Sabtu, 30 Agustus 2014

Taman Mayura

Kawasan Cakranegara merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Mataram. Dulu, kawasan ini adalah kota koloni dari Kerajaan Karangasem di Bali, sehingga kotanya dibangun berdasarkan ide perencanaan kota Hindu-Bali. Kawasan tersebut diperuntukkan sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran agama Hindu, dan sekaligus sebagai permukiman bagi masyarakat Hindu-Bali yang datang selama pemerintahan Kerajaan Karangasem. Oleh karena itu, di Cakranegara dibangun istana raja yang luas dan indah, yaitu istana atau Puri Ukir Kawi.
Bersamaan dengan pembangunan istana, juga dibangun sebuah taman yang memiliki kolam yang indah. Taman tersebut dikenal dengan nama Taman Mayura, yang terletak di Jalan Purbasari, Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi taman ini berada di depan Sekretariat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Nusa Tenggara Barat.


Taman ini dibangun oleh Anak Agung Ngurah Made Karangasem pada tahun 1744. Awalnya, taman yang memiliki banyak paduan dan konsep kolam dan pura ini bernama Taman Istana Kelepug karena nama tersebut diambil dari suara yang muncul (kelepug-kelepug) dari derasnya mata air yang keluar dari tengah telaga atau kolam taman ini Akan tetapi, setelah direnovasi oleh Raja Mataram Anak Agung Ngurah Karangasem pada tahun 1866, nama Taman Istana Kelepug diganti menjadi Taman Istana Mayura. Kata “Mayura” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti Burung Merak. Karena dulunya Taman Mayura ini merupakan hutan yang sangat lebat yang dihuni oleh ular-ular berbisa dan binatang buas yang dianggap mengganggu aktivitas kerajaan. Maka Raja Anak Agung Ngurah Karangasem dibantu sahabat-sahabatnya dari Pakistan untuk mengusir ular-ular tersebut. Raja disarankan memelihara burung merak yang banyak agar mampu mengusir ular-ular yang ada dan akhirnya kawasan tersebut menjadi aman.


Di tengah taman, terdapat bangunan terapung yang dikenal dengan sebutan Bale Kambang. Pada kala itu, Bale Kambang berfungsi sebagai Pengadilan Rakyat (Raad Kerta) yang dipakai untuk mengadili suatu perkara pada zaman penjajahan Belanda.
Selain, Bale Kambang di taman yang memiliki luas sekitar 3 hektar ini terdapat juga Bale Loji, Bale Perenan, dan Pura Jagat Nata serta rerimbunan tanaman Manggis, Mangga, Munggur, Kamboja, dan Gadung. Penjunjung bisa memanjakan diri dengan menikmati semilirnya angin di bawah pepohonan sambil menatap kolam yang luas.
Dari segi sejarah dan pariwisata, kawasan Cakranegara menjadi salah satu bagian dari sejarah terbentuknya Kota Mataram dan menjadi tujuan wisata budaya. Beberapa bangunan kuno khas Bali yang masih bertahan, yaitu Pura Meru dan Taman Mayura, mulai dilestarikan dan dijadikan sebagai benda cagar budaya (BCB) oleh pemerintah daerah setempat. Selain itu, Kawasan Cakranegara (Pura Meru, Taman Mayura, Pura Dalem Karang Jangkong) sampai sekarang masih dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan oleh masyarakat Hindu, terutama di Kota Mataram. *** [220814]

0 komentar:

Posting Komentar