Sabtu, 01 Juli 2017

Stasiun Kereta Api Kedundang

Stasiun Kereta Api Kedundang (KDG) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Kedundang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 11 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api kelas III. Stasiun ini terletak di Jalan Kedundang, Desa Kulur, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi stasiun ini berjarak sekitar 750 m dari Masjid Hashinul Muttaqien Kedundang.
Bangunan Stasiun Kedundang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Yogyakarta-Maos yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1877 sebagai lanjutan dari proyek jalur Solobalapan-Yogyakarta. Jalur sepanjang 155 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Yogyakarta di sebelah timur menuju ke Maos di sebelah barat.
Dulu, Stasiun Kedundang ini bersama dengan Stasiun Kalimenur pernah menjadi dua stasiun terbesar di Kabupaten Kulon Progo. Stasiun Wates dan Stasiun Sentolo masih kalah besar dan kalah ramai dibandingkan dengan kedua stasiun ini.
Di Stasiun Kedundang ini, dulunya juga pernah digunakan sebagai stasiun untuk pengiriman logistic bagi para pejuang di Yogyakarta dan Purworejo. Para penumpang waktu itu membawa hasil kebun atau hasil pertanian, seperti beras, kelapa, pisang, sayur, jagung dan ayam.
Dilihat sepintas, bangunan Stasiun Kedundang ini memiliki kemiripan dengan Stasiun Solo Kota (di Solo) Stasiun Sukoharjo dan Stasiun Wojo dengan kekhasan berupa ventilasi bulat dengan terali besi kotak-kotak.
Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, menuju ke Stasiun Wojo ke arah barat dan menuju ke Stasiun Wates ke arah timur. Stasiun ini telah di non-aktifkan pada tanggal 21 Juli 2007 dengan alasan untuk efisiensi setelah dibukanya jalur ganda lintas Yogyakarta-Kutoarjo. Hal ini dikarenakan sejak awalnya stasiun ini memang berfungsi sebagai stasiun persilangan antarkereta api ketika masih menggunakan jalur rel tunggal.
Namun terbersit kabar bahwa stasiun ini akan diaktifkan lagi sebagai sebagai stasiun sub penghubung menuju bandara baru yang berada di Temon. Sehingga, diharapkan stasiun ini akan beraktivitas kembali dan tentunya bangunan bersejarah ini harus tetap dilestarikan. *** [010717]

0 komentar:

Posting Komentar