Saturday, May 26, 2012

Situs Kraton Ratu Boko

Situs Kraton Ratu Boko terletak di atas perbukitan Boko dengan ketinggian 195,97 di atas permukaan laut. Luas situs sekitar 160, 898 m² yang terletak di dua desa yaitu Dusun Sumberwatu (Desa Sambirejo) dan Dusun Dawung (Desa Bokoharjo), Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di sekitar Situs Kraton Ratu Boko banyak dijumpai peninggalan arkeologi dalam bentuk struktur bangunan maupun arca lepas. Struktur bangunan tersebut antara lain Candi Barong, Candi Miri, Stupa Dawangsari, Candi Ijo dan Candi Banyunibo.


Secara umum peninggalan arkeologi di Situs Kraton Ratu Boko dikelompokkan menjadi dua yaitu peninggalan arkeologi yang berada di bukit Boko barat dan bukit Boko timur. Peninggalan arkeologis yang berada di bukit Boko barat berupa jalan setapak, saluran air, kolam-kolam dan fragmen gerabah lokal dan asing. Adapun peninggalan arkeologis di bukit Boko timur dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok barat, tenggara dan timur. Peninggalan arkeologis yang termasuk dalam kelompok barat yaitu Candi Putih, gugusan Gapura Utama I dan II, talud, Candi Pembakaran, kolam penampungan air, konstruksi umpak, dan dua buah batur paseban. Kelompok tenggara terdiri dari bangunan pendapa, beberapa buah batu, miniatur candi, kompleks kolam, dan dua buah batur keputren. Kelompok timur terdiri dari Goa Lanang, Goa Wadon, kolam, dan tangga.


Situs Ratu Boko merupakan sebuah situs peninggalan arkeologis berupa bangunan kraton dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad 8. Berdasarkan sejarah dari Kerajaan Mataram Kuno, Kraton Mataram Kuno digunakan oleh Dinasti Syailendra (Rakai Panangkaran) jauh sebelum zaman Raja Samaratungga (pendiri Candi Borobudur) dan Rakai Pikatan (pendiri Candi Prambanan).


Di samping meninggalkan bukti historis berupa prasasti yang tersebar di Jawa, Kerajaan Mataram Kuno membangun sejumlah candi, baik yang bercorak Hindu maupun Budha. Penemuan artefak yang terbuat dari emas di Wonoboyo menggambarkan kekayaan seni dan budaya Selain dalam bentuk candi seperti Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Borobudur dan candi-candi lainnya.


Berdasarkan prasasti kuno yang dibuat oleh Rakai Panangkaran pada tahun 746 – 784 M, pada awalnya bangunan yang ada di Situs Kraton Ratu Boko dikenal dengan Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya atau damai. Abhayagiri berarti asrama tempat tinggal para pendeta Buddha (vihara) yang terletak di atas bukit penuh kedamaian. Pada  masa berikutnya antara 856 – 863 M, Abhyagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing yang diproklamirkan oleh Raja Vassal bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Prasasti Mantyasih yang dibuat pada 898 – 908 M oleh Rakai Watukura Dyah Balitung, masih disebutkan Walaing sebagai silsilah dari Punta Tarka yang membuat Prasasti Mantyasih. Dari permulaan abad 10 hingga akhir abad 16, tidak ada berita lagi yang menyebutkan Kraton Walaing.
Pada tahun 1790 Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Seratus tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian dan melaporkan hasil penelitian diberi judul Keraton Van Ratoe Boko, maka kepurbakalaan yang ada di bukit Ratu Boko dikenal dengan nama Keraton Ratu Boko.
Nama Ratu Boko berasal dari cerita rakyat sekitar. Ratu Boko (dalam bahasa Jawa berarti Raja Bangau) adalah ayah Loro Jonggrang, yang menjadi nama dari candi utama di kompleks percandian Prambanan.

SISA-SISA ARKEOLOGIS
Gapura
Gapura Situs Kraton Ratu Boko terdiri dari dua buah bangunan berbentuk paduraksa dengan puncak bangunan (atap) berbentuk ratna dan berfungsi sebagai gerbang masuk utama. Gapura I terbuat dari batu andesit, namun lantai, tangga, dan pagar terbuat dari batu putih. Gapura I berukuran 12,15 m, lebar 6,90 m, tinggi 5,05 m dan mempunyai 3 pintu masuk. Gapura II berukuran panjang 18,60 m, lebar 9 m dan tinggi 4,5 m, mempunyai 5 pintu masuk.

Candi Pembakaran dan sumur suci
Terbuat dari batu andesit berukuran panjang 22,60 m, lebar 22,30 m dan tinggi 3,82 m. Sebutan ini didasarkan pada penemuan abu yang terdapat di sumuran candi sehingga orang-orang beranggapan bahwa bangunan ini pada masa lampau menjadi tempat pembakaran atau penyimpanan abu jenazah raja. Setelah diteliti lebih seksama, abu tersebut adalah sisa pembakaran kayu dan tidak ada indikasi sebagai sisa pembakaran tulang.
Sumur berukuran 2,30 m x 1,80 m, kedalaman air pada musim kemarau sekitar 2 m sedangkan kedalaman sumur sekitar 5 m dari muka tanah. Dahulu air dari sumur ini digunakan dalam kegiatan upacara keagamaan di candi pembakaran. Sebuah candi harus dibangun pada tempat yang ada sumber airnya, dan jika tidak ada maka dibuat tempat penyimpanan air.
Air sumur ini diyakini mengandung tuah. Pada saat dilaksanakan upacara tawur agung, satu hari sebelum Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu, sumur ini diambil airnya untuk digunakan sebagai air suci. Air suci diambil dari sumur dengan menggunakan wadah berbentuk kendi, selanjutnya diberi doa dan mantra oleh para pendeta dan dibawa ke halaman Candi Prambanan yang menjadi tempat pelaksanaan upacara tawur agung. *** [270412]


0 comments:

Post a Comment