The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Benda Cagar Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benda Cagar Budaya. Tampilkan semua postingan

Candi Badut

Kabupaten Malang merupakan wilayah yang tergolong tua. Di masa silam, Kabupaten Malang pernah berdiri 3 kerajaan, yaitu Kerajaan Kanjuruhan, Tumapel (Singosari), dan Sengguru. Juga pernah menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Kuno maupun Kerajaan Majapahit. Hal ini menjadikan Kabupaten Malang memiliki peninggalan purbakala yang banyak dan beragam. Mulai dari batu bertulis (prasasti), arca, maupun candi.
Candi yang ada di Kabupaten Malang, salah satunya adalah Candi Badut. Candi ini terletak di Jalan Raya Candi 5D Dukuh Badut, Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi candi ini berada di sebelah barat Sanggar Budaya Putra Mandala Karangbesuki, atau barat laut dari pangkalan angkot AT (Arjosari-Tidar). Karena lokasinya yang berdekatan dengan Kota Malang, seringkali penulisan letak candi ini berada di Kelurahan Karang Besuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, padahal yang benar adalah di Desa Karang Widoro. Pembatas Karang Widoro dan Karang Besuki memang hanya pada jalan aspal berukuran sekitar 6 meter di mana di sebelah timur jalan masuk ke dalam wilayah administrasi Kelurahan Karang Besuki, dan di sebelah barat jalam masuk dalam Desa Karang Widoro.
Candi ini dihubungkan dengan Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 Çaka atau 760 Masehi. Secara ringkas, prasasti ini menyebutkan bahwa dahulu ada seorang raja yang bijaksana bernama Dewasimha. Di bawah naungannya api Putikecwara memancar menerangi sekelilingnya. Dewasimha memiliki anak bernama Gajayana. Prasasti ini dibuat Raja Gajayana untuk Sang Resi Agung (maharsibhawana) dengan sebutan Walahajiridyah, dan diresmikannya arca Agastya yang baru terbuat dari batu hitam yang indah, sebagai pengganti dari arca yang lama yang terbuat dari kayu Cendana yang sudah lapuk. Pada kesempatan ini sang raja menghibahkan tanah, lembu, budak, perlengkapan saji, mengadakan berbagai upacara untuk menghormati sang resi. Pada baris keempat Prasasti Dinoyo disebut pula bahwa Raja Gajayana membuat bangunan suci yang sangat indah untuk Agastya dengan maksud untuk membinasakan penyakit.


Penamaan candi Badut ini memunculkan beberapa pendapat. Dari tradisi lisan yang berkembang di sekitar lokasi candi, disebutkan bahwa istilah Badut diambil dari nama sejenis pohon yang dahulu banyak tumbuh di daerah ini, dan salah satunya tumbuh di area reruntuhan candi. Karena di sekitarnya banyak tumbuh pohon Badut, maka daerah tersebut dinamakan Dusun Badut. Dengan demikian, candi ini bernama Badut karena sesuai dengan nama pohon Badut yang dahulu tumbuh di sini.
Pendapat lain muncul dari Dr. Brandes dan Dr. F.D.K. Bosch. Oleh Dr. Brandes dan Dr. F.D.K. Bosch, nama Badut dikaitkan dengan nama Liswa yang tertulis pada baris kedua Prasasti Dinoyo. Liswa sendiri merupakan nama lain dari Raja Gajayana. Dalam kamus bahasa Sansekerta, kata Liswa berarti anak komedi (tukang tari), yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut badut. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Prof. Dr. R. Poerbatjaraka, bahwa nama Badut diambil dari nama raja Kerajaan Kanjuruhan yang diduga membangun candi tersebut. Berasal dari nama Garbopati nama kecil Raja Gajayana, sebelum menjadi raja di Kerajaan Kanjuruhan. Nama Garbopati sang raja adalah Licwa, yang menurut Poerbatjaraka istilah Liswa adalah bahasa Jawa Kuno yang artinya sekarang sama dengan pelawak atau bisa juga disebut badut.
Sedangkan, Van der Meulen berpendapat bahwa nama Badut diambil dari nama Resi Agastya, seorang resi yang diagung-agungkan oleh Raja Gajayana. Istilah Badut, menurut Van der Muelen diambil dari kata Ba dan Dyut. Ba = Bintang Agastya (Chopus) dan Dyut = Sinar atau Cahaya, jadi Badyut berarti cahaya bintang resi Agastya. Van der Meulen membuat perbandingan dengan penamaan Candi Mendut, yang menurutnya berasal dari kata Men =Sorot, dan Dyut = Cahaya.


Secara arsitektur candi ini mencerminkan gaya Jawa Tengah. Hal ini dapat dicermati beberapa profil yang ditemukan di candi-candi Jawa Tengah, profil tersebut antara lain ruangan bangunan yang agak besar yang dihubungkan dengan bangunan penampil dan tangga masuk, bangunan induk disusun berhadapan dengan bangunan perwara, dan kaki candi relatif tinggi.
Candi memiliki bagian yang relatif lengkap terdiri dari lapik, kaki, badan, dan atap. Bagian lapik merupakan alas tempat kaki candi berdiri, bentuknya persegi panjang berukuran 14,10 x 18,90 meter. Lapik tersebut terdiri dari tiga jenjang masing-masing setinggi 30 cm, 40 cm dan 20 cm, kesemuanya tanpa hiasan ornamen.
Kaki candi berukuran 10,76 x 1,30 meter, berdiri di atas lapik yang lebar, antara kaki candi dan lapik terdapat selasar. Kaki candi tanpa hiasan pelipit maupun ornamen. Pada sisi barat terdapat tangga dengan delapan pijak dan pipi tangga yang telah rusak. Pipi tangga berbentuk lengkung dan berujung ungkel pangkalnya berhias kala naga. Pipi tangga sisi utara dihiasi ornamen burung berdiri di atas bunga teratai. Demikian pula pipi tangga sisi selatan. Struktur kaki candi tidak lengkap, demikian pula trap dan pipi tangga.
Tubuh candi berbentuk persegi dengan ukuran 7,50 x 7,40 meter, tinggi 3,62 meter. Bingkai bawahnya terdiri dari pelipit polos, padma, dan setengah bundaran. Struktur candi masih tampak baik meski di sisi timur dan selatan tidak lengkap. Pada tiap sisinya terdapat relung, di sisi barat terdapat pintu masuk dengan penampil. Kanan kiri terdapat relung yang ukurannya lebih kecil. Penampil dan relung tersebut dihiasi kala tanpa rahang bawah. Bingkai penampil dihiasi sulur-suluran, di bagian bawahnya terdapat sepasang makara yang dikombinasikan dengan sulur-suluran. Ambang pintu dan penampil telah diperkuat dengan penyangga besi. Ruang garbhagraha berukuran 3,45 x 3,45 meter berisi lingga dan yoni.


Atap candi telah rusak, bentuk lengkapnya tidak dapat dikenal dari sisi struktur yang terdapat saat ini. Adapun struktur yang tersisa sebanyak lima lapis pada sebagian sisi barat dan utara. Keadaan struktur yang tidak lengkap tersebut menjadi bagian atas bilik terbuka.
Informasi paling awal tentang candi Badut dilaporkan oleh E.W. Maurenbrecher, seorang controlir bangsa Belanda, pada tahun 1923, pada saat mengadakan inventarisasi di sekitar Malang. Pada tahun yang sama seorang pegawai dinas purbakala Belanda yang bernama B. De Haan melaporkan hal serupa. Tidak banyak yang dapat diungkapkan kecuali reruntuhan batu dan sebuah pohon besar tumbuh di atas reruntuhan itu.
Tahun 1925, B. De Haan mendapat tugas memperbaiki candi Badut. Pada awalnya ia tidak mempunyai harapan dapat menyelesaikannya, sehingga ia memutuskan untuk mengadakan ulang bina partial. Usaha ini diawali dengan mengadakan penggalian yang dilakukan sampai dasar bangunan. Dari hasil penggalian terebut diketahui bahwa bangunan candi Badut telah runtuh sama sekali, kecuali beberapa bagian yang masih dapat dilihat susunannya, bagian itu adalah kaki candi meski banyak yang rusak. Batu-batu yang ada kemudian dipilah-bilah dan dikumpulkan berdasarkan ukuran. Atas dasar inilah kemudian dicoba untuk menyusun bangunannya.
Pada tahun 1926, seluruh bangunan kaki dan tubuh dapat dibangun kembali, hanya bagian atapnya yang tidak ditemukan kembali. Namun demikian Dinas Purbakala waktu itu dapat membuat rekonstruksinya di atas kertas.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1990-1993 dilaksanakan pemugaran lebih lanjut oleh Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersama Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala jawa Timur, melalui proyek Pelestarian atau Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, yang dilakukan secara bertahap.
Kini, Candi Badut yang berada pada lahan seluas 2.808 m² ini menjadi tujuan wisata yang ada di Malang. Selain, mengenal sejarah Candi Badut, wisatawan juga dapat relaksasi di lokasi ini, karena tempatnya yang masih sejuk dan asri. Banyak pepohonan yang ada di kompleks halaman candi tersebut, seperti pohon beringin, pule, dan sengon. *** [180516]

Share:

Hotel Niagara Lawang

Pada era kolonial, Lawang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai wilayah yang diperuntukkan sebagai daerah peristirahatan dan perkebunan yang kaya di lereng Gunung Arjuno. Sejak itulah banyak bermunculan bangunan kolonial yang berfungsi sebagai rumah peristirahatan atau villa. Salah satunya adalah Hotel Niagara, yang juga menjadi ikon dari Lawang karena merupakan bangunan lawas tertinggi kawasan tersebut. Hotel ini terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 63 Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi hotel ini berada di sebelah utara Pasar Lawang, atau barat daya Kompleks Polisi Militer Divisi Infanteri 2 Kostrad.
Awalnya, bangunan Hotel Niagara ini merupakan sebuah villa pribadi milik Liem Sian Joe, seorang konglomerat Tionghoa (pengusaha pabrik gula dan kayu jati). Villa ini dibangun selama kurang lebih 15 tahun lamanya, dimulai dari tahun 1903 dan selesai pada tahun 1918. Soal desain bangunan, Liem Sian Joe menyerahkannya kepada Fritz Joseph Pinedo, seorang arsitek swasta Belanda profesional keturunan Portugis-Brazil.
Villa ini hanya difungsikan sebagai tempat peristirahatan keluarga selama dua tahun, karena pada tahun 1920 Liem Sian Joe dan keluarga pindah ke Negeri Belanda. Villa tersebut dipercayakan kepada ahli warisnya. Namun, karena jarang dipakai, villa tersebut lambat laun menjadi kurang terurus dan kemudian terlantar selama bertahun-tahun.


Kondisi yang demikian bertahan sampai tahun 1960, yang pada akhirnya salah seorang ahli waris keluarga Liem Sian Joe menjual villa tersebut kepada seorang pengusaha yang berasal dari Surabaya bernama Ong Kie Tjay. Oleh Ong Kie Tjay, bangunan berlantai lima itu kemudian dibenahi selama 4 tahun, dan selanjutnya difungsikan sebagai hotel dengan nama Hotel Niagara.
Menurut prasasti yang ada, Hotel Niagara merupakan bangunan tertinggi, paling megah dan mewah, tidak ada tandingannya (pada waktu itu). Unsur-unsur arsitektur Eropa seperti ornamen, tiang besi, konsep bangunan Eropa yaitu hoogbouw atau membangun tinggi ke atas (vertikal) merupakan efek gaya gedung pencakar langit (wolken krabber) serta konstruksi bata digunakan pada rumah-rumah orang kaya atau bangsawan pada abad ke-20 di Hindia Belanda.
Pendirian bangunan tersebut kala itu memang memiliki tujuan tertentu, menunjukkan sebuah kemegahan, kemewahan, peranan dan kedudukan atau identitas Liem Sian Joe. Penunjukkan identitas dirinya sebagai seorang yang kaya, terhormat itu terlihat dengan adanya pengacuan gaya masyarakat golongan lapisan atas (Eropa) pada ornamen plafond, kaca timah, keramik dan kayu jati pelapis dinding, makna komposisi simetris yang dipakainya, pemilihan bahan pada yang tidak lagi sederhana, dipilih yang berkualitas tinggi bahkan impor seperti pelapis dinding yang hanya digunakan pada ruang-ruang yang termasuk bagian dari area publik. Hal ini memiliki makna unjuk kemampuan Liem Sian Joe pada tamu-tamu yang diundangnya dari segi finansial.
Kini, hotel tersebut dikelola oleh Ongko Budihartanto, anak dari Ong Kie Tjay. Dalam perjalanan mengelola Hotel Niagara ini, memang pernah mengalami mendapat stigma sebagai hotel yang menyeramkan, ada tapak tangan berjalan, dan berhantu serta tempat bunuh diri. Hal ini tak terlepas dari lamanya bangunan ini pernah mangkrak sebelum difungsikan sebagai hotel.
Terlepas dari hal itu semua, Hotel Niagara ini memiliki arsitektur tempo doeloe dengan nuansa seni yang tinggi sebagai kombinasi gaya Brazil, Belanda, Tiongkok, dan Victoria yang menawan. Warisan kekunaan yang dipunyainya, sesungguhnya bisa mengantarkan nilai jual hotel tersebut kepada turis mancanegara bila dikelola dengan sebaik-baiknya. Punya story, nuasa tempo doeloe, antik dan unik. *** [180516]

Share:

Stasiun Kereta Api Ngebruk

Stasiun Kereta Api Ngebruk (NB) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ngebruk merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 319 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 3/kecil yang ada di Kabupaten Malang. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Ngebruk-Sumberpucung, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di belakang Pasar Ngebruk, atau 250 m dari Jalan Raya Malang-Blitar.


Bangunan Stasiun Ngebruk ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen sepanjang 55 kilometer, yang dimulai pada tahun 1896 dan selesai pada tahun 1897. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, dengan searah. Artinya, pada jalur rel kereta api tersebut dilakukan dari arah barat , yaitu Blitar, terus ke timur sampai Kepanjen.


Dari arah barat, pembangunan jalur Blitar-Wlingi sepanjang 19 kilometer yang diresmikan pada 10 Januari 1896 dan Wlingi-Kepanjen sepanjang 36 kilometer yang diresmikan pada 30 Januari 1897. Proyek jalur kereta api Blitar-Wlingi-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2). Jadi, Stasiun Ngebruk ini sudah mulai ada sejak tahun 1897.
Stasiun Ngebruk memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur sepur lurus yang menuju ke arah barat (Stasiun Sumberpucung) dan ke arah timur menuju Stasiun Kepanjen. Sedangkan, jalur 2 digunakan untuk berhentinya sepur yang lain saat terjadi persilangan kereta api pada jalur tersebut. Seperti stasiun kecil pada umumnya, Stasiun Ngebruk tidak memiliki emplasemen yang menaungi peron yang ada. Akan tetapi, dari ruang tunggu mau menuju ke peron diberi semacam teras kecil yang menonjol sampai ke peron yang mepet dengan bangunan stasiun. Dahulu, stasiun ini memang didirikan untuk mengantisipasi persilangan kereta api yang melintas di jalur tersebut. *** [190516]
Share:

Stasiun Kereta Api Malang Kota Lama

Stasiun Kereta Api Malang Kota Lama (MLK) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Malang Kota Lama, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian + 429 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun kelas 1 yang berada di Kota Malang. Stasiun ini terletak di Jalan Kolonel Soegiono, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini tepat berada di belakang The Balava Hotel, yang berseberangan dengan Rumah Sakit (RS) Panti Nirmala.
Bangunan Stasiun Malang Kota Lama ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda (Het station Kotta Lama te Malang gelegen op 429 m hoogte), yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang sepanjang 49 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1878 dan selesai pada tahun 1879.



Proyek jalur kereta api Bangil-Sengon-Lawang-Malang ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 1 (Oosterlijnen-1). Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah, dan bertahap. Pertama, diselesaikan dulu jalur rel dari Bangil hingga Lawang pada tahun 1878, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan jalur rel dari Lawang sampai Malang yang selesai pada tahun 1879.
Stasiun Malang Kota Lama ini merupakan stasiun kereta api yang berada di paling selatan Kota Malang, dan sekaligus merupakan stasiun yang tertua di kota tersebut. Penyebutan nama Kota Lama hanya sekadar untuk membedakan dengan Stasiun Malang yang dibangun belakangan, yaitu Stasiun Kota Baru Malang.
Stasiun ini memiliki 6 jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, arah utara menuju ke Stasiun Kota Baru Malang, dan arah selatan menuju Stasiun Pakisaji. Sedangkan, jalur 4 merupakan jalur menuju ke Depo Pertamina. Pada peron 1 terdapat bangunan emplasemen yang menggunakan struktur kayu dan atap pelana serta di atas atapnya terdapat vestibule yang berfungsi untuk memasukkan cahaya matahari. Struktur ini hampir mirip dengan struktur emplasemen yang terdapat di Stasiun Blitar, yaitu dengan menggunakan sistem overkapping.



Dulu, dari Stasiun Malang Kota Lama ini juga terdapat jalur trem yang menghubungkan ke Blimbing sepanjang 6 kilometer yang dibangun oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) pada tahun 1903. MSM ini merupakan perusahaan trem yang mendapat konsensi pada tahun 1894 untuk membangun jaringan rel trem.
Dari Blimbing, jalur tersebut terhubung dengan Singosari, yang sebelumnya sudah dibangun jalur trem Singosari hingga Tumpang melalui Blimbing dan Pakis sepanjang 23 kilometer. Jadi, Stasiun Blimbing kala itu merupakan pertemuan jalur dari Singosari yang akan ke Tumpang dan ke Malang. Begitu pula, yang dari Stasiun Malang Kota Lama yang ingin ke Tumpang maupun Singosari, tremnya pasti melintasi Blimbing.
Jadi, pada waktu itu Stasiun Malang Kota Lama merupakan stasiun yang ramai dan sibuk. Karena dari stasiun tersebut terhubung ke beberapa stasiun. Selain jalur trem yang sudah diterangkan di atas, dari stasiun ini juga terhubung dengan Gondanglegi. Percabangan lengkapnya yang dari Gondanglegi, bisa dibaca di tulisan sebelumnya, yaitu Stasiun Kereta Api Kepanjen. Sayang, jalur trem tersebut sudah tidak aktif lagi.
Semenjak didirikan Stasiun Kota Baru Malang pada tahun 1941, pamor Stasiun Malang Kota Lama sedikit memudar hingga pada akhirnya oleh Pemerintah Hindia Belanda, stasiun tersebut dijadikan stasiun untuk mengangkut hasil bumi dan perdagangan dari Malang ke Surabaya dan sekitarnya. Meski sekarang, stasiun ini kembali beraktivitas sebagai stasiun yang menaikkan dan menurunkan penumpang, namun tingkat kesibukannya tidaklah seperti Stasiun Kota Baru Malang. Hal ini disebabkan lokasi Stasiun Malang Kota Lama semakin ‘terpencil’. Tidak kelihatan dari jalan besar karena terhalang bangunan The Balava Hotel yang menjulang, dan para pengantar penumpang pun sekarang merasa repot sejak di depan stasiun dibangun jalan layang. Lengkaplah rasa alienasi stasiun tersebut. *** [180516]
Share:

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam terletak di Jalan Ujung Pandang No. 1 Makassar. Lokasi benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, dan berjarak sekitar 1 Km dari Pantai Losari yang begitu terkenal di kalangan wisatawan.
Fort Rotterdam merupakan benteng pertahanan yang masih tersisa dan bisa disaksikan kemegahannya hingga kini oleh masyarakat Makassar maupun wisatawan dari luar. Benteng ini dulu dikenal dengan Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang). Orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Pannyua (penyu) yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Sebutan pannyua atau penyu mengacu pada bentuk keseluruhan Fort Rotterdam yang jika dilihat dari atas tampak menyerupai seekor kura-kura yang akan masuk ke laut.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa IX Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Karaeng Tumapakrisik Kallonna merupakan Raja Gowa pertama yang menyadari pentingnya pembangunan benteng pertahanan untuk menjaga dan melindungi dari serangan musuh. Hal ini menunjukkan kepandaiannya sebagai raja sekaligus ahli strategi perang, serta pemikirannya yang jauh ke depan. Semula hanya terbuat dari gundukan tanah liat, kemudian pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin, konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang didatangkan dari pegunungan karst di daerah Maros.


Pada awal dibangunnya benteng ini, di dalamnya terdapat rumah panggung khas Gowa di mana raja dan keluarganya tinggal. Pada saat Belanda menguasai Maluku, mereka memutuskan untuk menaklukkan Kerajaan Gowa agar armada dagang VOC dengan leluasa bisa merapat dengan mudah di Sulawesi sekaligus membuka kesempatan untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah yang kala itu menjadi primadona di Eropa. Dalam usahanya menaklukkan Gowa, armada Belanda dipimpin oleh Cornelis Speelman dibantu Arung Palakka dari Bone dan Kapten Jongker dari Ambon. Selama setahun lebih benteng ini digempur, akhirnya Belanda berhasil masuk dan membumihanguskan rumah raja dan seisi benteng. Pihak Belanda memaksa Sultan Hasanuddin untuk menandatangani sebuah perjanjian yang dikenal sebagai “Cappaya Ri Bungaya” atau Perjanjian Bungaya pada hari Jum’at, 18 November 1667, di mana salah satu pasal dalam perjanjian tersebut mewajibkan Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada Belanda.
Setelah benteng ini diserahkan kepada Belanda, benteng ini dibangun dan ditata kembali sesuai dengan arsitektur Belanda yang kemudian namanya diubah menjadi Fort Rotterdam, dan dijadikan pusat penampungan rempah-rempah di Nusantara bagian timur. Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Speelman lahir di Rotterdam pada 3 Maret 1628 dengan nama lengkap Cornelius Jans Zoon Speelman. Speelman adalah Gubernur Hindia Belanda ke-14.
Di dalam kompleks benteng ini, pengunjung bisa melihat beberapa ruangan yang pernah digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro, sebuah gereja peninggalan Belanda, dan Museum La Galigo yang menempati beberapa bangunan yang ada. *** [230613]
Share:

GPIB Jemaat Immanuel Makassar

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel Makassar terletak di Jalan Balaikota No. 1 Makassar, atau berada di samping timur Gedung Balaikota Makassar.
Gereja ini merupakan salah satu dari sekian banyak arsitektur peninggalan kolonial Belanda di Makassar. Dalam Buku Laporan Kegiatan Peringatan 100 Tahun Gedung Gereja Immanuel Ujung Pandang 15 September 1885 – 1985 dikisahkan bahwa awalnya jemaat (gemeente) didirikan dengan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda pada 17 Oktober 1852. Jemaat ini merupakan bagian dari De Protestantsche Kerk in Nederlandsch Indie (Gereja Protestan di Hindia Belanda) atau yang biasanya disingkat “Indische Kerk”. Sama dengan induknya di Negeri Belanda, gereja ini merupakan gereja negara. Pendeta diberi gaji oleh pemerintah beserta dengan anggaran-anggaran lainnya yang digunakan untuk keperluan gereja.
Pada 15 September 1885, Pendeta J.C. Knuttel meresmikan pemakaian gedung gereja yang telah dibangun kembali dengan nama resminya “Prins Hendriks Kerk” (Gereja dari Pangeran Hendrik), namun umumnya disebut dengan “Protestantsche Kerk” (Gereja Protestan) atau “Grote Kerk” (Gereja Besar). Yang akhirnya, saat ini dikenal dengan nama Gereja Immanuel.
Pada tahun1933, Indische Kerk mengadakan Grote Vergadering (pertemuan raya) yang memutuskan supaya diusahakan pemisahan administatif antara gereja dan negara. Bagian Indische Kerk di Minahasa (yang kemudian bernama Gereja Masehi Injili Minahasa disingkat GMIM) mencapai pemisahan pada tahun 1934. Bagian Indische Kerk di Maluku (yang kemudian bernama Gereja Protestan Maluku disingkat GPM) mencapai hal serupa dengan GMIM pada tahun 1935, bersamaan dengan bagian Indische Kerk di sebelah barat (yang kemudian disebut sebagai Gereja Protestan Indonesia disingkat GPI). Bagian Indische Kerk di Timor yang kemudian disebut Gereja Masehi Injili Timor disingkat GMIT mendapatkannya pada tahun 1947. Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu pada 31 Oktober 1948, bagian dari Indische Kerk di sebelah barat berdiri sendiri menjadi Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB). Lalu, GPI berubah hakikat menjadi suatu Sinode Am yang beranggotakan sinode GPIB, GMIT, dan GPM. Jemaat Immanuel Makassar, meskipun terletak di wilayah Indonesia Timur namun termasuk dalam wilayah pelayanan GPIB.


Pada tahun 1950, sinode-sinode tersebut betul-betul berdiri sendiri dengan terjadinya pemisahan keuangan antara gereja dan negara. Sejak berdirinya GPIB (1948), hanya terdapat satu Jemaat GPIB di Makassar.  Barulah pada tahun 1967 diputuskan untuk membagi jemaat yang wilayah pelayanannya sudah teramat luas ini menjadi 4 jemaat, yaitu Jemaat Immanuel, Bukit Zaitun, Bethania dan Mangamaseang. Pada tahun 1983, Jemaat GPIB di Makassar bertambah satu lagi, yaitu Jemaat Bahtera Kasih, sehingga seluruhnya hingga kini terdapat 5 jemaat.
Di seluruh Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) terdapat 11 jemaat GPIB. Selain 5 jemaat di Makassar, masih terdapat jemaat GPIB di Pare-pare, Watampone, Majene, Kendari, Raba dan Bau-bau. Kesebelas jemaat ini sejak tahun 1978 dikoordinasikan kerjasamanya oleh suatu badan yang disebut musyawarah pelayanan (mupel) jemaat GPIB di wilayah Sulselra, yang biasa disingkat Mupel GPIB Sulselra. Badan ini merupakan jembatan dinamis di antara jemaat-jemaat dan Majelis Sinode yang berkedudukan di Jakarta. *** [220613]
Share:

Museum Batak Tomok

Museum Batak Tomok terletak di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara, atau tepatnya berada di ujung perlintasan Pasar Cinderamata Tomok ke arah dalam Kuburan Tua Raja Sidabutar. Untuk mengunjungi museum, pengunjung harus menyeberangi Danau Toba. Biasanya berangkat dari dermaga Ajibata menuju ke dermaga penghubung Tomok di Pulau Samosir.
Museum ini berarsitektur Ruma Bolon, sebuah rumah tradisional tempat tinggal khas Batak. Bangunan museum ini memiliki ornamen yang khas. Pada dinding bangunan didominasi ukiran-ukiran berwarna merah, hitam, dan putih. Ketiga warna ini merupakan warna simbol spiritual orang Batak. Selain itu, pada dinding bangunan terdapat ukiran cicak dan empat buah payudara. Menurut kepercayaan masyarakat Batak, cicak bermakna sebagai perlindungan serta pesan kepada masyarakat Batak bahwasannya masyarakat Batak harus bisa berbaur dengan lingkungan di mana mereka bermukim. Sedangkan empat payudara diyakini oleh masyarakat Batak sebagai simbol seorang ibu atau tanah kelahirannya. Sehingga, makna filosofis sesungguhnya dari ukiran cicak dan empat buah payudara itu adalah kelak bila orang Batak bepergian merantau kemana saja, hendaknya selalu ingat kepada kampung halamannya.


Museum yang didirikan pada tahun 2005 ini, memiliki beberapa koleksi benda peninggalan sejarah Batak yang mengandung nilai historis tinggi. Beberapa diantara benda-benda tersebut adalah peralatan perang seperti pedang maupun senapan laras panjang. Kemudian terdapat juga beberapa benda-benda pertanian tradisional yang digunakan pada masa dahulu sebagai mata pencaharian masyarakat Batak, serta beberapa perlengkapan dapur.
Selain itu juga terdapat juga beberapa koleksi budaya etnis Batak seperti beberapa patung berbahan kayu, serta beberapa kain tenun ulos yang memiliki bermacam-macam motif. Semua koleksi tersebut merupakan koleksi yang cukup unik untuk dilihat, apalagi koleksi-koleksi tersebut berasal dari sejarah-sejarah etnis Batak di masa lampau. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah koleksi buku aksara Batak (buku lak-lak).
Selain, ragam koleksinya yang memikat pengunjung, museum ini tidak dipungut biaya. Hanya sayangnya, pengunjung akan kesulitan menemui siapa penjaga museum ini sehingga kesulitan untuk menanyakan sejarah koleksi yang dimiliki oleh museum ini. *** (031111)
Share:

Benteng Van Den Bosch

Benteng Van Den Bosch terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabuapten Ngawi, Jawa Timur. Lokasi benteng ini mudah dicapai, karena terletak di Kota Ngawi. Dekat dengan Pasar Ngawi dan Alun-Alun Ngawi, atau ± 2 Km dari Kantor Pemerintahan Kabupaten Ngawi. Hanya saja, bagi pengunjung yang bukan berasal dari Kota Ngawi akan sedikit bingung lantaran letak benteng tidak persis di tepi jalan, melainkan sedikit masuk dan tidak ada penanda lokasi keberadaan benteng tersebut.


Sebenarnya letak benteng ini berada di pertemuan Jalan Untung Suropati dan Jalan Diponegoro, atau di seberang Taman Makam Pahlawan Dr. Radjiman Wedyodingrat Ngawi, namun karena di situ ada pintu gerbang Kompleks Batalyon Artileri Medan 12/ KONSTRAD “Angicipi Yudha” maka pengunjung dari luar Kota Ngawi akan bertanya di mana keberadaan benteng tersebut. Karena memang setelah tahun 1962, benteng ini pernah dijadikan sebagai markas Yon Armed yang berkedudukan di Rampal, Malang. Dulunya, benteng ini merupakan kawasan yang terlarang karena sempat dijadikan sebagai gudang amunisi. Akan tetapi setelah Yon Armed dipindahkan ke Jalan Siliwangi lantaran kawasan benteng tersebut dipandang sudah tidak representatif lagi sebagai Kompleks Militer, kini kawasan benteng tersebut dibuka untuk umum.
Benteng ini dinamakan Fort Van Den Bosch karena benteng ini dibangun atas prakarsa Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1839. Letak benteng Van Den Bosch sangat strategis karena berada di sudut pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun, lokasi benteng sengaja dibuat rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi (tanggul) sehingga terlihat dari luar tampak terpendam. Oleh karena itu, benteng ini oleh masyarakat sekitar dikenal juga dengan sebutan benteng pendem.


Dipilihnya lokasi itu sebagai pembangunan benteng mengingat Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun kala itu merupakan jalur lalu lintas sungai yang dapat dilayari oleh perahu-perahu yang cukup besar sampai jauh ke bagian hulu. Perahu-perahu tersebut memuat berbagai macam hasil bumi yang berupa rempah-rempah dan palawija dari Surakarta-Ngawi menuju Bandar Gresik, demikian juga Madiun-Ngawi dengan tujuan yang sama. Pada abad 19, Kota Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan  dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan para pejuang di Kabupaten Madiun, Ngawi, dan sekitarnya. Perlawanan melawan Belanda yang berkorbar di daerah, dipimpin oleh kepala daerah setempat. Di Kabupaten Madiun, dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo, dan di daerah Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirontani pada tahun 1825, Kota Ngawi berhasil direbut dan dan diduduki. Untuk mempertahankan kedudukan dari fungsi strategis Kota Ngawi serta menguasai jalur perdagangan,  Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun sebuah benteng pada tahun 1839, dan selesai pembangunannya pada tahun 1845, yaitu Benteng Van Den Bosch yang dihuni oleh tentara Belanda sebanyak 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api, dan 60 orang kavaleri yang dipimpin oleh Van Den Bosch.
Bangunan benteng ini masih terlihat kokoh meski telah dimakan usia. Menempati lahan seluas ± 1 hektar, bangunan benteng ini terdiri dari pintu gerbang utama, ratusan kamar untuk para tentara,  ruangan untuk seorang kolonel dan ruang komando yang depanya berupa halaman rumput, dan beberapa ruangan yang dulunya diyakini sebagai kandang kuda.
Kendati usia benteng ini sudah ratusan tahun lebih, namun bangunan benteng ini belum pernah diperbaharui sama sekali. Sungguh sayang, bangunan cagar budaya yang bernilai sejarah tinggi ini kurang terawat.*** (070413)
Share:

Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”

Museum Lampung telah dirintis sejak tahun 1975 oleh Kepala Kantor Pembinaan Permuseuman Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Provinsi Lampung di Tanjung Karang.  Wujud pembangunan fasilitas gedung pameran dan kantor baru dikerjakan pada tahun anggaran 1978/1979, didasarkan pada keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 064/P/1978 tentang Pengangkatan Pimpinan dan Bendaharawan Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Lampung.
Peletakan batu pertama pembangunan Museum Lampung dilakukan oleh Kepala Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Lampung Drs. Supangat pada tanggal 13 Juni 1978 di lokasi Jalan Teuku Umar No.64 Gedongmeneng, sekarang menjadi Jalan H.  Zainal Abidin Pagar Alam No.64 Gedongmeneng, Bandar Lampung.


Pada tahun 1984 sehubungan dengan pelaksanaan Purna Pugar Taman Purbakala Pugungraharjo yang dipusatkan di Museum Lampung, masyarakat mulai mengenal lebih dekat keberadaan museum. Untuk memenuhi minat masyarakat yang ingin berkunjung, maka Kakanwil Depdikbud Provinsi Lampung menerbitkan Surat Edaran No. 0085/I.12/J/1986 tanggal 2 Januari 1986 tentang dibukanya Museum Lampung setiap hari Sabtu.
Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. DR. Fuad Hasan.


Sementara itu, penambahan nama “Ruwa Jurai” untuk Museum Lampung ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.0233/0/1990 tertanggal 1 April 1990. Penambahan itu disesuaikan dengan logo Provinsi Lampung “Sang Bumi Ruwa Jurai”.
Pada era otonomi daerah, berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor 03 Tahun 2001 tertanggal 9 Februari 2001 status Museum Lampung beralih menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di bawah Dinas Pendidikan Provinsi. Sejak bulan Februari 2008 UPTD Museum Lampung beralih menjadi UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.
Museum Lampung memiliki arsitektur modern yang secara sepintas tidak seperti bangunan tradisional Lampung, namun sesungguhnya bangunan Museum Lampung pada prinsipnya mengambil konsep dasar Balai Adat atau Sessat, dengan bentuk empat persegi panjang. Model rumah panggung tercermin pada tiang-tiang di bagian luar dan dalam gedung. Tangga yang terdapat di dalam gedung untuk menghubungkan lantai bawah menuju lantai atas, merupakan penggambaran tangga yang ada pada rumah tradisional Lampung. Museum ini memiliki beberapa fasilitas penunjang dalam menyelenggarakan permuseuman, yaitu: Ruang Lobby, Ruang Pamer Tetap (terdiri atas 2 lantai), Auditorium, Ruang Kantor UPTD Museum, Perpustakaan, Storage (gudang koleksi), Ruang Fumigasi beserta fasilitas penunjang lainnya, termasuk halaman museum yang sangat luas yang bisa dipergunakan untuk kegiatan pendukung permuseuman.
Museum Lampung memiliki 4.690 koleksi benda budaya ada tahun 2011, yang terdiri: koleksi geologika (69 buah), biologika (91 buah), etnografika (2.051 buah), arkeologika (314 buah), historika (61 buah), numismatika/hiraldika (1.348 buah), filologika (44 buah), Keramologika (680 buah), seni rupa (8 buah), dan teknologika (24 buah).  *** (250413)

Kepustakaan:
Purwanti, Dra., & Rosniar, Dra., 2011, Buku Panduan Museum Lampung, Lampung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.
Share:

Prasasti Dalung

Prasasti Dalung merupakan prasasti yang terbuat dari lempengan tembaga. Bertuliskan aksara Arab Pegon, dan berbahasa Jawa Banten. Prasasti ini dikeluarkan oleh Sultan Banten untuk mengatur perniagaan dan pelayaran di daerah Lampung.


Prasasti ini terdiri dari 32 baris yang dikelompokkan dalam 12 poin yang bisa disebut pasal. Tiap-tiap pasal ditulis pada baris baru dan diakhiri dengan tanda lingkaran kecil dengan titik di tengahnya. Pada pasal penutup berbunyi: “Dhawuh undang-undang dalem Îki ing akhiring wulan Jumadil awal tahun Be’ séwu satus rong tahun lumaku saking hijrah Nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wassalam”
Prasasti yang sebenarnya berisi hukum laut dan perdagangan ini, ditetapkan pada akhir bulan Jumadil Awal Tahun Be 1102 Hijriyyah, atau bertepatan dengan akhir Februari 1691 M.


Prasasti ini ditemukan oleh Abu Bakar Hasirah di Desa Bojong, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Lalu, sepeninggal Abu Bakar Hasirah, prasasti ini dimiliki oleh keturunannya di Desa Bojong, yaitu  Dalom Rusdi.  Namun, kabar terakhir dari Syaiful, salah seorang petugas Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo, prasasti Dalung yang asli sekarang dipegang oleh Hasan Wakal, Kepala Desa Bojong, yang juga merupakan salah satu keturunan pemegang sebelumnya. Rumah Informasi hanya memasang replikanya saja, termasuk Museum Lampung juga memamerkan replikanya yang dibuat pada tahun 2003 dengan No. Inventaris 3968.
Dengan adanya penemuan prasasti Dalung ini, membuktikan bahwa di Situs Purbakala Pugungraharjo ini telah masuk Islam. Diperkirakan masuknya Islam melalui Way Sekampung dan Way Sekampung (dekat Kota Metro) diketemukan dua buah medali Sam Pho Khong. *** (310313)
Share:

Prasasti Bungkuk

Prasasti ini ditemukan di Desa Bungkuk, Kecamatan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung pada 8 Maret 1985. Penemuan prasasti ini terjadi secara kebetulan, ketika itu ada seorang warga pergi memancing di pinggir Way Batanghari yang melintas di Desa Bungkuk. Kail pancingnya tiba-tiba tersangkut oleh benda benda berat, sehingga pemancing menyempatkan diri turun ke sungai tersebut untuk melepaskan kail pancingnya agar supaya bisa digunakan lagi untuk memancing. Namun, ternyata pemancing menemukan batu berisi tulisan usai mau melepaskan kail pancing dari sangkutannya. Setelah dilaporkan kepada yang “berwajib”, diketahui bahwa batu bertulis tadi ternyata adalah prasasti.
Prasasti ini dipahatkan pada batu andesit, dengan memiliki ukuran tinggi 63 cm, tebal 63 cm, diameter atas 70 cm, dan diameter bawah 61 cm. Keadaannya sudah aus sehingga tidak dapat terbaca dengan lengkap. Prasasti ini terdiri dari 13 baris beraksara Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno.


Dari tulisan yang masih jelas dan dibaca oleh Boechari dan Hasan Djafar, diketahui bahwa prasasti ini berisi mengenai sumpah dan kutukan bagi mereka yang tidak tunduk dan berbuat jahat kepada Sriwijaya.
Berdasarkan paleografinya, prasasti ini diperkirakan berasal dari akhir abad ke-7 M, dan saat ini prasasti aslinya berada di Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo yang terletak di Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sedangkan, di Museum Lampung juga terdapat replikanya yang dibuat pada tahun 1999 dengan No. Inventaris 3613. *** (310313)



Share:

Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo

Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo terletak di Jalan Raya Pugungraharjo, Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sesuai dengan namanya, Rumah Informasi ini didirikan untuk tempat penyimpanan benda-benda cagar budaya yang diketemukan di Situs Pugungraharjo, baik pada waktu kegiatan pemugaran maupun diketemukan oleh masyarakat, dan juga untuk menyimpan benda-benda cagar budaya karena pertimbangan keamanan serta untuk kegiatan administrasi. Sehingga, Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo bisa diistilahkan sebagai sebagai site museum.
Menurut Syaiful, salah seorang petugas Rumah Informasi, menerangkan bahwa Rumah Informasi dibangun pada tahun 1979 berbentuk rumah tradisional Lampung dengan gaya arsitektur tradisional berupa rumah panggung. Rumah berwarna coklat muda ini memiliki ukuran panjang 14 meter, lebar 12 meter, dan tinggi sekitar 8 meter.
Site museum yang terletak di Kota Kecamatan ini, meskipun tidak seluas museum pada umumnya namun mempunyai keunggulan tersendiri dari koleksi yang dimilikinya. Selain tua usianya, juga khas, seperti: menhir, batu pipisan, batu berlubang, prasasti Bungkuk, arca bodhisatwa (patung Badariah), , batu pra punden, prasasti Dalung (replika), patung tipe Polinesia, mata uang China, mata tombak, fosil, dan sejumlah keramik dari Negeri China

.

Saronto, dalam makalahnya “Selayang Pandang Situs Taman Purbakala Pugungraharjo, Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur” (2010), menjelaskan bahwa menhir ditemukan tahun 1957 di Situs Pugungraharjo, dan diperkirakan berumur 2.500 SM. Menhir berbentuk seperti phallus atau lingga, simbol laki-laki. Phallus memiliki sifat magis berkaitan dengan kesuburan baik tanaman maupun kesuburan bagi wanita, untuk memperoleh kekuatan gaib, dan sarana penolak bala, tanda penguburan leluhur. Menhir sebagai pusat upacara yaitu upacara kesuburan, upacara penolak bala, upacara bersyukur.
Batu berlubang diketemukan di bagian timur Situs Pugungraharjo dekat mata air. Batu berlubang ini terbuat dari batu andesit yang berwarna hitam keabu-abuan dengan ukuran panjang 89 cm, lebar 62 cm serta tebal 44 cm. Di bagian permukaan yang datar terdapat 4 buah lubang yang sangat licin menunjukkan bekas dipakai.
Arca Bodhisatwa atau Patung Putri Badariah diketemukan di punden berundak VII, oleh salah seorang warga yang sedang menyangkul yaitu Kadiran pada 14 Agustus 1957. Patung ini terbuat dari batu andesit dengan posisi duduk dengan sikap “dharmacakra mudra” yang berhiaskan lengkap lembaran-lembaran bunga lotus , serta duduk di atas lapik berhiaskan bunga lotus. Patung ini memiliki ukuran tinggi 91 cm, lebar 35 cm, tebal 22 cm, dan tebal lapik 18 cm, dengan garis tengah lapik 61 cm. Patung ini diperkirakan dari abad ke-12.
Batu Pra Punden diketemukan di gundukan tanah sebelah barat di Situs Pugungraharjo, dan di situs ini pernah diadakan penelitian/ekskavakasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta pada tahun 1983, dan diketemukan batu bata yang terbuat dari batu cadas berwarna putih kecoklatan dengan bertuliskan tahun 1257 Saka huruf Sansekerta.
Arca Tipe Polinesia diketemukan di Gunung Langkap, Lampung Timur oleh Abdul Rahman, seorang warga Desa Bojong, pada tahun 1963. Patung ini terbuat dari batu andesit, dan dipahatkan dalam sikap duduk di atas sebuah lapik dengan memakai untaian kalung, dan di bagian belakang (pinggang) terselip sebuah keris. Patung dengan ukuran tinggi 99,5 cm, lebar 33 cm, tebal 28 cm sedangkan lapiknya berbentuk bundar polos dengan ketebalan 9 cm, dan bergaris tengah 44 cm ini, memiliki keunikan tersendiri karena adanya mitos bahwa barang siapa yang bisa menghitung biji kalung sebanyak 3 kali dengan jumlah yang sama maka akan terkabul segala cita-citanya.


Keramik yang diketemukan di Situs Pugungraharjo sangatlah banyak ini tersebar di hampir setiap situs. Jumlahnya hampir ribuan, dan mungkin jutaan. Ini membuktikan bahwa nenek moyang kita di Situs Pugungraharjo telah melakukan perdagangan yang sangat luas, yang diperkirakan berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya atau melakukan pelayaran yang lebih jauh lagi ke Negeri China. Ini dibuktikan dengan sebaran keramik yang diketemukan sangat luas dan kronologi keramik dapat diketahui mulai dari abad ke-8 atau 9 hingga abad ke-17, seperti diketemukannya keramik Tang, keramik yang paling muda yaitu keramik Ching. Jumlah keramik terbanyak adalah keramik Sung dan Ming dari abad ke-10 hingga abad ke-17. Ini menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan atau pelayaran nenek moyang kita di abad ke-10 hingga 17 di kawasan Way Sekampung sangatlah ramai. Namun keramik-keramik yang masih tersisa dan yang masih utuh hanyalah beberapa saja, seperti guci, buli-buli, cepuk dan mangkuk.
Selain, memamerkan temuan benda-benda cagar budaya di Situs Pugungraharjo, Rumah Informasi ini juga menyediakan informasi berkenaan dengan sejarah temuan, ekskavasi, pemugaran, pembuatan zoning (batas situs) serta melindungi benda-benda cagar budaya dan situs dengan tujuan untuk melestarikan dan memanfaatkan untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia.
Rumah Informasi Taman Pugungraharjo, pengelolaannya di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, dan juga termasuk wilayah kerja dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, Provinsi Banten. *** (310313)
Share:

Masjid An Nur Sukadana

Memasuki Jalan Annur di Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, suasana kekhasan kampung etnik hadir di wilayah ini. Kekhasan tersebut ditandai dengan masih banyaknya bangunan rumah kuno khas Lampung yang masih berdiri.
Tidak hanya itu, di jalan tersebut juga berdiri satu bangunan berarsitektur khas Lampung berwarna hitam masih berdiri tegak, tepat di depan Balai Desa Sukadana. Rumah tersebut menjadi ikon bagi masyarakat Sukadana dan telah ditetapkan menjadi cagar budaya dengan sebutan “Rumah Tradisional Sukadana”.


Selain itu, di samping cagar budaya tersebut masih tegak berdiri sebuah masjid. Masjid ini memiliki menara yang besar dan lumayan tinggi dan menandakan ketuaan umurnya. Tak ada prasasti atau semacamnya yang mununjukkan kapan menara masjid itu dibangun, namun H. Badri, salah seorang pengurus masjid tersebut, menunjukkan sebuah bangunan yang konon dipergunakan sebagai penanda waktu shalat di antara bangunan masjid dan menara tersebut. Di bangunan tersebut, tertulis tanggal 27 Oktober 1934. Menurutnya, tulisan tanggal tersebut konon dipercaya sebagai awal permulaan berdirinya Masjid An Nur.


Masjid seluas ukuran 14 x 14 m ini, awalnya terbuat dari  kayu nangi. Sebuah kayu lokal yang dulunya banyak ditemui di Sukadana. Namun kini, masjid ini telah mengalami beberapa renovasi dengan menambah serambi kiri, kanan dan depan dengan bangunan berbahan semen. Kendati demikian, di dalam masjid tersebut kekunaan yang dimilikinya masih terpancar dalam dua saka depan. Sedangkan, dua saka di belakangnya telah dilapisi semen sehingga kayunya tertutup.
Masjid ini dinamakan Masjid An Nur karena memang masjid ini didirikan oleh K.H. Muhammad Nur. Beliau adalah salah seorang pejuang dan penyiar agama Islam di Lampung. dan sekaligus merupakan pendiri pondok pesantren An Nur di Sukadana. *** [140113]

Share:

Pasar Gede Hardjonagoro

Pasar Gede Hardjonagoro terletak di Jalan Urip Sumohardjo, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, atau tepatnya berada di depan Balaikota Surakarta.
Lokasi Pasar Gede Hardjonagoro berada di kawasan Pecinan Kampung Ketandan. Pada waktu itu, uang kebersihan dan keamanan serta sewa kios tiap harinya masuk dan menjadi penghasilan salah seorang Kapten Cina. Lalu, kemudian pendapatan tersebut akhirnya masuk ke Pemerintah Kasunanan (kala itu masih disebut sebagai Nagari Surakarta). Kini, pendapatan tersebut masuk ke Pemerintah Kota Surakarta.


Pada tahun 1927, Pasar Gede Hardjonagoro direnovasi dengan biaya yang tidak sedikit, yaitu sekitar 300 ribu gulden, sehingga pasar ini menjadi pasar pertama yang berlantai dua di Indonesia. Pasar Gede Hardjonagoro diresmikan pada 12 Januari 1930. Pasar yang berada di kawasan Pecinan Ketandan ini dibangun oleh arsitek Belanda, Ir. Herman Thomas Karsten.
Di pasar tradisional ini, ratusan pedagang menjual sayur-sayuran, buah-buahan, daging dan ikan, sembako, dan berbagai kebutuhan sehari-hari masyarakat. Lauk-pauk siap saji, puluhan jenis jajan pasar, jamu dan rempah-rempahan bahan jamu, bahan-bahan kue dan roti, serta beragam minuman khas masyarakat Solo. Selain, juga menjadi sentra buah-buahan segar, pasar ini juga menyediakan ikan hias.
Berdasarkan sejarah yang dimiliki dan kekunaan bangunan, Pasar Gede Hardjonagoro ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor: 646/116/I/1997, dan tercatat sebagai Cagar Budaya No. 01-13/C/Jb/2012. *** [010113]

Kepustakaan:
  • R.M. Sajid, 1984, Babad Sala, Solo: Rekso Pustoko Mangkunegaran
  • Majalah Ontime Travelounge Edisi May 2010
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami