The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Java Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Java Heritage. Tampilkan semua postingan

Tari Wireng Wirapratama

Tari yang diciptakan oleh Paku Buwono (PB) X, Raja Keraton Surakarta, ini diciptakan untuk menyikapi adanya Perjanjian Giyanti yang merupakan penggambaran Catur Sagara, di mana trah Mataram terbagi menjadi empat wilayah, yakni Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.
Wirapratama sendiri berarti prajurit yang memiliki watak utama. Adegan perang yang digambarkan pada tarian ini tidak saja bermakna perang melawan musuh, namun juga perang melawan hawa nafsu.
Dalam pertunjukkannya, tari ini digambarkan oleh empat kstaria Pandawa yang terlibat geladi seru, yakni Gatotkaca, Antasena, Abimany, dan Irawan. Dua karakter bertolak belakang ini bergerak lincah khas masing-masing. Gatotkaca dan Antasena yang bertampang angker unjuk trengginas lewat tari gagahan. Sementara Abimanyu dan Irawan yang berparas kalem tampil lebih elegan.
Dimulai dengan perang beksan, mereka bergerak serasi mengikuti alunan tembang dan gamelan yang mengiringinya. Situasi makin memanas tatkala para kesatria itu bertarung dalam adegan perang kembangan. Puncaknya, masing-masing mengeluarkan jurus pamungkas dalam perang tersebut. Gatotkaca dan Antasena menggunakan senjata gada, sedangkan Abimanyu dan Irawan menggunakan keris serta panah.***
Share:

Tari Serimpi

Serimpi merupakan tari klasik yang berasal dari abad-abad silam di istana. Tari ini terus dipentaskan dan digarap hingga saat ini.
Serimpi biasanya ditarikan oleh empat orang penari wanita. Ada beberapa ragam serimpi, masing-masing digubah dan ditata secara cermat pada masa pemerintahan – dengan berbagai kebiasaan yang berbeda – Surakarta dan Yogyakarta. Bentuk Serimpi tertua, menurut sumber tertulis, diciptakan oleh Paku Buwono V pada tahun Jawa 1748. Serimpi Ludiramadu bersumber pada kisah Sri Paku Buwono V yang merupakan keturunan Madura.
Bentuk terbaru serimpi adalah Serimpi Pandelori, gubahan para guru perkumpulan tari Yogyakarta, Among Beksa, ditarikan delapan penari dan mengambil cerita Menak. ***
Share:

Tari Gambyong

Gambyong didapati di banyak daerah di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Ragam gambyong pernah ditemukan di Jawa Barat dengan nama lain namun telah punah.
Tradisi lisan mengatakan gambyong berawal pada masa pemerintahan Sri Sunan Paku Buwono IX (1881 – 1893) dari Keraton Surakarta, namun catatan tertulis menunjuk lebih awal, yaitu pada masa pemerintahan Sri Sunan Paku Buwono IV (1788 – 1820). Gambyong terdapat dalam Serat Centhini dan Serat Cabolang, dua sumber tentang seni panggung Indonesia yang ditulis abad ke-19. Gerak-gerak erotis gambyong diiringi gamelan dan vokal dalam nada slendro atau pelog.
Tari gambyong ditarikan oleh seorang penari atau lebih dalam acara seperti pesta pernikahan atau penyambutan tamu, atau sebagai pembukaan pergelaran wayang orang oleh beberapa perkumpulan seperti Ngesti Pandawa di Semarang dan Sriwedari di Surakarta. Bahkan perkumpulan kethoprak, seperti Kethoprak Siswo Budoyo di Tulungagung, dan Sapta Mandala di Yogyakarta, memasukkan gambyong pada pembukaan mereka. ***
Share:

Tari Bedhaya

Bedhaya dipercaya orang banyak sebagai ciptaan Sultan Agung Mataram pada awal abad ke-17. Tari ini termasuk dalam jenis pusaka keratin Jawa Tengah dan sampai sekarang hanya ditampilkan di dalam istana untuk acara yang sangat istimewa. Ditarikan oleh Sembilan penari terbaik dan tercantik kerajaan, bedhaya penuh dengan perlambang; juga merupakan lambing kesempurnaan. Gerak sangat lambat, menciptakan suasana tenang, teduh, dan khitmad.
Para penari bedhaya di Surakarta selalu wanita, tetapi di Yogyakarta dahulu penarinya laki-laki yang memakai busana wanita. Selain sebagai tari, bedhaya juga menjadi bagian upacara bagi penguasa. ***
Share:

Gamelan dan Maknanya

Ketika Sunan Kalijaga mendapat tugas dari Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam, ia mencari cara yang tepat untuk menarik massa sebanyak-banyaknya. Akhirnya, Sunan Kalijaga ingin mengadakan pagelaran wayang kulit.
Namun, jauh sebelum mengadakan pagelaran wayang kulit, Sunan Kalijaga harus membuat wayang kulit itu dan sejumlah gamelan. Dalam mewujudkannya, Sunan Kalijaga pada awalnya dibantu oleh dua orang, yaitu Pangeran Kejaksaan dan Pangeran Kajoran. Pangeran Kejaksaan membantu dalam menyempurnakan wayang kulit beserta karakternya, sedangkan Pangeran Kajoran membantu dalam pembuatan gamelan untuk mengiringi wayang kulit, yang kelak disempurnakan oleh Sunan Bonang.
Kehadiran Sunan Bonang kala itu, sudah barang tentu membuat kemajuan bagi kelompok wayang kulit pimpinan Sunan Kalijaga. Suara gamelan itu terdengar semakin enak dan begitu meresap di hati. Bagi Sunan Bonang sendiri tidak mengalami kesulitan dalam melatih para nayaga yang berjumlah lima orang itu. Ketika ada salah seorang nayaga yang jatuh sakit, Sunan Bonang langsung menggantikannya. Dengan ikut sertanya Sunan Bonang menjadi nayaga, latihan pun tampak semakin bersemangat.
Zaman dahulu jumlah nayaga memang ada lima orang sebab jumlah gamelan yang dibuat Pangeran Kajoran ada lima macam. Kelima gamelan tersebut antara lain:
1.       Kendang
Kendang berarti kedah tandang (harus maju). Maknanya, umat Islam harus maju. Maju pikirannya, maju ilmunya, dan harus mampu menjadi pimpinan. Apakah pemimpin bangsa, pemimpin daerah, pemimpin perusahaan, pemimpin sekolah, pemimpin pesantren, dan pemimpin-pemimpin lainnya. Sebagai pimpinan sudah barang tentu harus memiliki sifat-sifat, jujur, adil, terbuka, berwibawa, tegas, dan selalu memperhatikan keadaan yang dipimpinnya.

2.       Ketuk
Ketuk berarti kedah tuku (harus beli). Maknanya, orang-orang yang ingin menonton pertunjukan wayang kulit zaman dahulu harus membeli. Bukan membeli karcis masuk, tetapi yang dibeli adalah iman dan Islam. Alat bayarnya adalah dua kalimat syahadat. Ringkasnya, pada zaman wali, orang yang ingin menonton wayang harus mengucapkan syahadat dahulu di depan Sunan Kalijaga atau para wali lainnya.

3.       Kemong
Kemong berarti kedah momong (harus bisa mengasuh). Maknanya, umat Islam yang berilmu harus bisa mengasuh orang lain yang belum mengerti apa-apa supaya menjadi mengerti. Caranya dengan memberikan bimbingan, arahan, dan dorongan. Dengan cara itu diharapkan, agar mereka bisa menjadi umat beragama yang patuh.

4.       Kening
Kening berarti kedah ningali (harus melihat. Maknanya, bila ada pagelaran wayang kulit seluruh masyarakat harus melihat sebab pagelaran wayang kulit di zaman wali itu bukan alat hiburan semata. Lebih penting dari itu adalah sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam.

5.       Gong
Gong kalau dipukuli bunyinya, “Gerr …” Bunyi suaranya berat dan panjang bergelombang. Musik apa pun bila tanpa gong atau bas tidak enak didengar. Menurut masyarakat Cirebon, bunyi ger tersebut mempunyai arti Allahu Akbar. Maknanya, kita sebagai umat Islam harus selalu ingat kepada Allah Yang Maha Pencipta. Cara yang terbaik adalah melalui salat lima waktu sebab setiap gerakan salat didahului dengan kata Allahu Akbar. Selain itu, bunyi ger … tersebut adalah bunyi terakhir setelah bunyi keempat gamelan di atas. Ini berarti bahwa pada akhirnya nanti semua umat akan kembali kepada Yang Maha Pencipta. ***

Sumber:
  • Samir Amirudin, 1999, Mitos Wayang Kulit, ______: CV. Dian Arta
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami