The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label the Building of Bank Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the Building of Bank Indonesia. Tampilkan semua postingan

Gedung Bank Indonesia Yogyakarta

Kawasan nol kilometer Yogyakarta menyimpan memori, dan menyisakan sejumlah bangunan peninggalan kolonial Belanda. Mulai dari benteng, gedung pemerintahan, bangunan ibadah, sekolah hingga bank. Salah satu bangunan lawas bercorak kolonial yang ada di kawasan tersebut adalah Gedung Bank Indonesia (BI).
Gedung BI ini terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 4 Kampung Yudonegaran RT. 09 RW. 01 Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gedung ini berada di sebelah timur Kantor Pos Besar, dan sebelah barat Gedung BI yang baru.
Semenjak awal berdirinya, bangunan ini memang telah berfungi sebagai bank. Dahulu gedung ini berfungsi sebagai kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Yogyakarta yang dibuka pada tanggal 1 April 1879 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Djokjakarta.


Kantor cabang ini merupakan kantor cabang ke-8 setelah Semarang, Surabaya, Padang, Makassar, Cirebon, Surakarta, dan Pasuruan, yang berdiri lantaran adanya usulan dari berbagai pihak, terutama Firma Dorrepaal & Co Semarang yang memiliki kepentingan usaha (perkebunan) di daerah ini. Presiden Direktur DJB ke-7, Norbertus Petrus van den Berg (1873-1889) dan jajaran direksi menyetujui permintaan itu mengingat cerahnya angka perdagangan di Yogyakarta. Karena pada waktu itu, Yogyakarta berkembang secara pesat perekonomiannya dengan hadirnya pabrik gula yang seluruhnya berjumlah 17 buah dengan nilai perputaran uang kala itu mencapai angka 2 – 3,5 juta gulden. Sebagai daerah penghasil gula, nilai produksi yang dicapai sekitar 2.580 ton/per tahun setara 300.000 pikul per tahun.
Pada tahun 1912, dibangun gedung permanen dua lantai di lokasi yang saat ini ditempati. Pada awal berdirinya, Kantor DJB Cabang Yogykarta menggunakan bangunan yang terletak di Kampung Gondomanan seluas 300 m². Sebagai lembaga keuangan yang dibebani kepercayaan dan kehati-hatian dalam mengelola keuangan, DJB memilih gaya arsitektur yang konservatif dalam menanamkan brand-image pada masyarakat, yaitu Neo Renaissance atau gaya Ekletisisme. Perancangan gedung baru ini dilakukan oleh biro arsitek terkemuka di Hindia Belanda bernama N.V. Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam yang didirikan pada tahun 1910 oleh Eduard Cuypers dan Marius J. Hulswit bersama A.A. Fermont.


Gedung permanen tersebut akhirnya selesai pembangunannya pada tanggal 15 Februari 1915, dan sebagai pemimpin cabang pertamanya adalah A.F. van Suchtelen.
Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan DJB terhenti akibat kebijakan penglikuidasian seluruh bank Belanda, Inggris, dan beberapa bank China oleh Jepang. Baru pada tanggal 10 Oktober 1945 ketentuan tersebut dicabut, disusul dengan pembukaan kembali beberapa kantor cabang kecuali kantor cabang yang berada di daerah pedalaman. Salah satu kantor cabang yang dibuka kembali adalah Kantor Cabang Yogyakarta, yaitu pada tanggal 30 Desember 1948. Namun, tanggal 30 Juni 1949 kantor ini ditutup untuk kedua kalinya, dan dibuka kembali tanggal 22 Maret 1950 hingga sekarang.
Setelah mengalami nasionalisasi pada tahun 1951, kegiatan di Kantor DJB diambil alih oleh Pemerintah RI dan dijadikan Bank Indonesia mulai 1 Juli 1953, termasuk yang berada di Yogyakarta ini. Seiring dengan perkembangan kegiatan operasional yang meningkat, mulai tanggai 4 Februari 1993 gedung baru BI yang bersebelahan dengan gedung lama diresmikan. Selanjutnya sebutan Kantor BI Cabang Yogyakarta sejak tanggal 1 Agustus 1996 berubah menjadi Kantor BI Yogyakarta.
Setelah kegiatan operasional BI dpindahkan di gedung yang baru, gedung yang lama mulai direnovasi sebagai bagian dari program konservasi bangunan heritage yang dilakukan oleh BI, dan sejak tahun 2012 gedung lama ini difungsikan sebagai museum dan cyber library kantor Bank Indonesia. *** [160815]

Fotografer: Gigih Suprayoga, S.IP



Share:

Gedung Bank Indonesia Kediri

Sebuah kehormatan mendapatkan ‘sponsorship’ dari teman konsultan penelitian – namanya Mugi Gumanti - untuk berkelana di Kota Kediri. Dengan menggunakan mobil Daihatzu Hijet 1000 rakitan tahun 1980, perjalanan tersebut sempat melewati perempatan Jam-jam. Kawasan ini berada di ujung utara Jalan Dhoho yang sekarang lebing sering disebut sebagai perempatan BI. Dulu, di tengah perempatan ini ada jam besar yang menjadi ciri khas perempatan ini, sehingga orang Kediri menyebut kawasan ini sebagai perempatan Jam-jam. Yang menarik di seputar perempatan tersebut terdapat bangunan bernuansa kolonial yang menawan menghadap ke selatan. Bangunan peninggalan kolonial Hindia Belanda tersebut adalah Gedung Bank Indonesia (BI).
Gedung ini terletak di Jalan Brawijaya No. 2 Kelurahan Pocanan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung BI ini tepat berada di depan gedung OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau bersebelahan dengan gedung Asuransi Jiwa Sinar Mas MSIG yang joint venture with Mitsui Sumitomo Insurance.
Awalnya, gedung BI ini merupakan Kantor De Javasche Bank (DJB) Kediri. Semula bangunanya bergaya Indische Empire dengan ditopang oleh dua pilar di bagian depannya dan memiliki tiga pintu utama. Lalu pada tahun 1927, seiring perkembangan kantor DJB tersebut, dilakukan perombakan bangunan sesuai kebutuhan kala itu. Pada waktu itu, Kediri berkembang menjadi kota strategis untuk mengendalikan peredaran uang yang dinamis. Hal ini dikarenakan pada saat itu, Kediri menjadi pusat pertanian, perkebunan, dan industri (gula). Saat itu, Kediri memiliki beberapa pabrik gula (PG) dengan skala besar, seperti PG Jengkol (tutup), PG Pesantren, PG Ngadiredjo, PG Mritjan serta PTPN X yang mengelola cacao dengan ekspor poduksinya ke Eropa.


Perombakan bangunan tersebut bersifat menyeluruh, dari bangunan satu lantai menjadi bangunan dua lantai seperti yang bisa dilihat hingga sekarang ini. Gedung tersebut masih dipercayakan kepada biro arsitek yang menjadi rekanan De Javasche Bank untuk merancang kantornya yang berada di Hindia Belanda, yaitu N.V. Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, atau secara singkat dikenal dengan nama Biro Fermont-Cuypers.
Ihwalnya, biro arsitek yang menjadi rekanan De Javasche Bank adalah Biro Arsitek Ed. Cuypers en Hulswit, sebuah kantor konsultan arsitektur yang didirikan di Batavia pada 1908 oleh dua arsitek, yaitu Marius J. Hulswit dan Eduard Henricus Gerardus Hubertus Cuypers sebagai kantor cabang dari biro yang sama di Amsterdam. Pada 1910, biro ini berkerja sama dengan arsitek A.A. Fermont di Batavia, dan bironya pun berganti nama menjadi  N.V. Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam. Namun, setelah Marius J. Hulswit meninggal pada 1921, kerja sama itu dilanjutkan dengan membentuk perusahaan baru dengan nama N.V. Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam.
Gaya bangunan Bank Indonesia di Kota Kediri tidak seperti Bank Indonesia yang ada di Indonesia yang pada umumnya gaya arsitekturnya Neo-Klasik dengan kolom-kolom Yunani yang tinggi, namun di Kediri mempunyai ciri arsitektur yang berbeda, terutama terlihat pada bentuk atapnya yang menyerupai atap masjid. Atap berbentuk limasan dengan di bagian puncak terdapat kubah. Gaya arsitektur modern yang telah disesuaikan dengan iklim tropis yang ada di Kediri ini, sedikit banyak dipengaruhi juga dengan gaya bangunan joglo.
De Javasche Bank kemudian dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia pada 1 Juli 1953 bersamaan dengan berlakunya UU Pokok Bank Indonesia Nomor 11 Tahun 1953, dan sekarang menjadi Kantor Bank Indonesia Perwakilan Dalam Negeri Regional II.
Kota Kediri tergolong beruntung memiliki peninggalan De Javasche Bank sehingga perjalanan sejarah Bank Indonesia di Kota Kediri bisa terekam dalam arsitktur bangunan lawas gedung Bank Indonesia. Arsitektur yang mewarnai gedung tersebut seolah menceriterakan dinamika yang terjadi pada masa lalu. *** [240515]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami