The Story of Indonesian Heritage

Chinatown Heritage Centre: Melintasi Lorong Waktu di Jantung Niu Che Shui

You scour these Chinatowns of the mind, translating them like sutras Xuan Zhang fetched from India, testing ways return might be possible against these homesick inventions, trace the traveller's alien steps across borders, and in between discover how transit has a way of lasting, the way these Chinatowns grew out of not knowing whether to return or to stay, and then became home.” -- Boey Kim Cheng, Clear Brightness

Ketika tiba di kawasan Chinatown, atau di Singapura umumnya dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai Niu Che Shui, pemandu Free Singapore Tour pada Ahad (14/12/2025) langsung mengajak jalan menuju ke Pagoda Street sebelum berkeliling dari lorong ke lorong yang ada di Pecinan. 

Kenapa ke Pagoda Street? Karena di sinilah, tersembunyi di balik fasad ruko berwarna pastel, peserta tour bisa menyelami inti perjalanan Chinatown Singapura melalui Chinatown Heritage Centre (CHC).

Chinatown Heritage Centre in Singapore

CHC bukan sekadar museum; ia adalah mesin waktu. Terletak di tiga shophouse (rumah toko) yang direstorasi di Pagoda Street, museum ini menampilkan sejarah dan kehidupan imigran Tionghoa awal melalui pameran imersif yang memukau. 

Ia bukan hanya menunjukkan artefak, tetapi menciptakan kembali ruang hidup otentik dari tahun 1950-an, menawarkan pengalaman multisensorik untuk memahami secara intim perjuangan, pengorbanan, dan ketahanan komunitas perintis ini.

Dibuka pada Juli 2002 sebagai bagian dari proyek revitalisasi Chinatown senilai $97,5 juta, CHC hadir untuk mengisi narasi yang sering terabaikan. Ia mengingatkan kita bahwa jauh sebelum kedatangan Stamford Raffles pada 1819, sejumlah kecil imigran Tionghoa telah menetap di sini. 

Kamar-kamar para imigran Tionghoa di Singapura

Namun, gelombang besar baru datang setelah pelabuhan bebas Singapura didirikan. Untuk memudahkan administrasi, Raffles pun mengelompokkan komunitas imigran ke dalam kawasan etnis. Dalam Rencana Kota 1828, area dari Boat Quay tepi barat daya Sungai Singapura ditetapkan sebagai Kampong Tionghoa.

Kampong inilah yang menjadi cikal bakal Chinatown. Ia berkembang menjadi pemukiman mandiri yang padat, sekaligus titik transit bagi kuli yang menuju Malaya. Menurut para sarjana seperti William Skinner dan Wang Gungwu, Pecinan ini adalah transplantasi praktik sosial dari tanah leluhur. Prinsip organisasi berdasarkan keturunan, asal lokalitas, dan pekerjaan dibawa serta, membentuk mosaik unik di tanah rantau.

Di dalam Chinatown itu sendiri, terjadi pembagian alami berdasarkan kelompok dialek: orang Kanton di Temple Street, orang Hokkien di Telok Ayer, orang Teochew di South Canal Road. Kuil-kuil seperti Thian Hock Keng (1841) menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah; mereka adalah simpul sosial dan pelindung budaya. Kawasan ini juga menjadi bukti hidup keragaman awal, dengan berdampingannya Masjid Jamae, Kuil Sri Mariamman, dan Dargah Nagore. Namun, kisah sejati Chinatown adalah kisah manusia biasa. Dan di sinilah CHC bersinar.

Rickshaw Noodle Street Hawker

Merengkuh Pengalaman Imigran

Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung dibawa ke dalam labirin pengalaman. Koridor yang panjang dan sempit menciptakan kembali sesaknya kehidupan bersama, di mana banyak keluarga dengan perdagangan dan asal-usul berbeda tinggal berhimpitan. Suara percakapan, tangisan bayi, dan aroma masakan dari dapur bersama membangun atmosfer yang nyata.

Pameran dimulai dengan perjalanan laut yang mengerikan. Sebuah peta proyeksi 3D di atas perahu layar tradisional menceritakan kisah berbahaya melintasi Laut Tiongkok Selatan. Banyak yang tak selamat. Bagi yang berhasil, lentera merah yang menyala di pelabuhan menjadi simbol harapan akan kehidupan baru. Mereka adalah Sinkeh (“tamu baru”) yang langsung terlempar ke dunia hiruk-pikuk dengan bahasa, bau, dan aturan yang asing.

Proyeksi peta interaktif kemudian mengungkap bagaimana Sinkeh ini membentuk kantong-kantong berdasarkan dialek di dalam Pecinan, masing-masing dengan perdagangan dan budaya khas. Namun, kehidupan keras sering membawa pada jalan gelap. CHC tidak menghindar dari narasi suram ini; ia menghidupkan kisah pilu pelacur dan kecanduan opium di tengah gemerlap tempat judi, menggambarkan keputusasaan yang bisa melanda mereka yang terpinggirkan.

Namun, Chinatown juga tentang kehidupan, kegembiraan, dan komunitas. Sebuah teater imersif memproyeksikan festival-festival multikultural  - dari Tahun Baru Imlek ke Deepavali - di dinding dan lantai, lengkap dengan narasi tentang bagaimana perayaan itu dirayakan. Suasana pasar yang ramai dengan pendongeng, tukang cukur, penulis surat, dan opera keliling pun dihidupkan kembali.

Cinema-on-Wheels

CHC juga merayakan warisan yang bertahan. Ia menampilkan kisah usaha keluarga yang telah berlangsung beberapa generasi, dari toko obat tradisional hingga kedai makanan, yang beberapa telah menjadi merek ikonik melampaui batas Singapura.


Pusat yang Hidup dan Diakui

Kesuksesan CHC terbukti. Pada 2018, ia menduduki peringkat ketiga museum di Singapura dan ke-24 di Asia versi TripAdvisor. Pada 2019, ia disambangi oleh 247.000 pengunjung. Lebih dari sekadar atraksi turis, CHC adalah portal pendidikan yang disambut banyak kelompok sekolah, tempat di mana sejarah hidup menjadi pelajaran yang relevan.

Pada akhirnya, Chinatown Heritage Centre mengajak kita merenungkan eseBnsighn dari tempat seperti Niu Che Shui. Ia bukan sekadar distrik geografis, tetapi lanskap memori dan identitas. Seperti dirangkum dengan puitis oleh penyair Singapura, Boey Kim Cheng, dalam Clear Brightness (2012) :

Singapore Heritage di Chinatown

“Kau menjelajahi Pecinan-Pecinan dalam pikiran ini, menerjemahkannya seperti sutra yang dibawa Xuan Zhang dari India, menguji cara-cara agar kepulangan mungkin terjadi di tengah-tengah kerinduan akan kampung halaman, menelusuri jejak asing sang pelancong melintasi perbatasan, dan di antaranya menemukan bagaimana perjalanan memiliki cara untuk bertahan lama, bagaimana Pecinan-Pecinan ini tumbuh dari ketidakpastian apakah harus kembali atau tinggal, dan kemudian menjadi rumah.”

CHC berdiri sebagai monumen bagi “ketidakpastian” itu, sebuah perjalanan penuh lika-liku yang akhirnya mengakar, berubah, dan menjelma menjadi rumah. Di setiap lorong sempit yang direkreasinya, di setiap suara dan bayangan yang dihidupkannya, kita diajak untuk memahami bahwa warisan terbesar Chinatown adalah kisah ketangguhan manusia itu sendiri. *** [040125]


Kepustakaan:

Cornelius-Takahama, V. (2020, January). Chinatown. National Library Board’s (NLB). https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=e965a1df-e1be-4016-a1a1-dc86bc2bc107

Multimedia People. (n.d.). MMP Singapore – Experiential Design in the Metaverse and around You! Chinatown Heritage Centre Experiential Media. MMP Singapore - Experiential Design in the Metaverse and around You! Retrieved January 04, 2026, from https://mmpeople.com.sg/2015/chinatown-heritage-centre/

Singapore History Consultants. (n.d.). Chinatown Heritage Centre. Singapore History Consultants. Retrieved January 04, 2026, from https://www.shc.com.sg/heritage-sites/chinatown-heritage-centre/

Yeoh, Brenda S. A., & KONG, Lily.(2012). Singapore’s Chinatown: Nation building and heritage tourism in a multiracial city. Localities, 2, 117-159.  Available at: https://ink.library.smu.edu.sg/soss_researc 



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami