The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Heritage Kereta Api. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heritage Kereta Api. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api Warungdowo

Stasiun Kereta Api Warungdowo (WDO) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Warungdowo, merupakan salah satu stasiun kereta api kelas III/kecil yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember yang berada pada ketinggian + 24 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Raya Pasuruan-Warungdowo No. 113 Dukuh Warungdowo Utara, Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Lapangan Warungdowo, atau di depan Gang Juwet Putih RT 02 RW 05.
Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Pasuruan-Warungdowo-Bekasi sepanjang 16 kilometer. Pengerjaannya dilakukan oleh Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (PsSM) dari tahun 1896  dan selesai pada tahun 1898.
PsSM mendapat konsesi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jalur rel Pasuruan-Warungdowo-Bekasi pada tahun 1895, namun konstruksinya baru mulai dilaksanakan pada tahun 1896. Jalur rel ini dikerjakan dalam dua tahap, yaitu Pasuruan-Warungdowo, dan Warungdowo-Bekasi.

Stasiun Warungdowo Tahun 1900. Koleksi KITLV 377252

Pembangunan stasiun ini  masuk dalam pembangunan tahap pertama, yang diresmikan pada 21 Mei 1896 dengan nama Stasiun Warungdowo (Station Waroeng Dowo te Java). Sedangkan, pembangunan yang tahap kedua menuju ke Winongan sampai Bekasi dibuka untuk umum pada 26 Maret 1898.
PsSM merupakan maskapai kereta api milik swasta yang beroperasi di wilayah seputar Kabupaten Pasuruan. Lingkupnya tidak luas. Lintasannya antara lain Pasuruan-Warungdowo-Bekasi, Warungdowo-Wonorejo-Bakalan-Pasar Alkmaar, Warungdowo-Ngempit, dan Pasuruan-Kali Gembong.
Dilihat dari foto lawas tahun 1900 yang ada di Koleksi Digital Universiteit Leiden dengan nomor arsip KITLV 377253, Stasiun Warungdowo memiliki bangunan stasiun yang kecil yang peronnya diapit oleh rel pada kedua sisinya. Stasiun seperti ini disebut dengan stasiun pulau. Terlihat ada tiga jalur rel pada waktu itu.
Posisi Stasiun Warungdowo dalam lintas perkeretaapian Hindia Belanda di Jawa dulu memperlihatkan letak yang stategis. Layaknya jalan, stasiun ini berada di simpang empat. Setelah jalur rel Pasuruan-Warungdowo-Bekasi beroperasi, satu tahun kemudian dilakukan pengerjaan jalur rel Warungdowo-Wonorejo sejauh 11 kilometer. Jalur rel ini  mengarah ke selatan, dan terus mengalami perpanjangan Wonorejo-Bakalan pada 1899 sepanjang 12 kilometer. Pada 1900 jalur rel ini diperpanjang lagi dengan mengerjakan jalur rel Bakalan-Purwosari (Pasar Alkmaar) sejauh 3 kilometer.

Stasiun Warungdowo Tahun 1900. Koleksi: KITLV 377253

Setelah dari Stasiun Warungdowo terhubung dengan Winongan hingga Bekasi di arah timur, dan Wonorejo hngga Pasar Alkmaar ke selatan, lalu giliran PsSM membangun jalur rel dari Warungdowo ke arah barat pada 1912 sepanjang 5 kilometer. Jalur rel ini merupakan jalur lintasan Warungdowo-Ngempit.
Pembangunan jalur rel atau lintasan kereta api yang dilakukan PsSM tersebut dilatabelakangi oleh adanya pabrik-pabrik gula di daerah Pasuruan. Pabrik-pabrik gula itu merasa kesulitan mengangkut hasil produksinya ke pelabuhan tempat mengekspor produk-produk hasil bumi. Pabrik-pabrik gula (PG) tersebut antara lain PG Bekasi Oost, PG Gayam, PG Pleret, PG de Goede Hoop, PG Wonorejo, dan PG Alkmaar.
Jalan rel Pasuruan-Warungdowo-Bekasi ini sempat dicabut (opgebroken) oleh Jepang dengan menggerakan para romusa pada tahun 1942. Namun, setelah Jepang hengkang dari Nusantara, rel-rel tersebut diaktifkan kembali mengingat masih banyak pabrik gula yang masih beroperasi. Tetapi mulai 1 Februari 1988 jalur rel ini kembali dinonaktifkan. Hal ini disebabkan kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya. Sarana dan prasarana perkeretaapian yang tua sudah mulai uzur tanpa ada perbaikan atau peremajaan, sementara itu pembangunan jalan raya dilakukan secara besar-besaran di masa pemerintahan Orde Baru.
Kini, bangunan Stasiun Warungdowo sudah tidak ada lagi. Hanya tinggal kenangan dalam foto-foto lawas saja. *** [250520]

Kepustakaan:
Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken
Prayogo, Yoga Bagus., dkk. (2017). Kereta Api di Indonesia: Sejarah Lokomotif Uap. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher
http://20519265.siap-sekolah.com/sekolah-profil/
https://www.wikiwand.com/id/Pasoeroean_Stoomtram_Maatschappij#/Pembangunan_lintas

Share:

Divisi Regional PT Kereta Api Indonesia

PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) membagi pengoperasian kereta api di Sumatera ke dalam 4 Divisi Regional (Divre). Tiap Divre dipimpin oleh Executive Vice President (EVP) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direksi PT KAI.
Berikut ini adalah daftar Divre yang ada di wilayah Sumatera:

Divre I Sumatera Utara dan Aceh
Divre I Sumatera dan Aceh merupakan Divisi Regional yang membentang di Sumatera Utara dan Aceh, yang terdiri dari stasiun-stasiun di jalur Medan-Tebingtinggi, jalur Araskabu-Bandara Kualanamu, jalur Tebingtinggi-Kisaran, jalur Kisaran-Rantaurapat, jalur Kisaran-Tanjung Balai, jalur Tebingtinggi-Siantar, jalur Medan-Belawan, jalur Medan-Binjai, dan jalur Krueng Mane-Krueng Geukeuh.

Divre II Sumatera Barat
Divre II Sumatera Barat merupakan Divisi Regional yang mengoperasikan kereta api beserta stasiunnya di seluruh wilayah Sumatera Barat, yang meliputi lintas aktif dan lintas non aktif. Lintas aktif terdiri atas jalur Pulau Air-Padangpanjang, jalur Bukit Putus-Indarung, jalur Lubuk Alung-Naras-Sungai Limau, dan jalur Duku-Bandara Internasional Minangkabau. Sedangkan, lintas non aktif terdiri dari jalur Padangpanjang-Sawahlunto, jalur Padangpanjang-Payakumbuh-Limbanang, dan jalur Muarokalaban-Muaro-Pekanbaru

Divre III Palembang
Divre III Palembang merupakan Divis Regional yang mengoperasikan kereta api beserta stasiunnya di seluruh wilayah Sumatera Selatan, yang meliputi jalur Prabumulih-Kertapati, jalur Simpang-Indralaya, jalur Prabumulih-Lubuk Linggau, dan jalur Muaragula-Tanjungenim Baru.

Divre IV Lampung
Divre IV Lampung merupakan Divisi Regional yang mengoperasikan kereta api beserta stasiunnya di seluruh wilayah Lampung dan sebagian Sumatera Selatan. yang meliputi jalur Panjang-Prabumulih, jalur Pidada-Tarahan, dan jalur Garuntang-Telukbetung.

Share:

Stasiun Kereta Api Sukabumi

Stasiun Kereta Api Sukabumi (SI) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sukabumi, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian +584 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas 2 yang ada di Kabupaten Sukabumi. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Barat No. 2 Kelurahan Gunungparang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat daya Pasar Pelita Sukabumi ± 170 m.
Bangunan Stasiun Sukabumi ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Bogor-Cicurug-Sukabumi sepanjang 58 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, yang dimulai pada tahun 1881, dan selesai pada tahun 1882.

Fasad Stasiun Sukabumi (Foto: Gigih)

Pembangunan jalur Bogor-Cicurug-Sukabumi dilakukan secara bertahap, meneruskan jalur yang sudah ada yaitu dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor). Tahap awal pembangunan jalur ini menghubungkan Bogor dengan Cicurug, tahap pembangunan selanjutnya menghubungkan Cicurug dengan Sukabumi.
Pembangunan tahap awal yang menghubungkan Bogor-Cicurug dilakukan pada tanggal 5 Oktober 1881 meliputi pemasangan rel kereta api dan pembangunan stasiun yang berada di antara jalur Bogor-Cicurug. Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan tahap berikutnya yaitu Cicurug-Sukabumi pada tanggal 21 Maret 1882. Tahap kedua ini meliputi pemasangan rel kereta api dan pembangunan stasiun yang berada di antara jalur Cicurug-Sukabumi, termasuk Stasiun Sukabumi.

Fasad Stasiun Sukabumi (Foto: Gigih)

Proyek jalur kereta api Bogor-Cicurug-Sukabumi ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api bagian barat pertama (Westerlijnen-1), dan merupakan merupakan jalur kereta api dengan medan berupa lembah maupun pegunungan (berglijn) dengan kemiringan bisa mencapai maksimum 25ᵒ/₀₀.
Kondisi geografis yang demikian ini memberikan keuntungan untuk afdeeling Sukabumi. Dibangunnya transportasi kereta api di Sukabumi terutama untuk mendukung perkembangan perkebunan-perkebunan yang ada di daerah Sukabumi, terutama sebagai alat angkut hasil produksi. Dalam perkembangannya alat transportasi ini telah mendorong heterogenitas penduduk yang akan masuk dan keluar wilayah semakin mudah.
Di sisi lain, kondisi geografis yang demikian juga acapkali menyebabkan jalur tersebut terkadang sepi lantaran terjadi longsor. Bila terjadi longsor, Stasiun Sukabumi ini praktis akan sepi karena tidak ada kereta yang bisa lewat.

Emplasemen Stasiun Sukabumi (Foto: Gigih)

Kendati sebagai stasiun kelas 2, namun fisik bangunan Stasiun Sukabumi ini bisa dibilang tergolong besar. Hal ini disebabkan karena Sukabumi pada waktu dikenal menghasilkan komoditas unggulan dalam perkebunan yang ketika itu dibutuhkan di Eropa, seperti the dan kopi. Di lihat dari fasadnya, bangunan stasiun ini bernuansa Eropa. Arsitektur bangunan utama menampilkan ciri khas dari gaya arsitektur Indische Empire dengan bentuk masa bangunan yang simetris dengan pintu masuk dan lobi utama bergaya Neo-Klasik. Indische Empire adalah gaya arsitektur era kolonial Belanda di Indonesia yang berkembang sekitar abad 18 dan 19. Gaya ini terlahir dari gaya hidup orang Eropa di Indonesia pada waktu itu.
Stasiun Sukabumi sempat memiliki 5 jalur, tetapi kini hanya menyisakan 3 jalur yang masih aktif. Jalur 1 digunakan untuk kereta api Pangrango, jalur 2 sebagai sepur lurus yang menurju ke arah barat (Stasiun Cisaat) maupun ke arah timur (Halte Ranji), dan terkadang jalur 2 ini juga digunakan untuk kereta api Siliwangi. Sedangkan jalur 3 merupakan sepur simpan. Tak hanya sebagai stasiun besar, pada masa Hindia Belanda, di stasiun ini terdapat depo lokomotif dan turn table (meja putar). Sayangnya depo tersebut sudah dibongkar dan hanya menyisakan turn table saja. Namun, turn table tersebut kini tak lagi digunakan, karena PT KAI telah mengoperasikan lokomotif CC206 yang dilengkapi dua kabin sehingga tak perlu lagi diputar. *** [290120]

Kepustakaan:
Lamiyati, Lasmiyati. (2017). Transportasi Kereta Api di Jawa barat Abad ke-19 (Bogor-Sukabumi-Bandung). Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. 9. 197.10.30959/patanjala.v9i2.21.
Mulyana, Agus. (2017). Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.
http://www.studiegroep-zwp.nl/halten/
Share:

Stasiun Kereta Api Bululawang

Stasiun Kereta Api Bululawang (BLL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Bululawang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian ± 425 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun RT. 18 RW. 05 Desa Bululawang, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Puskesmas Bululawang, atau timur laut Pasar Bululawang.
Bangunan Stasiun Bululawang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel trem Malang-Bululawang-Gondanglegi sepanjang 23 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) dimulai pada tahun 1897 dan selesai pada tahun 1898.
MSM adalah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang dahulu mengoperasikan jalur trem di sekitar Kabupaten Malang. Perusahaan kereta api (Spoorwegmaatschappij) ini mendapat konsesi pada tahun 1894 dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jaringan rel trem (tramwegnet). Konstruksi dilakukan dari tahun 1897 sampai dengan tahun 1908 dengan menghasilkan jalur rel trem sepanjang 85 kilometer.


Trem dan kereta api memiliki kesamaan yaitu sama-sama ditarik oleh lokomotif uap, mempunyai gerbong yang sama dan jalan yang sama yaitu rel dengan lebar 1067 mm, sedangkan untuk perbedaannya adalah ukuran dan rute perjalanan yang dilayani. Trem melayani rute-rute pendek yakni antar distrik dalam satu kota dan hanya terdapat paling banyak 4 rangkaian gerbong, sedangkan kereta api beroperasi beroperasi melayani rute antar kota dan provinsi serta mempunyai rangkaian gerbong yang lebih panjang.
Jalur sepanjang 23 kilometer tersebut, pembangunan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah Malang-Bululawang sepanjang 11 kilometer yang diresmikan pada 14 November 1897 bersamaan dengan berdirinya Stasiun Bululawang. Kemudian dilanjutkan pembangunan tahap kedua, yaitu Bululawang-Gondanglegi sejauh 12 kilometer yang diresmikan pada 4 Februari 1898, dan juga bersamaan dengan dibukanya Stasiun Gondanglegi.
Pada saat peresmian Stasiun Bululawang, stasiun ini dikenal sebagai Stasiun Trem MSM Bululawang. Trem yang beroperasi di jalur ini umumnya menggunakan lokomotif dengan tenaga kayu bakar. Makanya dulu, di Stasiun Bululawang ini senantiasa terdapat tumpukan kayu bakar yang dijadikan sebagai bahan bakar lokomotif untuk menarik rangkaian kereta.


Semula bangunan stasiun ini berukuran sekitar 20 m², akan tetapi sekarang bangunan tersebut tinggal tersisa sekitar 6 m². Stasiun ini ditutup (dienst gestaakt) secara resmi pada 1 Juli 1979. Alasan dihentikan layanannya karena semakin sepinya pengguna trem tersebut lantaran kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya, seperti kendaraan umum maupun kendaraan pribadi pada waktu itu.
Jaringan rel trem yang pertama kali dibangun oleh MSM ini, semula ditujukan untuk mengangkut tebu dari perkebunan tebu yang banyak di temui di daerah Bululawang dan sekitarnya menuju ke pabrik gula (baca: PG Krebet) dan kemudian gulanya juga diangkut dengan trem untuk dikirim ke berbagai pelabuhan melalui stasiun yang lebih besar. Selain mengurusi pengiriman barang-barang hasil perkebunan yang ada di Malang, MSM juga melayani jasa pengngkutan penumpang.
Dilihat dari artefak yang masih ada di stasiun, terlihat bahwa Stasiun Bululawang memiliki 2 jalur rel. Jalur 1 digunakan sebagai sepur lurus, dan jalur 2 digunakan untuk persusulan atau persilangan trem. Jalur yang mengarah ke arah selatan menuju ke Stasiun Gondanglegi, sedangkan jalur yang ke utara menuju ke Stasiun Malang Kotalama atau Stasiun Pusat Trem Djagalan.
Kini, Stasiun Bululawang tinggal menyisakan bangunan kecil saja yang sekarang difungsikan sebagai toko sembako yang bernama Toko Alilah.. Bangunan stasiun yang awalnya berukuran 20 m² ini sudah terkapling menjadi deretan tempat tempat usaha. Hal ini mengingat lokasinya yang berada tepat di belakang Pasar Bululawang. Padahal aset milik PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sudah tercatat dengan nomor register 066/08.65171/DLW/ML. *** [160418]
Share:

Stasiun Kereta Api Tasikmalaya

Stasiun Kereta Api Tasikmalaya (TSM) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Tasikmalaya, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung yang berada pada ketinggian + 349 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun No. 8 Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat laut alun-alun atau ± 500 m, atau sebelah timur laut Hotel Merdeka ± 140 m.
Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Cibatu-Tasikmalaya-Banjar-Maos yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), dari tahun 1893 hingga 1894, sebagai bagian dari proyek jalur kereta api untuk jalur bagian barat (Westerlijnen). Jalur sepanjang 174 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Cibatu menuju Tasikmalaya kemudian diteruskan hingga Maos. Jalur ini merupakan jalur pegunungan (berglijn) dengan kemiringan mencapai 25/₀₀.


Agus Mulyana dalam bukunya, Sejarah Kereta Api di Priangan (Penerbit Ombak, 2017: 106-107), menjelaskan bahwa pembangunan jalur ini dimulai dari Stasiun Cibatu yang merupakan titik pertemuan antara jalur Cicalengka-Garut dan Warung Bandrek-Maos (Cilacap). Dari Stasiun Cibatu menuju ke Stasiun Warung Bandrek, kemudian ke arah timur menuju ke Malangbong. Jalan kemudian menanjak dari arah Malangbong menuju arah tenggara sampai batas yang menghubungkan antara Gunung Cakrabuana dengan Sedakling yang memiliki ketinggian 780 m. Di daerah Sedakling dibangun Stasiun Cipontren. Dari arah Stasiun Cipontren jalan mulai menurun menuju lembah Ciawi yang memiliki ketinggian 500 m. Dari Cibatu hingga Ciawi jalur rel yang dibangun pada daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang berbelok-belok.


Jalan mulai lurus dari Ciawi walaupun masih landai. Dari Ciawi jalan menuju desa-desa yang padat penduduknya, yaitu Rajapolah. Jalur rel kemudian mengikuti arah jalan raya dan aliran Sungai Citanduy hingga Banjar. Daerah-daerah yang dilalui antara Rajapolah dan Banjar yaitu Indihiang, Tasikmalaya, dan Manonjaya. Pada akhir tahun 1893 jalur rel Cibatu-Tasikmalaya sudah selesai dibangun dan dapat digunakan untuk umum pada 16 September 1893.
Awalnya, bangunan Stasiun Tasikmalaya ini tidaklah semegah ini. Bentuknya masihlah sederhana dan memanjang. Namun, seiring perkembangan di daerah tersebut, stasiun ini juga direnovasi sesuai dengan kebutuhan yang terus meningkat hingga berbentuk seperti sekarang ini. Yang khas dari gaya arsitektur stasiun ini adalah di tengah-tengah atap stasiun dibuat bertajug seperti bangunan gedung sate di Bandung.


Stasiun Tasikmalaya tergolong sebagai stasiun besar yang memiliki 7 jalur dengan jalur 2 sebagai jalur sepur lurus. Arah barat menuju ke Stasiun Indihiang dan arah timur menuju Stasiun Awipari. Di sebelah tenggara bangunan stasiun terdapat dua jalur rel buntu (sepur badug) demikian juga jalur 7 ke arah tenggara juga terhubung dengan jalur rel buntu.
Pada tahun 1910, dari Stasiun Tasikmalaya dibangun jalur rel menuju Singaparna sepanjang 17 kilometer oleh Staatsspoorwegen dalam Dienst der Eenvoudige Lijnen (layanan jalur sederhana atau bukan jalur poros utama) yang memakan waktu selama satu tahun. Pembangunan jalur ini semula digunakan untuk mengangkut hasil tambang, seperti batu bara dan mangan, yang banyak ditemui di daerah Tasikmalaya bagian selatan, dan sekaligus mengangkut para pekerja tambangnya atau penumpang lainnya. Kemudian mulai tahun 1960an, kereta api yang mlintas jalur ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil tambang saja. Jalur Tasikmalaya-Singaparna ini sekarang sudah tidak ada lagi.
Ketika masih berstatus kabupaten atau kota administratif, Stasiun Tasikmalaya hanya disinggahi oleh kereta api kelas ekonomi maupun bisnis saja. Kemudian setelah resmi menjadi Kota Tasikmalaya pada 17 Oktober 2001, Kota Tasikmalaya menjadi kota termaju dan berkembang paling pesat di daerah Priangan Timur. Sejak saat itulah, kereta kelas eksekutif pun mulai berhenti untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini. *** [301017]

Foto: Mugi Gumanti


Share:

Stasiun Kereta Api Ngujang

Stasiun Kereta Api Ngujang (NJG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngujang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian + 87 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun Ngadiluwih terletak di Jalan Raya Ngantru, Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat (belakang) Pasar Ngantru ± 180 m.
Bangunan Stasiun Ngujang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Pembangunan jalur sepanjang 64 kilometer ini dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda. Jalur rel tersebut merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kras dan arah selatan menuju Stasiun Tulungagung. Jalur 1 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini. Dulu, di sebelah utara dari bangunan stasiun ini terdapat jalur badug atau jalur buntu.
Stasiun ini tergolong kurang beruntung bila dibandingkan dengan Stasiun Kras yang sama-sama merupakan stasiun kelas III, karena di Stasiun Ngujang tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang. Layanan yang ada di stasiun ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api saja. *** [170617]
Share:

Stasiun Kereta Api Palbapang

Stasiun Kereta Api Palbapang (PLP) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Palbapang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 45 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Srandakan No. 52a, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat Balai Desa Palbapang ± 210 m.
Bangunan Stasiun Palbapang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Yogyakarta-Srandakan yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), pada tahun 1895, sebagai bagian dari proyek jalur kereta api di untuk line D/B (Djocja-Brosot). Jalur sepanjang 23 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Yogyakarta menuju Brosot hingga Sewugalur.


NISM mendapatkan konsesi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 28 Agustus 1862, namun pengerjaan konstruksi jalur kereta api dimulai dari 1867 sampai dengan 1924. Dalam kurun waktu itu, NIS berhasil membangun jalur rel kereta api sepanjang 266 kilometer untuk trek lebar (breedspoor) 1435 mm, dan 582 kilometer untuk rel lebih kecil (smalspoor) 1067 mm. Semula jalur rel Yogyakarta-Srandakan menggunakan trek lebar, namun pada tahun 1943 lebar rel tersebut diperkecil menjadi ukuran 1067 mm.
Dulu, jalur rel kereta api Yogyakarta-Srandakan memiliki sejumlah pemberhentian, baik berupa stasiun maupun halte, seperti Stasiun Ngabean, Halte Dongkelan, Stasiun Jepit, Stasiun Bantul, Stasiun Palbapang, Stasiun Batikan, dan Stasiun Srandakan. Lalu, dari Srandakan diperpanjang ke Brosot hingga Sewugalur, yang mulai dikerjakan pada tahun 1915 dan selesai pada tahun 1916. Tapi akhirnya, jalur rel Brosot-Sewugalur dibongkar (opgebroken) oleh tentara Jepang.


Stasiun Palbapang ini sekarang sudah non aktif. Diperkirakan ditutup oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api pada tahun 1973 lantaran semakin menurunnya jumlah penumpang yang ada di sepanjang jalur tersebut. Hal ini dikarenakan pada waktu itu kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya, seperti bus maupun kendaraan pribadi.
Kini, Stasiun Palbapang telah berubah menjadi Terminal Palbapang. Hal ini sesuai dengan tulisan yang tertera dalam prasasti yang menempel di dinding, bahwa Terminal Palbapang Bantul didirikan di bekas Stasiun Kereta Api Palbapang dan dibangun atas bantuan dari Yayasan Pendidikan “Kerja Sama”, pada 20 Juli 1990. Namun demikian, bangunan Stasiun Palbapang tetap dipertahankan seperti sediakala atau masih dalam bentuk aslinya, kendati sudah berubah peruntukkannya. *** [210817]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo
Share:

Stasiun Kereta Api Susuhan

Stasiun Kereta Api Susuhan (SS) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Susuhan, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +60 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kertosono-Kediri, Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan Polsek Gampengrejo ± 210 m, atau selatan Kantor Pos Gampengrejo ± 220 m.
Bangunan Stasiun Susuhan ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Minggiran dan arah selatan menuju Stasiun Kediri. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]
Share:

Stasiun Kereta Api Minggiran

Stasiun Kereta Api Minggiran (MGN) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Minggiran, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +56 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Minggiran RT. 01 RW. 03 Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur BRI Unit Bangsongan, atau selatan Dealer Tri Jaya Motor.
Bangunan Stasiun Minggiran ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Papar dan arah selatan menuju Stasiun Susuhan. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]
Share:

Stasiun Kereta Api Gondanglegi

Stasiun Kereta Api Gondanglegi (GDL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Gondanglegi, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada Ketinggian ± 359 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Suropati, Kampung Stasiun RT. 05 RW. 03 Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat TPU Islam, atau depan Polsek Gondanglegi masuk ke utara.
Bangunan Stasiun Gondanglegi ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Malang-Bululawang-Gondanglegi sepanjang 23 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) dimulai pada tahun 1897 dan selesai pada tahun 1898.


MSM adalah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang dahulu mengoperasikan jalur trem di sekitar Kabupaten Malang. Perusahaan kereta api (Spoorwegmaatschappij) ini mendapat konsesi pada tahun 1894 dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jaringan rel trem (tramwegnet). Konstruksi dilakukan dari tahun 1897 sampai dengan tahun 1908 dengan menghasilkan jalur rel trem sepanjang 85 kilometer.
Dari jalur inilah kemudian Stasiun Gondanglegi ini kerap disebut juga sebagai Stasiun Trem MSM Gondanglegi. Trem yang beroperasi di jalur ini umumnya menggunakan lokomotif dengan tenaga kayu bakar. Makanya dulu, di Stasiun Gondanglegi ini senantiasa terdapat tumpukan kayu bakar yang dijadikan sebagai bahan bakar lokomotif untuk menarik rangkaian kereta.


Jaringan rel kereta api yang dibangun oleh MSM ini, semula ditujukan untuk mengangkut tebu dari perkebunan tebu yang banyak di temui di daerah Gondanglegi dan sekitarnya menuju ke pabrik gula dan kemudian gulanya juga diangkut dengan trem untuk dikirim ke berbagai pelabuhan melalui stasiun yang lebih besar. Selain itu, perusahaan ini juga mengangkut penumpang ke berbagai tempat di Kabupaten Malang.
Awalnya, Stasiun Gondanglegi ini hanya memiliki 2 jalur saja. Namun, seiring dibangunnya jalur Gondanglegi-Talok-Dampit dan Gondanglegi-Kepanjen, maka jalurnya bertambah lagi menjadi 5 jalur dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus. Sedangkan, jalur 1 digunakan untuk persusulan atau persilangan trem, dan jalur 4, dan 5 digunakan sebagai jalur istirahat rangkaian trem sambil membawa kayu bakar lagi. Tumpukan kayu bakar tersebut diletakkan di samping jalur 5.


Jalur Gondanglegi-Talok-Dampit merupakan jalur rel trem dari Stasiun Gondanglegi yang mengarah ke timur. Dibangun oleh MSM pada tahun 1898 dan selesai pada tahun 1899 dengan panjang 15 kilometer. Persilangan jalur antara yang ke utara dan yang ke timur berada di daerah Pancir yang masuk wilayah administratif Desa Putat Kidul. Adapun jalur Gondanglegi-Kepanjen sepanjang 17 kilometer baru dibangun pada tahun 1900.
Pada tahun 1973 jadwal keberangkatan trem dari Gondanglegi menuju Dampit pada pukul 04.00 dan 12.00 WIB. Sebaliknya, dari Dampit menuju Gondanglegi terjadwal pada pukul 09.00 dan 16.00 WIB. Biayanya saat itu sebesar limangrepes atau Rp 5,- (lima rupiah). Jadwal trem dari Stasiun Gondanglegi itu, baru yang mengarah ke Dampit saja.
Koneksitas jalur trem dari Stasiun Gondanglegi menuju ke arah utara (Stasiun MalangKotalama), ke arah barat (Stasiun Kepanjen), dan ke arah timur (Stasiun Turen maupun Dampit), menjadikan stasiun ini ramai setiap harinya. Namun sayang, jalur trem itu sudah tidak aktif lagi (opgebroeken). Jalur Gondanglegi-Kepanjen paling awal tidak aktifnya, yaitu semenjak tentara Jepang menjarah rel kereta api (antara tahun 1942-1944) untuk dibawa ke Jepang guna dijadikan bahan untuk membuat alat perang dalam menghadapi perang dengan Tiongkok di Manchuria. Kemudian disusul jalur Gondanglegi-Talok-Dampit pada tahun 1978, dan terakhir jalur Malang-Bululawang-Gondanglegi yang berhenti layanannya (dienst gestaakt) pada 1 Juli 1979.
Kini, Stasiun Gondanglegi menjadi mangkrak. Bangunan stasiun yang berukuran 165 m² ini sudah terkapling menjadi tempat tinggal beberapa keluarga. Tanah stasiun seluas 35.676 m² itu juga sudah tidak kelihatan lintasan relnya alias raib, karena telah berdiri kapling-kapling rumah di atasnya. Padahal aset milik PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sudah tercatat dengan nomor register 068/08.65174/GDL/ML. *** [130817]
Share:

Stasiun Kereta Api Papar

Stasiun Kereta Api Papar (PPR) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Papar, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +52 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Kertosono-Kediri, Kelurahan Papar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur GPDI Agape Papar, atau sebelah barat daya Kantor Kecamatan Papar ± 400 m.


Bangunan Stasiun Papar ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).


Stasiun Papar saat ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Purwoasri dan arah selatan menuju Stasiun Minggiran. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Sebelumnya, stasiun ini mempunyai 4 jalur, karena dulu dari stasiun ini terdapat percabangan jalur ke Pelem. Jalur tersebut merupakan jalur rel yang dibangun oleh Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) pada tahun 1898 sepanjang 14 kilometer. KSM adalah perusahaan kereta api swasta di Hindia Belanda yang konsesi pada tahun 1881, 1895 dan 1898 untuk konstruksi stasiun dan jalur yang ada di sekitar Kabupaten Kediri.


Setahun sebelum adanya jalur Pelem-Papar, sudah ada lebih dahulu jalur trem Jombang-Pulorejo-Pare-Pelem-Gurah-Pesantren-Kediri sepanjang 50 kilometer. Dari jalur ini, KSM juga membangun percabangan ke sejumlah daerah lainnya. Jalur trem Pesantren-Wates sepanjang 14 kilometer (1897), jalur trem Pare-Semanding-Kepung sepanjang 12 kilometer (1898), jalur trem Semanding-Kencong-Kunto sepanjang 9 kilometer (1899), jalur trem Pulorejo-Ngoro-Kandangan-Kunto sepanjang 13 Kilometer (1898-1899), jalur trem Gurah-Jenkol-Brenggolo-Kawarasan sepanjang 9 kilometer (1899), dan jalur trem Brenggolo-Plosoklaten sepanjang 1 kilometer (1900).
Jadi, pada waktu itu Stasiun Papar ini cukup tergolong stasiun yang ramai. Karena selain ada jalur oosterlijnen, juga terdapat jalur trem. Masyarakat yang ada di Papar kala itu bisa bepergian dengan kereta api maupun trem. Namun sayang, jalur trem tersebut sekarang sudah tidak aktif lagi.
Kini, di Stasiun Papar masih terlihat ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan pendumpang. Kendati hanya ada satu kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu KA Dhoho tujuan Blitar dan tujuan Kertosono, stasiun ini masih beruntung ketimbang stasiun lainnya yang sekelasnya yang cuma digunakan untuk persilangan atau persusulan sajan. *** [140817]

Fotografer: Rensi Mei Nandini
Share:

Stasiun Kereta Api Purwoasri

Stasiun Kereta Api Purwoasri (PWA) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Purwoasri, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang berada pada ketinggian +59 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kelas III atau kecil.
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur laut Kantor Kepala Desa Purwoasri ± 160 m.
Bangunan Stasiun Purwoasri ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Sembung-Kertosono-Kediri sepanjang 36 kilometer yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, pada tahun 1881. Jalur ini merupakan bagian dari proyek Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus arah utara menuju Stasiun Kertosono dan arah selatan menuju Stasiun Papar. Jalur 2 digunakan sebagai jalur persilangan atau persusulan dengan kereta yang lain yang akan melintas stasiun ini.
Setiap hari stasiun ini terlihat sepi, karena di stasiun itu sudah tidak ada aktivitas menaikkan maupun menurunkan orang. Layanan yang dimiliki saat ini hanya untuk persilangan dan persusulan antarkereta api. *** [140817]
Share:

Stasiun Kereta Api di Daop 4 Semarang

Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang merupakan Daerah Operasi dengan wilayah terbentang dari Stasiun Tegal di sebelah barat, Stasiun Slawi di sebelah barat daya, Stasiun Gundih di sebelah selatan, hingga Stasiun Bojonegoro di sebelah timur.
Berikut adalah stasiun-stasiun di Daop 4 Semarang yang masih meninggalkan kekunaan pada bangunan stasiunnya:

Stasiun ini terletak di Jalan Semeru No. 16 Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Larangan
Stasiun ini terletak di Desa Mujungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Surodadi
Stasiun ini terletak di Desa Suradadi, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Pemalang
Stasiun ini terletak di Jalan Veteran No. 26 Desa Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Petarukan
Stasiun ini terletak di Desa Serang, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Comal
Stasiun ini terletak di Desa Purwosari, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Sragi
Stasiun ini terletak di Desa Bulakpelem, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Bendan Kergon, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Batang
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Utara No. 2 Kelurahan Proyonanggan Utara, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Ujungnegoro
Stasiun ini terletak di Desa Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kuripan
Stasiun ini terletak di Desa Kuripan, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Plabuan
Stasiun ini terletak di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Krengseng
Stasiun ini terletak di Desa Krengseng, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Weleri
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Weleri No. 1 Desa Karangdowo, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kalibodri
Stasiun ini terletak di Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kendal (ditutup tahun 1970-1980-an)
Stasiun ini terletak di Jalan Brigjend Sudiarto, Kelurahan Langeharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kaliwungu
Stasiun ini terletak di Desa Krajan Kulon, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Mangkang
Stasiun ini terletak di Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Jerakah
Stasiun ini terletak di Kelurahan Jerakah, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Taman Tawang No. 1 Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Semarang Gudang
Stasiun ini terletak di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Semarang Pelabuhan
Stasiun ini terletak di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Tegowanu
Stasiun ini terletak di Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Gubug
Stasiun ini terletak di Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Tanggung
Stasiun ini terletak di Desa Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kedungjati
Stasiun ini terletak di Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Padas
Stasiun ini terletak di Kelurahan Padas, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Telawa
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Juwangi, Kelurahan Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Karangsono
Stasiun ini terletak di Desa Sobo, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Gundih
Stasiun ini terletak di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Gambringan
Stasiun ini terletak di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Jambon
Stasiun ini terletak di Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Panunggalan
Stasiun ini terletak di Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kradenan
Stasiun ini terletak di Jalan Honggokusuman, Desa Kradenan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Sulur
Stasiun ini terletak di Desa Tahunan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Doplang
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Sulur-Doplang-Randublatung, Desa Doplang, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Randublatung
Stasiun ini terletak di Desa Wulung, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Wadu
Stasiun ini terletak di Desa Wado, Kecamtan Kedungtubang, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kapuan
Stasiun ini terletak di Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Diponegoro No. 87 Desa Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Cepu Kota (ditutup tahun 1984)
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kota, Desa Cepu, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Jepon (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Desa Jepon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Blora (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Desa Tempelan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Ngawen (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kunduran (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Purwodadi-Blora Km. 24 Desa Kunduruan, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Wirosari (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Purwodadi-Blora, Desa Wirosari, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Purwodadi (ditutup sekitar 1970-1980-an)
Stasiun ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 5 Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Ngrombo
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Purwodadi-Solo, Desa Depok, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Sedadi
Stasiun ini terletak di Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Karangjati
Stasiun ini terletak di Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Godong (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Purwodadi-Demak, Desa Godong, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Demak (ditutup tahun 1986)
Stasiun ini terletak di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Buyaran (ditutup tahun 1986)
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Semarang-Demak, Desa Pulosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Sayung (ditutup tahun 1986)
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Semarang-Demak, Desa Sayung, Kecamatan saying, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Genuk (ditutup tahun 1986)
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kaligawe, Kelurahan Genuksari, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Ngablak (ditutup tahun 1986)
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Kaligawe, Kelurahan Genuksari, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Rembang (ditutup tahun 1989)
Stasiun ini terletak di Jalan Mojopahit, Desa Leteh, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Lasem (ditutup tahun 1989)
Stasiun ini terletak di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Pamotan (ditutup tahun 2001)
Stasiun ini terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Jatirogo (ditutup tahun 2001)
Stasiun ini terletak di Desa Jatirogo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur

Stasiun Juana (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Doropayung, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Pati (ditutup tahun 1987)
Stasiun ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Margorejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kudus (ditutup sekitar tahun 1980-an)
Stasiun ini terletak di Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Bakalan (ditutup sekitar tahun 1980-an)
Stasiun ini terletak di Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Mayong (ditutup sekitar tahun 1980-an)
Stasiun ini terletak di Kelurahan Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Welahan (ditutup sekitar tahun 1980-an)
Stasiun ini terletak di Desa Gedangan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Pecangaan (ditutup sekitar tahun 1980-an)
Stasiun ini terletak di Pecangaan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Tempuran (ditutup tahun 1976)
Stasiun ini terletak di Desa Tempuran, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Gogodalem
Stasiun ini terletak di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Bringin
Stasiun ini terletak di Bringin, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Tuntang
Stasiun ini terletak di Desa Tuntang, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Ambarawa
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Nomor 1 Desa Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Jambu
Stasiun ini terletak di Jambu, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Bedono
Stasiun ini terletak di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Gemawang (ditutup tahun 1976)
Stasiun ini terletak di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami