The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Daftar Bangunan Kuno di Kulon Progo

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Kulon Progo:

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kalimenur, Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Kedundang, Desa Kulur, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Rewulu, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Wates-Yogyakarta, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Share:

Daftar Bangunan Kuno di Sleman

Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Sleman:

Candi ini terletak di Dusun Candiabang, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Dawangsari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Desa Kalibening, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Jalan Jogja-Solo Km.16 Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Sumberwatu, Desa Sambirejo, dan Dusun Dawung, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dukuh Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini terletak di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Museum ini Jalan Jogja-Solo Km.16 Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Stasiun ini terletak di Jalan Raya Yogya – Solo Km 13, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Stasiun ini terletak di Dusun Patukan, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Share:

Koran Mataram

Koran berbahasa Belanda ini terbit di Yogyakarta sebelum Indonesia Merdeka, tepatnya pada 3 Mei 1940.


Share:

Masjid Gedhe Kauman

Masjid Gedhe Kauman juga dikenal sebagai Masjid Agung Yogyakarta atau Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai dengan prasasti yang tertempel di pagar halaman/plataran tertulis bahwa masjid ini merupakan Masjid Kagungan Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadininingrat. Hal ini menadakan bahwa sejarah keberadaan Masjid Gedhe Kauman tidak bisa dilepaskan Kraton Kasultanan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam dalam perundingan Giyanti pada tahun 1755. Masjid Gedhe Kauman berdiri 18 tahun kemudian setelah perjanjian Giyanti, atau tepatnya dibangun pada hari Ahad, 29 Mei 1773. Artinya, berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibarengi dengan dibangunnya ‘Masjid Agung’ untuk menegaskan kedudukannya sebagai ‘kerajaan Islam’. Sebagaimana layaknya pusat pemerintahan kerajaan Jawa, Kraton tersatukan dengan alun-alun, masjid, penjara dan pasar.


Letak masjid ini di sebelah barat alun-alun utara atau di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Pembangunan masjid ini semasa bertahtanya Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan arsiteknya yang bernama Kyai Wiryokusumo, lalu sebagai pengulu pertama Kraton diberi otoritas untuk membawahi masjid tersebut adalah Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat.
Keistimewaan masjid ini adalah menjadi salah satu masjid raya di Indonesia yang berumur lebih dari 200 tahun, menyimpan begitu banyak potensi sejarah di dalamnya. Gaya arsitekturalnya yang kental dengan nuansa Kraton menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan obyek wisata sejarah maupun budaya bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Seperti halnya masjid-masjid lain di Jawa, masjid ini beratap tumpang tiga dengan mustoko. Masjid ini berdenah bujur sangkar dengan luas 13.000 m², memiliki serambi, pawestren, serta kolam di tiga sisi masjid. Namun, beberapa keunikan yang dimiliki oleh masjid ini adalah mempunyai gapura dengan bentuk semar tinandu dan sepasang bangunan pagongan di halaman depan untuk tempat gamelan sekaten.
Pada tahun 1775, di lingkungan Masjid Gedhe Kauman dilengkapi dengan bangunan untuk keperluan pemerintahan dan diberi nama Al Mahkamah Al Kahiroh yang berarti Mahkamah Agung.
Wujud Masjid Gedhe Kauman yang sekarang ini berbeda dari bentuk aslinya ketika masjid ini dibangun. Perubahan terjadi pada serambi masjid misalnya, di mana kini sudah menjadi dua kali lipat lebih luas dan lebih megah dari wujud aslinya. Bahkan, serambi masjid ini masih lebih luas dibandingkan dengan ruang utama masjid. Renovasi pada serambi masjid dilakukan karena gempa yang terjadi pada tahun 1867 yang merobohkan serambi asli. Selain itu, lantai dasar masjid yang dulunya terbuat dari batu kali, sekarang telah diganti dengan marmer dari Italia.
Sedari awal, masjid ini merupakan masjid jami’ kerajaan yang berfungsi sebagai tempat beribadah, upacara keagamaan, pusat syiar agama, dan tempat penegakan tata hukum keagamaan.
Masjid Gedhe Kauman telah dijadikan cagar budaya nasional dengan Monumenten Ordonantie n. 238/1931. ***

Share:

Candi Abang

Candi Abang terletak di Dusun Candiabang, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentuk candi ini sudah tidak utuh lagi, dan tertutup oleh tanah dan rerumputan sehinggu nampak seperti bukit. Dari bukit ini, kita dapat memandang Kota Yogyakarta dan sekitarnya.



Candi yang mirip piramida ini terbuat dari batu bata merah, bukan terbuat dari batu andesit yang biasa untuk pembuatan candi di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Karena terbuat dari batu bata merah, maka candi ini lebih dikenal sebagai Candi Abang. Abang merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang bermakna merah.
Dari sejumlah temuan hasil ekskavasi pada tahun 2002, diperkirakan candi merupakan peninggalan Hindu, dan dibangun pada abad 9 dan 10 semasa Kerajaan Mataram Kuna.
Bentuk candi ini berdenah segi empat dengan ukuran 36 m x 34 m, yang sekarang ditumbuhi rerumputan sehingga dari kejauhan tampak seperti sebuah bukit kecil atau gundukan tanah. Ketika ditemukan untuk pertama kalinya, dalam candi terdapat arca dan yoni sebagai simbol Dewa Siwa berbentuk segidelapan, dengan sisi berukuran 15 cm.


Sekitar 100 m di bawah Candi Abang terdapat Situs Gua Sentono. Situs Gua Sentono diduga merupakan pertapaan Hindu karena di dinding gua terdapat gambar atau relief para dewa agama Hindu. Pada malam Jumat Kliwon, lokasi ini sering ramai dikunjungi oleh para peziarah yang gemar melakukan tirakat atau semedi. *** [061012]
Share:

Candi Gebang

Pada bulan November 1936 seorang penduduk desa sedang menggali tanah untuk mencari batu untuk bahan bangunan, tetapi cangkulnya justru menemukan sebuah arca batu yakni arca Ganesha.
Penemuan ini kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Purbakala dengan melakukan sejumlah ekskavasi arkeologis. Dari penggalian ini diketahui bahwa di lokasi temuan arca Ganesha tersebut ternyata terdapat sisa sebuah bangunan candi yang telah runtuh dan terpendam tanah.
Selain temuan berupa bangunan juga ditemukan sejumlah artefak-artefak lain. Di antaranya adalah wadah gerabah, kotak batu berlubang (peripih), lingga serta sejumlah arca dewa.
Candi Gebang merupakan candi bercorak Hindu. Bangunan ini memiliki ukuran 5,25 x 5,25 m dengan tinggi 7,75 m. Bangunan candi menghadap ke arah timur dengan satu bilik tanpa tangga masuk. Di dalam bilik tersebut terdapat sebuah yoni.


Di sisi kanan pintu masuk terdapat arca Nandiswara. Nandiswara adalah dewa penjaga arah mata angin. Ia sering dijumpai dengan Mahakala. Untuk arca Mahakala di Candi Gebang seharusnya berada di sisi kiri pintu masuk tetapi arca ini telah hilang semenjak candi ditemukan.
Secara administratif, Candi Gebang terletak di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau tepatnya berada di belakang Stadion Maguwoharjo hanya saja terhalang oleh sungai bila menuju candi tersebut dari arah stadion. Sedangkan secara astronomis, bangunan Candi Gebang berada pada 110° 24’ 53.62” BT dan 07° 45’ 04.01” LS.


Penamaan candi yang ditemukan pada tahun 1936 ini didasarkan pada lokasi candi itu berada, yakni di Desa Gebang. Penamaan sebuah candi selain dari keberadaannya, candi juga bisa dinamai berdasar legenda yang dikenal oleh masyarakat atau juga didasarkan pada penyebutan dari sebuah prasasti.
Pada saat pertama kali ditemukan, Candi Gebang dalam kondisi runtuh total hanya tersisa bagian kaki. Tampak jika Candi Gebang juga tertimbun endapan lahar Merapi. Di wilayah Yogyakarta cukup banyak ditemukan bangunan candi yang tertimbun oleh endapan vulkanik. Di antaranya Candi Kedulan, Candi Sambisari, Candi Kadisoka serta Candi Morangan.
Masa pendirian Candi Gebang belum bisa diketahui dengan pasti. Hanya berdasar ciri arsitekturnya, agaknya Candi Gebang didirikan dari periode yang tua yakni sekitar tahun ± 730 hingga 800 Masehi.
Ciri arsitektur tersebut tampak pada relief kepala manusia di bagian atap candi yang seolah-olah melongok dari sebuah jendela. Ciri semacam ini dinamakan dengan Kudu. Relief Kudu juga dijumpai pada Candi Bima di kompleks percandian Dieng.
Setelah selesai dipugar pada tahun 1940, terlihat bahwa sejumlah arca pengisi relung pada tubuh bangunan kosong yakni di relung candi sisi utara dan selatan. Hanya di sisi barat saja yang berisi arca Ganesha yang duduk di atas lapik berbentuk yoni. Ganesha merupakan dewa penghilang segala marabahaya.
Sebagai upaya pelestarian peninggalan sejarah dan budaya, maka di tahun 1937 hingga 1939 Candi Gebang dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala (Oudheid Dienst) yang dipimpin oleh Prof. DR. Van Romondt.
Saat ini kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya untuk turut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini. *** [071012]
Share:

Candi Sambisari

Candi Sambisasri terletak di Dukuh Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara astronomis terletak pada 07° 45’ 48.13” LS dan 110° 26’ 46.43” BT. Candi Sambisari pertama kali ditemukan pada bulan Juli 1966, yakni ketika seorang petani yang sedang mencangkul sawahnya, tiba-tiba terbentur mengenai sebuah bagian batu candi yang berukir. Setelah melalui penelitian ternyata temuan tanpa sengaja tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah gugusan candi yang terpendam hingga kedalaman 6,5 meter di dalam tanah yang merupakan endapan lahar vulkanik dari gunung Merapi.


Pada bulan September 1966 untuk pertama kalinya dilakukan kegiatan penelitian sistematis berupa ekskavasi arkeologis yang dilaksanakan oleh Kantor Cabang I Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional di Prambanan dengan dibantu oleh para mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tahun 1975 hingga 1977 berhasil menampakkan satu buah bangunan induk dan tiga buah candi perwara. Kondisi candi-candi tersebut sudah dalam keadaan runtuh kecuali pada bagian kaki, sebagian pagar langkan dan sebagian bagian tubuh masih dalam kondisi aslinya.


Candi Sambisari merupakan candi Hindu yang dibangun sekitar abad 9 Masehi. Kemudian bangunan ini menghilang tertimbun endapan lahar Merapi. Di tahun 1986 pemugaran Candi Sambisari telah usai.
Candi Sambisari merupakan kelompok percandian yang terdiri dari sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara di depannya. Candi induk menghadap ke arah barat dengan denah berbentuk bujursangkar berukuran 13,65 x 13,65 m dengan tinggi 7,5 m. Hal menarik dari candi induk adalah dijumpainya batu-batu pipih semacam umpak di sepanjang selasarnya. Batu-batu tersebut mempunyai tonjolan berbentuk bulan dan persegi. Pada sisi luar tubuh candi induk terdapat relung-relung yang ditempati oleh beberapa arca yakni arca Durga (sisi utara), arca Ganesha (sisi timur), dan arca Agastya (sisi selatan). Untuk dua buah arca di pintu masuk yakni Mahakala dan Nandiswara telah hilang dicuri pada tahun 1971.
Di depan candi induk terdapat 3 buah candi perwara yang berukuran 4,8 x 4,8 m (perwara sisi utara dan selatan), dan 4,9 x 4,8 m (perwara tengah). Secara keseluruhan kompleks Candi Sambisari dikelilingi oleh pagar berukuran 50 x 48 m.
Pada tahun 1976 ditemukan prasasti emas di bawah salah satu umpak di candi induk. Prasasti tersebut berukuran 2 x 1 cm yang bertuliskan om siwasthana yang artinya ‘hormat, rumah bagi dewa Siwa’. Di halaman candi juga ditemukan arca perunggu berukuran tinggi 29 cm dan lebar 12 cm. Arca ini adalah arca Vajrapani, yakni salah seorang Bodhisattva. Selain itu, juga ditemukan sejumlah talam dan cawan perunggu serja sejumlah gerabah. *** [061012]
Share:

Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg terletak di Kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, atau tepatnya berada di Jalan Jend. A, Yani No. 6 Yogyakarta. Benteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan Belanda yang pada masa itu Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa dipimpin oleh Nicolaas Harting. Adapun maksud bangunan benteng dibangun dengan dalih untuk menjaga keamanan Kraton Yogyakarta dan sekitarnya, akan tetapi dibalik itu maksud Belanda yang sesungguhnya adalah memudahkan dan mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam Kraton.



Benteng pertama kali dibangun keadaannya masih sangat sederhana, yang mana temboknya hanya dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren, dan bangunan di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap hanya ilalang, dibangun dengan bentuk bujursangkar, yang keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Oleh Sultan, ke empat sudut itu diberi nama Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat daya), dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).



Kemudian pada masa selanjutnya Gubernur Belanda yang dipimpin oleh W.H. Van Ossenberg mengusulkan agar benteng dibangun lebih permanen agar lebih menjamin keamanan. Kemudian tahun 1767 pembangunan benteng mulai dilaksanakan di bawah pengawasan seorang ahli ilmu bangunan dari Belanda yang bernama Ir. Frans Haak dan pembangunan baru selesai tahun 1787, hal ini dikarenakan Sultan HB I baru disibukkan dengan pembangunan Kraton. Setelah pembangunan benteng selesai kemudian diberi nama "Rustenburg", yang berarti benteng peristirahatan. Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga mengakibatkan rusaknya sebagian bangunan benteng. Setelah diadakan perbaikan, nama benteng dirubah menjadi "Vredeburg" (benteng perdamaian). Hal ini sebagai manifestasi hubungan antara Belanda dan Kraton yang tidak saling menyerang. *** [061012}
Share:

Museum Sonobudoyo

Museum Sonobudoyo terletak di Jalan Trikora No. 6 Yogyakarta, atau tepatnya berada di kawasan Alun-Alun Utara sebelah utara.
Museum ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) VIII pada 9 Ruwah 1866 Tahun Jawa (6 November 1935) dengan sengkalan Kayu Winayangan ing Brahmana Budha yang terpasang di dekat pintu masuk. Bangunan museum ini, dulunya adalah bekas kantor Schauten.



Museum Sonobudoyo sebagai rumah budaya didirikan dengan susah payah di tengah upaya menciptakan kesadaran akan arti pentingnya makna budaya bagi kehidupan manusia. Rumah budaya ini diharapkan mampun menjadi cermin dalam menembus ruang dari waktu berbagai sisi kehidupan, dari fase prasejarah (sebelum manusia mengenal tulisan) hingga fase sejarah (ketika nenek moyang menciptakan peradaban).
Museum ini memiliki beberapa ruang pamer koleksi, yaitu: ruangan prasejarah (prehistory room), ruangan klasik dan peninggalan Islam (classic room and Islamic heritage) maupun ruangan lainnya. Ruang prasejarah menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu, meliputi berburu, mengumpulkan dan meramu makanan. Pada tingkat selanjutnya, manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara-upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan terhadap nenek moyang, penguburan serta kesuburan). Sedangkan, ruangan klasik menyajikan situs periode klasik. Secara umum, periode masa klasik berlangsung kira-kira abad 4 M hingga abad 15 M. Pada masa itu, pengaruh Hindu dan Buddha sangat kuat (terutama di kalangan kerajaan).
Selain ruang pamer untuk koleksi yang dimiliki, museum ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum lainnya, seperti perpustakaan, ruang laboratorium maupun auditorium.



Museum ini mudah dijangkau karena terletak di daerah yang strategis, yaitu berada di kawasan nol kilometer Yogyakarta. Kawasan nol kilometer Yogyakarta merupakan titik kearifan bagi masyarakat Yogyakarta. Belahan kawasan ini dikepung oleh magnet simbol-simbol tradisi yang begitu kuat, seperti Kraton Yogyakarta, Masjid Gedhe Kauaman, Benteng Vredeburg, Gedong Agung maupun sejumlah bangunan kuno bersejarah lainnya. Magnet simbol-simbol inilah yang sekaligus merupakan daya tarik wisata Yogyakarta. *** [061012]
Share:

Candi Risan

Di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selain ditemukan hasil budaya masa prasejarah juga ditemukan hasil budaya masa klasik. Hasil budaya yang termasuk dalam masa klasik ini berasal dari abad 6 – 10 Masehi. Hasil budaya masa klasik yang ditemukan di Kabupaten Gunung Kidul di antaranya Candi Risan di Kecamatan Semin dan Candi Plembutan di Kecamatan Playen.


Candi Risan terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, berada di koordinat ± 49 UTM X: 4644650, UTM Y: 9138820.
Candi masa klasik ini terdiri atas 2 buah bangunan candi yang berderet dari utara ke selatan dengan arah hadap ke barat. Hal ini diindikasikan dengan adanya penemuan trap tangga naik menuju candi. Candi utara berukuran 13 x 13 m; sedangkan candi selatan berukuran 11,5 x 11,5 m. Kedua bangunan candi ini terbuat dari batu putih.


Latar belakang agama di Candi Risan adalah Buddha. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca Awalokiteswara dan beberapa bangunan yang bercorak agama Buddha.
Arca Awalokiteswara merupakan emanasi (pancaran) Amitabha (Buddha yang menempati arah mata angin sebelah barat. Mudranya adalah Dhyani Mudra dan lambangnya adalah bunga teratai merah atau padma). Oleh karenanya, arca Dhyani Buddha Amitabha selalu terlihat pada mahkotanya.
Secara keseluruhan bentuk asli Candi Risan sudah tidak terlihat. Hal ini dikarenakan bangunan candi sudah teraduk pada bagian bawah. Selain itu, juga karena batunya yang terbuat dari batu putih yang mudah rusak oleh faktor cuaca, serta kondisi tanah yang mudah longsor. *** [051012]
Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami