-
Istana Ali Marhum Kantor
Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)
-
Gudang Mesiu Pulau Penyengat
Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
-
Benteng Bukit Kursi
Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
-
Kompleks Makam Raja Abdurrahman
Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
-
Mesjid Raya Sultan Riau
Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Daftar Bangunan Kuno di Kulon Progo
Budiarto Eko KusumoSabtu, Maret 07, 2020Kulon Progo, Lijst van Kulon Progo Heritage, List of Kulon Progo Heritage, Sejarah Bangunan Kuno di Kulon Progo, Yogyakarta
Tidak ada komentar
Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Kulon Progo:
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Kalimenur, Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Stasiun ini terletak di Jalan Kedundang, Desa Kulur, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun Rewulu, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Wates-Yogyakarta, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Daftar Bangunan Kuno di Sleman
Budiarto Eko KusumoSabtu, Maret 07, 2020Lijst met erfgoed Sleman, List of Sleman Heritage, Sejarah Bangunan Kuno di Sleman, Yogyakarta
Tidak ada komentar
Berikut ini adalah daftar dari bangunan kuno atau peninggalan sejarah lainnya yang terdapat di Sleman:
Candi ini terletak di Dusun Candiabang, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Dawangsari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Desa Kalibening, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Jalan Jogja-Solo Km.16 Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Sumberwatu, Desa Sambirejo, dan Dusun Dawung, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dukuh Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi ini terletak di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Museum ini Jalan Jogja-Solo Km.16 Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Stasiun ini terletak di Jalan Raya Yogya – Solo Km 13, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Stasiun ini terletak di Dusun Patukan, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Masjid Gedhe Kauman
Budiarto Eko KusumoSabtu, Oktober 20, 2012Indonesia, Masjid Agung Yogyakarta, Sejarah Masjid Agung Yogyakarta, Yogyakarta, Yogyakarta Great Mosque
Tidak ada komentar
Masjid
Gedhe Kauman juga dikenal sebagai Masjid Agung Yogyakarta atau Masjid Raya
Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai dengan prasasti yang tertempel di pagar
halaman/plataran tertulis bahwa masjid ini merupakan Masjid Kagungan Dalem Kraton
Ngayogyakarta Hadininingrat. Hal ini menadakan bahwa sejarah keberadaan Masjid
Gedhe Kauman tidak bisa dilepaskan Kraton Kasultanan Yogyakarta sebagai
kerajaan Islam dalam perundingan Giyanti pada tahun 1755. Masjid Gedhe Kauman
berdiri 18 tahun kemudian setelah perjanjian Giyanti, atau tepatnya dibangun
pada hari Ahad, 29 Mei 1773. Artinya, berdirinya Kraton Ngayogyakarta
Hadiningrat dibarengi dengan dibangunnya ‘Masjid Agung’ untuk menegaskan
kedudukannya sebagai ‘kerajaan Islam’. Sebagaimana layaknya pusat pemerintahan
kerajaan Jawa, Kraton tersatukan dengan alun-alun, masjid, penjara dan pasar.
Letak masjid ini di sebelah barat alun-alun utara atau di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Pembangunan masjid ini semasa bertahtanya Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan arsiteknya yang bernama Kyai Wiryokusumo, lalu sebagai pengulu pertama Kraton diberi otoritas untuk membawahi masjid tersebut adalah Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat.
Keistimewaan
masjid ini adalah menjadi salah satu masjid raya di Indonesia yang berumur
lebih dari 200 tahun, menyimpan begitu banyak potensi sejarah di dalamnya. Gaya
arsitekturalnya yang kental dengan nuansa Kraton menjadi daya tarik tersendiri
untuk dijadikan obyek wisata sejarah maupun budaya bagi wisatawan domestik
maupun mancanegara.
Seperti
halnya masjid-masjid lain di Jawa, masjid ini beratap tumpang tiga dengan mustoko. Masjid ini berdenah bujur
sangkar dengan luas 13.000 m², memiliki serambi, pawestren, serta kolam di tiga sisi masjid. Namun, beberapa
keunikan yang dimiliki oleh masjid ini adalah mempunyai gapura dengan bentuk
semar tinandu dan sepasang bangunan pagongan di halaman depan untuk tempat
gamelan sekaten.
Pada
tahun 1775, di lingkungan Masjid Gedhe Kauman dilengkapi dengan bangunan untuk
keperluan pemerintahan dan diberi nama Al Mahkamah Al Kahiroh yang berarti
Mahkamah Agung.
Wujud
Masjid Gedhe Kauman yang sekarang ini berbeda dari bentuk aslinya ketika masjid
ini dibangun. Perubahan terjadi pada serambi masjid misalnya, di mana kini
sudah menjadi dua kali lipat lebih luas dan lebih megah dari wujud aslinya.
Bahkan, serambi masjid ini masih lebih luas dibandingkan dengan ruang utama
masjid. Renovasi pada serambi masjid dilakukan karena gempa yang terjadi pada
tahun 1867 yang merobohkan serambi asli. Selain itu, lantai dasar masjid yang
dulunya terbuat dari batu kali, sekarang telah diganti dengan marmer dari
Italia.
Sedari
awal, masjid ini merupakan masjid jami’ kerajaan yang berfungsi sebagai tempat
beribadah, upacara keagamaan, pusat syiar agama, dan tempat penegakan tata hukum
keagamaan.
Masjid
Gedhe Kauman telah dijadikan cagar budaya nasional dengan Monumenten Ordonantie n. 238/1931. ***
Candi Abang
Budiarto Eko KusumoSabtu, Oktober 20, 2012Archeology, archeotourism, Candi Abang, Indonesia, kekunaan, Red Temple, Sleman Heritage, Yogyakarta
1 komentar
Candi
Abang terletak di Dusun Candiabang, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten
Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentuk candi ini sudah tidak utuh
lagi, dan tertutup oleh tanah dan rerumputan sehinggu nampak seperti bukit. Dari
bukit ini, kita dapat memandang Kota Yogyakarta dan sekitarnya.
Candi yang mirip piramida ini terbuat dari batu bata merah, bukan terbuat dari batu andesit yang biasa untuk pembuatan candi di Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Karena terbuat dari batu bata merah, maka candi ini lebih dikenal sebagai Candi Abang. Abang merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang bermakna merah.
Dari
sejumlah temuan hasil ekskavasi pada tahun 2002, diperkirakan candi merupakan
peninggalan Hindu, dan dibangun pada abad 9 dan 10 semasa Kerajaan Mataram
Kuna.
Bentuk
candi ini berdenah segi empat dengan ukuran 36 m x 34 m, yang sekarang
ditumbuhi rerumputan sehingga dari kejauhan tampak seperti sebuah bukit kecil
atau gundukan tanah. Ketika ditemukan untuk pertama kalinya, dalam candi
terdapat arca dan yoni sebagai simbol Dewa Siwa berbentuk segidelapan, dengan
sisi berukuran 15 cm.
Sekitar 100 m di bawah Candi Abang terdapat Situs Gua Sentono. Situs Gua Sentono diduga merupakan pertapaan Hindu karena di dinding gua terdapat gambar atau relief para dewa agama Hindu. Pada malam Jumat Kliwon, lokasi ini sering ramai dikunjungi oleh para peziarah yang gemar melakukan tirakat atau semedi. *** [061012]
Candi Gebang
Budiarto Eko KusumoRabu, Oktober 10, 2012Archeology, archeotourism, Candi Gebang, Gebang Temple, Indonesia, kekunaan, Sleman, Sleman Heritage, Yogyakarta
Tidak ada komentar
Pada
bulan November 1936 seorang penduduk desa sedang menggali tanah untuk mencari
batu untuk bahan bangunan, tetapi cangkulnya justru menemukan sebuah arca batu
yakni arca Ganesha.
Penemuan
ini kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Purbakala dengan melakukan sejumlah
ekskavasi arkeologis. Dari penggalian ini diketahui bahwa di lokasi temuan arca
Ganesha tersebut ternyata terdapat sisa sebuah bangunan candi yang telah runtuh
dan terpendam tanah.
Selain
temuan berupa bangunan juga ditemukan sejumlah artefak-artefak lain. Di
antaranya adalah wadah gerabah, kotak batu berlubang (peripih), lingga serta sejumlah arca dewa.
Candi
Gebang merupakan candi bercorak Hindu. Bangunan ini memiliki ukuran 5,25 x 5,25
m dengan tinggi 7,75 m. Bangunan candi menghadap ke arah timur dengan satu
bilik tanpa tangga masuk. Di dalam bilik tersebut terdapat sebuah yoni.
Di sisi kanan pintu masuk terdapat arca Nandiswara. Nandiswara adalah dewa penjaga arah mata angin. Ia sering dijumpai dengan Mahakala. Untuk arca Mahakala di Candi Gebang seharusnya berada di sisi kiri pintu masuk tetapi arca ini telah hilang semenjak candi ditemukan.
Secara
administratif, Candi Gebang terletak di Dusun Gebang, Desa Wedomartani,
Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau
tepatnya berada di belakang Stadion Maguwoharjo hanya saja terhalang oleh
sungai bila menuju candi tersebut dari arah stadion. Sedangkan secara
astronomis, bangunan Candi Gebang berada pada 110° 24’ 53.62” BT dan 07° 45’
04.01” LS.
Penamaan candi yang ditemukan pada tahun 1936 ini didasarkan pada lokasi candi itu berada, yakni di Desa Gebang. Penamaan sebuah candi selain dari keberadaannya, candi juga bisa dinamai berdasar legenda yang dikenal oleh masyarakat atau juga didasarkan pada penyebutan dari sebuah prasasti.
Pada
saat pertama kali ditemukan, Candi Gebang dalam kondisi runtuh total hanya
tersisa bagian kaki. Tampak jika Candi Gebang juga tertimbun endapan lahar
Merapi. Di wilayah Yogyakarta cukup banyak ditemukan bangunan candi yang
tertimbun oleh endapan vulkanik. Di antaranya Candi Kedulan, Candi Sambisari,
Candi Kadisoka serta Candi Morangan.
Masa
pendirian Candi Gebang belum bisa diketahui dengan pasti. Hanya berdasar ciri
arsitekturnya, agaknya Candi Gebang didirikan dari periode yang tua yakni
sekitar tahun ± 730 hingga 800 Masehi.
Ciri
arsitektur tersebut tampak pada relief kepala manusia di bagian atap candi yang
seolah-olah melongok dari sebuah jendela. Ciri semacam ini dinamakan dengan
Kudu. Relief Kudu juga dijumpai pada Candi Bima di kompleks percandian Dieng.
Setelah
selesai dipugar pada tahun 1940, terlihat bahwa sejumlah arca pengisi relung
pada tubuh bangunan kosong yakni di relung candi sisi utara dan selatan. Hanya
di sisi barat saja yang berisi arca Ganesha yang duduk di atas lapik berbentuk
yoni. Ganesha merupakan dewa penghilang segala marabahaya.
Sebagai
upaya pelestarian peninggalan sejarah dan budaya, maka di tahun 1937 hingga
1939 Candi Gebang dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala (Oudheid Dienst) yang dipimpin oleh Prof.
DR. Van Romondt.
Saat ini kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya untuk turut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini. *** [071012]
Candi Sambisari
Budiarto Eko KusumoRabu, Oktober 10, 2012Archeology, archeotourism, Candi Sambisari, Indonesia, kekunaan, Sambisari Temple, Sleman, Sleman Heritage, Yogyakarta
1 komentar
Candi
Sambisasri terletak di Dukuh Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan
Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara
astronomis terletak pada 07° 45’ 48.13” LS dan 110° 26’ 46.43” BT. Candi
Sambisari pertama kali ditemukan pada bulan Juli 1966, yakni ketika seorang
petani yang sedang mencangkul sawahnya, tiba-tiba terbentur mengenai sebuah
bagian batu candi yang berukir. Setelah melalui penelitian ternyata temuan
tanpa sengaja tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah gugusan candi yang
terpendam hingga kedalaman 6,5 meter di dalam tanah yang merupakan endapan
lahar vulkanik dari gunung Merapi.
Pada bulan September 1966 untuk pertama kalinya dilakukan kegiatan penelitian sistematis berupa ekskavasi arkeologis yang dilaksanakan oleh Kantor Cabang I Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional di Prambanan dengan dibantu oleh para mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tahun 1975 hingga 1977 berhasil menampakkan satu buah bangunan induk dan tiga buah candi perwara. Kondisi candi-candi tersebut sudah dalam keadaan runtuh kecuali pada bagian kaki, sebagian pagar langkan dan sebagian bagian tubuh masih dalam kondisi aslinya.
Candi Sambisari merupakan candi Hindu yang dibangun sekitar abad 9 Masehi. Kemudian bangunan ini menghilang tertimbun endapan lahar Merapi. Di tahun 1986 pemugaran Candi Sambisari telah usai.
Candi
Sambisari merupakan kelompok percandian yang terdiri dari sebuah candi induk
dan tiga buah candi perwara di depannya. Candi induk menghadap ke arah barat
dengan denah berbentuk bujursangkar berukuran 13,65 x 13,65 m dengan tinggi 7,5
m. Hal menarik dari candi induk adalah dijumpainya batu-batu pipih semacam
umpak di sepanjang selasarnya. Batu-batu tersebut mempunyai tonjolan berbentuk
bulan dan persegi. Pada sisi luar tubuh candi induk terdapat relung-relung yang
ditempati oleh beberapa arca yakni arca Durga (sisi utara), arca Ganesha (sisi
timur), dan arca Agastya (sisi selatan). Untuk dua buah arca di pintu masuk yakni
Mahakala dan Nandiswara telah hilang dicuri pada tahun 1971.
Di
depan candi induk terdapat 3 buah candi perwara yang berukuran 4,8 x 4,8 m
(perwara sisi utara dan selatan), dan 4,9 x 4,8 m (perwara tengah). Secara
keseluruhan kompleks Candi Sambisari dikelilingi oleh pagar berukuran 50 x 48 m.
Pada tahun 1976 ditemukan prasasti emas di bawah salah satu umpak di candi induk. Prasasti tersebut berukuran 2 x 1 cm yang bertuliskan om siwasthana yang artinya ‘hormat, rumah bagi dewa Siwa’. Di halaman candi juga ditemukan arca perunggu berukuran tinggi 29 cm dan lebar 12 cm. Arca ini adalah arca Vajrapani, yakni salah seorang Bodhisattva. Selain itu, juga ditemukan sejumlah talam dan cawan perunggu serja sejumlah gerabah. *** [061012]
Pada tahun 1976 ditemukan prasasti emas di bawah salah satu umpak di candi induk. Prasasti tersebut berukuran 2 x 1 cm yang bertuliskan om siwasthana yang artinya ‘hormat, rumah bagi dewa Siwa’. Di halaman candi juga ditemukan arca perunggu berukuran tinggi 29 cm dan lebar 12 cm. Arca ini adalah arca Vajrapani, yakni salah seorang Bodhisattva. Selain itu, juga ditemukan sejumlah talam dan cawan perunggu serja sejumlah gerabah. *** [061012]
Benteng Vredeburg
Budiarto Eko KusumoRabu, Oktober 10, 2012Benda Cagar Budaya, Benteng Vredeburg, Cultural Conservation, Vredeburg Fort, Yogyakarta
Tidak ada komentar
Benteng Vredeburg terletak di Kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, atau tepatnya berada di Jalan Jend. A, Yani No. 6 Yogyakarta. Benteng
ini pertama kali dibangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I
atas permintaan Belanda yang pada masa itu Gubernur dari Direktur Pantai Utara
Jawa dipimpin oleh Nicolaas Harting. Adapun maksud bangunan benteng dibangun
dengan dalih untuk menjaga keamanan Kraton Yogyakarta dan sekitarnya, akan
tetapi dibalik itu maksud Belanda yang sesungguhnya adalah memudahkan dan
mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam Kraton.
Benteng
pertama kali dibangun keadaannya masih sangat sederhana, yang mana temboknya
hanya dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon
kelapa dan aren, dan bangunan di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan
atap hanya ilalang, dibangun dengan bentuk bujursangkar, yang keempat sudutnya
dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka
atau bastion. Oleh Sultan, ke empat
sudut itu diberi nama Jaya Wisesa
(sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut
timur laut), Jaya Prakosaningprang
(sudut barat daya), dan Jaya Prayitna
(sudut tenggara).
Kemudian pada masa selanjutnya Gubernur Belanda yang dipimpin oleh W.H. Van Ossenberg mengusulkan agar benteng dibangun lebih permanen agar lebih menjamin keamanan. Kemudian tahun 1767 pembangunan benteng mulai dilaksanakan di bawah pengawasan seorang ahli ilmu bangunan dari Belanda yang bernama Ir. Frans Haak dan pembangunan baru selesai tahun 1787, hal ini dikarenakan Sultan HB I baru disibukkan dengan pembangunan Kraton. Setelah pembangunan benteng selesai kemudian diberi nama "Rustenburg", yang berarti benteng peristirahatan. Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga mengakibatkan rusaknya sebagian bangunan benteng. Setelah diadakan perbaikan, nama benteng dirubah menjadi "Vredeburg" (benteng perdamaian). Hal ini sebagai manifestasi hubungan antara Belanda dan Kraton yang tidak saling menyerang. *** [061012}
Museum Sonobudoyo
Budiarto Eko KusumoRabu, Oktober 10, 2012Cultural Conservation, Indonesia, Jogja Heritage, kekunaan, Museum Sonobudoyo, Sonobudoyo Museum, Yogyakarta
Tidak ada komentar
Museum
Sonobudoyo terletak di Jalan Trikora No. 6 Yogyakarta, atau tepatnya berada di
kawasan Alun-Alun Utara sebelah utara.
Museum
ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) VIII pada 9 Ruwah 1866 Tahun
Jawa (6 November 1935) dengan sengkalan Kayu
Winayangan ing Brahmana Budha yang terpasang di dekat pintu masuk. Bangunan
museum ini, dulunya adalah bekas kantor Schauten.
Museum
Sonobudoyo sebagai rumah budaya didirikan dengan susah payah di tengah upaya
menciptakan kesadaran akan arti pentingnya makna budaya bagi kehidupan manusia.
Rumah budaya ini diharapkan mampun menjadi cermin dalam menembus ruang dari
waktu berbagai sisi kehidupan, dari fase prasejarah (sebelum manusia mengenal
tulisan) hingga fase sejarah (ketika nenek moyang menciptakan peradaban).
Museum
ini memiliki beberapa ruang pamer koleksi, yaitu: ruangan prasejarah (prehistory room), ruangan klasik dan
peninggalan Islam (classic room and
Islamic heritage) maupun ruangan lainnya. Ruang prasejarah menyajikan
benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia
pada masa itu, meliputi berburu, mengumpulkan dan meramu makanan. Pada tingkat
selanjutnya, manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan
upacara-upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan terhadap nenek
moyang, penguburan serta kesuburan). Sedangkan, ruangan klasik menyajikan situs
periode klasik. Secara umum, periode masa klasik berlangsung kira-kira abad 4 M
hingga abad 15 M. Pada masa itu, pengaruh Hindu dan Buddha sangat kuat
(terutama di kalangan kerajaan).
Selain
ruang pamer untuk koleksi yang dimiliki, museum ini juga dilengkapi dengan
fasilitas umum lainnya, seperti perpustakaan, ruang laboratorium maupun
auditorium.
Museum
ini mudah dijangkau karena terletak di daerah yang strategis, yaitu berada di
kawasan nol kilometer Yogyakarta. Kawasan nol kilometer Yogyakarta merupakan
titik kearifan bagi masyarakat Yogyakarta. Belahan kawasan ini dikepung oleh
magnet simbol-simbol tradisi yang begitu kuat, seperti Kraton Yogyakarta,
Masjid Gedhe Kauaman, Benteng Vredeburg, Gedong Agung maupun sejumlah bangunan
kuno bersejarah lainnya. Magnet simbol-simbol inilah yang sekaligus merupakan
daya tarik wisata Yogyakarta. *** [061012]
Candi Risan
Budiarto Eko KusumoRabu, Oktober 10, 2012Archeology, Candi Risan, Gunung Kidul, Gunung Kidul Heritage, Indonesia, kekunaan, Risan Temple, Semin, Yogyakarta
1 komentar
Di
Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selain ditemukan hasil
budaya masa prasejarah juga ditemukan hasil budaya masa klasik. Hasil budaya
yang termasuk dalam masa klasik ini berasal dari abad 6 – 10 Masehi. Hasil
budaya masa klasik yang ditemukan di Kabupaten Gunung Kidul di antaranya Candi
Risan di Kecamatan Semin dan Candi Plembutan di Kecamatan Playen.
Candi Risan terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, berada di koordinat ± 49 UTM X: 4644650, UTM Y: 9138820.
Candi
masa klasik ini terdiri atas 2 buah bangunan candi yang berderet dari utara ke
selatan dengan arah hadap ke barat. Hal ini diindikasikan dengan adanya
penemuan trap tangga naik menuju candi. Candi utara berukuran 13 x 13 m;
sedangkan candi selatan berukuran 11,5 x 11,5 m. Kedua bangunan candi ini
terbuat dari batu putih.
Latar belakang agama di Candi Risan adalah Buddha. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca Awalokiteswara dan beberapa bangunan yang bercorak agama Buddha.
Arca
Awalokiteswara merupakan emanasi (pancaran) Amitabha
(Buddha yang menempati arah mata angin sebelah barat. Mudranya adalah Dhyani
Mudra dan lambangnya adalah bunga teratai merah atau padma). Oleh karenanya, arca Dhyani Buddha Amitabha selalu terlihat
pada mahkotanya.
Secara keseluruhan bentuk asli Candi Risan sudah tidak terlihat. Hal ini dikarenakan bangunan candi sudah teraduk pada bagian bawah. Selain itu, juga karena batunya yang terbuat dari batu putih yang mudah rusak oleh faktor cuaca, serta kondisi tanah yang mudah longsor. *** [051012]
Secara keseluruhan bentuk asli Candi Risan sudah tidak terlihat. Hal ini dikarenakan bangunan candi sudah teraduk pada bagian bawah. Selain itu, juga karena batunya yang terbuat dari batu putih yang mudah rusak oleh faktor cuaca, serta kondisi tanah yang mudah longsor. *** [051012]









