Sabtu, 30 Agustus 2014

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat merupakan museum umum milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebagai museum umum, museum ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang diharapkan menjadi lembaga yang dapat menyatukan mata rantai masa lalu, masa kini dan proyeksi masa yang akan datang.
Museum ini terletak di Jalan Panji Tilar Negara No. 6 Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi museum ini tidaklah begitu jauh dengan Kota Tua Ampenan yang berada di sekitar Pelabuhan Ampenan.
Museum Negeri Nusa Tenggara Barat mulai dirintis pembangunannya sejak tahun 1976/1977. Pada tahun tersebut, Nusa Tenggara Barat memperoleh dana pembangunan dengan nama Proyek Rehabilitasi Museum Nusa Tenggara Barat.


Berdasarkan proyek tersebut berarti di dalamnya tersirat semacam pengakuan bahwa di Nusa Tenggara Barat telah ada museum yang perlu direhabilitasi dan diperluas. Maka pada tahun 1976/1977 sampai dengan 1980/1981, pembangunan prasarana gedung museum satu per satu dilaksanakan sampai akhirnya terwujudlah museum tingkat provinsi di Nusa Tenggara Barat, yang diberi nama Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.
Kelembagaan museum ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 022/0/1/1092 tanggal 21 Januari 1982. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, yaitu Bapak Dr. Daoed Yoesoef.
Museum yang memiliki luas areal 8.613 m² ini sampai saat ini mempunyai koleksi sebanyak 7.698 buah. Koleksi tersebut dalam pengelolaannya di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu, yaitu menurut disiplin ilmu, sub disiplin, dan atau yang bersifat konvensi (kesepakatan yang tidak tertulis). Kriteria lain yang dapat digunakan untuk klasifikasi koleksi adalah berdasarkan jenis, bahan, asal daerah, dan kronologi. Klasifikasi tersebut dilakukan, bertujuan untuk menciptakan pengelompokkan dan mempermudah dalam pengelolaan dan penelitian koleksi sehingga koleksi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pendidikan, studi maupun rekreasi.


Semua benda yang menjadi koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat memiliki nilai sejarah, nilai seni, dan pengetahuan yang terkait dengan perjalanan kehidupan masyarakat, sehingga pada umumnya merupakan benda cagar budaya yang perlu dilindungi berdasarkan UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Koleksi-koleksi di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat dikelompokkan dalam beberapa jenis koleksi, yaitu: geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, teknologika dan lain-lain.

Koleksi Geologika
Koleksi geologika adalah koleksi yang berhubungan dengan sejarah alam dan lingkungan, berupa fosil, batuan, dan sebagainya yang dapat dimasukkan dalam kelompok geologika.
Koleksi yang diberi nomor kode 01 ini berjumlah 47 buah, yang terdiri dari peta geologi, batuan hasil letusan gunung berapi, fosil kayu, gambar tata surya, dan lain-lain.

Koleksi Biologika
Koleksi biologika adalah koleksi yang berhubungan dengan makhluk hidup atau bagian dari makhluk hidup, terutama flora dan fauna.
Koleksi yang diberi nomor kode 02 ini berjumlah 123 buah, yang terdiri dari berbagai binatang hasil offset (buaya, ular kobra, biawak, rusa, kupu-kupu), kerang, berbagai jenis kayu, dan gambar flora dan fauna khas Nusa Tenggara Barat.

Koleksi Etnografika
Koleksi etnografika adalah koleksi benda budaya yang berasal dari berbagai suku bangsa yang ada di Nusa Tenggara Barat, seperti suku bangsa Sasak, Samawa, dan Mbojo. Di samping itu, terdapat pula benda budaya yang berasal dari suku bangsa di luar Nusa Tenggara Barat, seperti Bali.
Koleksi yang diberi nomor kode 03 ini berjumlah 3711 buah, yang terdiri dari berbagai peralatan mata pencaharian hidup (berburu, berladang, bertani, menangkap ikan), peralatan transportasi, peralatan rumah tangga (menerima tamu, memasak/dapur), peralatan upacara adat (daur hidup), kain, dan berbagai jenis peralatan lain yang mempunyai arti dan kegunaan bagi suku bangsa pendukungnya.

Koleksi Arkeologika
Koleksi yang diberi nomor kode 04 ini berjumlah 336 buah, yang terdiri dari nekara, lingga yoni, periuk berhias, dan lain-lain.

Koleksi Historika
Koleksi yang diberi nomor kode 05 ini berjumlah 138 buah, yang terdiri dari kipas emas, pundi emas, ceret emas, bendera perang, topi mahkota emas dari Kesultanan Bima, dan sebagainya.

Koleksi Numismatika dan Heraldika
Numismatik adalah mata uang atau alat tukar yang pernah beredar dan digunakan oleh masyarakat, sedangkan heraldic adalah tanda jasa atau lambang, seperti lambang provinsi, azimat, dan cap.
Koleksi yang diberi nomor kode 06 ini berjumlah 1.361 buah, yang terdiri mata uang Indonesia, uang dari Belanda, Jepang, Australia, tanda jasa, stempel kerajaan, dan lain-lain.

Koleksi Filologika
Koleksi filologi adalah naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara dan bahasa tradisional yang berisi tentang ilmu pemerintahan, sastra, pengobatan, hukum, dan lain-lain.
Koleksi yang diberi nomor kode 07 ini berjumlah 1.392 buah, terdiri dari sebagian besar naskah kuno yang ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara tradisional (Jawa dan Jejawan/Sasak) serta bahasa Jawa Madya.

Koleksi Keramologika
Koleksi keramologi adalah benda yang terbuat dari tanah liat, bahan batuan dan porselin yang dibakar dengan suhu tinggi maupun rendah.
Koleksi yang diberi nomor kode 08 ini berjumlah 511 buah, terdiri dari keramikyang berasal dari Tiongkok (Dinasti Sung, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, Dinasti Ching), Vietnam, Thailand, Jepang, Timur Tengah, dan Eropa.

Koleksi Seni Rupa
Seni rupa adalah benda-benda hasil daya cipta, karsa, dan rasa manusia yang diungkapkan secara konkrit ke dalam bentuk dua atau tiga dimensi yang mempunyai nilai fungsi ekspresi dan estetik, juga memiliki keragaman dalam tema, ide konseptual, dan media teknik.
Koleksi yang diberi nomor kode 09 ini berjumlah 38 buah, terdiri dari lukisan, alat musik tradisional, topeng, wayang Sasak, serta hasil anyaman dan ukiran.

Koleksi Teknologika
Teknologi adalah peralatan tradisional atau modern yang digunakan sebagai alat produksi untuk menghasilkan suatu benda budaya.
Koleksi yang diberi nomor kode 10 ini berjumlah 33 buah, terdiri dari pande besi, alat tenun, dan lain-lain.

Koleksi-koleksi milik Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ini pada umumnya dipajang di dalam bangunan yang menjadi ruang pameran. Ruang Pameran yang terdapat di dalam museum ini berupa ruang pameran tetap dan ruang pameran temporer.
Pameran tetap merupakan salah satu jenis pameran yang ada di museum selain pameran khusus atau temporer. Pameran tetap adalah pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu 2 sampai dengan 4 tahun, sedangkan pameran khusus atau temporer itu biasanya penyelenggaraan pamerannya berhubungan dengan agenda tertentu, seperti pameran koleksi museum bertema peradaban Islam di bulan lalu, menampilkan historika yang berkenaan dengan masuknya agama Islam di Nusa Tenggara Barat.
Ruang pameran tetap Museum Negeri Nusa Tenggara Barat dengan luas 1.240 m², dibagi menjadi ruang pameran tetap I dan II. Ruang pameran tetap I seluas 240 m², difungsikan sebagai tempat penyajian koleksi dari jenis koleksi geologika dan biologika. Ruang pameran tetap II seluas 1.000 m², difungsikan sebagai tempat penyajian benda-benda budaya, seperti koleksi etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramologika, teknologika, serta seni rupa, yang menjadi satu kesatuan dan disajikan secara tematis. Penyajian secara tematis ini bertujuan selain memudahkan pengunjung dalam memahami informasi koleksi juga untuk memberikan kebebasan kepada pengunjung dalam mencari informasi tentang koleksi yang dibutuhkan. *** [220814]

Kepustakaan:
Brosur Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Cultural Image of Nation: Historical Brilliance, Nobleness Value, and The Expression of Excellence
Buku kecil keluaran Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

0 komentar:

Posting Komentar