The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Tjoe Tik Kiong Temple. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tjoe Tik Kiong Temple. Tampilkan semua postingan

Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung

Di sela-sela waktu luang dalam melakukan Quick Survey Pemanfaatan Dana Desa, saya berkesempatan mengunjungi sebuah bangunan klenteng di Tulungagung. Klenteng tersebut bernama Tempat Ibadah Tri Dharma Tjoe Tik Kiong, atau biasa disebut dengan Klenteng Tjoe Tik Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Wage Rudolf Supratman No. 10 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di sebelah utara Hotel Panorama Tulungagung, dan menghadap ke arah Sungai Ngrowo.
Awalnya, bangunan klenteng ini masih sederhana. Didirikan tepat di depan Pasar Wage berbentuk menyerupai pendopo. Namun, pada tahun 1865 klenteng tersebut dipindahkan ke sebelah utara dengan menempati lahan yang luasnya sekitar 6.000 m². Pada waktu dipindahkan, bangunan klenteng ini juga belumlah semegah sekarang. Pembangunannya bertahap seiring terkumpulnya dana dari orang-orang Tionghoa yang merantau dan bermukim di Tulungagung.


Kala itu, orang-orang Tionghoa generasi pertama yang menetap di Tulungagung memang berasal dari Tiongkok. Mereka ke Tulungagung guna berdagang melalui Sungai Brantas yang ada di Surabaya kemudian menyusuri hingga sampai bertemu dengan Sungai Ngrowo. Pada saat itu, di daerah Tulungagung Sungai Ngrowo merupakan sungai yang penting sebagai jalan lalu lintas yang menghubungkan daerah sebelah selatan dengan daerah sebelah utara.
Sebelum memasuki bangunan utama klenteng, terdapat sebuah gerbang (shan men) dengan ornamen khas Tiongkok. Hanya saja, ornamen yang ada di atas gerbang tersebut tergolong tidak lazim seperti ornamen yang terdapat pada klenteng-klenteng yang ada di Indonesia. Di bagian atas gerbang pada Klenteng Tjoe Tik Kiong ini terdapat hiasan dua ekor ikan berkepala naga yang saling berhadapan, mengapit huo zhu (mutiara bola api milik Sang Buddha). Konon, ikan yang menjadi hiasan di atas gerbang tersebut berkaitan dengan sejarah awal dibangunnya klenteng ini. Karena dulunya lokasi tempat dibangunnya klenteng ini merupakan daerah rawa yang banyak dihuni oleh ikan. Akhirnya, untuk mengenang tempat awal didirikannya klenteng tersebut, digunakanlah ikan sebagai hiasan di Klenteng Tjoe Tik Kiong.
Setelah melewati shan men, pengunjung akan melewati halaman depan klenteng yang cukup luas yang sudah dipasangi paving block. Di halaman depan sebelah kiri terdapat tempat pembakaran kertas (kim lo) berbentuk pagoda. Di depan bangunan utama klenteng terlihat kie kwa, menara tiang bendera berwarna merah yang dulu berfungsi sebagai penunjuk bagi arah nelayan bila sedang melewati rawa-rawa yang begitu luas.


Bangunan utama Klenteng Tjoe Tik Kiong terbagi menjadi 3 ruangan. Ruang pertama yang menempati bagian depan dipergunakan untuk membakar hio. Di situ terdapat banyak lilin dari berbagai ukuran. Seperti bangunan klenteng pada umumnya, pada atap ruangan pertama terdapat beberapa ornamen. Akan tetapi, untuk klenteng ini memiliki ornamen yang berbeda. Di atas atap ruang pertama, terlihat di tengah-tengah ada pagoda yang diiringi oleh dua huo zhu dan dua xing long (naga berjalan). Pada ruang pertama ini terdapat altar untuk persembahyangan kepada Hok Tek Tjeng Sien (Dewi Bumi) dan Ka Lam Ya. Ka Lam Ya adalah salah satu ‘malaikat pintu’ versi Buddha yang sering digambar (berpakaian perang lengkap dengan membawa kampak sebagai senjatanya) di daun pintu bersama-sama Wie Tho (berpakaian perang dengan membawa gada penakluk iblis), sebagai pelindung bangunan-bangunan suci atau klenteng.
Ruang kedua yang berada di bagian tengah diperuntukkan untuk melakukan sembahyang kepada Kwan She Im Pho sat (Dewi Welas Asih), Kong Tek Cun Ong (Raja Mulia yang memberi berkah berlimpah), dan Co Su Kong (Dewa yang berwajah hitam dari Cadas Air Jernih). Sedangkan, ruang ketiga yang berada di bagian belakang digunakan untuk tempat kebaktian. Di klenteng ini, yang menjadi dewa utama adalah Mak Co Thian Siang Seng Bo. Mak Co Thian Siang Seng Bo merupakan Dewi Laut, penolong para pelaut serta pelindung etnis Tiongkok di wilayah selatan dan imigran di Asia Tenggara.
Pada 1979 klenteng ini mengalami renovasi bangunan dan melakukan peninggian 1 sampai 2 m karena lokasi klenteng sering mengalami kebanjiran. Setelah renovasi selesai maka dilanjutkan dengan pembangunan gedung olahraga bola basket dan gedung olahraga bulutangkis pada Juli 1983.
Klenteng Tjoe Tik Kiong yang merupakan klenteng megah dan besar di Tulungagung, terlihat terpelihara bangunannya. Hal ini tidak terlepas dari peran orang Tionghoa di Tulungagung yang masih peduli akan keberadaan Tempat Ibadah Tri Dharma ini, bahkan di lahan samping klenteng juga dibangun Aula untuk olahraga agar bisa memperkenalkan generasi muda kepada klenteng, sebagai warisan budaya para leluhurnya. *** [220116]

Share:

Klenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan

Kota Pasuruan merupakan salah satu kota pelabuhan tersebesar di Pantau Utara Jawa pada abad ke-17. Letaknya yang strategis sebagai jalur perdagangan, membuat banyak sekali pedagang asing yang datang dan menetap di Pasuruan. Salah satunya adalah etnis Tionghoa. Mereka datang sejak abad ke-17, dan kemudian meninggali sebuah kawasan yang disebut sebagai Kawasan Pecinan.
Penanda dari sejarah keberadaan kawasan Pecinan yang terdapat di Kota Pasuruan adalah adanya sebuah klenteng yang diberi nama Klenteng Tjoe Tik Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Lombok No. 7 Kelurahan Trajeng, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di sebelah barat Stasiun Pasuruan ± 500 meter.
Klenteng ini didirikan pada tahun 1740. Pembangunannya dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang menetap di Pasuruan, tetapi arca-arcanya didatangkan langsung dari Tiongkok pada tahun 1857.
Bagi penganut Kong Hu Cu, Tjoe Tik Kiong bermakna istana yang mengamalkan dan menyebarkan rasa kasih sayang dan perbuatan kebajikan. Sehingga, kehadiran klenteng ini pada awalnya diharapkan sebagai perekat persaudaraan di kalangan orang Tionghoa yang berada di Kota Pasuruan dan sekitarnya. Klenteng bagi masyarakat Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja, namun juga mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa di masa lampau.


Dilihat dari bangunannya, klenteng yang menghadap ke selatan ini tergolong besar dan megah karena didukung oleh halamannya yang cukup luas. Klenteng ini sengaja dibangun di pertigaan jalan atau di tengah pertemuan antara jalan tegak lurus dari Jalan Soekarno-Hatta dengan Jalan Lombok, karena menurut kepercayaan orang Tionghoa bahwa lokasi bangunan yang disebut “tusuk sate’ berisi segala pengaruh buruk. Pengaruh buruk tersebut akan hilang dengan keberadaan klenteng tersebut.
Sebelum memasuki halaman klenteng, pengunjung akan melewati sebuah gapura yang khas dengan balutan dominan kuning dan merah. Gapura bercorak paduraksa ini banyak dihiasi dengan ornamen yang berkultur Tiongkok. Di atas pintu gapura tertulis nama klenteng tersebut beserta alamatnya, dan di atap paduraksa terdapat ornamen dua burung hong yang menghadap ke huo zhu, mutiara api atau bentuk bola api (mutiara Buddha).
Di belakang gapura terdapat panggung kecil berwarna merah dengan pelisir warna kuning. Panggung tersebut digunakan untuk pementasan wayang Potehi yang agendanya mengikuti hajatan umat klenteng yang memintanya. Kisah dari wayang ini biasanya mengambil dari ceritera klasik Tiongkok. Panggung ini sengaja dibuat tidak terlalu besar dan sedikit ringan, agar supaya mudah dipindah-pindahkan jika klenteng tersebut mempunyai acara yang memerlukan halamannya.


Setelah melewati panggung wayang Potehi, pengunjung bisa berjalan lurus ke utara menuju bangunan utama dari klenteng tersebut. Namun, sebelum sampai ke bangunan utama tersebut, terlebih dahulu pengunjung akan menyaksikan dua patung berbentuk singa (hanzi) di depan pagar bangunan utama tersebut. Kemudian pengunjung baru melewati pintu gerbang yang berada di halaman bangunan utama tersebut. Pintu gerbang di halaman bangunan utama dihiasi oleh sepasang naga yang sedang berjalan (xin long) yang saling berhadapan. Menoleh ke kiri dan kanan, pengunjung akan menemukan menara seperti pagoda yang berfungsi sebagai tempat pembakaran kertas persembahyangan (kim lo).
Memasuki halaman depan yang ada di bangunan utama, pengunjung akan melihat kembali hanzi dengan wajah yang sedikit agak seram. Tepat di depan pintu bangunan utama terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Di atas wuwungan, terlihat huo zhu yang diapit oleh dua xing long.
Di dalam bangunan utama klenteng ini terdapat beberapa altar untuk persembahyangan kepada Mak Co Bing Thian Sang Shen Mu, Hok Tek Cen Sin, dan Kong Tik Cun Ong. Sedangkan, di belakang ruang utama ada ruang pemujaan penganut Tri Dharma. Umat Buddha akan menuju ke altar yang ada patung Sakyamuni Buddha, umat Kong Hu Cu akan menuju ke altar yang ada arca Konfusius, dan penganut Tao akan menghampiri altar yang ada patung Lao Tze.
Mengingat luas lahan yang dimiliki klenteng ini cukup luas, klenteng ini berusaha menambah fungsinya sebagai tempat pembelajaran kebudayaan Tiongkok, terutama melalui pertunjukan barongsai maupun liang liong. *** [200915]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami