The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tangerang Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tangerang Heritage. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Cisauk Tangerang

Stasiun Kereta Api Cisauk (CSK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Cisauk, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 33 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun paling tenggara di Kabupaten Tangerang. Stasiun Cisauk terletak di Jalan Cisauk Raya, Desa Sampora, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Lokasi stasiun ini berada di antara Stasiun Cicayur dan Stasiun Serpong.
Bangunan Stasiun Cisauk yang lama merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Duri-Rangkasbitung sepanjang 76 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1899 berbarengan dengan pengerjaan jalur kereta api Duri-Tangerang.


Proyek jalur kereta api Duri-Rangkasbitung ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Barat jilid 2 (Westerlijnen-2) hingga Merak. Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Duri-Rangkasbitung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Rangkasbitung-Serang-Cilegon (1900), dan Cilegon-Merak (1914).
Awalnya, stasiun ini merupakan stasiun lintasan kereta api (Stopplaats). Namun seiring kehadiran perumahan kelas menengah ke atas Bumi Serpong Damai (BSD), dan terus diikuti pengembang perumahan lainnya di kawasan sekitar Cisauk, menjadikan keberadaan stasiun ini menjadi strategis untuk aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang dari daerah Cisauk dan BSD yang akan bepergian ke Jakarta atau sebaliknya. Akhirnya, stasiun ini dikembangkan menjadi stasiun penumpang.
Perlu diketahui, bahwa stasiun yang berada pada jalur rel Duri-Rangkasbitung pada awalnya merupakan stasiun lintasan. Hal ini karena lokasinya ketika itu masih berupa hutan maupun persawahan, jadi belum ada pemukiman seperti sekarang ini. Sehingga, bangunan awal stasiun-stasiun tersebut pada umumnya tidaklah begitu besar.


Kini, stasiun ini berkembang menjadi modern seiring tuntutan akan adanya moda transportasi massal di kawasan tersebut. Pintu utama masuk stasiun dipindahkan di sebelah selatan rel kereta api dengan tampilan yang lebih modern dengan e-ticketing. Sedangkan, bangunan utama stasiun yang lama masih tetap berdiri dan berada di sebelah utara rel kereta api. Kedua bangunan tersebut masing-masing memiliki area parkir yang luas, namun parkir yang di sebelah utara rel masih cenderung terbuka hingga Jalan Cisauk Raya. Area parkir di bagian selatan cenderung sudah tertata, dan e-ticketing juga. Jadwal kereta api Commuter Green Line pun setiap saat ada, sehingga memudahkan para penumpang yang akan bepergian ke Jakarta. Selain itu, setiap harinya stasiun ini juga dilalui kereta api ekonomi yang akan menuju Rangkasbitung hingga Merak maupun sebaliknya menuju ke Tanah Abang.
Stasiun ini memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Cicayur hingga Merak. Jalur 2 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Serpong hingga Tanah Abang.
Stasiun Cisauk yang lama ini memiliki luas bangunan utama stasiun (lama) sekitar 195 m², dan tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 256/C6.15341/CSK/BD. Stasiun lama ini masih digunakan sebagai kantor dalam mengelola stasiun ini.  Sedangkan, jalur yang melintasi stasiun ini sudah dielektrifikasi yang terkonek dari Tanah Abang hingga Stasiun Maja. *** [010516]
Share:

Lembaga Pemasyarakatan Anak Wanita Tangerang

Secara administratif Lembaga Permasyarakatan (LAPAS) Anak Wanita terletak di Jalan Daan Mogot No. 28 C Kelurahan Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Batas bangunan tersebut sebelah utara dengan Jalan Daan Mogot, sebelah timur dengan Jalan Meteorologi, sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Jalan Kehakiman Raya.
Tahun 1928 bangunan ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk pengasingan anak-anak Indo Belanda yang melakukan kenakalan/pelanggaran dan pengelolanya oleh Yayasan LOG. Kemudian diserahkan kepada Yayasan Pro Juventute pada tahun 1934. Penyerahan kepada pemerintahan Jepang pada tahun 1942 digunakan sebagai rumah tahanan perang terutama anak-anak dan wanita Belanda yang akan dikembalikan ke Negara Belanda. Selain itu pada tahun yang sama, pernah pula digunakan sebagai Sekolah Akademik Militer Tangerang yang terkenal salah satu pahlawannya, yaitu Daan Mogot.
Pada tahun 1950 dikelola oleh Yayasan Pra Yuwana. Selanjutnya, pengelolaan diserahkan kepada pemerintahan Indonesia di bawah Departemen Kehakiman RI sebagai Rumah Pendidikan Negara (1962).
Perubahan nama menjadi LAPAS Anak Wanita Tangerang tahun 1964. Setelah itu berubah nama tahun 1977 menjadi LAPAS Anak Negara Wanita Tangerang. Tahun 1985 berubah nama kembali menjadi LAPAS kelas II B Anak Wanita Tangerang (SK Kementerian Kehakiman tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja LP).
Bangunan LAPAS ini memiliki luas tanah 66.000 m² dan luas bangunan 39.560 m². Pada luas tersebut terdapat 5 bangunan pavilion hunian tahanan, 1 bangunan blok sel, 1 bangunan gedung kantor, ruang aula, mushala, dapur, tunker dan sarana pendidikan. Kantor berada pada bagian depan bangunan dekat pintu masuk utama. Bangunan ini keseluruhan dikelilingi oleh tembok dinding setinggi 5 m. Bangunan kantor dan pavilion terlihat perbedaan bentuk. Pada bangunan kantor ukuran jendela dan pintu tidak besar seperti yang ada pada bangunan pavilion.
Ukuran dan denah bangunan kantor dan paviliun pun berbeda. Ukuran bangunan kantor lebih besar daripada bangunan paviliun. Denah bangunan kantor memanjang dari utara hingga selatan, sedangkan bangunan paviliun lebih menyerupai bangunan tempat tinggal. Pada bagian muka bangunan LAPAS tersebut terdapat dua lapangan yang terpotong jalan. Lapangan sebelah selatan terdapat lonceng yang tingginya ± 10 m. Bagian dalam bangunan terbagi dalam dua bagian, yaitu bagian utara dan selatan. Bagian utara terdapat 5 bangunan, yaitu 2 bangunan paviliun yang salah satunya diberikan pagar teralis, 1 bangunan untuk dapur, 1 ruang pendidikan dan 1 bangunan sel.
Bagian selatan terdapat dua bangunan paviliun, 1 ruang data, 1 mushala, dan 1 ruang kegiatan kerja. Bagunan lainnya yaitu ruang aula yang berada di bagian timur LAPAS, berseberangan dengan bangunan kantor serta menara air berada di bagian tengah LAPAS. Pada bangunan LAPAS ini ada sebagian yang telah mengalami perubahan pada genteng karena mengalami krusakan dan bentuk genteng telah tidak diproduksi lagi di masa sekarang. ***
Share:

Klenteng Boen Tek Bio Tangerang

Klenteng Boen Tek Bio terletak di Jalan Bhakti No. 14 Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Batas bangunan sebelah utara dengan Pasar Lama dan pemukiman, sebelah timur dengan Jalan Cilame, sebelah selatan dengan Jalan Bhakti, serta sebelah barat dengan pemukiman. Bangunan tersebut berada di letak geografis 106°37’ 46.7” Bujur Timur dan 06°10’45.0” Lintang Selatan.
Klenteng Boen Tek Bio diperkirakan berdiri sekitar tahun 1684 oleh para penduduk Kampung Petak Sembilan secara bersama-sama. Pertama berdirinya bentuk bangunan sederhana dari bangunan semi permanen. Ketika awal abad ke-17 mengalami perubahan terhadap bangunan klenteng karena jalur perdagangan skitar wilayah Sungai Cisadane mulai ramai. Perubahan terus terjadi hingga bentuknya yang sekarang. Nama “Boen Tek Bio” memiliki arti secara arfiah, yaitu Boen (benteng), Tek (kebajikan), dan Bio (rumah ibadah).


Secara keseluruhan berarti tempat atau wadah bagi kaum sastrawan yang memiliki kebijaksanaan. Klenteng tersebut memiliki keterkaitan dengan dua kelenteng lainnya, antara lain Klenteng Boen San Bio dan Klenteng Boen Hay Bio. Bila dikaitkan dengan kedua klenteng lainnya, klenteng tersebut memiliki filosofis, yaitu kebajikan setinggi gunung dan seluas lautan. Selain itu, secara Hong Sui (tata letak/geomensi) posisi Klenteng Boen Tek Bio bersandar pada gunung dan memandang lautan.
Pendirian Klenteng Boen Tek Bio tidak lepas dari keberadaan orang Tionghoa di Tangerang, dan sejarah Kota Tangerang. Keberadaan orang Tionghoa pertama kali diperkirakan pada tahun 1407 di muara Sungai Cisasane (Teluk Naga). Tujuan utama orang Tionghoa adalah menuju Kota Jayakarta karena terjadi kerusakan perahu dan habisnya perbekalan maka terdamparlah di Kota Tangerang. Gelombang selanjutnya orang Tionghoa datang ke Tangerang sekitar tahun 1740 setelah adanya pembantaian orang Tionghoa di Batavia yang berhasil dipadamkan oleh VOC.
Mata pencaharian masyarakat Tionghoa pada saat itu adalah bertani. Pemukiman yang disediakan oleh Belanda untuk masyarakat Tionghoa berupa pondok-pondok sehingga nama pemukiman berawalan pondok seperti Pondok Cabe, Pondong Jagung, Pondok Aren, dan lain-lain. Wilayah Tegal Pasir (Kali Pasir) didirikan Belanda untuk perkampungan Tionghoa dengan nama lain Petak Sembilan. Seiring perkembangan waktu, daerah ini menjadi wilayah pusat perdagangan (Pasar Lama) di sebelah timur Sungai Cisadane.
Klenteng Boen Tek Bio didirikan dengan luas bangunan ± 2.955 m² dan bangunan utama pemujaan seluas 1.655 m². Denah bangunan berbentuk persegi panjang dan konstruksi bangunan peribadatan ini terbuat dari kayu. Bangunan ini menghadap ke selatan dengan dua gerbang untuk masuk dan keluar pengunjung. Selain itu, di belakang bangunan utama terdapat bangunan tambahan/baru dengan pintu masuk menuju bangunan baru berupa pintu paduraksa yang terdapat hiasan stupa di atasnya. Bangunan baru digunakan sebagai lokasi Dharmasala dan sekolah agama. Pada bagian halaman depan klenteng terdapat sepasang patung singa di dekat pintu masuk. Sudut tenggara terdapat lonceng besar berbahan perunggu dengan motif hias naga, ikan, dan awan. Pada bagian tengah halaman terdapat hiolo (Giok Hong Siang Tee) terbuat dari bahan perunggu dan di sisi barat dan timurnya terdapat pagoda tiruan yang digunakan sebagai pembakaran kertas.
Bagian bangunan utama terbagi dalam teras, ruang tengah dan ruang utama. Pada bagian teras terdapat altar yang bersegi delapan dari bahan kayu dan terukir hiasan di kaca di bidang altar. Ukiran tersebut berisi 3 cerita yang intinya mengisahkan tentang bhakti kepada orangtua, tanah air dan Tuhan serta pada bagian kaki terdapat ukiran angka tahun, yaitu tahun 1504 (tahun dibuatnya). Altar ini digunakan untuk meletakkan hiolo kecil yang terbuat dari kuningan dengan hiasan qilin pada gagangnya. Bedug yang terletak di sisi barat daya teras terbuat dari bahan kayu dengan kulit di bagian pemukulnya. Bagian badan bedug terdapat hiasan motif naga dan awan dengan warna bervariasi, yaitu merah, biru, hijau, dan merah.
Bagian tengah bangunan utama terdapat empat meja, yaitu meja pertama digunakan sebagai meletakkan arca Buddha dalam kotak kaca dengan posisi semedi dan di depannya terdapat arca Maitreya. Meja kedua berupa meja yang digunakan untuk meletakkan lilin. Meja ketiga digunakan untuk meletakkan sesajian, dan benda pusaka seperti stempel dan bendera-bendera symbol suatu perintah. Terakhir, meja keempat berupa meja besar untuk meletakkan tiga hiolo yang terbuat dari kuningan. Hiolo tersebut ditujukan untuk Dewi Kwan Im Hud Couw di tengah, Kwan Seng Tee Kun di sisi barat, dan Hok Teng Ceng Sin di sisi timur. Bagian utama terdapat meja altar yang jauh lebih besar dengan terdapat sesajian arca Dewi Kwan Im Hud Couw.
Bangunan sekitar kanan kiri ruangan utama terdapat altar meja dewa-dewa dan leluhur yang berjumlah empat di masing-masing. Arah masuk dari sisi kanan dan keluar sisi kiri (berlawanan arah jarum jam). Arah berlawanan jarum jam tersebut menjelaskan bahwa masuk dengan kesusilaan dan keluar dengan kebajikan. Bangunan tambahan sekitarnya antara lain aula dan ruang kerja. ***
Share:

Masjid Jami’ Kalipasir

Secara administratif bangunan Masjid Jami’ Kalipasir berada di Kampung Kalipasir, Kelurahan Sukasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Letak geografis bangunan masjid terletak di 106°37’44.1” Bujur Timur dan 06°10’45.0” Lintang Selatan.


Pengelolaan masjid dari sejak berdiri hingga tahun 1918 dikelola secara turun temurun. Masjid dibangun pada tahun 1700 oleh Tumenggung Pamitrwidjaja dari Kahuripan. Sekitar tahun 1712 masjid kemudian dikelola oleh putranya yang bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga. Pada tahun 1740 pengelolaan masjid diserahkan kepada Tumenggung Aria Ramdon (putera dari Raden Bagus Uning Wiradilaga). Aria Ramdon meninggal pada tahun 1780 dan dimakamkan di sebelah barat masjid. Sepeninggalnya beliau, pengelolaan masjid diserahkan kepada putranya, yaitu Aria Tumenggung Sutadilaga.


Pengangkatannya sebagai Tumenggung melalui Bisluit VOC 16 Februari 1802. Aria Tumenggung  Sutadilaga meninggal dan dimakamkan di halaman sebelah barat masjid tahun 1823 (satu-satunya nisan yang terdapat angka tahun). Pengelolaan masjid diserahkan kepada putranya, yaitu Raden Aria Idar Dilaga tahun 1830. Tahun 1865, pengurusan masjid dan makam dikelola oleh putri dari Raden Aria Idar Dilaga, yaitu Nyi Raden Djamrut bersama suaminya Raden Abdullah hingga tahun 1904. Selanjutnya dikelola oleh putranya bernama Raden Jasin Judanegara. Pada pengelolaannya terdapat perbaikan masjid dan pendirian menara di sisi tenggara masjid. Perombakan bagian dalam masjid dilakukan pada tahun 1918 oleh beliau bersama H. Muhibi, H. Abdul Kadir Banjar. Setelah sekian lama, masjid kembali diperbaiki dan perombakan menara pada tanggal 21 April 1959 – Agustus 1961.


Masjid Kalipasir berdenah persegi dengan menara di sisi timur laut bangunan masjid. Bagian dalam bangunan terdapat mimbar, mihrab, dan beberapa lemari. Jendela dan pintu bangunan ini sudah menggunakan peralatan sekarang. Hal yang menarik adanya empat soko guru terbuat dari kayu, kondisi soko guru sudah mulai lapuk. Maka ditopang oleh besi dan bagian dasar terbuat dari bata dan semen. Selain itu, terdapat 11 kolom seperti ladam kuda dengan 5 kolom di sisi selatan dan 6 kolom di sisi timur.
Kolom yang di sisi timur, bagian atas dari lengkungan terdapat list berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran diameter ± 2-3 cm dan berwarna-warni. Bagian menara menyerupai dengan bentuk pagoda dengan ukuran ± 10 m. ***

Share:

Stasiun Kereta Api Tangerang

Secara administratif, Stasiun Kereta Api Tangerang terletak di Kelurahan Pasar Anyar, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Stasiun ini berbatasan dengan pertokoan dan parkiran di sebelah utara, pertokoan dan pemukiman di sebelah timur, serta pemukiman di sebelah selatan.
Stasiun ini ada bersamaan dengan lintas jalur kereta api Duri-Tangerang, yaitu pada tanggal 2 Januari 1889. Arsitek bangunan stasiun dan lintasannya dari Staatspoorwagen (SS). Stasiun Tangerang merupakan stasiun akhir karena tidak ada lanjutan lintasan.
Bangunan stasiun ini telah mengalami banyak perubahan termasuk dalam bentuk bangunan. Bagian yang telah dirubah terlihat pada peron, loket, kantor, dan toilet. Bangunan inti stasiun berdenah persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur, bangunan tersebut yang banyak perubahan.
Stasiun pernah mengalami kebakaran pada tahun 2000an di sisi timur. Selain bangunan, perubahan sangat nampak pada jumlah jalur kereta api yang semula berjumlah lima menjadi berjumlah dua jalur. Bagian yang masih tampak asli tampak pada beberapa jendela, pintu dan kisi-kisi bangunan. Pada sebelah utara kantor terdapat papan yang menjelaskan telah dilindungi oleh Negara sebagai Benda Cagar Budaya, dikeluarkan oleh pusat pelestarian Benda dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (KAI). *** [210612]
Share:

Bendungan Pasar Baru Tangerang

Bendungan Pasar Baru terletak di Jalan K.S. Tubun, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Letak geografis bendungan berada di 106° 37’ 42.2" BT dan 06°09’ 34.6" LS.
Bendungan Pasar Baru dibangun pada tahun 1927 dan selesai serta diresmikan tahun 1930. Keperluan dibangunnya bendungan untuk mengairi areal persawahan seluas 40.663 hektar. Bendungan ini awalnya bernama Bendungan Sangego, kemudian berubah menjadi Bendungan Pintu Sepuluh atau Bendungan Pasar Baru. Perubahan pada bendungan ini tidak terlalu banyak karena terlihat dari peralatan dan mesin yang digunakan sudah tua.


Fungsi bangunan sebagai bendungan, maka inti bangunan adalah untuk mengatur  aliran air di sungai Cisadane. Bangunannya terdapat 10 pintu air dari besi dan 11 tiang penopangnya. Konstruksi terbuat dari beton bertulang. Pada sisi utara dan selatan bangunan terdapat rel lori yang digunakan untuk mendistribusikan pintu air pengganti jika ada pintu air yang rusak.


Bendungan memanjang dari timur ke barat dengan panjang 125 m dengan rincian 10 jumlah pintu air, lebar pintu 10 m, 3 intake, 2 pintu penguras lumpur, tinggi pintu bawah 5 m, tinggi pintu atas 3 m, dan berat pintu masing-masing 25 ton. Bangunannya memiliki dua tingkat. Penghubung ke lantai atas menggunakan tegel berwarna abu-abu, bercorak kotak-kotak dan berukuran 20 x 20 cm. Pada lantai dua terdapat 5 ruang yang berisi penggerak pintu air. Alat-alat yang digunakan pada bendungan ini sudah cukup mengkhawatirkan sehingga perlu dilakukan perbaikan.
Sebelah barat bendungan terdapat bangunan berdenah persegi, pintu berupa rolling door dari besi. Bangunan tersebut digunakan untuk menyimpan lori dan sebaga gudang. Lori digunakan untuk membawa pintu air pengganti dan gudang. Keadaan bangunan tersebut dalam keadaan cukup terawatt dan lori masih bisa digunakan hingga sekarang. *** [200612]
Share:

Prasasti Tangga Djamban

Awalnya prasasti ini dianggap sebagai batu nisan biasa, karena memang kalau dilihat sepintas memang seperti batu nisan yang biasa bisa dijumpai di kompleks pemakaman orang Cina (bong). Prasasti ini berangka tahun 1873 dan bertuliskan aksara Mandarin.


Isi Prasasti:
Ini adalah lisjt dari sekoempoelan itoe orang-orang boediman berdjoemlah 81 orang jang soedah boleh melakoekan soeatoe perboewatan moelia oentoek mendoekoeng itoe oesaha dari sarikat Boen Tek Bio mengoempoelkan oeang sebesar 18.156 Toen (ringgit Belanda) oentoek melakoekan pemboeatan 30 (tiga poeloeh) boeah djalan dan joega bikin peraoe dan laennja. Batoe parengatan ini ditoeliskan pada taon kesebelas sewaktoe pemerentahan Kaisar Thong Tjie (masehi 1873). ***



Share:

Klenteng Boen San Bio Tangerang

Secara administratif Klenteng Boen San Bio terletak di Jalan K.S. Tubun No. 4 Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Bangunannya berada pada koordinat 106° 40’ 04.7" BT dan 06° 10’ 04.2" LS. Bangunan tersebut berbatasan dengan pemukiman Kampung Koang Jaya di sebelah barat, utara dan timur, serta Jalan Aipda Karel Sasuit Tubun di sebelah selatan.


Klenteng Boen San Bio awalnya dibangun pada tahun 1689 oleh seorang pedagang asal Tiongkok yang bernama Lim Tau Koen. Pembangunan klenteng ini untuk menempatkan patung Kim Sin Khongco Hok Tek Tjeng Sin yang berasal dari Banten. Bangunan awalnya berasal dari bambu dan kayu dengan dinding berasal dari gedeg dan atap dari daun rumbia. Ukuran bangunan pun tidak seluas sekarang. Pengunjung berasal dari pedagang Tionghoa yang tinggal sekitar Pasar Baru. Setelahnya sekitar 10 tahun berdiri perkumpulan Boen San Bio yang merupakan cikal bakal berdirinya Vihara Nimmala.


Bangunan klenteng ini memiliki luas tanah 4.650 m² terbagi dalam beberapa bagian. Bagian depan, tengah dan belakang. Bagian depan bangunan digunakan sebagai ruangan pemujaan. Pada ruang pemujaan ini dewa yang diutamakan adalah dewa bumi (Khongco Hok Tek Tjeng Sin). Sisi kanan kirinya terdapat pemujaan dewa-dewa dan leluhur yang saling berseberangan. Pada bagian depan bangunan kaya akan hiasan dengan warna dominan yaitu warna merah. Ruangan depan terdapat delapan tiang yang dipenuhi dengan motif hias seperti buah-buahan, dan tokoh hewan. Selain itu, terdapat pula ribuan lampion yang diperoleh dari donatur.


Bagian tengah ruangan terdapat aula, ruang pendidikan dan beberapa altar pemujaan. Sedangkan di bagian belakang terdapat beberapa ruangan, yaitu Ruang Dhammasala, Pendopo pecun, Patilasan Mbah Raden Suryakencana, dan kantin. Ruang Dhammasala terletak di sebelah timur pendopo pecun. Pada sisi kiri pintu masuk terdapat patung Dewi Kwan Im Pou Sat dengan tinggi berukuran sekitar 3 m. Di dalam ruangan terdapat Ruang Buddha dengan tinggi ± 3,5 m.


Selanjutnya, Pendopo Pecun yang berada di tengah bagian belakang, tepatnya di sebelah barat Ruang Dhammasala. Ruang ini terdapat sepasang perahu naga yang berwarna merah dan kuning. Perahu tersebut merupakan sumbangan dari seorang tuan tanah. Berikutnya, Petilasan Mbah Raden Suryakencana berada di sebelah barat Pendopo Pecun. Awalnya petilasan tersebut berada di sisi kali depan klenteng. Oleh karena adanya pelebaran jalan maka dipindahkan ke dalam klenteng. *** [200612]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami