The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stasiun di Solo. Tampilkan semua postingan

Stasiun Kereta Api di Solo

Berikut ini adalah stasiun yang masih menunjukkan arsitektur lawas di Solo. Stasiun-stasiun ini diurutkan dari arah barat, timur dan ke tenggara:

Stasiun ini terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502 RT.04 RW.02 Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun Kereta Api Solo Balapan
Stasiun ini terletak di Wolter Monginsidi No. 112 Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Ledoksari No. 1 Kelurahan Purwadiningratan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah

Stasiun ini terletak di Jalan Sungai Sambas RT.03 RW.01 Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah
Share:

Stasiun Kereta Api Solo Kota

Stasiun Kereta Api Solo Kota merupakan salah stasiun kereta api yang berada di Kota Solo. Stasiun ini berada pada ketinggian + 89 meter di atas permukaan laut dan masuk dalam wewenang Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta.
Stasiun yang memiliki kode STA ini biasa dikenal dengan Stasiun Solo Kota saja. Bahkan sebagian masyarakat Solo ada yang menyebutnya dengan Stasiun Sangkrah, karena stasiun ini terletak di Jalan Sungai Sambas RT.03 RW.01 Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sangkrah.
Stasiun Solo Kota dibangun oleh perusahaan kereta api milik swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg Matschappij (NISM) pada tahun 1922 setelah jalur kereta api Solo-Wonogiri diselesaikan. Stasiun ini merupakan pintu masuk kereta api ke Kota Solo dari arah selatan menuju Stasiun Purwosari.


Dulu, stasiun ini memegang peran yang penting dalam sejarah transportasi di Kota Solo. Susuhunan Paku Buwono X, raja yang kaya dan mahsyur dari Kraton Kasunanan Surakarta, sering menggunakan stasiun ini di saat mau bepergian ke Pengging, Pesanggrahan Pracimoharjo maupun ke daerah lain yang terjangkau dengan jalur rel kereta api, seperti Surabaya maupun Jakarta. Memang pada waktu itu, yang bisa naik kereta api  masih terbatas kalangan ningrat yang memegang jabatan, orang-orang Belanda, maupun pengusaha dari kalangan Tionghoa maupun Arab.
Pada saat Stasiun Solo Kota didirikan, wilayah eks-Karesidenan Surakarta merupakan pusat pertumbuhan industri sekaligus sebagai pusat perdagangan kaum bumiputera. Banyak komoditas hasil bumi yang dibawa dari Baturetno maupun Wonogiri menuju Solo singgah di stasiun ini sebelum dilanjutkan ke Stasiun Purwosari.
Seiring perkembangan zaman, transportasi tidak berkutat pada pengangkutan komoditas hasil bumi saja namun juga digunakan transportasi manusia (penumpang). Stasiun Solo Kota menghubungkan tiga daerah, yaitu Solo, Sukoharjo, dan Wonogiri hingga Baturetno pada waktu itu dengan jarak tempuh sekitar 80-an kilometer. Akan tetapi, setelah dibangun Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, jalur rel kereta api dari Wonogiri-Baturetno terpaksa ditiadakan karena terendam oleh waduk tersebut. Sehingga pada akhirnya, jalur rel yang masih tersisa hanyalah dari Wonogiri menuju Solo saja dengan jarak tempuh sekitar 39 kilometer.


Pada jarak tempuh itu, hanya terdapat satu kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu kereta api feeder Wonogiri. Setelah lepas dari Stasiun Purwosari, kereta api tersebut hanya singgah di Stasiun Solo Kota, Sukoharjo, Pasar Nguter, dan Wonogiri. Berangkat dari Stasiun Purwosari biasanya pagi, kemudian dari Stasiun Wonogiri menuju Stasiun Purwosari sore hari. Jadi, trayek kereta feeder tersebut dalam sehari adalah sekali menuju Wonogiri dan sekali pulang dari Wonogiri. Kereta api feeder ini sekarang sudah tidak aktif lagi. Terbersit khabar bahwa kereta api feeder tersebut akan digantikan oleh rail bus Bathara Kresna. Rail bus ini pernah diuji coba melalui jalur tersebut namun lantaran biaya ticket yang lumayan tinggi untuk ukuran jarak tempuh, rail bus ini untuk sementara berhenti dan dilakukan kaji ulang.
Di tengah ketidakpastian beroperasinya rail bus Bathara Kresna, stasiun ini melayani kereta uap Jaladara atau yang biasa disebut dengan Sepur Kluthuk Jaladara yang ditarik lokomotif C1218 yang dikirim dari Ambarawa. Sepur Kluthuk Jaladara merupakan kereta wisata yang ada di Kota Solo. Kereta ini adalah kereta tua buatan Jerman pada tahun 1896 dan dikirim ke Indonesia pada tahun itu juga oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai alat transportasi jarak pendek. Kereta ini diresmikan pada tanggal 27 September  2009, dengan sejumlah pemberhentian, seperti Diamond Convention Center, Solo Grand Mall, Loji Gandrung, House of Danar Hadi (nDalem Wuryaningratan), Museum Radyapustaka (Taman Sriwedari), Kampung Seniman Kemlayan, Perempatan Pasar Pon (Pasar Triwindu), Kampung Wisata Batik Kauman, Benteng Vastenburg, dan Stasiun Solo Kota atau tergantung paket wisata yang diinginkan oleh para wisatawan yang akan menggunakan kereta wisata tersebut.
Sebagai salah satu bangunan bersejarah, Stasiun Solo Kota masuk dalam rencana revitalisasi PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Stasiun yang memiliki luas bangunan 468 m² telah diinvetarisir oleh PT. KAI dengan nomor register 195/06/STA/BD. Stasiun ini akan dioptimalkan sebagai obyek wisata pendukung perjalanan Sepur Kluthuk Jaladara. *** [310714]
Share:

Stasiun Kereta Api Solo Jebres

Stasiun Kereta Api Solo Jebres, atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Jebres, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian +97 m di atas permukaan laut.
Stasiun Jebres terletak di Jalan Ledoksari No. 1 Kelurahan Purwadiningratan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Pasar Ledoksari.
Hadirnya jalur kereta api yang melintas Kota Solo tidak terlepas dari eksistensinya pada waktu itu. Sebagai kota kerajaan (Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran), pemerintah Hindia Belanda merasa perlu melancarkan diplomasi dengan kerajaan yang ada di Kota Solo tersebut. Beberapa tahun kemudian, kepentingan diplomasi ini berubah menjadi kepentingan untuk angkutan manusia yang kemudian juga dimanfaatkan untuk mengangkut komoditas perkebunan seperti tembakau, gula, kopi dan lain-lain. Pada tahun 1847, di Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta) terdapat 47 perkebunan. Lima di antaranya adalah pabrik gula milik Gubernemen (pemerintah), satu perkebunan tembakau, serta lima perkebunan kopi. Praja Mangkunegaran memiliki industri gula, yaitu Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu, sedangkan Kasunanan Surakarta memiliki industri gula di Pabrik Gula Gondang Winangoen serta komoditas tembakau vorstenlanden untuk bahan baku cerutu dari Klaten.


Komoditas-komoditas tersebut merupakan komoditas yang sangat laku dan dibutuhkan di dunia pada masanya terutama untuk kebutuhan pasar Eropa sehingga tidak salah kemudian dibutuhkan alat transportasi yang mampu mengangkut dalam jumlah, yaitu kereta api.
Berdasarkan catatan sejarah, Stasiun Jebres dibangun pada tahun 1884 di atas lahan milik Kraton Kasunanan Surakarta, sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staats Spoorwegen (SS). Sehingga, dulu stasiun ini dikenal sebagai Stasiun Staats Spoorwegen.


Selain digunakan untuk transportasi penumpang dan mengangkut komoditas perkebunan, tercatat bahwa Stasiun Jebres ini dahulu pernah digunakan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat hendak bertemu dengan Sri Susuhunan Paku Buwono X (PB X).
Di antara stasiun yang terdapat di Kota Solo, yaitu Stasiun Purwosari, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Solo Kota, Stasiun Jebres ini terbilang megah dengan gaya arsitektur Indische Empire. Bangunannya berbentuk persegi panjang simetris dengan dua jendela melengkung di atas dua pintu utama menuju ke hall stasiun dengan fasad yang memiliki detail dan banyak dipengaruhi aliran Neo-Klasik. Interiornya begitu indah dengan hadirnya pilar-pilar bergaya Corynthian Yunani maupun jeruji besi pada jendelanya yang bergaya Art Nouveau.
Kini, stasiun yang memiliki luas gedung 1.631 m² dan bernomor register 164/06/SK/BD ini masih berfungsi sebagai stasiun untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang kereta api kelas ekonomi dari Solo menuju Jakarta atau Bandung dan dari Solo menuju ke Surabaya atau sebaliknya.
Sebagai bangunan tua yang penuh sejarah ini, Stasiun Jebres telah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya (BCB) melalui Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor: 646/116/I/1997 dengan cagar budaya No. 13-25/C/Jb/2012. *** [270714]
Share:

Stasiun Purwosari Solo

Stasiun Purwosari (PWS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, Kerten RT.04 RW.02, Laweyan, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +98 m dpl ini berada di Daerah Operasi (Daops) 6 Yogyakarta.


Stasiun Purwosari dibangun pada tahun 1875 oleh arsitek Hermann Thomas Karsten pada masa Mangkunegoro IV, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Stasiun Purwosari merupakan stasiun percabangan jalur KA, antara arah Surabaya dengan Wonogiri. Jalur yang menuju Surabaya termasuk kelas utama, sedangkan yang ke Wonogiri termasuk kelas sekunder. Sampai Stasiun Kota (Sangkrah), jalur ini termasuk unik karena menjadi satu-satunya jalur KA di Indonesia yang berjejer berdampingan dengan jalan raya. Dahulu sepanjang jalur Purwosari-Kota (Sangkrah) terdapat 8 buah halte, yakni Pesanggrahan, Ngadisuryan, Bendha, Ngapeman, Pasar Pon, Derpoyudan, Kauman dan Loji Wetan. Halte-halte tersebut sekarang sudah tidak ada lagi.


Stasiun Purwosari memiliki 9 jalur KA, di mana 4 buah sebagai jalur utama, 3 untuk stabling gerbong barang, dan 2 jalur menuju ke depo lokomotif dan gudang semen. Dari Stasiun Purwosari juga dahulu terdapat jalur percabangan yang menuju Boyolali melalui Kartasura, yang kini sudah tidak ada lagi. Sampai sekarang, beberapa bagian dari sisa-sisa jalur tersebut masih dapat disaksikan.


Dahulu Stasiun Purwosari merupakan depo lokomotif, jejak peninggalan sebagai dipo lokomotif masih terdapat menara air di sisi utara stasiun. Saat ini stasiun ini masih berfungsi sebagai dipo, namun bukan dipo lokomotif melainkan dipo alat mekanik. Bongkar muat semen juga dilakukan di Stasiun Purwosari.
Bangunan Stasiun Purwosari yang bergaya termasuk bangunan benda cagar budaya. Benda cagar budaya dan kawasannya adalah salah satu unsur peninggalan budaya material, bagian suatu bukti adanya sejarah proses pembentukan perjuangan dan perkembangan bangsa Indonesia. Pertumbuhan dan perkembangan kota seringkali masih dilihat dari arti fisik kota, meski sebenarnya ada banyak persoalan termasuk keadaan serta kondisi masyakat di dalamnya.


Mengingat bangunan benda cagar budaya seperti stasiun tersebut  memiliki nilai penting, artefak tersebut dapat dimanfaatkan untuk beberapa fungsi antara lain ideologis, akademis, dan ekonomis.

Manfaat secara ideologis antara lain untuk mempertebal harga diri dan kebanggan nasional. Secara akademis, peninggalan budaya itu dapat dimanfaatkan oleh berbagai disiplin ilmu antara lain sejarah, arkeologi, arsitektur, geografi, geologi,  dan lainnya. Secara ekonomis benda cagar budaya dapat dimanfaatkan sebagai obyek dan daya tarik wisata karena keindahan, keunikan, dan keragamannya.

Benda cagar budaya memiliki sifat jumlah terbatas, tidak dapat diperbaharui, mudah rusak, dan kontekstual (berhubungan dengan kedudukannya). Sifat peninggalan budaya yang demikian ini  kurang menguntungkan bagi keberadaannya.
Ke depannya, Pemerintah Kota Solo berencana menjadikan Purwosari menjadi stasiun elite pada awal tahun  2011.  Hal ini ditunjang dengan keinginan Wali Kota Solo dalam blueprint pengembangan kota yang akan menjadikan Purwosari sebagai stasiun railbus yang  beroperasi pada tahun mendatang.




Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami