The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Lombok Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lombok Tempo Doeloe. Tampilkan semua postingan

Pura Meru Cakranegara

Awal mula pembentukan kota Cakranegara adalah sebagai kota kerajaan Hindu di Pulau Lombok, yang pada masa itu merupakan koloni Kerajaan Hindu Karangasem di Pulau Bali. Kota Cakranegara dibangun pada tahun 1691 dan ditata berdasarkan kaidah kosmologi Hindu-Bali.
Semula Cakranegara disebut sebagai Kerajaan Singasari yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Karangasem Sasak. Menjelang akhir tahun 1838, Kerajaan Mataram Lombok yang berkuasa pada waktu itu menyatukan kerajaan-kerajaan lainnya yang berada di Pulau Lombok dan memindahkan kota kerajaannya ke wilayah Karangasem Sasak dan pada tahun 1866 mengganti nama Singasari menjadi Cakranegara.
Cakranegara sebagai kota kerajaan Hindu di Pulau Lombok, pada masa itu merupakan koloni Kerajaan Hindu Karangasem di Pulau Bali. Sehingga, kawasan Cakranegara ini dulunya juga dibangun berdasarkan kaidah kosmologi Hindu-Bali dan pada kondisi eksisting beberapa cirinya masih dapat dilihat dari kebertahanan artefak kota dan bangunan cagar budaya ada di dalamnya.
Salah satu warisan budaya umat Hindu di Lombok yang berupa bangunan pura banyak terdapat di wilayah Cakranegara, Mataram, Pagesangan, Pagutan, dan sekitarnya. Pura-pura ini merupakan peninggalan yang memliki nilai penting bagi perkembangan tradisi dan budaya. Salah satu pura yang menjadi bagian dari sejarah keberadaan umat Hindu di Lombok adalah Pura Meru Cakranegara.


Pura ini terletak di Jalan Selaparang, Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi pura ini berada di sebelah selatan Taman Mayura ± 100 meter.
Pura Meru ini didirikan pada tahun 1720 oleh Kerajaan Singasari yang juga dikenal dengan Kerajaan Karangasem Sasak. Pembangunan Pura Meru ini, di samping sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan juga bertujuan untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara penguasa di masing-masing kerajaan kecil yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan.
Pura Meru memiliki ukuran tapak datar dengan panjang ± 174 meter dengan lebar 51 meter, atau memiliki luas sekitar 8.873 m². Pada tahun 1979 dilakukan pemugaran, khususnya pada candi bentar dan bale kulkul yang memberi petunjuk (sepertinya) bentuk dan ragam hiasnya sudah mendapat penyempurnaan motif pepalihan dan ukiran Bali menurut Lontar Asta Kosala Kosali. Adanya pemugaran ini juga sedikit mengubah konsep arah masuk utama dari luar pura. Yang pada mulanya posisi candi bentar berada pada sumbu simetri yang sama dengan aksis kori agung, dulu candi bentar ini dari barat lurus ke Jeroan, sampai utara begitu pula kedudukan bale kulkul yang sekarang dibangun pada sudut barat laut halaman terluar pura.
Tapak (site) Pura Meru memanjang ke arah timur-barat yang terbagi atas empat bagian peruntukan (mandala) secara berturut-turut, yaitu utama mandala, madya mandala, nista mandala, dan legar mandala. Antara mandala yang satu dengan lainnya memiliki perbedaan ketinggian tanah yang dibatasi oleh tembok penyengker sesuai dengan makna tingkat kesuciannya. Utama mandala berada pada posisi yang paling tinggi, disusul kemudian makin rendah dari madya, nista sampai legar.


Pada halaman legar mandala terdapat bale kulkul dan candi bentar yang berada di sisi utara (sebelah kanan), rumah penjaga dan toilet. Candi bentar berada di sebelah utara menjulang tinggi memiliki sejenis peletasan yang berada di sisi dinding tembok sebelah utara.
Sebelum memasuki areal madya, pada as tembok pembatas antar halaman terdapat gelung kori, yang di sisi kiri kanannya (dekat paduraksa tembok samping) terdapat pemedal alit, sebelah arca raksasa. Pada halaman madya ini hanya berjejer dua buah gugus bangunan, yang disebut dengan bale petandakan dan bale gong. Di sekitar bale petandakan dan bale gong, terdapat beberapa pohon cempaka dan kamboja.
Menuju ke wilayah utama mandala harus melewati kori agung yang berada pada as tembok pembatas, yang di sebelah kiri kanannya juga memiliki pemedal alit. Di utama mandala berjejer tiga buah bangunan meru bertumpang sebelas sebagai simbol lambang Siwa, bangunan meru bertumpang sembilan sisi selatan simbol Brahma, dan bangunan meru bertumpang sembilan sisi utara merupakan simbol Wisnu. Meru tumpang sebelas beratap ijuk, dan di ruang-ruang di setiap tumpang terbuat dari bahan kayu. Sedangkan, pada meru bertumpang sembilan menggunakan bahan genteng yang pada list plank-nya menggunakan ring-ring. Dalam utama mandala selain berjejer dua buah bangunan meru bertumpang sembilan dan sebuah bangunan meru bertumpang sebelas, di hadapan bangunan ini juga terdapat tiga buah pelinggih, yaitu padmasana, ngerurah dan sanggar agung. Ketiganya tidak beratap, bentuk menyerupai padma dengan bebaturan berbentuk segi empat panjang. Pelinggih yang paling kecil berada di tengah-tengah (ngerurah). Di depan persimpangan ini terdapat sebuah sumur berdiameter sekitar satu meter, memiliki dua buah pilar dan sebuah balok yang bertumpu pada kedua pilar tadi. Di sebelah sumur terletak bale payuman (tempat banten) bertiang empat yang juga beratap genteng, kemudian di sebelah selatannya terdapat bale tenget bertiang enam, digunakan bila menyajikan tari-tarian sakral maka sekaa gong metabuh di sana. Hampir sepanjang sisi kanan dan belakang area utama mandala, berjejer sanggar atau persimpangan Ida Bathara yang melinggih. Semua bangunan yang disebut sanggar ini merupakan gugus bangunan kecil bertiang enamm terbuat dari kayu di cat putih beratap ijuk. Keseluruhan berjumlah 29 buah, 13 sepanjang sisi utara menghadap ke selatan dan 16 sisi timur menghadap ke barat, yang berada di belakang bangunan meru. *** [161015]

Kepustakaan:
Joko Prayitno, 2013. Status Pura Meru Cakranegara dalam Perspektif Teologi, dalam Shopia Dharma Vol. I Edisi Nomor 1 Juli-Desember 2013
Share:

Masjid Qubbatul Islam Mataram

Pada malam hari (16/10), saya berkesempatan makam malam bersama Tim dari lembaga donor di Lesehan Taliwang Irama yang cukup terkenal di Kota Mataram. Esok harinya, saya mendampingi mereka kembali untuk membeli ayam taliwang sebagai oleh-oleh pulang ke Jakarta. Karena ke sana pada pagi hari, saya bisa berkeliling di sekitar rumah makan tersebut. Ternyata tidak jauh dari rumah makan tersebut, terdapat sebuah masjid lawas dengan menara khasnya. Masjid tersebut bernama Masjid Qubbatul Islam.
Masjid ini terletak di Jalan Ade Irma Suryani, Lingkungan Karang Taliwang, Kelurahan Karang Taliwang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi masjid ini berada di sebalah timur laut R.M. Lesehan Taliwang Irama ± 100 meter.
Keberadaan masjid ini tidak terlepas dari sejarah berdirinya Karang Taliwang itu sendiri. Dikisahkan bahwa antara abad 17 hingga abad 18 terjadi perseteruan antara Kerajaan Karangasem (Bali) dengan Kerajaan Selaparang (Lombok). Perseteruan itu semakin menjadi akibat melarikan dirinya putra mahkota Kerajaan Karangasem ke Selaparang setelah dituduh melakukan pelanggaran adat, dan bergabungnya Arya Banjar Getas ke Kerajaan Karangasem lantaran istrinya mau dinikahi oleh Raja Selaparang. Intrik-intrik tersebut menyebabkan terjadinya perang terbuka antara Kerajaan Karangasem dan Kerajaan Selaparang.


Pada masa itu pasukan Kerajaan Taliwang didatangkan ke Lombok untuk membantu Kerajaan Selaparang yang mendapat serangan dari Kerajaan Karangasem Bali. Dalam sejumlah literatur disebutkan bahwa Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Taliwang memiliki satu garis keturunan dengan Kerajaan Banjar di Kalimantan. Merasa bersaudara, Kerajaan Taliwang mengirimkan pasukan yang terdiri atas orang-orang mumpuni ke medan pertempuran. Pasukan Kerajaan Taliwang pun bergabung dengan pasukan Kerajaan Selaparang di suatu wilayah di mana pasukan dua kerajaan ini membangun markas yang berhadapan langsung dengan pasukan Karangasem. Lokasi inilah yang sekarang dikenal dengan Karang Taliwang. Makanya sampai saat ini, bahasa Taliwang (Sumbawa Barat) dengan Karang Taliwang (Lombok) memiliki kesamaan.
Dalam misi itu, ikut serta para pemuka agama Islam, juru kuda maupun juru masak untuk mendampingi pasukan Kerajaan Taliwang. Pemuka agama bertugas memberi tuntunan kehidupan masyarakat dan melakukan pendekatan dengan Raja Karangasem agar korban berjatuhan bisa dihindari. Juru kuda bertugas menjaga dan memelihara kuda pasukan Kerajaan Taliwang. Juru masak bertugas menyiapkan makanan untuk pasukan Kerajaan Taliwang.


Setelah Kerajaan Selaparang bisa dikalahkan oleh Kerajaan Karangasem pada tahun 1692 maka tamatlah riwayat Kerajaan Selaparang atas daerah kekuasaannya. Meski demikian, Kerajaan Karangasem tidak serta merta juga mengusir orang Islam yang telah bermukim di Karang Taliwang, baik dari Kerajaan Selaparang maupun Kerajaan Taliwang. Ikatan tali sejarah yang erat antara Puri Karangasem di Bali yang telah lama hidup berdampingan secara rukun dengan umat Hindu, diadopsi oleh Kerajaan Karangasem untuk membina hubungan baik dengan umat Islam di Lombok.
Selain membangun Pura Meru (1720), Taman Narmada (1727), dan Taman Mayura (1744) di Cakranegara, Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem juga sangat memperhatikan kehidupan umat Islam di bawah kekuasaannya. Salah satunya dengan cara membangunkan sebuah masjid yang akan digunakan sebagai tempat peribadatan umat Islam. Maka dibangunlan masjid di Karang Taliwang dengan nama Masjid Qubbatul Islam. Qubbatul Islam bila dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia berarti Kubah Islam. Kubah merupakan atap yang melengkung, yang berfungsi untuk menaungi, sedangkan Islam menunjuk kepada umat yang melakukan shalat di bawah kubah yang menaunginya tersebut.
Masjid ini diperkirakan didirikan pada tahun 1750, namun kemudian direnovasi oleh Belanda atas permintaan Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem ketika masih berkuasa. Setelah direnovasi, masjid ini terlihat lebih tinggi dari sebelumnya. Jendela-jendelanya pun lebar-lebar. Bangunan utamanya ditopang oleh 4 tiang (soko). Di atas mihrab, atapnya berbentuk kubah, sedangkan bangunan utamanya beratapkan tumpang satu.
Sekarang ini, bangunan masjid tampak semakin luas setelah ditambahi teras di samping kiri, kanan dan di depan pintu utama masjid. Teras-teras tersebut membentuk selasar masjid yang cukup luas.
Masjid Qubbatul Islam ini merupakan masjid lawas yang memiliki sejarah panjang. Umur masjid ini hampir bersamaan dengan berdirinya daerah Karang Taliwang itu sendiri. *** [161015]
Share:

Masjid Kuno Bayan Beleq

Seperti halnya Dusun Tradisional Sade yang berada di Lombok Tengah, Desa Bayan juga memiliki kemiripan yang hampir sama. Nama Bayan identik dengan sosok desa tradisional, adat istiadat dan norma-norma budaya lama yang masih mewarnai pola kehidupan masyarakatnya. Sebagai desa adat yang masih tradisional, Desa Bayan menyimpan banyak ceritera. Kekunaan yang dimiliki oleh desa ini, mengundang banyak orang untuk mengunjunginya. Tidak hanya wisatawan domestik saja, akan tetapi juga wisatawan dari mancanegara. Mereka pada umumnya tertarik akan keaslian desa sebagai kekhasan karakteristik daerah tersebut. Selain itu, ada juga bangunan peribadatan kuno yang sering menjadi ikon dari daerah tersebut. Bangunan kuno tersebut sepintas mirip dengan rumah, namun sesungguhnya adalah masjid. Masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Kuno Bayan Beleq.
Masjid Kuno Bayan Beleq terletak di Dusun Karang Baja, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi bangunan masjid kuno ini berada di pinggir jalan raya menuju utara Pulau Lombok, dan letak posisinya di atas sebuah bukit kecil dengan ketinggian 3,6 meter yang dikelilingi makam para penyebar agama Islam di Bayan dengan ketinggian 278 meter di atas permukaan laut.


Menurut catatan yang terdapat di Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah, dikisahkan bahwa Sunan Giri bertolak dari Jawa ke Pulau Lombok pada abad 16 untuk menyebarkan agama Islam dan berlabuh di pantai sebelah utara Bayan. Babad Lombok menyebutkan bahwa syiar Islam dimulai dari daerah Bayan, yang terletak 20 kilometer dari pantai.
Kapan masjid ini didirikan tidak diketahui dengan pasti karena minimnya sumber tertulis yang ada. Namun, masyarakat setempat meyakini bahwa masjid tersebut telah berumur ratusan tahun, dan karena umurnya sangat tua maka disebut sebagai Masjid Kuno Bayan Beleq. Dalam bahasa Sasak, beleq berarti besar.
Pada pertengahan abad 19 secara sosio-politik Lombok dikuasai Kerajaan Karangasem, Bali. Pengaruh Hindu, Islam, Jawa dan Bali tersebut tampak pada masjid ini.
Masjid ini memiliki denah berbentuk bujur sangkar, mengecil ke atas, berukuran 8,7 x 8,7 meter. Seperti halnya bangunan Joglo Jawa, konstruksi yang menopang bangunan berupa empat soko guru terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder setinggi 5,5 meter. Tiang-tiang tersebut menopang atap puncak yang berbentuk tajug. Besar dan kemiringan atap yang tajam ini lebih bercorak Bali.
Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan bangunan tunggal dengan corak arsitektur Lombok ditandai dengan rendahnya dinding dan pintu masuk, kurang lebih 1,5 meter. Pintu dan mihrab ukurannya sama sehingga memberikan kesan simetri. Mihrab dinding sisi barat yang sangat rendah terbuat dari papan kayu suren yang berjumlah 18 bilah. Perbedaan tinggi dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan iman tidaklah sama dengan makmum.


Masjid ini berpintu satu, seperti rumah Sasak pada umumnya. Seperti halnya masjid Jawa, masjid ini dilengkapi bedug yang digantungkan ke rangka utama bangunan. Mimbar masjidnya dibuat dari kayu dengan ornamen burung lambang kemakmuran. Seluruh dinding masjid ini terbuat dari anyaman bambu. Sementara itu, fondasi lantainya terbuat dari batu kali, sedangkan lantai masjid terbuat dari tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh.
Masjid Kuno Bayan Beleq ini acapkali disebut juga dengan masjid makam, karena di sekeliling area masjid ini ditemukan makam. Terdapat enam makam di area tersebut, yaitu makam Plawangan, makam Karangsalah, makam Anyar, makam Reak, makam Titis Mas Penghulu, dan makam Sesait. Makam Plawangan terletak di sebelah selatan masjid. Makam Karangsalah terletak di sebelah timur laut masjid. Makam Anyar terletak di sebelah barat laut masjid. Makam Titis Mas Penghulu terletak di sebelah utara masjid, sedangkan makam Sesait berada di sebelah utara masjid. Makam tersebut disinyalir merupakan makam tokoh-tokoh yang menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok. Makam tersebut didominasi bahan dasar bedek (dinding yang terbuat dari bambu).
Meskipun masjid ini sangat sederhana dan berbahan utama dari bambu, akan tetapi bernilai sejarah dan arsitektural yang tinggi. Kini masjid ini tidak digunakan lagi untuk ibadah setiap hari. Masjid ini hanya digunakan pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja, dan tidak semua orang Islam di sana melakukan salat. Yang melakukan salat di sana hanyalah para Kyai, mulai dari Kyai Ketip (Khatib), Kyai Lebe, Kyai Penghulu, Kyai Modin, Kyai Raden, dan Kyai Santri.
Sesuai dengan papan yang berada di lingkungan masjid ini, dapat diketahui bahwa Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan situs cagar budaya yang dilindungi dengan UU tentang Cagar Budaya. ***
Share:

Dusun Tradisonal Sade

Belum lengkap rasanya berkunjung ke Lombok Tengah tanpa singgah ke dusun tradisional suku Sasak, Sade. Dusun ini berada di tepi jalan dari Praya menuju Pantai Kute. Kurang lebih pada Km 19 arah selatan Praya, akan terpampang papan bertuliskan Welcome to Sasak Village Sade.
Dusun Tradisional Sade merupakan salah satu dusun yang terdapat di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis, Dusun Sade berbatasan dengan Dusun Penyatu di sebelah barat, dengan Dusun Lentak di sebelah timur, dengan Dusun Selak di sebelah utara, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Selemang.


Kawasan Dusun Sade merupakan desa wisata yang memiliki karakteristik khusus yang layak untuk menjadi tujuan wisata. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi yang relatif masih asli atau tradisional, yang ditandai dengan bentuk permukiman dengan deretan rumah yang bercorak hampir sama, sistem kekerabatan yang masih kental, serta masih membentuk adat tersendiri. Sehingga, dibandingkan dengan dusun-dusun yang ada di dalam wilayah Desa Rembitan, Sade merupakan salah satu dusun tradisional yang masih asli. Rumah-rumah penduduk dibangun dengan konstruksi bamboo dengan atap dari daun alang-alang yang mampu bertahan hingga 7 tahun bila mengikatnya benar. Penghuninya berpencaharian sebagai petani ladang karena tanah di daerah ini pada musim kemarau mengalami kekeringan. Jumlah mereka relatif tidak bertambah karena keluarga yang baru menikah kalau tidak mewarisi ruamah orang tuanya akan membangun rumah di tempat lain. Di samping arsitektur rumah, sistem sosial dan kehidupan keseharian mereka masih sangat kental dengan tradisi masyarakat Sasak tempo doeloe.
Menurut pemandu wisata dari kalangan suku Sasak Sade, diperkirakan dusun ini mulai muncul pada tahun 1907 Masehi. Akan tetapi, baru pada tahun 1975 dusun ini digagas sebagai desa wisata. Desa wisata merupakan suatu kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan, baik dari kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomodasi, makanan-minuman, cindera mata, dan kebutuhan wisata lainnya.
Dusun Sade yang memiliki lahan seluas 3 hektar terdiri dari 150 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sebanyak 700 orang. Rumah adat suku Sasak, jika diperhatikan dibangun berdasarkan nilai estetika dan kearifan lokal. Orang Sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang menjadi tempat tinggal dan juga menjadi tempat ritual ada dan ritual keagamaan. Rumah adat orang Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantai dari tanah liat yang dicampuri kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran tanah liat dan kotoran kerbau menjadikan lantai tanah mengeras, sekeras semen. Cara membuat lantai seperti itu sudah diwarisi oleh nenek moyang mereka.
Bahan bangunan seperti kayu dan bambu didapatkan dari lingkungan sekitar. Untuk menyambung bagian kayu-kayu, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah suku Sasak mempunyai hanya sebuah pintu berukuran sempit dan rendah, tanpa adanya jendela. Konon, filosofi dari pola pintu seperti itu adalah agar tamu senantiasa menghormati pemilik rumahnya, yang disimbolkan dengan menunduk bagi tamu yang berkunjung di rumah tersebut lantaran pintunya memang didesain rendah. Selain, rumah yang ditinggali, ditemui juga berugak (semacam gazebo) maupun lumbung.


Berugak merupakan bangunan tradisional Sasak yang umumnya digunakan untuk tempat berkumpul dari warga dusun setempat. Sedangkan, lumbung berfungsi sebagai tempat penyimpanan, di mana bagian atapnya merupakan ruangan yang dapat dijadikan tempat menyimpan hasil panen atau perabotan rumah tangga masyarakat. Satu lumbung dapat menyimpan 4 sampai 5 padi dari penduduk setempat. Di bagian bawahnya, terdapat semacam serambi yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat, atau sekadar duduk-duduk saja.
Selain itu, dalam hal pernikahan di dusun tradisional ini memiliki kekhasan tersendiri. Gadis desa yang akan dinikahi oleh pemuda harus melaksanakan budaya pernikahan sesuai dengan adat yang berlaku. Anak gadis harus diculik oleh pemuda yang akan dinikahinya barulah kemudian dilaksanakan akad nikah. Itu merupakan keharusan yang dilaksanakan dalam proses pernikahan di Dusun Sade karena merupakan budaya sacral yang dipercayai oleh penduduk setempat, dan ketika tidak dilaksanakan konon katanya keluarga dari gadis tersebut akan merasa tidak dihormati atau kehormatannya dinjak-injak. Budaya tersebut ada semenjak penduduk sebelumnya meyakini agama Islam dengan wektu telu. Islam wektu telu adalah sistem kepercayaan sinkretis antara ajaran Islam, Hindu yang bercampur unsur animisme.
Menurut penjaga donasi dari pengunjung, pada bulan Agustus hingga Desember merupakan musim kunjungan turis mancanegara ke Dusun Sade ini. Selain akan berselancar, mereka biasanya singgah ke Dusun Tradisional Sade ini. *** [230814]

Kepustakaan:
Zaenudin Amrulloh, 2014, Pemberdayaan Masyarakat Berbasih Pariwisata Pada Dusun Tradisional Sasak Sade Lombok NTB, dalam Skripsi di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islami, Fakultas Dakwah, Universitas Negera Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share:

Klenteng Po Hwa Kong

Tak lengkap rasanya jika kita menginjakkan kaki di Pulau Lombok tanpa menyusuri Kota Tua Ampenan di Kota Mataram. Deretan bangunan kuno dan pelabuhan tua yang menghiasi kawasan tersebut menjadi pesona tersendiri. Di antara bangunan tua tersebut terdapat sebuah klenteng mungil yang diberi nama Bao Hoa Gong atau dikenal Po Hwa Kong.
Klenteng Po Hwa Kong terletak di Jalan Yos Sudarso No. 180, Kelurahan Ampenan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi klenteng ini berdekatan dengan pintu masuk ke Pelabuhan Ampenan, yang dulunya merupakan pelabuhan laut penghubung Pulau Lombok dengan Pulau Bali.


Klenteng Po Hwa Kong, atau yang sekarang sering pula disebut sebagai Vihara Bodhi Dharma, merupakan klenteng tertua yang ada di Pulau Lombok. Diperkirakan, klenteng tersebut didirikan pada 1840. Konon, nama Po Hwa Kong diambil dari kata Po Wo Hwa Ming, yang artinya Melindungi Warga Tionghoa.
Klenteng ini sesungguhnya merupakan tempat beribadah umat Tri Dharma, yakni Kong Hu Cu, Tao, dan Buddha. Namun demikian, klenteng ini juga terbuka bagi warga yang berkeyakinan lain untuk datang ke klenteng guna memanjatkan doa untuk meminta rejeki, kelapangan usaha, mencari jodoh, dan juga mencari pekerjaan.


Di dalam Klenteng Po Hwa Kong terdapat banyak dewa yang disembahyangi, yaitu 12 altar dengan masing-masing nama dewanya. Dewa utamanya adalah Tan Fu Cen Yen. Konon, menurut ceritera, beliau pernah ditugaskan oleh Raja Bali untuk membangun istana dalam waktu 3 bulan, dan beliau sanggup menyelesaikannya dalam waktu tersebut.
Pada setiap tanggal 1 dan 15 dari kalender imlek, banyak umat Tri Dharma yang datang ke klenteng ini untuk melakukan sembahyang, berdoa memohon rejeki dan sebagainya. Di samping itu, kebersamaan antara warga keturunan Tionghoa dan warga sekitar klenteng ini terjalin secara dinamis. Sejumlah warga juga turut membantu merias dan membersihkan klenteng ini setiap kali peringatan Tahun Baru Imlek.
Dilihat dari perjalanan historisnya, klenteng ini bisa diklasifikasikan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang ada di Kota Mataram. Karena keberadaan klenteng ini terkait erat dengan cikal bakal munculnya permukiman Tionghoa kala itu di kawasan Kota Tua Ampenan, sebelum kemudian dikembangkan oleh Belanda pada abad ke-19 serta dijadikan sebagai pelabuhan paling ramai di Nusa Tenggara Barat. Kota Tua Ampenan terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian Pecinan merupakan tempat bermukimnya etnis Tionghoa, Kampung Arab menjadi tempat bermukim etnis Arab, Kampung Bugis dan Melayu merupakan tempat bermukim orang Bugis maupun orang Melayu. *** [220814]
Share:

Taman Mayura

Kawasan Cakranegara merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Mataram. Dulu, kawasan ini adalah kota koloni dari Kerajaan Karangasem di Bali, sehingga kotanya dibangun berdasarkan ide perencanaan kota Hindu-Bali. Kawasan tersebut diperuntukkan sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran agama Hindu, dan sekaligus sebagai permukiman bagi masyarakat Hindu-Bali yang datang selama pemerintahan Kerajaan Karangasem. Oleh karena itu, di Cakranegara dibangun istana raja yang luas dan indah, yaitu istana atau Puri Ukir Kawi.
Bersamaan dengan pembangunan istana, juga dibangun sebuah taman yang memiliki kolam yang indah. Taman tersebut dikenal dengan nama Taman Mayura, yang terletak di Jalan Purbasari, Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi taman ini berada di depan Sekretariat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Nusa Tenggara Barat.


Taman ini dibangun oleh Anak Agung Ngurah Made Karangasem pada tahun 1744. Awalnya, taman yang memiliki banyak paduan dan konsep kolam dan pura ini bernama Taman Istana Kelepug karena nama tersebut diambil dari suara yang muncul (kelepug-kelepug) dari derasnya mata air yang keluar dari tengah telaga atau kolam taman ini Akan tetapi, setelah direnovasi oleh Raja Mataram Anak Agung Ngurah Karangasem pada tahun 1866, nama Taman Istana Kelepug diganti menjadi Taman Istana Mayura. Kata “Mayura” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti Burung Merak. Karena dulunya Taman Mayura ini merupakan hutan yang sangat lebat yang dihuni oleh ular-ular berbisa dan binatang buas yang dianggap mengganggu aktivitas kerajaan. Maka Raja Anak Agung Ngurah Karangasem dibantu sahabat-sahabatnya dari Pakistan untuk mengusir ular-ular tersebut. Raja disarankan memelihara burung merak yang banyak agar mampu mengusir ular-ular yang ada dan akhirnya kawasan tersebut menjadi aman.


Di tengah taman, terdapat bangunan terapung yang dikenal dengan sebutan Bale Kambang. Pada kala itu, Bale Kambang berfungsi sebagai Pengadilan Rakyat (Raad Kerta) yang dipakai untuk mengadili suatu perkara pada zaman penjajahan Belanda.
Selain, Bale Kambang di taman yang memiliki luas sekitar 3 hektar ini terdapat juga Bale Loji, Bale Perenan, dan Pura Jagat Nata serta rerimbunan tanaman Manggis, Mangga, Munggur, Kamboja, dan Gadung. Penjunjung bisa memanjakan diri dengan menikmati semilirnya angin di bawah pepohonan sambil menatap kolam yang luas.
Dari segi sejarah dan pariwisata, kawasan Cakranegara menjadi salah satu bagian dari sejarah terbentuknya Kota Mataram dan menjadi tujuan wisata budaya. Beberapa bangunan kuno khas Bali yang masih bertahan, yaitu Pura Meru dan Taman Mayura, mulai dilestarikan dan dijadikan sebagai benda cagar budaya (BCB) oleh pemerintah daerah setempat. Selain itu, Kawasan Cakranegara (Pura Meru, Taman Mayura, Pura Dalem Karang Jangkong) sampai sekarang masih dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan oleh masyarakat Hindu, terutama di Kota Mataram. *** [220814]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami