar Kebon Rojo, Kantor Badan Penanaman Modal UPTD Pelayanan Perijinan Terpadu, Bank Indonesia maupun Kantor Gubernur Provinsi Jawa Timur.
Awalnya, bangunan ini adalah gedung milik NV Lindeteves Stokvis, salah satu di antara lima perusahaan konglomerat Belanda selain NV Rotterdam Internatio, NV Borsumij Maatschappij, NV Geo Wehry, dan NV Jacobson van den Berg. Mereka menguasai jaringan bisnis perdagangan, produksi, jasa, industri, serta distribusi di sejumlah negara. Di Surabaya, NV Lindeteves Stokvis merupakan cabang dari perusahaan yang berkedudukan di Semarang.


Gedung Lindeteves Stokvis ini dibangun pada tahun 1911 dan selesai pada tahun 1913 dengan menggunakan perancang dari Batavia, yaitu biro arsitek Hulswit en Fermont te Weltevreden Ed. Cuypers te Amsterdam, yang biasa disingkat menjadi Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers. Sedari awal gedung ini memang dirancang sebagai kantor maupun pabrik baja, sehingga bangunannya pun sangat besar dan luas. Pintu gedung bagian depan dibuat besar yang memungkinkan sebuah mobil bisa langsung masuk ke dalam dan parkir di halaman tengah gedung ini. Bagian belakang dari gedung ini sangat luas dengan atap yang cukup tinggi. Konstruksinya menggunakan rangka dari baja, dan pintu-pintunya menggunakan rel yang dapat dibuka dengan cara digeser ke samping kiri maupun kanannya. Di dalamnya juga terdapat bekas track atau rel yang dulunya digunakan untuk mengangkut material berat. Sedangkan di bagian tengah dari kompleks bangunan ini terdapat taman yang tampak asri dengan beberapa pohon yang rindang.
Bangunan gedung ini juga dilengkapi dengan menara yang menjulang cukup tinggi dengan jam analog yang menunjukkan waktu dan masih berfungsi sampai saat ini. Konon, jam menara tersebut dibekali dengan lonceng yang bisa menyanyikan lagu Westminster. Hal ini sesuai dengan tulisan yang tertera dalam mesin jam tersebut, “torenuurwerk met Westminster carillon”. Carillon adalah sekumpulan lonceng yang berbeda ukuran, sehingga dapat menimbulkan nada yang berbeda pula ketika dipukul. Pada jam menara ini yang dinyanyikan adalah lagu Westminster sebelum, lonceng memberi tahu pukul berapa sekarang. Lagu Westminster pun tidak begitu asing bagi kita yang sering bepergian dengan kereta api, karena sering digunakan sebagai pembukaan pengumuman di stasiun-stasiun kereta api.


Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gedung ini dijadikan Kitahama Butai, bengkel kendaraan perang Bala Tentara Jepang, dan sekaligus menjadi gudang persenjataan. Karena Jepang tahu bahwa NV Lindeteves Stokvis memang dulunya adalah pabrik konstruksi baja milik Belanda.
Pada masa awal kemerdekaan, tepatnya 1 Oktober 1945, arek-arek Suroboyo yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah pimpinan Isa Edris dan Suprapto berhasil merebut gedung itu, dan merampas sejumlah tank, alat penangkis serangan udara, watermantel dan persenjataan lainnya.
Setelah itu, penggunaan bangunan gedung ini beberapa kali sempat berpindah tangan. Dari catatan yang di dapat, pada 1993 gedung ini digunakan untuk Bank Niaga. Lalu, Bank Dagang Negara (BDN), dan semenjak 2001 hingga sekarang, beralih menjadi gedung Bank Mandiri Cabang Surabaya Pahlawan.
Bagi lingkungan sekitar, bangunan gedung ini menjadi landmark karena keunikan bangunannya yang terletak di jalur strategis nan ramai, tepat di pojok perempatan. Selain itu, gedung ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan benda cagar budaya (BCB) sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor 188.45/251/402.104/1996 dengan nomor urut 35. *** [180114]
Share:

Pabrik Sirop Siropen

Saat melintas Jalan Jembatan Merah, pandangan saya tertuju pada plang atau papan berwarna merah maron yang dipelisir warna putih dengan bertuliskan “Pabrik Sirop Siropen ± 100 M” yang dipancangkan di mulut jalan kecil antara gedung PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) X dan Prima Master Bank. Rasa penasaran menggelayuti keingintahuan. Lalu, motor saya belokkan ke jalan tersebut, dan saya parkir di sebelah bangunan kuno kecil tapi berpilar tiga tiang besar.
Di bagian atas pilar bangunan kuno tersebut masih terdapat tulisan asli “Pabrik Limoen J.C. van DRONGELEN & HELLFACH.” Itulah yang kini dikenal umum dengan Pabrik Sirop Siropen lantaran produknya terkenal dengan nama Siropen Telasih.


Pabrik Sirop Siropen terletak di Jalan Mliwis No. 5 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tidak begitu jauh dengan Hotel Ibis Rajawali karena posisinya berada di belakang hotel tersebut.
Pabrik rumahan yang didirikan oleh J.C. van Drongelen pada tahun 1923 ini merupakan pabrik sirop pertama di Indonesia. Sejak awal berdirinya pabrik ini, Drongelen tidak mau menggunakan metode terbaru padahal saat zaman penjajahan Belanda, bangsa Eropa sudah akrab dengan teknologi modern dan mesin. Tapi memang dengan metode konvensional dalam mempertahankan rasa dan aroma sirop ini yang menjadi salah satu alasan pabrik tetap berdiri sampai sekarang.
Bangunan pabrik ini sempat beberapa kali berpindah tangan. Pada tahun 1942 diambil alih oleh Jepang. Setelah pendudukan oleh Jepang selesai, pabrik dikuasai kembali oleh Belanda hingga ada program nasionalisasi tahun 1958, yaitu semua perusahaan Belanda diambil alih oleh Indonesia. Tahun 1962, diserahkan ke Perusahaan Industri Daerah Makanan dan Minuman yang dilebur menjadi P.D. Aneka Pangan tahun 1985. Akhirnya, pada tahun 2002 masuk PT. Pabrik Es Wira Jatim yang merupakan holding company dari PT. Panca Wira Usaha Jawa Timur, sebuah BUMD Provinsi Jawa Timur.


Awalnya, produksi pabrik ini terdiri dari limun dan sirup tetapi hingga kini yang masih bertahan hanya sirupnya saja. Sebenarnya nama lengkap dari sirop hasil produksi di pabrik ini adalah Siropen Cap Bulan Telasih tapi di kalangan masyarakat dikenal Siropen saja. Pabrik ini masih berproduksi dalam skala kecil sehingga pengunjung dapat melihat langsung bagaimana nafas industry dari era Belanda ini masih berjalan. Saat ini Siropen meluncurkan dua jenis produk yaitu Siropen Telasih dan Siropen Premium. Sebagai produk yang dikhususkan untuk oleh-oleh khas Surabaya, Sirop Siropen dikemas dengan botol seperti botol wine, dan dilengkapi dengan kota kemasan yang ringan untuk dibawa sebagai buah tangan.
Dulu, sirop ini hanya dikonsumsi oleh kalangan pedagang maupun saudagar yang saat itu menjadi mitra bisnis Belanda selama penjajahan. Sirop ini juga hanya dikonsumsi kalangan menengah ke atas atau tamu kehormatan Belanda saat itu. Namun sekarang, sirop ini sudah dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, bahkan produk khas Surabaya ini telah dibranding sebagai oleh-oleh khas Surabaya. “Reguk segarnya, rengkuh sejarahnya.” *** [180114]
Share:

Gedung Pertamina UPDN V

Jika melintas Jalan Veteran ke arah Jalan Pahlawan, tengoklah sebelah kiri sebelum traffic light Kebon Rojo, Surabaya. Ada bangunan megah di sebelah pojok timur laut dari perempatan tersebut. Bangunan tersebut sekarang tertulis dengan nama Pertamina UPDN V.
Gedung ini terletak di Jalan Veteran No. 6-8 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di sebelah timur Kantor Pos Besar Surabaya.


Awalnya gedung ini merupakan bangunan De Sociëteit Concorda hasil rancangan J.P. Ermeling yang dibangun pada tahun 1843. Sociëteit adalah tempat hiburan, di mana para Meneer (tuan) dan Mevrouw (nyonya) besar bangsa Belanda dan Eropa, bergembira ria menikmati kehidupan malam. Sedangkan, Concorda adalah nama sebuah club untuk elite kolonial era 1800-an di seantero Hindia Belanda. Jadi, Sociëteit Concorda merupakan club house yang didesain oleh para kolonial dengan gaya Eropa untuk memenuhi kebutuhan refreshing atau tempat hiburan elite di Surabaya, bahkan ada yang menyebutnya sebagai tempat dugem pertama di Surabaya. Di dalam gedung tersebut, juga dilengkapi dengan fasilitas bilyar maupun fitness. Sehingga, gedung ini merupakan salah satu sociëteit terkenal yang dibangun oleh Belanda pada kala itu, dan menyebabkan jalan yang melintasi gedung tersebut terkenal dengan nama Sociëteitstraat.
Pada waktu didirikan, bangunan gedung tersebut menghadap ke Kali Mas. Dulu, Jalan Veteran atau Sociëteitstraat bukan merupaka jalan utama seperti sekarang ini tapi hanya sebuah gang menuju luar kota yang dibatasi tembok kota.


Seiring perkembangan waktu, daerah tersebut kian menjadi ramai semenjak tembok kota diruntuhkan, dan daerah sekitarnya menjadi pemukiman baru. Semula gangnya kecil dan sepi berubah menjadi besar dan ramai. Pada awal 1900-an, daerah ini menjadi kawasan yang ramai. Lalu lintas Jalan Veteran semakin ramai. Lalu, Sociëteit Concorda dipindahkan ke pinggiran kota lagi agar menemukan kembali suasana tenang seperti ketika De Sociëteit Concorda pertama kali berdiri.
Pada 1917, club Concorda pindah ke sociëteit baru di Simpangstraat, dan namanya berubah menjadi Simpangsche Sociëteit (kini Balai Pemuda). Lalu, gedung yang ditinggalkan De Sociëteit Concorda direnovasi berdasarkan desain arsitek G.C. Citroen untuk menjadi kantor Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). BPM merupakan perusahaan pertambangan minyak yang didirikan pada 26 Februari 1907 dengan kantor pusat di Den Haag, yang kelak berubah menjadi Shell Petroleum.
Renovasi dilakukan pada 1917-1918. Dari bangunan sebuah club menjadi perkantoran dengan karakter bangunan yang lebih lugas. Pintu masuknya tidak lagi dari Kali Mas melainkan diubah ke Jalan Veteran, sehingga bangunan tersebut menjadi menghadap ke selatan.
Pada 25 Oktober 1945, gedung ini diduduki oleh pasukan Sekutu di bawah pimpinan Kolonel Pugh. Dari gedung inilah, Kolonel Pugh menginstruksikan kepada pasukannya untuk merampas persenjataan pejuang Surabaya. Akibat instruksi tersebut menimbulkan amarah rakyat sehingga meletuslah pertempuran 28-30 Oktober 1945 yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby.
Sejak dilakukan nasionalisasi, gedung tersebut menjadi Kantor UPDN V Pertamina, dan sesuai yang tertulis dalam pahatan yang ditempel di dinding luar samping kanan pintu masuk utama, bangunan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Nomor 188.45/251/402/1.04/1996 dengan nomor urut 36. *** [180114]
Share:

Gedung Grahadi

Sebelum bernama Gedung Grahadi, bangunan ini dulu dikenal dengan nama tuinhuis. Ketika Dirk van Hogendorp ditugaskan di Surabaya sebagai Penguasa Wilayah Timur Ujung Timur (Gezaghebber van het Oost Hoek) pada tahun 1794, awalnya tinggal di kediaman resmi yang tak jauh dari Jembatan Merah. Namun, karena tempat itu dianggap kurang representatif maka ia berkehendak membangun kediaman baru. Lantas, ia tertarik pada sebuah lahan kosong yang menghadap ke arah Kali Mas yang sangat jernih airnya pada waktu itu. Lahan tersebut milik salah seorang pedagang China. Dengan kepiawaiannya, Dirk berhasil melobby untuk menguasai lahan tersebut dengan harga yang sangat murah, yaitu dengan ganti rugi hanya 2,5 sen.
Setelah itu, pada tahun 1795 dibangunlah sebuah tuinhuis. Tuinhuis merupakan suatu sebutan bagi model rumah musim panas di Eropa yang indah yang dikelilingi taman bunga nan elok. Konon, biaya yang dikeluarkan Dirk untuk membangun tempat tinggal barunya itu adalah 14 ribu ringgit dengan arsitektur bergaya Oud Holland Stijl, di mana bangunan induk dengan atap yang menjulang tinggi kekar dan berwibawa serta pelatarannya yang sangat luas. Tepat di tepian sungai terdapat dermaga kecil sebagai tempat perahu Dirk bersandar, sehingga pada saat santai sore hari, Dirk bisa memandangi perahu-perahu yang hilir mudik di Kali Mas.
Dirk hanya menempati tuinhuis yang menyerupai istana itu selama 3 tahun saja karena pada 1 Januari 1798, ia ditangkap dan dibawa ke Batavia sebelum ia berhasil meloloskan diri serta dengan segala cara ia bisa kembali dan tiba dengan selamat di Belanda. Kala itu, Dirk ditangkap karena kritikan pedasnya terhadap para petinggi Belanda yang dialamatkan kepada Nederburgh selaku Ketua Komisi Jenderal.
Lalu, pada tahun 1799 diangkatlah Fredrik Jacob Rothenbuhler, seorang Residen Pekalongan, menjadi Penguasa Wilayah Ujung Timur hingga 1809. Saat bertugas di Surabaya, Rohthenbuhler menempati tuinhuis yang dibangun Dirk.


Ketika Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Timur, ia berkunjung ke Surabaya pada tahun 1810. Ia memang pernah mendengar adanya tuinhuis yang terletak di tepi Kali Mas yang sangat jernih airnya. Tatkala ia menginap di istana yang dibangun oleh Dirk van Hogendorp itu, ia nampak kecewa. Tidak sesuai dengan yang ia bayangkan. Lalu, Daendels memerintahkan para petinggi Surabaya untuk merenovasi bangunan tersebut. Akhirnya, tuinhuis itu pun direnovasi. Muka gedung yang dulunya menghadap ke Kali Mas (utara) diganti menjadi ke selatan. Selain itu, Daendels memerintahkan untuk memberi gaya The Empire Style yang dipengaruhi gaya Perancis dengan ditambahi pilar gaya Doric.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung tersebut digunakan sebagai kediaman Syuuchokan Kaka. Syuuchokan Kaka merupakan sebutan residen di masa pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, gedung ini menjadi kediaman resmi Gubernur Provinsi Jawa Timur pertama, yaitu Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo.
Sekarang, bangunan tuinhuis itu dikenal dengan nama Gedung Grahadi. Nama Grahadi diambil dari bahasa Sansekerta, Graha berarti rumah, dan Adi memiliki makna derajat tinggi. Jadi secara harafiah, gedung ini memiliki arti rumah yang derajatnya tinggi.
Semenjak tak lagi digunakan sebagai kediaman gubernur, Gedung Grahadi menjadi Gedung Negara yang lebih sering dijadikan tempat untuk menerima tamu Gubernur Jawa Timur, mengadakan rapat, dan melaksanakan sejumlah acara penting pemerintahan, seperti pelantikan pejabat dan upacara peringatan hari nasional.
Gedung Grahadi terdiri dari dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas 1,6 hektar. Luas bangunan utamanya adalah 2.016 m² dan luas sejumlah bangunan penunjangnya adalah 4.126 m². Di bagian teras gedung utama terdapat sejumlah meja dan kursi yang di atasnya nampak menggantung lampu-lampu bergaya klasik serta lantainya terbuat dari marmer.
Gedung in terletak di Jalan Gubernur Suryo No. 7 Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah barat Balai Pemuda (Surabaya Tourism information Centre). Gedung ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 dengan nomor urut 15. *** [190114]

Kepustakaan:
Dukut Imam Widodo, Sorabaia Tempo Doeloe Buku 2, Surabaya: Dinas Pariwisata Surabaya
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami