Sabtu, 15 Februari 2014

Sejarah Singkat Desa Pangeragoan

Desa Pangeragoan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daerah landai, yaitu sekitar 300 - 400 meter di atas permukaan air laut.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Pangeragoan tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 4.151 orang dengan jumlah 953 KK dengan luas wilayah 2.620,58 hektar. Desa Pangeragoan terdiri atas lima banjar, yaitu Banjar Dinas Pangeragoan Dangin Tukad, Banjar Dinas Pangeragoan Dauh Tukad, Banjar Dinas Badingkayu, Banjar Dinas Mengenuanyar, dan Banjar Dinas Pasut. Sebagian besar penduduknya adalah petani, pedagang, karyawan swasta, PNS, sopir, dan  wiraswasta.
Secara administratif, Desa Pangeragoan dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Tista, Kabupaten Buleleng. Di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Gumbrih/Desa Gumbrih. Di sisi selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Sungai Yeh Leh.
Dalam Profil Desa Pangeragoan diceriterakan bahwa  pada tahun 1919 para orang tua (pengelingsir) dari Desa Pangkung tibah Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, pindah tempat  dengan berjalan kaki melalui pantai ke arah barat yang jaraknya lebih kurang 50 kilometer yang dipimpin oleh seorang bernama Pan Biring, Tujuannya untuk mencari tempat untuk lahan pertanian, dan sekaligus membangun desa, yang sudah jelas untuk meningkatkan kesejahteraan anggota keluarganya .
Sesudah berjalan beberapa hari lamanya,  tibalah di sebuah muara sungai kecil di tepi pantai. Lalu orang tua itu menghentikan perjalanan, dan keesokan harinya masuk ke dalam kawasan  untuk memeriksa apakah cocok tempat itu dibuka untuk dijadikan lahan,  maka mulailah membuat tempat tinggal bersama (bangsal) saat itu kebetulan  semua rombongan itu  menganut agama Hindu , maka dibuatlah purus lumbung, untuk tempat memohon  keselamatan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, yang tujuannya adalah semoga selamat semua dalam membuka lahan pertanian yang dimaksud. Turus lumbung tersebut diganti dibangunlah  Pura Kawitan yang namanya Pura Segara. Sampai saat ini pura itu masih ada  di sebelah selatan sungai Pengeragoan.
Setelah dibangun turus lumbung, barulah kemudian mulai bekerja membuka lahan secara gotong- royong setelah mendapat izin dari Pemerintah Belanda.
Tidak terhitung beberapa lama  ketua bertempat di sana, maka ada keinginan  ketua membuat nama  untuk tempat itu  dan diadakan rembug bersama semua yang ada akhirnya ada kesimpulan nama yang dipakai adalah nama  udang kecil “geraga” yang banyak terdapat di sungai sekitar daerah itu, sehingga  suatu ketika geraga itu  tidak habis untuk dimakan oleh masyarakat kala itu. Geraga berasal dari kata ngeraga dan geraga, yaitu gumi pangeragoan, yang sekarang menjadi Desa Pangeragoan.  ***

0 komentar:

Posting Komentar