The Story of Indonesian Heritage

  • Istana Ali Marhum Kantor

    Kampung Ladi,Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat)

  • Gudang Mesiu Pulau Penyengat

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Benteng Bukit Kursi

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Kompleks Makam Raja Abdurrahman

    Kampung Bulang, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

  • Mesjid Raya Sultan Riau

    Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau [Pulau Penyengat]

Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kuno di Hyderabad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan Kuno di Hyderabad. Tampilkan semua postingan

Benteng Golkonda: Benteng Kekuasaan, Akustik, dan Ingatan Sejarah

Perhaps there never was a monument more characteristic of an age and people than the Alhambra; a rugged fortress without, a voluptuous palace within; war frowning from its battlements; poetry breathing throughout the fairy architecture of its halls.” -- Washington Irving, Tales of the Alhambra

Usai salat Jumat di Masjid Jama, saya bersama dua teman dari Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) menyeberang masuk ke dalam lingkungan Benteng Golkonda. Langkah kami terasa ringan di awal, meski matahari Hyderabad menggantung terik di atas kepala. Dari kejauhan, dinding-dinding batu yang menjulang tampak seperti penjaga waktu, diam, kokoh, dan sarat kisah.

Benteng Golkonda - atau Golconda - berdiri sebagai bukti megah sejarah wilayah Deccan di India. Terletak sekitar 11 kilometer di sebelah barat kota Hyderabad, negara bagian Telangana, benteng ini bukan sekadar struktur pertahanan, melainkan simbol kekuasaan, kekayaan, dan kecemerlangan arsitektur yang pernah mengangkat nama Hyderabad ke panggung dunia. Nama “Golkonda” diyakini berasal dari kata Telugu Golla dan Konda, yang berarti “bukit gembala” - sebuah penanda sederhana bagi tempat yang kelak menjadi pusat peradaban besar.

Shah & Patel (2021) menjelaskan bahwa Benteng Golkonda merupakan pusat perdagangan, pasar, dan aktivitas administrasi pada masa kejayaannya. Ia disebut sebagai salah satu benteng terpenting di India karena perencanaan sistem keamanannya yang unggul, teknologi konstruksi yang maju, penggunaan material lokal, serta sistem air, akustik, dan ventilasi yang cerdas. Bahkan dalam kondisi reruntuhan, semua itu masih dapat disaksikan - menjadi saksi kemegahan, keragaman, dan kecerdasan arsitektur masa lalu.

Benteng Golkonda di atas bukit

Awalnya dikenal sebagai Mankal, benteng ini dibangun pada tahun 1143 M di puncak bukit di bawah pemerintahan Raja Warangal, bermula sebagai benteng lumpur. Seiring waktu, Sultan Bahmani memperkuatnya, lalu dinasti Qutub Shahi - yang berkuasa antara abad ke-14 hingga ke-17 - menjadikannya ibu kota. Namun, sejarah juga mencatat akhir yang pahit. Pada 1687, benteng ini ditaklukkan Kaisar Mughal Aurangzeb, yang kemudian membiarkannya perlahan menjadi reruntuhan.

Di dalam kompleks benteng, terdapat sisa-sisa istana, masjid, dan paviliun di puncak bukit yang menjulang sekitar 130 meter. Meriam-meriam tua, empat jembatan, dan delapan gerbang besar mengelilingi kawasan ini. Area terluarnya dikenal sebagai Fatah Darwaza - gerbang kemenangan. Di sinilah salah satu keajaiban teknik Golkonda paling terkenal dapat dialami, yaitu efek akustik. 

Tepukan tangan di titik tertentu dekat pintu masuk kubah akan menghasilkan gema yang terdengar jelas hingga paviliun di puncak bukit, hampir satu kilometer jauhnya. Dahulu, gema ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini akan bahaya yang datang.

Kota Hyderabad dilihat dari atas bukit Benteng Golkonda

Seiring berjalannya waktu, Golkonda mengalami banyak penambahan dan perubahan. Dari benteng lumpur sederhana, ia berkembang menjadi sebuah akropolis megah dengan istana, halaman kerajaan, taman, ruang militer, hingga area layanan publik seperti langar (dapur umum) dan dhobi ghat (tempat mencuci). Semua dirancang untuk menopang kehidupan kota yang hidup di balik tembok pertahanan.

Rakesh et. al. (2022) menerangkan bahwa Sultan Quli, raja pertama Qutub Shahi, membangun tembok perbatasan benteng serta masjid Safa untuk ibadah Sultan, keluarga kerajaan, dan para menterinya. Prasasti di gerbang masjid yang ditulis tangan oleh Abdul Karim, mengabadikan peran Sultan Quli dalam pembangunannya. 

Di dalam benteng pula ia mendirikan Istana Kerajaan Dawlatkhana dan menamai kota ini Muhammadnagar. Penerusnya, Ibrahim Qutub Shah, memperluas wilayah dan memperkuat pertahanan dengan tembok sepanjang lebih dari 7.000 meter. Darwaza Mekah di barat daya, yang menghadap ke arah Mekah, dibangun pada 1559–1560.

Masjid Tarmiyati di dalam benteng Golkonda

Benteng ini dibangun selama 62 tahun sejak 1518 M, dengan ketinggian sekitar 400 kaki dan keliling 4 mil. Sebanyak 87 benteng setengah lingkaran, yang dikenal sebagai Burj, menguatkan tembok luarnya. Nama-nama seperti Musa Burj, Atishi Burj, hingga Zafar Burj mengisi lingkar pertahanan, masing-masing berdiri sebagai monumen kecil dari strategi militer dan seni bangunan. Delapan gerbang raksasa, termasuk Fatah Darwaza, Bahamani Darwaza, dan Moti Darwaza, dirancang berkelok, berlapis, dan cukup luas bagi penjaga untuk berjaga.

Arsitektur Golkonda juga mencerminkan toleransi. Sultan Qutub Shahi membangun kuil Madonna bagi menteri dan perwira militer Hindu - sebuah penanda harmoni di tengah keberagaman. Bala Hisar dan Baradari menjadi struktur utama, dihiasi ukiran simbolis berupa anjing, gajah, kuda, ikan, merak, dan bunga. Batu bata, batu ashlar, serta mortar kapur dengan plester halus menjadi material utama. Para insinyur Qutub Shahi bahkan mampu menyalurkan air ke puncak benteng tanpa biaya, menggunakan teknologi yang mengagumkan pada masanya. Sebuah lorong bawah tanah rahasia dari Baradari menuju Gosha Mahal, sepanjang 4–5 mil, menjadi jalur penyelamatan di masa genting.

Benteng Golkonda membentang luas hingga sekitar 788 hektar, dengan tembok luar sepanjang hampir 7 kilometer. Berkeliling di dalamnya, saya merasakan skala kebesaran itu secara fisik, dan juga keterbatasan diri. 

Taman tempat Golkonda Festival berlangsung

Panas menyengat usai salat Jumat, langkah panjang menaiki jalur berbatu, dan kelalaian membawa air minum membuat saya mengalami dehidrasi berat. Di tengah letih, saya justru semakin menyadari betapa tangguhnya mereka yang dahulu hidup, berjaga, dan membangun di tempat ini.

Washington Irving (1783-1859), seorang penulis dan biografer serta sejarawan Amerika Serikat pada abad ke-19, dalam Tales of the Alhambra (1832), berujar:

“Mungkin tak pernah ada monumen yang lebih mencirikan suatu zaman dan bangsa daripada Alhambra; benteng yang kokoh di luar, istana yang megah di dalam; perang tampak mengancam dari tembok pertahanannya; puisi berhembus di seluruh arsitektur bak negeri dongeng di aula-aulanya.”

Kata-kata itu terasa hidup di Golkonda. Di balik tembok batu dan gerbang raksasanya, benteng ini bukan hanya monumen pertahanan, melainkan puisi sejarah - tentang kekuasaan, kecerdasan, toleransi, dan ingatan yang terus bergema, seperti tepuk tangan di Fatah Darwaza, menembus waktu hingga hari ini. *** [301225]


Kepustakaan:

Shah, S., & Patel, A. B. (2021). Application of Adaptive Reuse and Interpretation: Preserving and Promoting the Historic Golconda Fort. Heritage: Journal of Multidisciplinary Studies in Archaeology, 9, 404–419. https://www.heritageuniversityofkerala.com/JournalPDF/Volume9/25.pdf#:~:text=Over%20the%20time%2C%20Golconda%20underwent%20several%20additions,public%20spaces%20for%20residential%20and%20market%20purposes.

Rakesh, J., Deokate, S., & Rani, D. S. (2022). Fort of Golconda – The Historical Study in South Asia. International Journal of Research in Engineering, Science and Management, 5(6), 2581–5792. https://zenodo.org/records/7204693

Sardar, M. (2011). The Early Foundations of Golconda and the Rise of Fortifications in the Fourteenth-Century Deccan. South Asian Studies, 27(1), 25–50. https://doi.org/10.1080/02666030.2011.554267

Share:

Keindahan Arsitektur Masjid Mekkah Hyderabad: Harmoni Sejarah, Iman, dan Budaya Kota Tua

I began to travel, explore and pray within countless masjids around the world, that I realized how much local culture, politics, and interpretations of history influence the shaping of a mosque and its architecture.” -- Rizwan Mawani

Usai menyaksikan kemegahan Charminar dan menuruni 149 anak tangganya, rombongan peserta Third Annual Symposium NIHR Global Health Reseach Centre for Non-Communcable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) yang mengikuti Hyderabad City Tour (HCT) kembali berbaur dengan kerumunan orang di sekitar bangunan heritage ikonik tersebut. 

Suasana Kota Tua Hyderabad terasa hidup. Pedagang kaki lima, wisatawan, peziarah, serta warga lokal saling berpapasan dalam ritme kota yang tak pernah benar-benar diam. Dari menara Charminar, pandangan seolah ditarik mundur ke masa lalu, ketika Hyderabad tumbuh sebagai pusat perdagangan, kebudayaan, dan peradaban Islam di India bagian selatan.

Panitia HCT dari The George Institute for Global Health (TGI) India kemudian mengajak rombongan mencicipi chai tea dan roti banmaskin di Nimrah Café & Bakery yang legendaris, tak jauh dari Charminar. Aroma teh susu yang hangat berpadu dengan manisnya roti khas Hyderabad menjadi jeda yang menyenangkan sebelum perjalanan dilanjutkan. Usai menikmati chai tea, rombongan berjalan santai menyusuri jalanan yang dipenuhi pedagang kaki limat, membiarkan diri larut dalam keramaian dengan nuansa yang sarat sejarah.

Fasad Masjid Mekkah di Hyderabad dekat Charminar menjelang Maghrib pada Rabu (10/12)

Saya bersama Pak Tatang (Ismiarta Aknuranda, S.T., M.Sc., Ph.D.), Dr. Ian Hamilton (Imperial College London), dan Alexandra Olid Stepanchuk (Imperial College London) menyempatkan diri mengunjungi Masjid Mekkah, yang terletak hanya beberapa meter di arah barat daya Charminar. 

Alexandra mengenakan hijab sesuai aturan yang tertera di pintu masuk masjid - sebuah pengingat bahwa ruang sakral ini terbuka bagi siapa saja, selama adab dan penghormatan dijaga. Beberapa menit berkeliling, kumandang azan Maghrib terdengar menggema, menyatu dengan hiruk pikuk kota. Saya dan Dr. Ismiarta pun mengikuti salat Maghrib berjamaah, menutup kunjungan dengan ketenangan spiritual yang kontras namun selaras dengan suasana urban di sekitarnya.

Masjid Mekkah, atau Makka Masjid (మక్కా మస్జిద్), merupakan salah satu masjid paling mengesankan dan berornamen indah di Hyderabad, India. Pembangunannya dimulai oleh Sultan Mohammed Quli Qutub Shah pada tahun 1617 di bawah bimbingan Choudhary Rangaiah dan Daroga Mir Faizullah, lalu diselesaikan oleh Kaisar Mughal Aurangzeb pada tahun 1694. 

Proses panjang selama 77 tahun itu mencerminkan kesungguhan, visi, dan ketekunan para penguasa serta ribuan pekerja yang terlibat. Nama “Mekkah” disematkan karena tanah dari kota suci Mekah digunakan dalam pembuatan batu bata untuk lengkungan tengah masjid - sebuah simbol ikatan spiritual lintas wilayah.

Papan dekat tempat wudlu di Masjid Mekkah, Hyderabad, Telangana, India

Masjid ini merupakan mahakarya arsitektur Indo-Islam yang berdiri anggun di dekat Charminar dan berfungsi sebagai masjid utama Kota Tua Hyderabad. Dengan kapasitas hingga 10.000 jamaah, Masjid Mekkah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat sosial dan budaya. 

Seorang penjelajah Prancis, Jean-Baptiste Tavernier, tercatat sebagai salah satu pengamat awal yang terpesona oleh kemegahan masjid ini. Dalam catatan perjalanannya, ia menulis bahwa bangunan tersebut kelak akan menjadi “pagoda termegah di seluruh India” ketika selesai dibangun sebuah kesaksian dari luar tradisi Islam yang menegaskan daya tarik universal arsitekturnya.

Masjid Mekkah menampilkan perpaduan gaya arsitektur Persia, Mughal, dan India yang khas, dengan menara, kubah, pagoda, serta motif bunga yang diukir dengan detail rumit. Sekitar 8.000 pekerja dikerahkan untuk membangun monumen besar ini. 

Sebelum memasuki kompleks utama, pengunjung melewati sebuah gerbang dengan kolam air besar dan dua bangku batu di sisinya, menghadirkan kesan transisi dari dunia luar menuju ruang kontemplatif. 

Arsitektur lengkungan di dalam ruang utama tempat salat para jamaah di Masjid Mekkah, Hyderabad, India

Ruang salat utama berukuran sekitar 220 kaki lebarnya dan 75 kaki tingginya, ditopang dua pilar segi delapan yang masing-masing dipahat dari satu batu granit utuh, sebuah pencapaian teknik yang luar biasa pada masanya.

Ruang utama salat dihiasi 15 lengkungan berdesain indah, lima lorong utama, serta lampu gantung kristal Belgia yang menggantung anggun di langit-langit, memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Di halaman masjid seluas kurang lebih 108 meter persegi, terdapat jam matahari dan fasilitas pemandian umum (hammam), menegaskan fungsi masjid sebagai pusat kehidupan sehari-hari umat. 

Di ujung selatan kompleks, makam marmer para penguasa Asaf Jahi dan anggota keluarga mereka menambah lapisan sejarah yang kental. Bahkan, terdapat sebuah ruangan khusus yang menyimpan peninggalan kuno, seperti rambut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, menjadikan masjid ini juga sebagai ruang ziarah yang penuh penghormatan.

Pintu dan dinding Masjid Mekkah diukir dengan prasasti Al-Qur’an yang halus, memperlihatkan perpaduan antara seni, iman, dan teks suci. Selesai menunaikan salat Maghrib berjamaah, saya sempat mengabadikan keindahan masjid tersebut dengan kamera Xiaomi Redmi Note 14 Pro 5G. Rasa lega dan tenteram menyertai langkah keluar dari kompleks masjid. Sebuah perasaan yang sulit diungkapkan, namun nyata hadir di tengah gemerlap dan kebisingan kota.

Halaman terbuka Masjid Mekkah sebelum jamaah memasuki ruang utama masjid

Konon, kompleks Masjid Mekkah dan situs-situs terkait di wilayah Deccan dimasukkan UNESCO ke dalam “daftar sementara” Situs Warisan Dunia pada tahun 2014 dengan nama Monuments and Forts of the Deccan Sultanates. Pengakuan ini menegaskan nilai universal luar biasa dari warisan arsitektur dan sejarah Hyderabad.

Mengulas keindahan Masjid Mekkah Hyderabad tak hanya soal estetika bangunan, tetapi juga tentang bagaimana sejarah, budaya lokal, dan interpretasi keagamaan membentuk ruang ibadah. Seperti ujaran (quote) Rizwan Mawani, seorang pendidik dan peneliti Kanada yang berspesialisasi dalam antropologi dan studi agama komparatif serta penulis buku Beyond the Mosque: Diverse Places of Muslim Worship (2019):

“Saya mulai bepergian, menjelajah, dan berdoa di banyak masjid di seluruh dunia, dan dari situlah saya menyadari betapa besar pengaruh budaya lokal, politik, dan interpretasi sejarah terhadap pembentukan sebuah masjid dan arsitekturnya.” 

Masjid Mekkah Hyderabad adalah perwujudan nyata dari pernyataan tersebut, sebagai sebuah ruang suci yang merekam jejak zaman, menyatukan iman dan budaya, serta menawarkan ketenangan spiritual di jantung Kota Tua yang tak pernah tidur. *** [251225]


Kepustakaan:

Santhoshini , C. N. R., Homma, R., & Iki, K. (2017). Analysis of tourism resources for sustainable tourism development of Hyderabad City, Telangana, India using Geographical Information System (GIS). International Journal of Civil Engineering and Technology (IJCIET), 8(10), 762–772. https://iaeme.com/MasterAdmin/Journal_uploads/IJCIET/VOLUME_8_ISSUE_10/IJCIET_08_10_080.pdf

Digit Insurance. (n.d.). Things to Know about Mecca Masjid Hyderabad. Digit Insurance. Retrieved December 25, 2025, from https://www.godigit.com/explore/spiritual-places/mecca-masjid-in-hyderabad

Hyderabad. (n.d.). Mecca Masjid Hyderabad . Hyderabad. Retrieved December 25, 2025, from https://www.hyderabad.org.uk/worship-places/mecca-masjid.html

KP’s 21st Century IAS. (n.d.). Mecca Masjid Hyderabad | Historic 17th Century Mosque. KPs 21st Century IAS Academy. Retrieved December 25, 2025, from https://kpiasacademy.com/mecca-masjid-hyderabad-history-2/

Wanderlog. (n.d.). Makkah Masjid. Wanderlog. Retrieved December 25, 2025, from https://wanderlog.com/place/details/19742/makkah-masjid



Share:

Charminar: Empat Menara yang Menyimpan Doa Kota Hyderabad

 "Ancient monuments are full of wisdom, for they have been filled with what they have seen and heard for hundreds of years!" - Mehmet Murat ildan

Rabu siang, 10/12, selepas makan siang hari kedua Third Annual Symposium di May Flower Hall, The Golkonda Resorts & Spa, rombongan peserta tak langsung kembali ke kamar. Panitia dari The George Institute for Global Health (TGI) India mengajak mereka menyusuri denyut Hyderabad lewat sebuah agenda bertajuk Hyderabad City Tour. Bus Sagar bergerak sekitar 20 kilometer dari resor Golkonda, dan di ujung perjalanan, berdirilah sebuah monumen yang seolah memanggil sejarah untuk bercerita: Charminar.

Antusiasme langsung terasa. Peserta dari Imperial College London (ICL), University College London (UCL) Energy Institute, TGI (India dan Australia), Sri Ramachandra Institute of Higher Education and Research (SRIHER), hingga Universitas Brawijaya (UB) larut dalam kekaguman. Charminar berdiri tegak di jantung Hyderabad, ibu kota Telangana, kota yang dulu menjadi pusat Kerajaan Hyderabad, India. Di titik inilah masa lalu dan masa kini saling bertegur sapa.

Bangunan Charminar yang megah di Hyderabad, Telangana, India

Secara arsitektural, Charminar memikat sejak pandangan pertama. Bangunan berbentuk persegi dengan sisi sepanjang 31,95 meter ini dibingkai lengkungan-lengkungan megah setinggi 11 meter. Empat menara - yang menjadi asal namanya, char (empat) dan minar (menara) - menjulang hingga 56 meter, masing-masing bertingkat tiga. Dipercaya bahwa keempat menara tersebut melambangkan empat Khalifah pertama Islam.

Di dalam menara, tangga spiral dengan 149 anak tangga dan 12 bordes mengantar pengunjung menuju puncak, tempat panorama kota terbentang luas. Dinding ganda lengkungan di atap, ornamen menara, dekorasi plesteran, pagar dan balkon yang tersusun rapi, serta motif bunga yang dieksekusi halus, menyatu dalam harmoni estetika Indo-Persia hingga sintesis Mughal dan Hindu.

Charminar didirikan pada tahun Hijriah 1000 (1591–1592 M) oleh Mohammed Quli Qutub Shahi, sultan kelima Dinasti Qutub Shahi sekaligus pendiri kota Hyderabad. Monumen ini bukan sekadar penanda kekuasaan, melainkan tugu syukur – batu doa yang dipanjatkan untuk merayakan berakhirnya wabah penyakit mematikan yang pernah melanda kota. Sebuah pengingat bahwa kota ini lahir dari harapan, dari ikhtiar manusia melampaui krisis.

Peserta Third Annual Symposium NIHR-GHRC NCD & EC mengantre tiket masuk ke Charminar pada Rabu (10/12)

Di balik kemegahan itu, termaktub sosok Mir Momin Astarabadi, arsitek Persia yang menjadi perancang utama Charminar. Ia bukan hanya arsitek, tetapi juga perencana kota, pencinta budaya, dan penyair. Bersama Sultan, Astarabadi membayangkan Hyderabad sebagai “Isfahan baru” di Deccan. Dalam tulisannya, ia menyebut Haidarabad sebagai Isfahan baru, sebuah kota taman, sebuah pusat peradaban yang dirancang dengan visi jauh ke depan.

Catatan para pengembara Eropa turut memperkaya kisah Charminar. Jean Baptiste Tavernier, penjelajah Prancis abad ke-17, menulis tentang Hyderabad yang ia saksikan dari Purana Pul (Jembatan Tua). 

Ia mencatat bahwa meski nama resminya Haidarabad, masyarakat menyebutnya Bagnagar atau Baagh Nagar, yang berarti kota taman. Pada pertengahan abad ke-18, Charminar bahkan pernah menjadi markas Komandan Prancis, Jenderal Charles Joseph Patissier Marquis de Bussy-Castelnau atau Jenderal Bussy. Sejarah berlapis-lapis itu seakan terpatri di setiap batu prasastinya.

Ornamen di dalam bangunan Charminar

Waktu terus bergerak, dan Charminar pun beradaptasi. Pada 1889, empat jam ditambahkan menghadap ke empat arah mata angin. Di bagian dasar, yang semula merupakan vazu - wadah air dengan air mancur kecil untuk wudhu sebelum salat - fungsi ruang pun berevolusi. Dari atap dan menaranya, mata dapat memandang Benteng Golkonda di barat, serta Laad Bazaar yang bersebelahan, pasar ramai yang masyhur dengan gelang pernis bertabur kaca dan batu berwarna.

Para sejarawan melihat Charminar lebih dari sekadar bangunan. Phillip Wagoner, misalnya, meyakini Charminar sebagai chaubara (alun-alun kota), mengacu pada struktur serupa di Bidar, Warangal, dan Udgir. Ibu kota Qutb Shahi menandai pusat kota dengan bentuk bulat, yang membuka jalan ke empat penjuru. Ketika ibu kota dipindahkan dari Golkonda ke Hyderabad, ruang di sekitar Charminar dirancang untuk menampung sekitar 14.000 toko, menghidupkan denyut ekonomi kota baru.

Maka Charminar adalah simbol yang berlapis makna, yakni ketahanan sebuah kota, doa untuk kemakmuran, penanda milenium Islam, dan pusat budaya yang memadukan gaya Indo-Islam. Ia bukan hanya saksi, tetapi juga pelaku sejarah yang menyimpan gema langkah pedagang, doa para peziarah, dan bisik rencana para penguasa.

Pemandangan dari atas bangunan Charminar

Seperti kata Mehmet Murat İldan, seorang penulis, novelis, dan dramawan kontemporer Turki yang lahir pada 16 Mei 1965 di Elazığ, dikenal karena karya-karyanya yang mencakup novel, drama, dan esai, sering kali menggabungkan pemikiran filosofis dan sosial: 

“Monumen-monumen kuno penuh dengan kebijaksanaan, karena telah diisi dengan apa yang telah mereka lihat dan dengar selama ratusan tahun!” 

Charminar membenarkan kata-kata itu. Di bawah empat menaranya, Hyderabad terus bergerak, namun kebijaksanaan masa lalu tetap berdiam untuk menjaga jantung kota agar terus berdetak. *** [241225]


Kepustakaan:

Britannica Editors (2025, October 13). Charminar. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/topic/Charminar

Nanisetti, S. (2018, July 02).   The very many mysteries of Hyderabad’s Charminar. The Hindu. https://www.thehindu.com/society/history-and-culture/the-very-many-mysteries-of-hyderabads-charminar/article24311906.ece

Rajjak, S. M. (2015). Mir Mohammad Momin Astarabadi’s Contribution to Qutb Shahi Deccan History. JRSP, 52(2), 203–209. https://pu.edu.pk/images/journal/history/PDF-FILES/15.%20Shaikh%20Musak%20Rajjak_v52_2_15.pdf

Saidulu, Prof. H. C., & Manu, A. r. (2025). Holistic Vision Of The Monument Charminar. International Journal of Creative Research Thoughts (IJCRT), 13(2), 73–80. https://www.ijcrt.org/papers/IJCRT2502478.pdf

Seshan, K. S. S. (2018, March 24).   General Bussy’s Charminar home. The Hindu. https://www.thehindu.com/society/history-and-culture/bussys-charminar-home/article23342015.ece



Share:

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami