The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Gereja di Kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja di Kediri. Tampilkan semua postingan

Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang

Gereja merupakan bangunan ibadat umat kristiani yang mewadahi kegiatan spiritual bagi jemaatnya. Berbagai bentuk desain gereja telah tercipta sejak lama dan beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi aset sejarah. Salah satu dari sekian karya arsitektur yang dapat memperlihatkan ekspresi dari pengungkapan manusia dan lingkungannya serta dapat berkomunikasi karena di dalam karya tersebut banyak memperlihatkan simbol-simbol yang akrab dengan manusia dan lingkungannya adalah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang.
Gereja ini terletak di Jalan Raya Puhsarang RT.01 RW.02 Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di depan Wisma Mbah Kung, dan berada di sebuah bukit kecil yang di bawahnya mengalir sungai berbatu-batu dengan sekelilingnya penuh pepohonan bambu.


Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang atau Gereja Puhsarang didirikan atas prakarsa dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek Ir. Henri Maclaine Pont. Henri Maclaine Pont, seorang arsitek kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) pada 21 Juni 1885 dari seorang Ibu yang keturunan Bugis, dan Ayah yang orang Belanda.
Romo Wolters meminta kepada Maclaine agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam merancang gereja di stasi Puhsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu. Corak lokal Gereja Puhsarang tercetus, ketika konsep Romo Wolters yang diajukan tersebut bertemu dengan konsep sang arsitek Henri Maclaine Pont. Sehingga muncul keunikan dalam hal ke-Jawa-an, kekatolikan, lokalitas, sekaligus universalitas yang setiap bagiannya berguna untuk sebuah pengajaran serta tempat untuk melakukan perenungan akan arti sebuah misteri iman.
Peletakan batu pertama dalam pembangunan gereja ini dilakukan oleh Monseignor Theophile de Backere CM pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan Sakramen Maha Kudus. Bangunan gereja ini selesai pada tahun 1937.


Secara fisik, bangunan utamanya menyerupai sebuah tenda atau sebuah kubah besar yang ditopang pada keempat sudutnya oleh soko guru. Bentuk tenda dan soko guru merupakan esensi dari arsitektur Jawa. Kompleks Gereja Puhsarang ini terdiri atas bangunan induk, pendapa, gapura mirip candi, gapura Santo Yusuf, menara Santo Henrikus, ruang gamelan, ruang terbuka dan patung Kristus Raja. Dalam membangun gereja ini, Maclaine selalu menggunakan bahan-bahan lokal dan tenaga lokal serta bangunannya disesuaikan dengan situasi setempat.
Gereja Puhsarang, kini menjadi landmark atau tetenger dari kawasan tersebut, dan sekaligus mempunyai arti yang cukup penting bagi masyarakat sekitar. Hal ini dapat terjadi karena fasilitas yang terdapat di sekitar gereja cukup dapat mewadahi kegiatan-kegiatan pokok dari masyarakat setempat. Fasilitas tersebut seperti ruang terbuka, sekolah serta makam, sehingga fasilitas tersebut menjadikan lingkungan gereja menjadi pusat kegiatan umum masyarakat sekitar gereja maupun masyarakat Desa Puhsarang pada umumnya. *** [240515]

Kepustakaan:
Maria I. Hidayatun dan Christine Wonoseputro, 2005. Telaah Elemen-Elemen Arsitektur Gereja Puhsarang Kediri Sebuah Pengayaan Kosa Kata Arsitektur Melayu (Nusantara), dalam International Seminar on Malay Architecture as Lingua Franca Jakarta, June 22-23 2005
Share:

GPIB Jemaat Immanuel Kediri

Pada saat melakukan Pilot Test PNPM di Ngronggot (Nganjuk), sebenarnya penulis sudah pernah menginjakkan kaki di Kota Kediri. Karena pada waktu Pilot Test, penulis mengambil base camp di Hotel Lotus Kediri sehingga kebetulan pas jalan ke arah selatan menemukan bundaran. Di sisi barat laut bundaran tersebut terdapat bangunan gereja yang bercat merah. Bangunan gereja lawas tersebut adalah GPIB Jemaat Immanuel Kediri. Oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Gereja Merah.
Tapi, benar-benar kesampaian mengunjungi gereja ini pada saat diajak teman dari Garut yang sedang nyadran ke leluhurnya di Kediri pada 24 Mei 2015. Beruntunglah bisa bertandang ke Gereja Merah ini. Gereja ini terletak di Jalan KDP Slamet No. 43 Kampung Bandar Lor, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di depan Monumen Syu yang berdekatan dengan Taman Sekartaji.
Berdasarkan prasasti yang terbuat dari batu pualam dengan menggunakan bahasa Belanda yang menempel pada dinding sebelah kiri pintu masuk, diketahui bahwa nama resmi gereja ini adalah Kerkenraad van de Protestantse Gemeente te Kediri. Artinya, gereja yang digunakan jemaat Protestan di Kediri.


Peletakan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh Ds. J.A. Broers pada tanggal 21 Desember 1904 dan diresmikan oleh J.V.D. Dungen Gronovius. J.A. Broers adalah seorang pendeta yang diutus Pemerintah Hindia Belanda untuk mengajarkan agama Protestan di Kediri. Sayangnya, nama arsiteknya belum diketahui.
Bangunan gereja ini berlanggam Neo-Gothic yang memiliki impresi ramping dan tinggi serta dikelilingi pagar dari tembok setinggi 165 cm. Luas bangunan gereja berdenah empat persegi dengan ukuran 30,75 x 10,6 m ini berdiri di atas lahan seluas 1.408, 87 m². Hiasan berbentuk lingkaran, lengkungan, tumpal, dan pelipit mendominasi penampilan gereja secara keseluruhan, ditambah dengan bentuk pilar pada setiap sudut bangunan. Di dalam gereja terdapat 5 ruangan, yaitu ruang informasi, ruang utama, balkon, ruang konsistori dan menara. Menara menjulang yang berada di atas pintu masuk utama gereja ini merupakan fasad yang mencirikan gaya arsitektur Neo-Gothic.
Keunikan lain yang dimiliki gereja ini adalah terdapatnya sebuah kitab Injil kuno dengan ukuran 43 x 29 cm dengan ketebalan 10 cm. Kitab tersebut diterbitkan pada September 1867 oleh De Nederlandsche Bijbel Compagnie. Sejauh ini tidak ada yang tahu kapan kita Injil berbahasa Belanda tersebut mulai berada di gereja ini.
Pada tahun 1948, gereja ini diserahkan Pemerintah Belanda kepada pengurus gereja yang asli pribumi. Kemudian gereja ini resmi menjadi milik GPIB sesuai keputusan Direktur Jenderal Agraria Nomor Surat Keputusan 22/DDA/1969 tanggal 14 Maret 1969 tentang penunjukan Badan Protestan di Indonesia Bagian Barat sebagai badan hukum yang dapat mempunyai hak milik tanah. Tanah dan gereja ini menjadi milik GPIB dengan buku tanah Nomor 36/1976 tanggal 10 Juni 1976 dengan nomor sertifikat 3203030 dan dinamakan GPIB Jemaat Immanuel Kediri.
GPIB ini sejak dibangun sampai sekarang ini, baru mengalami satu kali pemugaran pada tahun 2005 lalu. Selain bangunan, kaca jendela, balkon, kursi, kayu penyangga maupun mebelair juga masih asli. Sebutan Gereja Merah mulai digunakan pada tahun 1994 setelah seluruh bangunan gereja ini dicat merah untuk menghemat biaya perawatan, sehingga masyarakat menyebutnya Gereja Merah. Sebelumnya gereja ini berwarna putih gading.
Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor PM.12/PW.007/MKP/05, gereja ini ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) pada tanggal 25 April 2005. *** [240515]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami