The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Abdul Fattah House. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Fattah House. Tampilkan semua postingan

Daftar Para Penguasa Kadipaten Sumenep

Berikut ini adalah daftar nama penguasa Sumenep yang memerintah antara tahun 1269-1929, yang dimulai oleh Aria Wiraraja hingga Aria Prabuwinata.



No.


Nama Penguasa

Kraton

Tahun
1.
Aria Wiraraja I (Banyak Wide)
Batuputih
1269 - 1292
2.
Aria Wiraraja II (Aria Bangah)
Banasare
1292 - 1301
3.
Aria Danurwenda (lembu Sarenggana)
Aeng Anyar
1301 - 1311
4.
Aria Asrapati
-
1311 - 1319
5.
Panembahan Joharsari
Bluto
1319 - 1331
6.
Panembahan Mandaraga (Raden Piturut)
Keles
1331 - 1339
7.
Pangeran Bukabu (Aria Natapraja)
Bukabu
1339 - 1348
8.
Pangeran Baragung (Aria Nataningrat)
Baragung
1348 - 1358
9.
Pangeran Aria Secadiningrat I (Agung Rawit)
Banasare
1358 - 1366
10.
Pangeran Aria Secadiningrat II (Tumenggung Gajah Pramada)
Banasare
1366 - 1386
11.
Pangeran Aria Pulang Jiwa (Panembahan Blingi)
Blingi Sepudi
1386 - 1399
12.
Pangeran Aria Adi Podây (Aria Baribin)
Nyamplong Sepudi
1399 - 1415
13.
Pangeran Aria Secadiningrat III (Pangeran Joko Tolè)
Banasare
1415 - 1460
14.
Pangeran Aria Secadiningrat IV (Raden Wigananda)
Gapura
1460 - 1502
15.
Pangeran Aria Secadiningrat V (Raden Siding Puri)
Parsanga
1502 - 1559
16.
Tumenggung Aria Kanduruwan
Karang Sabu
1559 - 1562
17.
Pangeran Aria Wetan dan Pangeran Aria Lor I
-
1562 - 1567
18.
Pangeran Aria Keduk II (Raden Keduk)
-
1567 - 1574
19.
Pangeran Aria Lor II (Raden Rajasa)
-
1574 - 1589
20.
Pangeran Aria Cakranegara I (Raden Abdullah)
Karang Toroy
1589 - 1626
21.
Pangeran Aria Anggadipa
Karang Toroy
1626 - 1644
22.
Tumenggung Aria Jayengpati
Karang Toroy
1644 - 1648
23.
Kanjeng Tumenggung Aria Yudanegara (Raden Bugan)
Karang Toroy
1648 - 1672
24.
Tumenggung Aria Pulang Jiwa dan Pangeran Aria Sepuh
Karang Toroy
1672 - 1678
25.
Pangeran Aria Cakranegara II (Pangeran Rama)
Karang Toroy
1678 - 1709
26.
Pangeran Aria Purwanegara (Raden Tumenggung Wiramenggala)
Karang Toroy
1709 - 1721
27.
Kanjeng Tumenggung Aria Cakranegara III (Raden Ahmad alias Pangeran Aria Jimat)
Karang Toroy
1721 - 1744
28.
Raden Alza alias Pangeran Lolos
Karang Toroy
1744 - 1749
29.
Kiai Lèsap (Kè Lèsap)
Karang Toroy
1749 - 1750
30.
Raden Ayu Tirtanegara Rasmana & Kanjeng Tumenggung Aria Tirtanegara (Bindârâ Saud)
Pajagalan
1750 - 1762
31.
Panembahan Somala Asiruddin
Pajagalan
1762 - 1811
32.
Sri Sultan Abdurrachman Pakunataningrat I (Raden Aria Natanegara)
Pajagalan
1811 - 1854
33.
Panembahan natakusuma II (Raden Aria Mohmmad Saleh)
Pajagalan
1854 - 1879
34.
Pangeran Aria Pakunataningrat II (Pangeran Mangkuadiningrat)
Pajagalan
1879 - 1901
35.
Pangeran Aria Pratamingkusuma
Pajagalan
1901 - 1926
36.
Tumenggung Aria Prabuwinata
Pajagalan
1926 - 1929
Share:

Rumah Abdul Fattah

Setelah eksplorasi Rumah Gan Kam, rombongan Gelar Potensi Wisata Kampung Kota beranjak ke bangunan lawas lainnya yang berada di Kampung Kemlayan. Kunjungan berikutnya ke rumah Abdul Fattah. Rumah ini terletak di Jalan Empu Barada RT. 03 RW. 01 Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi rumah ini berada di selatan Restauran dan Ice Cream Kusuma Sari ± 130 m, atau depan Audina Indonesia.
Menurut informasi yang diperoleh saat melakukan kunjungan tersebut, rumah Abdul Fattah ini dibangun pada tahun 1830. Abdul Fattah dikenal sebagai seorang saudagar batik yang ada di Kota Solo. Yang menarik dari rumahnya adalah tak bergaya joglo melainkan bergaya arsitektur Indische Empire. Arsitektur Indische Empire adalah gaya aristektur yang berkembang pada abad ke 19 di Hindia Belanda. Gaya arsitektur itu dipopulerkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811).


Daendels mengubah rumah landhuizen yang ada di Hindia Belanda ini dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.


Pada akhir abad ke 19, di mana kota-kota besar makin padat, maka gaya Indische Empire yang memerlukan lahan yang luas tersebut terpaksa harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Di daerah gang-gang yang sempit di perkotaan pada akhir abad ke 19, banyak rumah dibanguna dengan gaya Indische Empire, yang sudah disesuaikan dengan kondisi setempat. Termasuk di antaranya pada arsitektur rumah Abdul Fattah ini. Kolom-kolom beranda depan sudah tidak memakai bahan bata lagi, tapi diganti dengan besi ulir yang mulai populer pada akhir abad ke-19. Besi ulir terbuat dari pipa-pipa baja yang lebih ringan yang pada waktu itu didatangkan dari Negeri Belanda.


Kekhasan lain dari rumah ini ada pada motif pola lantai rumah berupa ubin yang menyerupai corak batik, ornamen berupa ukiran pada lisplank teras, ornamen pada lubang angin berupa ukiran tralis yang terbuat dari besi, dan dilengkapi dengan konsol dari besi dengan bentuk lengkung atau floral di atas undakan teras depan.


Dilihat dari langgam dan bahan bangunannya, terlihat bahwa rumah Abdul Fattah ini dulunya megah sekali. Rumah bagi saudagar batik menjadi wujud fisik budaya yang merepresentasikan siapa dan apa peran mereka pada waktu itu dalam sistem masyarakat Jawa. Rumah bagi saudagar batik di masa tersebut bukan saja sebagai rumah tinggal, namun juga sebagai rumah produksi, bahkan sekaligus sebagai identitas sosial.
Struktur sosial yang dikonstruksi Pemerintah Hindia Belanda dan kraton, menempatkan saudagar di antara kelompok rakyat jelata yang mayoritas petani dan kelas menengah priyayi atau bangsawan kraton. Kebutuhan terhadap pengakuan identitas sosial yang menempatkan saudagar lebih tinggi dari posisi tersebut menjadi penting bagi para saudagar batik, karena keberhasilannya dalam mengelola industri batik.
Sehingga, kemegahan rumah Abdul Fattah tampak berbeda dengan bangunan rumah kuno yang masih ada di Kampung Kemlayan., karena Kampung Kemlayan yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni tari dan karawitan, umumnya dipenuhi oleh rumah atau dalem bercorak joglo. Hal ini wajar, mengingat yang mendiami wilayah tersebut umumnya adalah seniman priyayi yang masih berhubungan dengan Kraton Kasunanan, baik secara profesi maupun kerabat kraton. *** [020917]

Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami