The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Toponimi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toponimi. Tampilkan semua postingan

Sejarah Singkat Desa Mendalanwangi

Desa Mendalanwangi merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu antara 345 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan data BPS Kabupaten Malang tahun 2009, curah hujan di Desa Mendalanwangi rata-rata mencapai 2.570 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Mendalanwangi tahun 2014, jumlah penduduknya adalah 7.558 orang dengan jumlah 1.929 KK dengan luas wilayah 358,4 hektar. Desa Mendalanwangi terdiri atas tujuh dusun, yaitu Dusun Santren, Dusun Tenggulunan, Dusun Sekar Putih, Dusun Mendalan Wetan, Dusun Suko Anyar, Dusun Mendalan Kulon, dan Dusun Darungan. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam sektor industri di mana pada umumnya masyarakat di Desa Mendalanwangi banyak yang bekerja menjadi buruh di Pabrik Rokok dan Pabrik Gula, engingat di daerah Kecamatan Wagir dan sekitarnya banyak berdiri perusahaan rokok dan satu pabrik gula. Kemudian baru disusul sektor pertanian, yaitu padi dan tebu.
Secara administratif, Desa Mendalanwangi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sitiharjo, Kecamatan Wagir. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Wadung, Kecamatan Pakisaji, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji. Jarak tempuh Desa Mendalanwangi ke ibu kota Kecamatan Wagir yaitu sekitar 2 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Malang adalah sekitar 13 kilometer.
Dalam Profil Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang Tahun 2016, diceriterakan bahwa desa ini pada tahun 1910 sampai dengan 1918 dipimpin oleh seorang petinggi yang bernama Karimun. Pada tahun 1918 sampai dengan tahun 1926 dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau petinggi yang bernama Amir. Selanjutnya pada tahu 1926 sampai dengan tahun 1942 dipimpin oleh seorang yang bernama Singo Redjo Warsiman. Pada tahun 1942 sampai dengan tahun 1974, Desa Mendalanwangi dimpin oleh Kepala Desa bernama H. Daman Huri, dan bersamaan dengan itu pada tahun 1946 sampai dengan tahun 1948 juga ada Kepala Desa yang diangkat oleh pihak Kolonial Belanda yang bernama Aliman.
Kemudian setelah itu, ada proses pemilihan Kepala Desa pada tahun 1974 dan Kepala Desa yang terpilih pada saat itu adalah Bakri Singo Redjo yang menjabat hingga tahun 1991. Selanjutnya pada periode 1991 sampai dengan 1998 Desa Mendalanwangi dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Abdul Shodiq. Lalu, pada tahun 1998 hingga tahun 2013 Desa Mendalanwangi dipimpin oleh Subakir, dan dari tahun 2013 sampai saat ini Desa Mendalanwangi dipimpin oleh Kepala Desa Muchamad Sharoni.
Jauh sebelum itu, sebenarnya di desa ini telah ada kehidupan warganya. Hal ini dikaitkan dengan penemuan reruntuhan candi di Dusun Sekarputih, Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Desa Mendalanwangi, daerah penemuan reruntuhan candi ini, dijelaskan oleh Dwi Cahyono, seorang arkeolog, dengan mengetahui asal kata. Mendalanwangi tergolong desa yang tua, berasal dari kata “mandala-an”. Mandala berarti lingkaran suci, areal suci dilakukannya ritus keagamaan. Areal suci yang dimaksud adalah bentang lahan di mana candi ini diketemukan. Dengan demikian, desa ini dinamai “Mendalanwangi” lantaran di sini terdapat suatu mandala.
Mandala juga disinyalir sebagai tempat tinggal pendeta yang sangat jauh dari keramaian, yang biasanya disebut wanasrama. Tempat seperti ini mungkin juga dihuni oleh para resi atau kaum pertapa yang hidup mengasingkan diri. Zoetmulder (1995: 642) menyebutkan bahwa mandala adalah lokasi atau lingkungan yang berhubungan dengan kalangan keagamaan dari golongan Siwa.
Wanasrama ini juga disinggung dalam Kitab Negarakertagama pupuh 76 bait 3 yang digubah oleh Rangkwi Padelengan Dang Acarya Nadendra – yang kemudian dikenal dengan nama Mpu Prapanca -  pada tahun 1365 Masehi, sebagai berikut:

lwirniɳ darmma kasogatan kawinayanu lpas i wipularama len kuti haji, mwaɳ yanatraya rajadanya kuwunatha surayaça jarak / lagundi wadari, wewe mwaɳ packan / pasarwwan i lmah surat i pamanikan / sranan / paniktan, panhapwan / damalaɳ tpas / jita wannaçrama jnar i samudrawela pamuluɳ.

(Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kuta haji, Janatraya, Rajadanya, Kuwanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari, Wewe Pacekan, Pasaruan, Lemah Surat, Pamanikan, Srangan serta Pangiketan, Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang.)
Slamet Muljana (2006: 391) menguraikan beberapa nama-nama desa yang terdapat pada Pupuh 76 bait tersebut. Panghawan dapat diidentifikasi yaitu daerah Mangliawan, Pakis, Damalung berada di sebelah barat laut Singosari, Tepasjita berada di sebelah timur laut Kesamben, Blitar, Jenar berada di daerah Ngajum, dan Wanasrama diduga Mendalanwangi karena mendalan artinya adalah wanasrama. *** [060417]

Share:

Sejarah Singkat Desa Dilem


Desa Dilem merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini rata-rata 2000 meter di atas permukaan air laut, sehingga memungkinkan berhawa sedang dengan suhu 20 - 35 Celcius dan memiliki permukaan tanah yang datar.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Dilem tahun 2014, jumlah penduduknya adalah 5.138 orang dengan jumlah 1.768 KK dengan luas wilayah 216,331 hektar. Desa Dilem terdiri atas dua dusun, yaitu Dusun Ngantru, dan Dusun Lemah Duwur. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam sektor pertanian yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, di samping ada juga yang bekerja pada sektor industri dan jasa mengingat di daerah Kecamatan Kepanjen merupakan ibu kota Kabupaten Malang.
Secara administratif, Desa Dilem dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Ngadilangkung. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Talangagung dan Desa Ngadilangkung. Di sisi selatan berbatasan dengan Kelurahan Kepanjen, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Ngadilangkung, Kelurahan Ardirejo, dan Kelurahan Kepanjen. Jarak tempuh Desa Dilem ke ibu kota Kecamatan Kecamatan yaitu sekitar 1,5 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Malang adalah sekitar 2,5 kilometer.
Dalam skripsinya yang berjudul ‘Pandangan Tokoh Masyarakat Terhadap Tradisi Perkawinan Kerubuhan Gunung, Studi Perkawinan di Desa Dilem Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang’ (2015), Lailatus Sumarlin menceriterakan bahwa ada dua ceritera dari penuturan sesepuh terdahulu di Desa Dilem.
Pertama, wilayah Desa Dilem ini dulunya merupakan kaputren, yaitu suatu tempat tinggal para wanita atau putri yang cantik jelita serta menjadi tempat tinggalnya dayang cantik dari Kerajaan Jenggolo Manik. Karena sangat cantiknya, banyak dipuji dari kerajaan atau wilayah lain. Kata ‘dipuji’ tersebut bila dialihbahasakan ke dalam bahasa Jawa, muncul kata ‘di elem’. Seiring perjalanan waktu, kata ‘di elem’ tersebut berubah menjadi Dilem. Hal ini diperkuat dengan banyaknya temuan berupa bebatuan dan sumber air besar di bawah pohon seruni yang umurnya telah mencapai ratusan tahun. Temuan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa wilayah ini dulunya memang benar-benar merupakan tempat para putri yang cantik jelita.
Sedangkan ceritera yang kedua, dituturkan bahwa pada zaman dahulu di desa ini banyak terdapat pohon perdu yang oleh masyarakat setempat menyebutnya dengan nama pohon dilem. Pohon ini dikenal sering mengeluarkan bau yang harum semerbak wanginya, sehingga pohon ini acapkali dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan minyak wangi. Namun, sekarang keberadaan pohon ini sudah tidak diketemukan di desa ini.
Meski kapan waktu nama Dilem disematkan pada desa ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi melihat dari kedua ceritera atau penuturan di atas, dapat dibayangkan bahwa Desa Dilem termasuk sebuah desa yang sudah tua keberadaannya. *** [290317]


Share:

Sejarah Singkat Desa Ngaglik

Desa Ngaglik merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran tinggi antara 400 sampai dengan 500 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 10 sampai dengan 45 derajat.. Berdasarkan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.200 mm dengan suhu rata-rata antara 22 hingga 30° Celcius.
Berdasarkan data rupa bumi wilayah administrasi Desa Ngaglik tahun 2010, jumlah penduduknya tercatat 3.962 orang dengan jumlah 832 KK dengan luas wilayah 284,4465 hektar. Desa Ngaglik terdiri atas empat dusun, yaitu Dusun Bendo, Dusun Soko, Dusun Dagangan dan Dusun Dukuh.
Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, sedangkan bagi yang tidak memiliki lahan pertanian atau tidak terserap dalam aktivitas pertanian lainnya, mereka melakukan mobilitas keluar desa seperti meranatau atau “boro”. Pada umumnya mereka dikenal sebagai pengrajin mainan anak.
Jarak tempuh Desa Ngaglik ke ibu kota Kecamatan Bulukerto yaitu sekitar 8 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Wonogiri adalah sekitar 22 kilometer.
Secara administratif, Desa Ngaglik dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Krandegan. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Nadi. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Sendang, Kecamatan Purwantoro, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kelurahan Bulukerto, Desa Bulurejo, dan Desa Ploso.
Menurut ceritera Bapak Supriyatno, Sekretaris Desa Ngaglik, konon pada zaman dahulu kala ketika peradaban masih belum maju seperti sekarang ini, terdapat sebuah ceritera yang berkembang di masyarakat perihal Legenda Singo Lodoyo.
Legenda tersebut mengisahkan bahwa pada setiap awal bulan Mulud (menjelang Maulid Nabi), banyak orang Lodoyo pergi ke Nagri (sebutan untuk sebutan Surakarta sebagai tempat berdirinya Kraton Surakarta Hadiningrat). Mereka pergi ke sana untuk melihat dan menikmati keramaian Muludan atau yang biasa dikenal dengan nama Sekaten. Di sana, mereka sembari berguru dan menimba ilmu kanuragan kepada pujangga dan “guru-guru” kerajaan.
Dengan memperoleh ilmu kanuragan yang cukup tinggi, orang-orang Lodoyo tersebut menjadi sakti mandraguna sehingga dapat merubah wujud menjadi harimau. Ketika berubah wujud menjadi harimau, perjalanan pulang dari Nagri sampai ke Lodoyo dapat ditempuh hanya dalam waktu semalam. Akan tetapi dalam kenyataannya, ada juga yang naas, yaitu tersesat dikarenakan melanggar pantangan yakni tidak boleh melewati Sendang Biru. Karena bila harimau jadi-jadian tersebut melewati Sendang Biru maka akan tersesat dan tidak akan bisa berubah wujud kembali menjadi manusia.
Harimau yang tersesat tersebut bersembunyi di suatu tempat, yang mana tempat tersebut saat itu dinamai “Singane Gembong nDhelik”, dan selanjutnya orang lebih mudah menyebut dengan nama “Ngaglik” dan hingga sekarang menjadi sebutan nama Desa Ngaglik.
Kejadian tersebut berulang-ulang dan terakhir terjadi pada tahun 1962, seekor hariman gembong (loreng) berukuran besar bersembunyi di rumah Bapak Kariyo Maridin di Punthukmiri Dusun Dagangan, Desa Ngaglik.
Menurut penuturan sesepuh desa dan para moncokaki, sebutan Desa Ngaglik itu sudah ada sejak masa kolonial Belanda jauh sebelum dilakukan pemetaan. Wilayah Desa Ngaglik yang melintang dari utara Dukuh Jomblang di Dusun Bendo hingga selatan Dukuh Temulawak, Dusun Dagangan.
Demangan Bendo, rumah kediaman Demang Pontjo Panambang, yang pada saat itu selaku Kepala Pemerintahan di Desa Ngaglik, ketika daerah tersebut masih dikuasai oleh penjajah Belanda. Desa Ngaglik yang termasuk wilayah Geduwang, merupakan bagian dari wilayah Pura Mangkunegaran, tepatnya Desa Ngaglik, onder distric Bulukerto, Distrik Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Sebuah organisasi pemerintahan desa pertama yang dikenal masyarakat Desa Ngaglik. ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Turirejo

Desa Turirejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa tanah berbukit-bukit, yaitu sekitar 491 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata 200 mm/tahun dengan suhu rata-rata antara 22° - 32°C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Turirejo tahun 2011, jumlah penduduknya adalah 8.859 orang dengan jumlah 2.464 KK dengan luas wilayah 400 hektar. Desa Turirejo terdiri atas empat dukuh, yaitu Dukuh Turi, Dukuh Krajan, Dukuh Krajan Timur, dan Dukuh Simping. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, sedangkan yang lainnya adalah buruh swasta, PNS, pedagang, montir, dan sebagainya.
Jarak tempuh Desa Turirejo ke ibu kota Kecamatan Lawang yaitu sekitar 2 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Malang adalah sekitar 23 kilometer.
Secara administratif, Desa Turirejo dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Jatisari dan Desa Sentul, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Wonorejo. Di sisi selatan berbatasan dengan Kelurahan Lawang dan Desa Ketindan, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Sumberporong dan Desa Mulyoarjo.
Dalam Profil Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Tahun 2012, diceriterakan bahwa semula Desa Turirejo itu masih berupa hutan belantara. Kemudian datang seseorang yang bernama Mbah Suko yang melakukan babat alas di wilayah barat Desa dan Mbah Gondo di wilayah timur, bersama keluarga dan kerabat mereka hingga terbentuklah sebuah permukiman dan lahan untuk bercocok tanam. Lambat laun, permukiman itu semakin berkembang seiring perkembangan waktu, yang pada akhirnya membentuk sebuah pedesaan.
Sedangkan asal usul kedua tokoh yang membuka lahan tersebut, sampai saat ini tidak diketahui secara jelas, dan sejak tahun berapa Desa Turirejo ini berdiri.
Nama Desa Turirejo sendiri berasal dari nama sebuah dukuh di desa ini, yakni Dukuh Turi, yang menurut kepercayaan para tokoh masyarakat dianggap sebagai pancer atau punjering Desa Turirejo (titik tengah Desa Turirejo), yang apabila ditinjau dari nama tersebut dapat diartikan Dukuh Turi yang rejo (ramai). ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Garawangi

Desa Garawangi merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa tanah datar dan sedikit berbukit, yaitu sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, suhu rata-rata mencapai 32° - 36°C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Garawangi tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 3.646 orang dengan jumlah 1.012 KK dengan luas wilayah 224,347 hektar. Desa Garawangi terdiri atas empat dusun, yaitu Dusun Kliwon, Dusun Manis, Dusun Pahing, dan Dusun Puhun. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, sedangkan yang lainnya adalah buruh swasta, PNS, pedagang, montir, dan sebagainya.
Jarak tempuh Desa Garawangi ke ibu kota Kecamatan Garawangi yaitu sekitar 0,5 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Kuningan adalah sekitar 7 kilometer.
Secara administratif, Desa Garawangi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Mancagar. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Purwasari. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Pakembangan, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Kramatwangi.
Dalam Profil Desa Garawangi, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, dikisahkan bahwa secara harfiah Garawangi berasal dari kata Gara yang artinya gunung atau hutan dan Wangi berarti harum. Sehingga bila dirangkaikan menjadi gunung yang harum. Gunung yang dimaksud adalah Gunung Tiga yang terletak di wilayah Desa Garawangi, sebelah selatan sungai Cisanggarung. Dari beberapa keterangan yang diperoleh, Desa Garawangi itu sendiri ada sejak tahun 1874, karena sebelumnya merupakan pedukuhan yakni pengganti istilah pademangan pada zaman kerajaan atau kesultanan.
Desa Garawangi sekarang, dahulunya merupakan bagian dari wilayah Kadipaten Ewangga yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan.
Semula Desa Garawangi mempunyai luas wilayah kerja mencapai 700 hektar, karena sebelumnya bersatu dengan Desa Mancagar dan Desa Kramatwangi. Desa Mancagar dimekarkan sejak Oktober 1945 dan Desa Kramatwangi dimekarkan dari Desa Garawangi pada tahun 1983.
Tanda-tanda adanya pemerintahan di Desa Garawangi pada zaman kerajaan, terdapat situs-situs yang tersebar di blok Cigarawangi termasuk pemakaman tokoh-tokoh zaman tersebut,  di antaranya Dalem Siti Nyi Mas Siti Gandawangi, Nyi Mas Siti Gandasari, Embah Gencar, Embah Baladewa, Eyang Gandakusumah, dan Embah Padang.
Proses pembangunan di Desa Garawangi sangat erat dengan perkembangan sejarah di daerah lain misalnya Pangeran Diponegoro yang berjuang dalam waktu yang bersamaan diasingkan ke Manado bersama Eyang Hasan Maulani (Eyang Manado) sebagai tokoh Islam dari Desa Lengkong.
Sebagaimana kita kenal pembuat saluran Bantarwangi yang dimotori oleh Eyang Sindukaria adalah rangkaian pembangunan untuk pengadaan air (dikenal dengan Saluran Bantarwangi) ke Pesantren Bilisuk (sekarang disebut Sukamulya) yang didalamnya termasuk upaya kemakmuran bagi masyarakat di wilayah Desa Garawangi.
Desa Garawangi memiliki tanda atau rambu serta leluhur yang ada di Desa Pinara (Kecamatan Ciniru). Di Pinara ada sebuah gunung yang disebut Gunung Garawangi, sebutan tersebut dikarenakan pepohonan yang ada di gunung tersebut condong dan mengarah ke Garawangi, kabarnya bahwa perencanaan pembangunan dipusatkan di gunung tersebut. Hal ini dikuatkan dengan keterangan bahwa dimakamkan pula tokoh-tokoh di antaranya Pangeran Gajah Parada, Pangeran Suralangun, Kyai Mansur dan Kyai Haeirudin yang ketika itu masih zaman pademangan, yakni wilayah kerajaan yang dikepalai oleh Demang yang diperkirakan pada tahun 1750.
Pemerintah setingkat desa diawali tahun 1867. Pemilihan Kuwu yang dilaksanakan pada saat itu berupa Sorodan (zaman Sorodan) yang berarti pemilihan duduk secara berkelompok bahkan saling tarik fisik untuk meraih kerumunan atau kelompok yang lebih banyak jumlah kelompoknya sebab pemenang dari pilihan tersebut adalah jumlah orang dalam kelompok yang menjagokan kuwunya. Bahkan dari kebanyakan menceritakan bahwa daun Kawung atau daun Enau yang digunakan untuk merokok dapat digunakan untuk kampanye guna meraih perolehan masa pemilih kuwu. Kalau kita mengamati dalam perubahan sebutan atau istilah kuwu menjadi Kepala Desa diawalai pada tahun 1968.
Adapun tokoh-tokoh pemeran sejarah yang sering kita dengar di antaranya Eyang, Buyut, Pangeran, Embah dan sebutan lain merupakan sebuatan terhormat bagi para tokoh di antaranya Baladewa, Dalem Siti, Gandawangi, Gandasari, Gencar, Maranggi, Sarinem, Dukun, Ranggong, Tumenggung, Menit, Padang, Saribah, Dako dan yang lainnya. ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Totosan

Desa Totosan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Batangbatang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran rendah, yaitu sekitar 30 - 40 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 50 mm dengan suhu rata-rata per tahun adalah 33°C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Totosan tahun 2009, jumlah penduduknya adalah 2.396 orang dengan luas wilayah 306,83 hektar. Dusun Totosan terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Ares Laok, Dusun Ares Tengah, dan Dusun Ares Daja. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Secara administratif, Desa Totosan dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Nyabakan Barat. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Batangbatang Laok dan Desa Batangbatang Daya. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Longos, Kecamatan Gapura, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Nyabakan Barat, Desa Jenangger, dan Desa Banuaju Timur.
Dalam Profil Desa Totosan, Kecamatan Batangbatang, Kabupaten Sumenep, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2010 – 2014, dikisahkan bahwa suatu saat Pangeran Jokotole dalam kondisi sakit parah ketika dalam perjalanan dari sebuah desa bernama Lapataman (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Dungkek) menuju Kraton Sumenep. Setelah sampai di suatu tempat, Jokotole menyampaikan wasiat atau tataran (keputusan = yang dalam bahasa Madura disebut potosan) kepada para pengiring atau abdi dalem  yang isinya bahwa jika beliau wafat, jenazahnya supaya dipikul sampai ke Kraton Sumenep. Dan apabila sebelum sampai ke KratonSumenep alat pemikulnya patah, maka beliau berpesan agar jenazahnya  dikebumikan di tempat itu juga.
Setelah cukup lama istirahat maka Pangeran Jokotole melanjutkan perjalanannya kembali, dan dalam perjalanan itu, beliau meninggal di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Batangbatang - asal dari kata bhabhatang (bangkai).
Sesuai dengan wasiat maka dipikullah jenazah Pangeran Jokotole menuju Kraton Sumenep. Belum sampai di Kraton Sumenep, alat pemikulnya patah di suatu tempat bernama Sa'asa (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Manding) dan dikuburlah jasad Jokotole di tempat itu. Dari asal muasal ceritera rakyat ini, tempat yang digunakan untuk menyampaikan wasiat atau tataran, saat ini dikenal dengan nama Tanah Pataran dan desa di mana tanah itu berada disebut dengan nama Desa Totosan (asal dari kata potosan). ***

Share:

Sejarah Singkat Desa Pangeragoan

Desa Pangeragoan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daerah landai, yaitu sekitar 300 - 400 meter di atas permukaan air laut.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Pangeragoan tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 4.151 orang dengan jumlah 953 KK dengan luas wilayah 2.620,58 hektar. Desa Pangeragoan terdiri atas lima banjar, yaitu Banjar Dinas Pangeragoan Dangin Tukad, Banjar Dinas Pangeragoan Dauh Tukad, Banjar Dinas Badingkayu, Banjar Dinas Mengenuanyar, dan Banjar Dinas Pasut. Sebagian besar penduduknya adalah petani, pedagang, karyawan swasta, PNS, sopir, dan  wiraswasta.
Secara administratif, Desa Pangeragoan dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Tista, Kabupaten Buleleng. Di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Gumbrih/Desa Gumbrih. Di sisi selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Sungai Yeh Leh.
Dalam Profil Desa Pangeragoan diceriterakan bahwa  pada tahun 1919 para orang tua (pengelingsir) dari Desa Pangkung tibah Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, pindah tempat  dengan berjalan kaki melalui pantai ke arah barat yang jaraknya lebih kurang 50 kilometer yang dipimpin oleh seorang bernama Pan Biring, Tujuannya untuk mencari tempat untuk lahan pertanian, dan sekaligus membangun desa, yang sudah jelas untuk meningkatkan kesejahteraan anggota keluarganya .
Sesudah berjalan beberapa hari lamanya,  tibalah di sebuah muara sungai kecil di tepi pantai. Lalu orang tua itu menghentikan perjalanan, dan keesokan harinya masuk ke dalam kawasan  untuk memeriksa apakah cocok tempat itu dibuka untuk dijadikan lahan,  maka mulailah membuat tempat tinggal bersama (bangsal) saat itu kebetulan  semua rombongan itu  menganut agama Hindu , maka dibuatlah purus lumbung, untuk tempat memohon  keselamatan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, yang tujuannya adalah semoga selamat semua dalam membuka lahan pertanian yang dimaksud. Turus lumbung tersebut diganti dibangunlah  Pura Kawitan yang namanya Pura Segara. Sampai saat ini pura itu masih ada  di sebelah selatan sungai Pengeragoan.
Setelah dibangun turus lumbung, barulah kemudian mulai bekerja membuka lahan secara gotong- royong setelah mendapat izin dari Pemerintah Belanda.
Tidak terhitung beberapa lama  ketua bertempat di sana, maka ada keinginan  ketua membuat nama  untuk tempat itu  dan diadakan rembug bersama semua yang ada akhirnya ada kesimpulan nama yang dipakai adalah nama  udang kecil “geraga” yang banyak terdapat di sungai sekitar daerah itu, sehingga  suatu ketika geraga itu  tidak habis untuk dimakan oleh masyarakat kala itu. Geraga berasal dari kata ngeraga dan geraga, yaitu gumi pangeragoan, yang sekarang menjadi Desa Pangeragoan.  ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Mojomati

Desa Mojomati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu sekitar 272 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 1.500 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Mojomati tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 1.081 orang dengan jumlah 327 KK dengan luas wilayah 75 hektar. Desa Mojomati terdiri atas dua dusun, yaitu Dusun Mojomati I dan Dususn Mojomati II. Sebagian besar penduduknya adalah petani, buruh tani, pedagang, dan  kuli bangunan.
Jarak tempuh Desa Mojomati ke ibu kota Kecamatan Jetis yaitu sekitar 4 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Ponorogo adalah sekitar 14 kilometer.
Secara administratif, Desa Mojomati dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Mojorejo. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Kradenan. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Bulu dan Desa Campursari, Kecamatan Sambit, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Coper.
Dalam Profil Desa Mojomati diceriterakan bahwa  pada zaman dahulu sekitar tahun 1680 di sebelah barat Desa Mojomati terdapat sebuah Kademangan yang di pimpin oleh seorang Demang yang bernama Ki Ageng Kutu. Karena beliau  tidak mau tunduk kepada Adipati Ponorogo yaitu Raden Betoro Katong untuk menjadi bawahannya, maka terjadi peperangan antara Adipati Betoro Katong dan dengan Demang Ki Ageng Kutu. Peperangan ini berlangsung lama , dengan berbagai daya upaya dan siasat akhirnya Adipati Betoro Katong dapat mengalahkan Ki Ageng Kutu.  Ki Ageng Kutu lari ke arah timur melewati beberapa desa dan akhirnya beliau bersembunyi di Desa Mojomati yang pada saat  itu masih berupa hutan Mojo yang sangat lebat. Karena kesulitan mencari dan menemukan Ki Ageng Kutu, lalu Adipati Raden Betoro Katong menyuruh  para  prajuritnya untuk membakar hutan Mojo tersebut dan akirnya hutan Mojo tersebut hangus terbakar dan semua mati dan untuk petilasan Raden Betoro Katong ketika berpidato kepada para prajuritnya bahwa kalau zaman sudah ramai, daerah bekas hutan  Mojo yang sudah  hangus terbakar dan sekitarnya untuk diberi nama Desa Mojomati.
Ki Ageng Kutu kemudian lari ke arah selatan menuju daerah pegunungan dan bersembunyi di sebuah gua. Karena ditunggu beberapa lama tidak keluar dari dalam gua dan terasa bau bacin yang sangat mnyengat. Akhirnya Adipati Betoro Katong  mengangap Ki Ageng Kutu sudah mati di dalam gua.  Kemudian beliau dan para prajuritnya kembali ke Kadipaten Ponorogo.
Setelah beberapa lama,  daerah  bekas hutan  Mojo yang terbakar sudah ditumbuhi semak belukar, kemudian datang dua orang bersaudara, yaitu Iro Potro dan Iro Pati yang sedang mengembara membabat dan membersihakn belukar yang ada, lalu untuk ditempati beberapa pengikutnya dan kemudian juga menamakan daerah tersebut dengan nama  Desa Mojomati. Kemudian dua orang tersebut melanjutkan pengembaraan dan  tidak menetap di Desa Mojomati.
Agama Islam masuk di Desa Mojomati sekitar tahun 1830 dibawa oleh seorang ulama, yaitu H. Mansur dan istrinya bernama Nyai Turonggo Seto. Mereka mendirikan pondok pesantren yang terletak di Desa Mojomati bagian barat. Selang beberapa tahun  kemudian,  H. Mansur menikah lagi dengan Nyai Kuti Sari. Beberapa lama kemudian, H. Mansur meninggal dunia dan dimakamkan di makam keluarga, di belakang masjid pondok pesantren tersebut. Demikian juga istri-istrinya, juga dimakamkan di samping beliau. Makam tersebut dapat diziarahi di makam keluarga sampai sekarang.
Karena tidak ada penerus yang mempunyai kharisma seperti beliau  atau  karena sebab-sebab lain, maka pondok pesantren tersebut lama kelamaan mulai surut dan hilang ditinggal para santri-santrinya, dan daerah bekas pondok pesantren tersebut dinamakan Dukuh Ndok Malang  (Pondok Malang) yang sekarang dinamakan Dusun  Mojomati I. ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Gamong

Desa Gamong merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran rendah, yaitu sekitar 17 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, suhu rata-rata antara 28° - 32° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Gamong tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 2.995 orang dengan luas wilayah 205,994 hektar. Desa Gamong terdiri atas dua dusu, yaitu Dusun I  atau Dusun Lor Kali, karena terletak di sebelah utara sungai, dan Dusun II atau Dusun Kidul Kali, karena berada di sebelah selatan sungai. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai wiraswasta, dan sebagain yang lain bertani.
Jarak tempuh Desa Gamong ke ibu kota Kecamatan Kaliwungu yaitu sekitar 5 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Kudus adalah sekitar 10 kilometer.
Secara administratif, Desa Gamong dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sidorekso. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidorekso. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Banget, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Kedungdowo.
Dalam Profil Desa Gamong, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus diceriterakan bahwa pada zaman dahulu, sekitar tahun 1650, ada salah satu murid Sunan Gunung Jati yang bernama Satiran. Ia berasal dari Cirebon, dan mendapat tugas untuk pergi ke Demak.
Sesampainya di Demak, ia menemui Raden Ngabei Demak, dan usai bertemu, ia mendapat tugas untuk pergi ke Kudus. Sampai di daerah Kliwon, ia berhasil memberantas begal (perampok) yang sering mengganggu di sekitar desa tersebut. Keberhasilan menumpas gerombolan begal ini, ia diberi gelar Raden Ngabei Tunggul Ulung.
Konon di Kliwon tersebut, ia melakukan semedi agar mendapatkan wangsit, dan wangsit yang didapat adalah agar ia pergi barat  dan membuka daerah tersebut. Lalu, pergilah ia ke arah barat dan akhirnya menemukan sebuah tempat yang ada dalang wangsit tersebut. Seterusnya ia mulai membuka daerah tersebut.
Satiran mempunyai dua orang istri, yaitu Nyi Mintarsih berasal dari Demak, dan Nyi Sedah Trembuyung dari Kudus. Ia begitu menyayangi kedua istrinya, dan kasih sayangnya ia tunjukkan dengan cara selalu membimbing dan menjaga, yang  dalam bahasa Jawa  disebut ngemong, hingga akhir wafatnya.
Karena ia selalu ngemong tersebut maka disebutlah ia dengan sebutan Ki Gede Gamong Ato,  danyang gamong, akhirnya daerah tersebut dinamai Desa Gamong sampai sekarang. Adapun petilasan terakhir atau makam danyang gamong ada dua, yaitu berada di Pasar Kliwon dan yang satunya diyakini berada di Pasar Johar Semarang. Dalam versi lain, danyang gamong disebutkan bernama Noro Sumo dengan gelar Syeh Muttakin.  ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Paningkaban

Desa Paningkaban merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran tinggi yang berbukit-bukit, yaitu sekitar 250 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.500 mm dengan suhu udara rata-rata 37° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Paningkaban tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 5.105 orang dengan jumlah 1.440 KK dengan luas wilayah 536,010 hektar. Desa Paningkaban terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun I, Dusun II dan Dusun III. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, baik yang memiliki lahan sendiri maupun buruh tanah, yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Jarak tempuh Desa Paningkaban ke ibu kota Kecamatan Gumelar yaitu sekitar 10 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Banyumas adalah sekitar 33 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Paningkaban dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Gancang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Karangkemojing, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Darmakeradenan, Kecamatan Ajibarang.
Dalam Profil Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, dikisahkan bahwa dahulu kala ada dua orang pengembara dari daerah Gumelem yang sedang menimba ilmu kebatinan di daerah Jawa Barat sekitar tahun 1850. Secara kebetulan salah satu dari pengembara itu dicintai oleh putri dari Guru Padepokannya. Karena pada awalnya kedua pengembara tersebut bertujuan untuk menimba ilmu, sehingga seiring berjalannya sang waktu, kedua pengembara tersebut berhasil menyelesaikan dalam menempuh ilmu. Lalu, keduanya mohon pamit untuk kembali ke kampung halamannya di wilayah timur Banyumas, yang konon kabarnya dari daerah Gumelem.
Dengan kepulangan kedua pengembara itu, menimbulkan rasa sakit hati terhadap putri Sang Guru Padepokan tadi, yang telah terlanjur mencintai salah satu pengembara tersebut, sehingga yang terjadi di dalam perjalanan pada malam hari, salah seorang pengembara yang dicintai putri dari Guru kebatinan itu, dikirimi santet atau teluh oleh gurunya sendiri hingga menyebabkan pengembara yang dicintai meninggal di malam itu juga. Dengan meninggalnya salah seorang pengembara tersebut, sebelum dikuburkan ditutup dengan daun talas.
Sehingga siang harinya, setiap warga datang dan penasaran terhadap jasad tersebut. Setiap orang yang datang melayat pada saat itu merasa penasaran ingin melihat (dalam bahasa Jawa, menyingkab) dengan cara membuka dan menutup mayat tersebut.
Selesai dimakamkan, warga sekitar member nama tempat tersebut dengan istilah Penyingkaban dengan berjalannya waktu warga menamai Peningkaban yang saat ini dikenal dengan Desa Paningkaban. ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Ngrejo

Desa Ngrejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa hamparan pegunungan yang berbukit-bukit.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Ngrejo tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 2.269 orang dengan jumlah 769 KK dengan luas wilayah 732,431 hektar, yang tersebar dalam tiga dusun, yatu Dusun  Krajan, Dusun Prodo, dan Dusun Krisik. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, dan sisanya ada yang menggeluti peternakan maupun bidang lainnya.
Jarak tempuh Desa Ngrejo ke ibu kota Kecamatan Bakung yaitu sekitar 3 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Blitar adalah sekitar 25 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Ngrejo dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Pulerejo. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Bakung, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Kedungbanteng.
Menurut Marto, seorang Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa Ngrejo, dalam penyusunan naskah Sejarah Desa: Desaku “Tempo Doeloe, Sekarang dan Esok”, menceriterakan bahwa dahulu kala daerah tersebut masih berubah hutan di hamparan tanah yang berbukit-bukit dan banyak lembah sungai yang curam. Berbagai macam hewan liar banyak berkeliaran di daerah itu, seperti harimau, banteng, rusa, babi hutan, ular, dan lain-lain. Ketika itu, daerah tersebut bisa dikatakan jalmo moro jalmo mati, sato moro sato mati. “Siapa yang berani masuk ke daerah ini, pasti akan menemui ajalnya.” Sehingga, ungkapan tersebut untuk menggambarkan keadaan daerah itu, sehingga menambah keangkeran daerah itu, atau menyeramkan.
Suatu ketika, ada dua pengembara dari barat menyisir pantai selatan. Yang satunya bernama Ki Rekso Mulyo, dan yang satunya bernama Ki Mranggi. Mereka datang ke wilayah ini sekitar tahun 1820an. Suatu hari, mereka berteduh di bawah pohon Kamboja yang cukup rindang. Mereka berdua bersemedi atau bertapa selama 40 hari lamanya.
Pada suatu hari, tepat hari malam Jumat Kliwon, Ki Rekso Mulyo dan Ki Mranggi yang telah memasuki hari ke 39 di mana posisi Ki Rekso Mulyo menghadap ke selatan dan Ki Mranggi menghadap ke arah kiblat, tiba-tiba Ki Rekso Mulyo melihat tejo manter, dan Ki Mranggi melihat kukus, sebuah asap tebal dari bawah pohon Kamboja.
Keesokan harinya, dalam keadaan hujan gerimis antara pukul 16.00 – 17.00 WIB, mereka melakukan shalat ashar dan sesudahnya, mereka berdoa memanjatkan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lalu, Ki Rekso Mulyo dan Ki Mranggi berembuk mengenai firasat yang mereka peroleh. Selanjutnya pada malam itu juga, ada firasat melalui mimpi tentang dua hal pilihan. Kembali ke rumah atau harus tetap tinggal di daerah itu. Akhirnya, kedua orang tersebut melakukan pembagian tugas. Ki Mranggi pulang ke Sumbreng dan Ki Rekso Mulyo tetap melanjutkan laku di tempat itu.
Ki Rekso Mulyo lalu berpikir apabila Ki Mranggi kemudian kembali dan membawa sanak keluarga, maka akan diajak bercocok tanam dan bermukim di daerah ini.  Sambil menunggu kedatangan Ki Mranggi, Ki Rekso Mulyo mulai mengawali membabat alas di bawah pohon Kamboja yang selalu mengeluarkan asap setiap sore hari. Pada saat melakukan babat alas, Ki Rekso Mulyo tanpa sengaja menemukan tempat seperti petilasan untuk istirahat seorang bangsawan. Akhirnya, petilasan tersebut dijadikan tempat untuk bersemedi.
Selang tujuh belas hari, datanglah Ki Mranggi beserta sanak keluarganya sejumlah 40 orang. Mereka melalukan babat alas untuk bermukim dan sekaligus bercocok tanam. Belum sempat memanen, banyak anggota sanak keluarga yang jatuh sakit, dan akhirnya meninggal. Meski demikian, Ki Rekso Mulya tetap berkeyakinan bahwa tempat ini suatu saat kelak akan menjadi rejo (ramai) lantaran isyarat dalam mimpinya. Dan benar adanya, kemudian banyak berdatangan para penghuni dari Trenggalek sebanyak 196 orang, dan melanjutkan babat alas.
Lalu, Ki Mranggi diangkat menjadi sesepuh atau tetua di kampung yang mereka rintis, dan oleh Ki Mranggi, daerah tersebut diberi nama Ngrejo. Kata Ngrejo berasal dari bahasa Jawa yang terdiri atas dua kata, yaitu ngret dan jo. Ngret adalah mungkret, semakin sedikit karena banyak yang meninggal, sedangkan jo adalah rejo atau ramai. Demikian awal mula nama Desa Ngrejo, yang kelak harapannya menjadi sebuah desa yang besar, berkecukupan dan melahirkan orang pandai. ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Benculuk

Desa Benculuk merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran rendah, dengan ketinggian  73 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 11,25 mm dengan suhu rata-rata 32° - 37 °C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Benculuk, Desa Benculuk memiliki luas wilayah 1.051 hektar. Desa Benculuk terdiri atas lima dusun, yaitu Dusun Krajan, Dusun Purwosari, Dusun Kebonsari, Dusun Pancursari dan Dusun Rejosari. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam pertanian, utamanya perkebunan dan petani ladang atau tegalan.
Jarak tempuh Desa Benculuk ke ibu kota Kecamatan Cluring yaitu sekitar 2 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Banyuwangi adalah sekitar 32 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Benculuk dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sraten. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Cluring dan Desa Tamanagung. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Tampo dan Desa Kaliploso, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar.
Menukil dari Pusaka Jawatimuran di http://jawatimuran.wordpress.com, dikisahkan bahwa asal mula nama Desa Benculuk ini bermula pada saat itu Sultan Mataram sudah berulang kali mencoba untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Setelah Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Blambangan, namun Sultan Mataram tidak menjadikan Kerajaan Blambangan sebgai daerah jajahannya. Panembahan Senopati sangat kagum akan kegigihan dan kesaktian Panglima Perang bersama para prajuritnya dalam membentengi Kerajaan Blambangan. Demikian pula Sri Sultan juga memuji kebijaksanaan raja Blambangan dalam membina angkatan perangnya. Itulah sebabnya Sultan Mataram tidak menganggap raja Blambangan sebagai taklukkannya, akan tetapi sebagai sekutunya.
Pada saat Adipati Kinenten dari Pasuruhan mengadakan pemberontakan terhadap Mataram, secara tidak langsung Blambangan memberi bantuan kepada Pasuruhan. Hal itu menyebabkan Sultan Mataram marah serta memerintahkan Mas Jolang (Nama Sultan Agung, sebelum menjadi raja) dan Ki Juru Martani mengerahkan pasukannya untuk menghukum dan menyerang Blambangan. Untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Blambangan, Prabu Siung Laut memerintahkan Patih Jatasura bersama adiknya, yakni Hario Bendung Adipati Asembagus mengerahkan pasukan Blambangan untuk menanggulangi serangan dari pasukan Mataram itu.
Dalam pertempuran yang cukup sengit, pasukan Mataram ternyata kewalahan menghadapi para prajurit Blambangan, bahkan Mas Jolang bersama Ki Juru Martani melarikan diri dari medan pertempuran. Senopati Blambangan yang berusaha mengejar dan menangkap kedua tokoh dari Mataram itu ternyata sia-sia. Dalam pelarian tersebut, Mas Jolang berhasil menyelinap dan bersembunyi di Taman Sari. Di dalam Taman Sari itu Mas Jolang bertemu dengan Putri Sedah Merah yang akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Kendati demikian ulah kesatria Maratam bersama putri Blambangan itu diketahui oleh keluarga istana, yang kemudian Mas Jolang ditangkap. Akan tetapi karena permohonan sang putri kepada raja, sehingga Prabu Siung Laut terpaksa merestui pernikahan Mas Jolang dengan Putri Sedah Merah.
Dalam pelariannya, Ki Juru Martani menuju ke arah Selatan sambil berteriak-teriak dan memanggil-manggil (bahasa Jawa: celuk-celuk), namun tidak ada jawaban, sedang usahanya mencapai Mas Jolang tidak berhasil. Menurut kisahnya, tempat Ki Juru Martani berteriak-teriak memanggil Mas Jolang itu dinamakan Desa Benculuk berasal dari kata celuk-celuk. Sementara itu Patih Jatasura dalam mengejar musuh yang didampingi oleh salah seorang putra raja, yakni Mas Kembar. Untuk menjalankan tugasnya, secara tiba-tiba putra raja itu meninggal dunia. Hal itu menyebabkan Prabu Siung Laut sangat sedih, yang akhirnya terkena sakit ingatan (setengah gila).
Setelah Prabu Siung Laut sakit ingatan dan Mas Kembar mangkat, kesempatan itu akan dipergunakan Patih Jatasura untuk mempersunting Putri Sedah Merah, karena Prabu Siung Laut pernah menjanjikan akan menjodohkan Patih Jatasura dengan Putri Sedah Merah. Dalam hal ini Patih Jatasura segera masuk ke Taman Sari untuk menemui putri idaman hatinya. Betapa kecewa dan marahnya setelah menyaksikan dan mengetahui bahwa Putri Sedah Merah ternyata telah dipersunting oleh Mas Jolang yang tak lain adalah bekas musuh ayahanda raja. Dengan kemarahan yang meluap-luap Patih Jatasura menyerang dan berhasil membunuh Putri Sedah Merah. Sedangkan Mas Jolang berhasil menye­lamatkan diri bersama putranya (hasil perkawinannya dengan Putri Sedah Merah).
Patih Jatasura setelah membunuh Putri Sedah Merah menuju ke Asembagus menemui Hario Bendung dan membuat fitnah bahwa Putri Sedah Merah dibunuh oleh prajurit Mataram. Mendengar kematian Putri Sedah Merah, Adipati Asembagus naik pitam dan segera mengerahkan pasukannya bergerak menuju Blambangan guna menuntut balas atas kematian Putri Sedah Merah kepada prajurit Mataram. Pada waktu itu Hario Bendung bertemu dengan Ki Juru Martani dan Ki Juru Martani menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya bahwa yang membunuh Putri Sedah Merah adalah Patih Jatasura yang tak lain kakak Hario Bendung sendiri. Di samping itu Ki Juru Martani juga memberi tahu bahwa Hario Bendung sebenarnya masih putra keponakan Ki Juru Martani sendiri.
Setelah mendengar dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya dari pamannya dan menyadari kenyataan itu Hario Bendung berbalik meluapkan amarahnya kepada kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura. Sang Adipati kemudian bertekat untuk menghukum Ki Patih atas kekejamannya terhadap Putri Sedah Merah. Sedangkan pada saat Patih Jatasura ditemui Hario Bendung, Ki Patih Blambangan itu sedang memperkosa dan membunuh istri pamannya (Ki Juru Martani). Menyaksikan kenyataan itu Hario Bendung semakin meluapkan amarahnya dan terpaksa menghabisi nyawa kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura.  ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Wairterang

Desa Wairterang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa pegunungan, dataran dan pantai, yaitu sekitar 750 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 11,25 mm dengan suhu rata-rata 32° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Wairterang hingga 31 Desember 2011, jumlah penduduknya adalah 1.937 orang dengan jumlah 495 KK dengan luas wilayah 2.934 hektar. Desa Waiterang terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Watubala, Dusun Waihekang, dan Dusun Wodong. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam pertanian, utamanya perkebunan dan petani ladang atau tegalan.
Jarak tempuh Desa Wairterang ke ibu kota Kecamatan Waigete yaitu sekitar 4 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Sikka adalah sekitar 28 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Wairterang dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Nangatobong. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Natakoli, Kecamatan Mapitara, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Runut.
Dalam Profil Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, diceriterakan bahwa pada zaman dahulu kala ada tiga bersaudara,  yaitu Keso, Kuit dan Bore Dopeng. Mereka berasal dari Nelle, sekitar Kota Maumere. Mereka bertiga berangkat ke arah timur Kota Maumere dan ketika perjalanan mereka sudah sekitar 32 kilometer, mereka menemukan jalan buntu karena ada lautan menghadang atau dengan kata lain waktu itu Pulau Flores panjangnya dari barat ke timur hanya sampai di Desa Wairterang yang sekarang ini. Laut menghadang mulai dari pantai Wairterang sekarang ke arah selatan sampai di Pantai Rung. Solusi yang ditempuh waktu itu adalah dengan membuat ritus adat, yaitu potong ayam jantan yang bernama  Toka lain. Namun ritus ini sangat tidak berhasil.
Karena menunggu terlalu lama dan mereka kehabisan air maka ketiga bersaudara tersebut berusaha untuk mencari air dengan ritus yang dibuat internal dan rahasia. Ketiganya memanggil air lalu karena airnya datang terlalu lama mereka melangkah sekitar 25 meter ke arah barat dan duduk istirahat untuk menunggu datangnya air. Pada saat itulah bebatuan dan wadas pecah dan  keluarlah air dari dalam pecahan wadas dan lempengan batu di dua tempat sekaligus yaitu di tempat pertama yaitu tempat ketiga bersaudara memanggil air  (wair topo) dan tempat mereka menunggu air (wair bui).
Setelah mereka menikmati air untuk melepaskan dahaga maka mereka mulai memikirkan bagaimana caranya agar mereka dapat melanjutkan perjalanan. Akhirnya Keso dan Kuit sepakat membunuh adik mereka yang bernama Bore Dopeng dalam ritual adat supaya tanah terbelah dan dasar laut terangkat keatas membentuk daratan. Mereka menyatakan dengan kalimat adat bahwa dengan membunuh adik mereka maka “Odi nian naha bitak, tana naha boga. Nian bitak ganu pigang, tana lalang ganu bera. Ba lau nan ngera lau main”, “Tana bitak nian boga, ba lau dadi nuhan Wawi, reta nan makor nora maran” (Biar bagaimanapun tanah harus pecah  seperti piring dan bumi terbelah seperti timah, sebagian daratan hanyut keluar membentuk Pulau Babi  dan sebagian ke mari menjadi daratan menyatu dengan Daratan Wairterang).
Bukti alam yang memperkuat cerita rakyat ini adalah terdapatnya aneka karang laut yang sudah mati yang ditemukan di perbukitan atau dataran tinggi sekitar timur Wairterang ke arah timur yang menyebar mulai dari pantai utara sampai ke pantai selatan. Selain itu, adanya tipe relief yang berbentuk bukit melintang panjang dengan dinding kiri kanan menukik terjal seperti patahan lempeng tanah yang tersisa dan karena ketinggiannya maka jika kita berada di atas lempengan tanah tersebut maka kita hanya melihat lautan yang berada di sisi kiri dan kanan kita.
Masyarakat sekitar lokasi Wairterang tetap menami tempat ini adalah Wair Topo-Wair Bui sampai ketika penjajahan Jepang masuk dan berusaha menggunakan kedua mata air ini dengan memasang pipa parlon menyerupai pancuran kecil atau dalam bahasa setempat disebut Wair Terang maka masyarakat dalam keseharian menyebutnya Wairterang.
Pada zama dahulu, kurang lebih pada abad ke-19, dilakukan kegiatan pembukaan jalan Trans Flores yang dimulai dari Labuan Bajo menuju Larantuka. Semua laki-laki dewasa dan sudah kena pajak, dipaksa untuk kerja Rodi (kerja paksa), ketika pekerjaan jalan sudah sampai di kampung Wodong (kampung tertua di Desa Wairterang), para pekerja terpaksa bermalam dan tinggal menetap untuk sementara waktu di sana, pada saat itu kampung Wodong mengalami kekurangan air minum bersih, dan kebetulan di sekitar lokasi tempat tinggal para pekerja, terdapat salah satu mata air yang berada tepat di atas perbukitan, karena lokasi mata air berada di atas perbukitan dan daerahnya agak terjal maka para pekerja memasang terang (pancuran) yang terbuat dari bilah batang pinang dan ditarik ke daerah yang lebih rendah. Dalam kesehariannya masyarakat kampung Wodong menggunakan air pancuran tersebut sebagai tempat untuk mengambil air minum, mencuci, mandi, dan lain-lain. Dan dari sinilah masyarakat memberi nama Wairterang yang dalam bahasa daerah Sikka, Wair artinya  air, dan Terang artinya pancuran.
Nama Wairterang kemudian disepakati dalam musyawarah LKMD bersama Tokoh Masyarakat, sebagai nama desa Persiapan (tahun 1997). Dan pada tahun 2000, desa Persiapan Wairterang dikukuhkan menjadi Desa Definitif dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Sikka atas persetujuan DPRD Sikka. ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Ketapanrame

Desa Ketapanrame merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa pegunungan, yaitu sekitar 700 – 1.200 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 3.000 mm dengan suhu antara 18° - 25° C, yang menjadikan desa Ketapanrame sebagai sasaran para pemilik modal untuk membeli tanah-tanah milik masyarakat desa untuk di jadikan perumahan, villa dan hotel
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Ketapanrame tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 4.946 orang dengan jumlah 1.548 KK dengan luas wilayah 346,460 hektar. Desa Ketapanrame terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Ketapanrame, Dusun Sukorame, dan Dusun Slepi. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam perdagangan, baik kecil maupun sedang.
Jarak tempuh Desa Ketapanrame ke ibu kota Kecamatan Trawas yaitu sekitar 4 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Mojokerto adalah sekitar 40 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Ketapanrame dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Kesiman. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Trawas. Di sisi selatan berbatasan dengan hutan, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.
Dalam Profil Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2012 – 2016, dikisahkan bahwa semenjak masih banyak kerajaan di Jawa Timur, daerah ini merupakan suatu wilayah tempat bertapa yang sangat ramai dikunjungi oleh para pertapa. Pertapa menyukai daerah ini karena terletak di lereng Gunung Welirang yang berhawa sejuk, dengan suasana gemercik air yang mengalir dari pegunungan. Dan pada saat itu, secara kepercayaan, gunung dianggap tempat yang baik untuk pemujaan. Bermula dari kondisi daerah seperti itu pada zaman dulu, maka daerah tersebut akhirnya dinamakan Desa Ketapanrame. Ketapanrame berasal dari kata pertapaan dan kata ramai.  ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Cangaan

Desa Cangaan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu sekitar 156 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan data BPS Kabupaten Gresik, curah hujan rata-rata mencapai 2.400 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Cangaan tahun 2011, jumlah penduduknya adalah 2.742 orang dengan jumlah 598. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, di samping ada juga yang bekerja di sektor jasa/perdagangan, menjadi buruh/TKI maupun peternakan.
Jarak tempuh Desa Cangaan ke ibu kota Kecamatan Ujungpangkah yaitu sekitar 7 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Gresik adalah sekitar 38 kilometer.
Secara administratif, Desa Cangaan dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Ngemboh. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Delegan, Kecamatan Panceng. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Wotan, Kecamatan Panceng, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Gosari.
Dalam Profil Desa Cangaan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik Tahun 2011, diceriterakan bahwa desa ini awalnya banyak rawanya, sehingga banyak burung Cangak yang datang untuk mencari ikan. Asal penduduk aslinya berasal dari Desa Takeran Lamongan yang mencoba untuk bertahan hidup di wilayah ini. Awalnya mereka berada di tengah wilayah Desa Cangaan atau dengan Perhutani sekarang, tetapi karena kesulitan mendapatkan air untuk minum, lama kelamaan mereka berpindah ke pinggir wilayah Desa Cangaan yang ada sekarang berbatasan dengan wilayah Desa Gosari dan Ngemboh. Konon karena banyak burung Cangak itulah tempat (desa) ini disebut Cangaan. Adapun yang menjadi kepala desa yang pertama adalah H. Usman (1956-1990).  ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Plumbangan

Desa Plumbangan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran tinggi .
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Plumbangan tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 5.118 orang dengan jumlah 1.435 KK dengan luas wilayah 738,32 hektar. Desa Plumbangan terdiri atas empat dusun, yaitu Dusun Plumbangan, Dusun Barek, Dusun Precet, dan Dusun Pagak. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Jarak tempuh Desa Plumbangan ke ibu kota Kecamatan Doko yaitu sekitar 8 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Blitar adalah sekitar 22 kilometer.
Secara administratif, Desa Plumbangan dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sumberurip. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Wlingi, Kecamatan Wlingi. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Suru, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Suru.
Dalam Dokumen Sejarah Desa Plumbangan Tahun 1042 Masehi – Sekarang Tahun 2011, dikisahkan bahwa pada zaman pemerintahan Raja Sri Aji Jayabaya, raja dari Kerajaan Kediri, terdapat sebuah desa yang lokasi agak jauh dari pusat kerajaan yang disebut dengan Desa Panumbangan.
Awalnya, desa tersebut terkenal dengan yang aman dan tenteram. Penduduknya hidup tenang, dan bekerja seperti sedia kala. Ada yang bercocok tanam, menggembala sapi dan merawat kuda kerajaan. Suatu ketika di pasetran sumur Gumuling, yang sekarang dikeramatkan sebagai punden Blumbang, warga Desa Panumbangan dikejutkan huru-hara karena ulah raja jin bernama Waroklodro. Setiap hari, Waroklidro senantiasa menganggu penduduk desa yang akan mengambil air minum untuk memasak dan mandi di Kali Tiko. Sehingga, hal ini menimbulkan keresahan bagi penduduk Desa Panumbangan.
Salah seorang penggembala sapi memberanikan diri untuk melaporkan kejadian di Desa Panumbangan kepada raja di Kediri. Sesampainya di kerajaan, sang penggembala diterima oleh raja tetapi sayangnya raja tidak dapat turun tangan sendiri. Lalu, raja Kediri menyuruh minta bantuan di pasetran Pandan Rowo yang berada di Watu Gede Wlingi. Begitu Sang Begawan menerima laporan, ia memerintahkan untuk membuat Candi Lawang sebagai persyaratan dalam melawan raja jin Waroklodro. Benar adanya, setelah Candi Lawang atau dikenal juga dengan Candi Watu Lawang berdiri, raja jin merasa sangat senang dan bersila duduk di depan candi. Selanjutnya, oleh Sang Begawan disiram dengan tirta suci pemusnah. Akibatnya, Waroklodro hilang dan musnah.
Sebenarnya sebelum Candi Watu Lawang jadi, candi atau pun arca-arca lainnya sudah dibuat. Misalnya batu tulis (prasasti) yang sekarang berada di sebelah kanan depan candi itu dibuat pada tahun 1042 Masehi, dan tertanggal 11 Agustus yang isinya bukan merupakan silsilah raja-raja tetapi hanya merupakan sabda raja.
Isi dari prasasti tersebut antara lain: “Sing sopo manungso kang hanerak angger-angger dhawuhe nata lamun lumebu ing wana gung cinakota ing ulo mandi, lamun lumaku ing bulak di sambera ing glap.” (Barang siapa orang yang melanggar sabda baginda raja kalau masuk hutan mudah-mudahan digigit ular berbisa dan dimakan harimau, kalau berjalan di padang mudah-mudahan di sambar petir).Jadi, kalau dilihat dari batu tulis tersebut, Desa Plumbangan yang dulunya dikenal dengan nama Desa Panumbangan itu hari jadinya adalah tanggal 11 Agustus 1042.
Karena desa tersebut telah berhasil meluruskan huru-hara dan keadaannya menjadi aman, tenteram dan damai oleh sang raja diberikan hadiah menjadi tanah perdikan. Artinya, desa tersebut dibebaskan dari pajak , desa tersebut tidak usah membayar pajak kepada kerajaan.
Setelah runtuhnya Majapahit, penduduk yang tinggal di desa tersebut tinggal sedikit, yaitu sekitar 14 rumah tangga yang di antaranya pasangan dari Soka Sentono dan Sokawati yang makamnya sampai sekarang masih dikeramatkan oleh warga Desa Plumbangan.
Adapun yang menjadi kepala desa yang pertama seiring terbentuknya pemerintahan desa adalah Marto Djoyo (1905-1913). ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Landungsari

Desa Landungsari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran tinggi, yaitu antara 540- 700 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan data BPS Kabupaten Malang, curah hujan rata-rata mencapai 300 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Landungsari tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 9.122 orang dengan jumlah 2.161 KK dengan luas wilayah 499 hektar. Desa Landungsari terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Rambaan, Dusun Bendungan, dan Dusun Klandungan. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, di samping ada juga yang menjadi PNS.
Jarak tempuh Desa Landungsari ke ibu kota Kecamatan Dau yaitu sekitar 2 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Malang adalah sekitar 35 kilometer.
Secara administratif, Desa Landungsari dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Mulyoagung. Di sisi selatan berbatasan dengan Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Dalam Profil Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Tahun 2011, diceriterakan bahwa pada zaman dahulu daerah ini masih berupa hutan belantara yang kemudian datanglah seseorang tokoh dan melakukan babat alas, bersama keluarga dan kerabatnya hingga perkembangannya menjadi sebuah perkampungan atau pedesaan. Pembukaan alas pertama dimulai dari Dusun Bendungan yang pada saat itu dikenal tanahnya subur karena dilalui oleh 2 sungai. Sungai tersebut dibendung untuk mengairi tanah pertanian di dusun tersebut. Berkat adanya bendungan air yang dapat mengairi sawah untuk pertanian itulah dinamakan Dusun Bendungan. Lalu, babat alas meluas ke daerah utara yang disebut Rambaan. Kemudian diteruskan atau “ngelandungnobabat alas ke selatan yang akhirnya menjadi tambah luas (landing), dan disebut dengan Klandungan. Akhirnya orang tersebut meninggal dan dimakamkan di Dusun Klandungan, dan sebagai tetenger makam tersebut dinamakan Makam Ki Ageng Mbah Doko Wono. Sampai saat ini tidak diketahui secara jelas dari berbagai sumber asal usul Ki Ageng Mbah Doko Wono tersebut, keluarga dan kerabatnya. Di samping itu belum diketahui pula sejak tahun berapa Desa Landungsari ini berdiri. Nama desa Landungsari sendiri oleh sesepuh desa pada umumnya diartikan “Landung sama dengan panjang, sari adalah inti atau madu, dan dapat diartikan panjang penggalihe, punjung rejekine”. Adapun yang menjadi kepala desa yang pertama adalah Denan (1920-1924).  ***
Share:

Sejarah Singkat Desa Jandimeriah

Desa Jandimeriah merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran perbukitan, yaitu sekitar 1.200 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.000 mm dengan suhu berkisar antara 29° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Jandimeriah tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 1.192 orang dengan jumlah 381 KK serta luas wilayah 740 hektar. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Jarak tempuh Desa Jandimeriah ke ibu kota Kecamatan Tiganderket yaitu sekitar 5,8 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Karo adalah sekitar 28,8 kilometer.
Secara administratif, Desa Jandimeriah dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Sungai Lau Makam. Di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Lau Borus. Di sisi selatan berbatasan dengan Sungai Lau Biang, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Batukarang dan Desa Sukatendel.
Dalam Profil Desa Jandimeriah, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2010 – 2014, diceriterakan bahwa pada era tahun 1700 penduduk Desa Jandimeriah berasal dari Kerajaan Bangun Mulia yang terletak sekitar 1 kilometer sébelah barat dari Desa Jandimeriah sekarang ini. Dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Raja Mulia yang bermarga Bangun di mana raja memiliki 2 orang istri yakni 1 orang permaisuri dan 1 orang kawan (kawan dalam bahasa Karo berarti selir) dan melahirkan 5 anak laki-laki serta 1 anak perempuan. Dalam legenda ini tidak disebutkan siapa ibu kandung dari ke 6 anak raja tersebut.
Pada waktu itu putri raja yang cantik, Girik br Bangun, sedang sakit parah. Seluruh tabib di wilayah kerajaan dikumpulkan, namun tidak ada seorang pun yang sanggup mengobatinya, dan tidak tahu penyakit yang dideritanya. Sehingga raja mengutus pengawalnya untuk menyebarkan berita atau pengumuman barang siapa yang sanggup untuk mengobati putri raja akan diberikan hadiah berupa perhiasan.
Berita tersebut sampai ke telinga Guru Sakti dari Pakpak yang terkenal dengan sebutan Guru Pakpak 7 Sendalanen ( 7 sendalanen dalam bahasa Karo berarti 7 sekawan ). Berita ini juga sampai terdengar oleh guru yang sakti pula yang berasal dari Desa Jenabun dengan sebutan Guru Ndiden. Karena jarak dari Desa Jinabun tidak jauh dari Bangun Mulia hanya berjarak 6 Km maka Guru Ndiden lebih duluan sampai ke Kerajaan Bangun Mulia untuk mengobati putri raja tersebut. Alhasil putri raja dapat disembuhkan oleh Guru Ndiden dengan sempurna dan raja merasa sangat senang sekali dan sekembalinya Guru Ndiden ke  kampungnya, Jenabun, raja tidak lupa memberikan bingkisan berupa perhiasan sebagai ucapan tanda tarima kasih yang telah dijanjikannya.
Beberapa hari kemudian Guru Pakpak 7 Sendalanen sampai juga di Kerajaan Bangun Mulia yang hendak mengobati putri raja. Sangatlah kaget Guru Pakpak mendapati putri raja yang telah sembuh total dari penyakitnya, dan merasa sangat terhina karena tidak menyangka ada guru yang lebih hebat dari dirinya yang sanggup mengobati putri raja tersebut, maka dari itu Guru Pakpak mencari informasi siapakah guru itu karena dia ingin membuat perhitungan atau adu kesaktian.
Singkat cerita, maka terjadilah perkelahian antara kedua guru tersebut dengan mengandalkan kesaktian masing-masing di lokasi Bangun Mulia. Pada saat perkelahian tiba-tiba datang angin yang sangat kencang disertai guntur yang menggelegar, bumi terasa berguncang kuat seperti gempa sehingga membuat rumah-rumah penduduk saling berbenturan keras dan hancur berantakan.
Raja dan semua penduduk berlarian kekatutan menyelamatkan diri sampai ke tempat yang agak aman, yakni lokasi yang sekarang didekenal sebagai Desa Jandimeriah. Di tempat inilah raja dan kelima putranya membuat kesepakatan dan perjanjian yang meriah ( perjanjian meriah adalah asal kata dari Desa Jandimeriah).
Dalam isi perjanjian tersebut disepakati bahwa ke lima putra raja dihijrahkan ke lima lokasi yang sekarang dikenal dengan nama Taneh Lima Senina, yakni putra pertama dipindahkan ke Penampen (Bangun Penampen), putra kedua dihijrahkan ke Narigunung (Bangun Narigunung), putra ketiga dipindahkan ke Batukarang (Bangun Batukarang, putra keempat dihijrahkan ke Selandi (Bangun Selandi dan putra kelima tetap tinggal di Desa Jandimeriah.
Sedangkan salah seorang putri raja dipinang oleh Anak Beru dari Desa Perbaji bermarga Sembiring Pelawi, di mana keturunan dari putri raja tersebut kita kenal dengan nama Guru Patimpus, pendiri kota Medan sekarang ini. ***
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami