Senin, 23 Juli 2012

Stasiun Purwosari Solo

Stasiun Purwosari (PWS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, Kerten RT.04 RW.02, Laweyan, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +98 m dpl ini berada di Daerah Operasi (Daops) 6 Yogyakarta.


Stasiun Purwosari dibangun pada tahun 1875 oleh arsitek Hermann Thomas Karsten pada masa Mangkunegoro IV, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Stasiun Purwosari merupakan stasiun percabangan jalur KA, antara arah Surabaya dengan Wonogiri. Jalur yang menuju Surabaya termasuk kelas utama, sedangkan yang ke Wonogiri termasuk kelas sekunder. Sampai Stasiun Kota (Sangkrah), jalur ini termasuk unik karena menjadi satu-satunya jalur KA di Indonesia yang berjejer berdampingan dengan jalan raya. Dahulu sepanjang jalur Purwosari-Kota (Sangkrah) terdapat 8 buah halte, yakni Pesanggrahan, Ngadisuryan, Bendha, Ngapeman, Pasar Pon, Derpoyudan, Kauman dan Loji Wetan. Halte-halte tersebut sekarang sudah tidak ada lagi.


Stasiun Purwosari memiliki 9 jalur KA, di mana 4 buah sebagai jalur utama, 3 untuk stabling gerbong barang, dan 2 jalur menuju ke depo lokomotif dan gudang semen. Dari Stasiun Purwosari juga dahulu terdapat jalur percabangan yang menuju Boyolali melalui Kartasura, yang kini sudah tidak ada lagi. Sampai sekarang, beberapa bagian dari sisa-sisa jalur tersebut masih dapat disaksikan.


Dahulu Stasiun Purwosari merupakan depo lokomotif, jejak peninggalan sebagai dipo lokomotif masih terdapat menara air di sisi utara stasiun. Saat ini stasiun ini masih berfungsi sebagai dipo, namun bukan dipo lokomotif melainkan dipo alat mekanik. Bongkar muat semen juga dilakukan di Stasiun Purwosari.
Bangunan Stasiun Purwosari yang bergaya termasuk bangunan benda cagar budaya. Benda cagar budaya dan kawasannya adalah salah satu unsur peninggalan budaya material, bagian suatu bukti adanya sejarah proses pembentukan perjuangan dan perkembangan bangsa Indonesia. Pertumbuhan dan perkembangan kota seringkali masih dilihat dari arti fisik kota, meski sebenarnya ada banyak persoalan termasuk keadaan serta kondisi masyakat di dalamnya.


Mengingat bangunan benda cagar budaya seperti stasiun tersebut  memiliki nilai penting, artefak tersebut dapat dimanfaatkan untuk beberapa fungsi antara lain ideologis, akademis, dan ekonomis.

Manfaat secara ideologis antara lain untuk mempertebal harga diri dan kebanggan nasional. Secara akademis, peninggalan budaya itu dapat dimanfaatkan oleh berbagai disiplin ilmu antara lain sejarah, arkeologi, arsitektur, geografi, geologi,  dan lainnya. Secara ekonomis benda cagar budaya dapat dimanfaatkan sebagai obyek dan daya tarik wisata karena keindahan, keunikan, dan keragamannya.

Benda cagar budaya memiliki sifat jumlah terbatas, tidak dapat diperbaharui, mudah rusak, dan kontekstual (berhubungan dengan kedudukannya). Sifat peninggalan budaya yang demikian ini  kurang menguntungkan bagi keberadaannya.
Ke depannya, Pemerintah Kota Solo berencana menjadikan Purwosari menjadi stasiun elite pada awal tahun  2011.  Hal ini ditunjang dengan keinginan Wali Kota Solo dalam blueprint pengembangan kota yang akan menjadikan Purwosari sebagai stasiun railbus yang  beroperasi pada tahun mendatang.




0 komentar:

Posting Komentar