The Story of Indonesian Heritage

Benteng Golkonda: Benteng Kekuasaan, Akustik, dan Ingatan Sejarah

Perhaps there never was a monument more characteristic of an age and people than the Alhambra; a rugged fortress without, a voluptuous palace within; war frowning from its battlements; poetry breathing throughout the fairy architecture of its halls.” -- Washington Irving, Tales of the Alhambra

Usai salat Jumat di Masjid Jama, saya bersama dua teman dari Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) menyeberang masuk ke dalam lingkungan Benteng Golkonda. Langkah kami terasa ringan di awal, meski matahari Hyderabad menggantung terik di atas kepala. Dari kejauhan, dinding-dinding batu yang menjulang tampak seperti penjaga waktu, diam, kokoh, dan sarat kisah.

Benteng Golkonda - atau Golconda - berdiri sebagai bukti megah sejarah wilayah Deccan di India. Terletak sekitar 11 kilometer di sebelah barat kota Hyderabad, negara bagian Telangana, benteng ini bukan sekadar struktur pertahanan, melainkan simbol kekuasaan, kekayaan, dan kecemerlangan arsitektur yang pernah mengangkat nama Hyderabad ke panggung dunia. Nama “Golkonda” diyakini berasal dari kata Telugu Golla dan Konda, yang berarti “bukit gembala” - sebuah penanda sederhana bagi tempat yang kelak menjadi pusat peradaban besar.

Shah & Patel (2021) menjelaskan bahwa Benteng Golkonda merupakan pusat perdagangan, pasar, dan aktivitas administrasi pada masa kejayaannya. Ia disebut sebagai salah satu benteng terpenting di India karena perencanaan sistem keamanannya yang unggul, teknologi konstruksi yang maju, penggunaan material lokal, serta sistem air, akustik, dan ventilasi yang cerdas. Bahkan dalam kondisi reruntuhan, semua itu masih dapat disaksikan - menjadi saksi kemegahan, keragaman, dan kecerdasan arsitektur masa lalu.

Benteng Golkonda di atas bukit

Awalnya dikenal sebagai Mankal, benteng ini dibangun pada tahun 1143 M di puncak bukit di bawah pemerintahan Raja Warangal, bermula sebagai benteng lumpur. Seiring waktu, Sultan Bahmani memperkuatnya, lalu dinasti Qutub Shahi - yang berkuasa antara abad ke-14 hingga ke-17 - menjadikannya ibu kota. Namun, sejarah juga mencatat akhir yang pahit. Pada 1687, benteng ini ditaklukkan Kaisar Mughal Aurangzeb, yang kemudian membiarkannya perlahan menjadi reruntuhan.

Di dalam kompleks benteng, terdapat sisa-sisa istana, masjid, dan paviliun di puncak bukit yang menjulang sekitar 130 meter. Meriam-meriam tua, empat jembatan, dan delapan gerbang besar mengelilingi kawasan ini. Area terluarnya dikenal sebagai Fatah Darwaza - gerbang kemenangan. Di sinilah salah satu keajaiban teknik Golkonda paling terkenal dapat dialami, yaitu efek akustik. 

Tepukan tangan di titik tertentu dekat pintu masuk kubah akan menghasilkan gema yang terdengar jelas hingga paviliun di puncak bukit, hampir satu kilometer jauhnya. Dahulu, gema ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini akan bahaya yang datang.

Kota Hyderabad dilihat dari atas bukit Benteng Golkonda

Seiring berjalannya waktu, Golkonda mengalami banyak penambahan dan perubahan. Dari benteng lumpur sederhana, ia berkembang menjadi sebuah akropolis megah dengan istana, halaman kerajaan, taman, ruang militer, hingga area layanan publik seperti langar (dapur umum) dan dhobi ghat (tempat mencuci). Semua dirancang untuk menopang kehidupan kota yang hidup di balik tembok pertahanan.

Rakesh et. al. (2022) menerangkan bahwa Sultan Quli, raja pertama Qutub Shahi, membangun tembok perbatasan benteng serta masjid Safa untuk ibadah Sultan, keluarga kerajaan, dan para menterinya. Prasasti di gerbang masjid yang ditulis tangan oleh Abdul Karim, mengabadikan peran Sultan Quli dalam pembangunannya. 

Di dalam benteng pula ia mendirikan Istana Kerajaan Dawlatkhana dan menamai kota ini Muhammadnagar. Penerusnya, Ibrahim Qutub Shah, memperluas wilayah dan memperkuat pertahanan dengan tembok sepanjang lebih dari 7.000 meter. Darwaza Mekah di barat daya, yang menghadap ke arah Mekah, dibangun pada 1559–1560.

Masjid Tarmiyati di dalam benteng Golkonda

Benteng ini dibangun selama 62 tahun sejak 1518 M, dengan ketinggian sekitar 400 kaki dan keliling 4 mil. Sebanyak 87 benteng setengah lingkaran, yang dikenal sebagai Burj, menguatkan tembok luarnya. Nama-nama seperti Musa Burj, Atishi Burj, hingga Zafar Burj mengisi lingkar pertahanan, masing-masing berdiri sebagai monumen kecil dari strategi militer dan seni bangunan. Delapan gerbang raksasa, termasuk Fatah Darwaza, Bahamani Darwaza, dan Moti Darwaza, dirancang berkelok, berlapis, dan cukup luas bagi penjaga untuk berjaga.

Arsitektur Golkonda juga mencerminkan toleransi. Sultan Qutub Shahi membangun kuil Madonna bagi menteri dan perwira militer Hindu - sebuah penanda harmoni di tengah keberagaman. Bala Hisar dan Baradari menjadi struktur utama, dihiasi ukiran simbolis berupa anjing, gajah, kuda, ikan, merak, dan bunga. Batu bata, batu ashlar, serta mortar kapur dengan plester halus menjadi material utama. Para insinyur Qutub Shahi bahkan mampu menyalurkan air ke puncak benteng tanpa biaya, menggunakan teknologi yang mengagumkan pada masanya. Sebuah lorong bawah tanah rahasia dari Baradari menuju Gosha Mahal, sepanjang 4–5 mil, menjadi jalur penyelamatan di masa genting.

Benteng Golkonda membentang luas hingga sekitar 788 hektar, dengan tembok luar sepanjang hampir 7 kilometer. Berkeliling di dalamnya, saya merasakan skala kebesaran itu secara fisik, dan juga keterbatasan diri. 

Taman tempat Golkonda Festival berlangsung

Panas menyengat usai salat Jumat, langkah panjang menaiki jalur berbatu, dan kelalaian membawa air minum membuat saya mengalami dehidrasi berat. Di tengah letih, saya justru semakin menyadari betapa tangguhnya mereka yang dahulu hidup, berjaga, dan membangun di tempat ini.

Washington Irving (1783-1859), seorang penulis dan biografer serta sejarawan Amerika Serikat pada abad ke-19, dalam Tales of the Alhambra (1832), berujar:

“Mungkin tak pernah ada monumen yang lebih mencirikan suatu zaman dan bangsa daripada Alhambra; benteng yang kokoh di luar, istana yang megah di dalam; perang tampak mengancam dari tembok pertahanannya; puisi berhembus di seluruh arsitektur bak negeri dongeng di aula-aulanya.”

Kata-kata itu terasa hidup di Golkonda. Di balik tembok batu dan gerbang raksasanya, benteng ini bukan hanya monumen pertahanan, melainkan puisi sejarah - tentang kekuasaan, kecerdasan, toleransi, dan ingatan yang terus bergema, seperti tepuk tangan di Fatah Darwaza, menembus waktu hingga hari ini. *** [301225]


Kepustakaan:

Shah, S., & Patel, A. B. (2021). Application of Adaptive Reuse and Interpretation: Preserving and Promoting the Historic Golconda Fort. Heritage: Journal of Multidisciplinary Studies in Archaeology, 9, 404–419. https://www.heritageuniversityofkerala.com/JournalPDF/Volume9/25.pdf#:~:text=Over%20the%20time%2C%20Golconda%20underwent%20several%20additions,public%20spaces%20for%20residential%20and%20market%20purposes.

Rakesh, J., Deokate, S., & Rani, D. S. (2022). Fort of Golconda – The Historical Study in South Asia. International Journal of Research in Engineering, Science and Management, 5(6), 2581–5792. https://zenodo.org/records/7204693

Sardar, M. (2011). The Early Foundations of Golconda and the Rise of Fortifications in the Fourteenth-Century Deccan. South Asian Studies, 27(1), 25–50. https://doi.org/10.1080/02666030.2011.554267

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami