Sabtu, 01 Desember 2012

Candi Mendut

Secara administrasi, Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini berada kira-kira 2 Km di sebelah tenggara ibu kota Kabupaten Magelang di Mungkid. Untuk mencapai lokasi Candi Mendut tidaklah sulit karena dapat ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Letaknya berdekatan dengan Candi Pawon serta Candi Borobudur yang sangat terkenal dan merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
Pada tahun 1836, seluruh bangunan Candi Mendut kecuali bagian atap bangunan dapat ditemukan dalam keadaan tertimbun semak belukar. Selanjutnya temuan bangunan candi tersebut diusahakan untuk dapat ditempatkan kembali dengan jalan dibersihkan dan digali pada tahun 1897 – 1904, kaki dan tubuh candi diperbaiki namun hasilnya belum memuaskan. Perbaikan berikutnya dilanjutkan oleh Th. Van Erp pada tahun 1908, bersamaan dengan perbaikan Candi Borobudur. Pada tahun tersebut berhasil disusun kembali sebagian atap candi. Pada tahun 1925 beberapa stupa kecil dapat dipasang kembali pada atap candi

.

Untuk menentukan secara pasti mengenai pendirian candi bercorak Buddha ini, sangatlah sulit mengingat terbatasnya data yang ditemukan. Namun demikian, para ahli memperkirakan bahwa Candi Mendut didirikan pada abad ke-9 Masehi oleh Wangsa Syailendra. Perkiraan ini didasarkan pada prasasti Karang Tengah yang berangka tahun 824 M. Di dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Indra telah membuat bangunan suci bernama Venuvara atau hujan bambu, oleh JG De Casparis nama Venuvara disamakan dengan Candi Mendut.
Bangunan Candi Mendut berdiri di atas basement yang cukup tinggi sehingga tampak lebih kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat laut. Arah hadap candi ke barat laut tersebut tampaknya merupakan salah satu keistimewaan bagi Candi Mendut, karena kebanyakan candi di Jawa Tengah menghadap ke timur.


Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atap candi bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil yang berjumlah 48 buah. Berdasarkan gambar rekonstruksi, kemungkinan atap bangunan Candi Mendut dahulu ditutup dengan atap yang besar. Tinggi bangunan keseluruhan diperkirakan 26,40 meter.
Candi Mendut memiliki daya tarik tersendiri yang jarang ditemukan pada candi-candi lain di Jawa Tengah bahkan di Indonesia. Keberadaan tiga buah arca yang cukup besar di dalam bilik candi memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi, baik dalam bentuk fisik maupun sebagai hasil karya seni. Bahkan di kalangan umat Buddha, ketiga arca tersebut dianggap masih memancarkan sinar kesucian. Ketiga arca tersebut masing-masing dibuat dari bongkahan batu utuh yang memperlihatkan betapa luar biasa hasil karya seni nenek moyang bangsa kita.

Ketiga arca tersebut, adalah:

1.       Arca Dyani Buddha Cakyamuni
Arca tersebut menghadap ke barat, digambarkan dalam posisi duduk, kedua kakinya menyiku ke bawah, menapak pada landasan teratai, sikap tangan dharmacakramudra yang melambangkan sedang memutar roda kehidupan.

2.       Arca Bodhisatva Avalokitesvara/Lokesvara
Arca ini terletak di sebelah kanan arca Buddha Cakyamuni menghadap ke selatan. Arca ini digambarkan dalam posisi duduk, kaki kiri dilipat ke dalam sedangkan kaki kanan menjulur ke bawah. Sikap tangan varamudra melambangkan memberi ajaran, juga digambarkan memakai pakaian kebesaran antara lain memakai mahkota dan memakai perhiasan pada telinga, tangan, leher dan kelat bahu.

3.       Arca Bodhisatva Vajrapani
Arca ini terletak di sebelah kiri arca Buddha Cakyamuni menghadap ke utara. Ia digambarkan memakai pakaian kebesaran seperti halnya arca Bodhisatva Avalokitesvara. Ia juga digambarkan dalam posisi duduk, kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha, sedang kaki kiri menjulur ke bawah.
Hiasan pahatan relief yang tersebar di permukaan dinding luar bagian kaki dan badan candi menambah daya tarik Candi Mendut. Motif dan tema hiasan pada Candi Mendut bersumber dari cerita-cerita dan pelambangan dalam agama Buddha terutama cerita Jataka.
Pada Candi Mendut, adegan-adegan sinopsis cerita Jataka dipahatkan pada panel-panel bidang luar sayap tangga dan pada bagian bawah badan candi.
Salah satu panel pada sayap tangga kana sisi luar menggambarkan kisah tentang kura-kura dalam keadaan bahaya diselamatkan oleh dua ekor burung dengan menggigit kedua ujung batang kayu, untuk dibawa ke sebuah taman. Pada bagian lain juga terdapat adegan cerita Jataka yang mengisahkan tentang seekor kera yang menipu buaya. Pada relief tersebut tampak kera duduk di atas punggung buaya.

Hiasan relief yang juga sangat menarik pada dinding tubuh candi adalah:

  •  ·         Relief Kuvera/Yaksa Panhika/Arawika
Relief ini terdapat di sebelah kanan pintu masuk ke bilik candi. Ia digambarkan sebagai figure seorang laki-laki yang dikelilingi anak-anak. Di bawah tempat duduknya terdapat kendi-kendi yang penuh dengan uang.
Kendi penuh dengan uang adalah salah satu atribut Dewa Kuvera sehingga ia disebut juga sebagai dewa kekayaan. Dalam ontologi agama Buddha, pada awalnya ia adalah seorang yaksha raksasa pemakan manusia. Setelah bertemu dengan Sang Buddha, ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak.
  • ·         Relief Hariti
Relief ini terletak di sebelah kiri pintu masuk ke bilik candi. Hariti digambarkan sedang duduk sambil memangku anak, di sekelilingnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain. Seperti halnya kuvera, Hariti semula adalah raksasa yang gemar makan manusia. Setelah bertemu Sang Buddha, ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak. Bahkan ia dikenal sebagai dewi kesuburan (Fertility Goddes).

  • ·         Relief Bodhisatva Avalokitesvara dan Dewi Tara
Relief ini terdapat di dinding tubuh sisi selatan relief Avalokitesvara, dipahatkan pada bagian tengah panel duduk di atas padmasana. Di kanan kirinya duduk caktiya atau istrinya, yaitu Dewi Tara. Di bawah padmasana terdapat kolam yang berisi teratai. Dalam mitologi Buddha, relief ini menggambarkan cerita kelahiran Dewi Tara di dunia.
Selain relief-relief tersebut, dijumpai pula relief-relief yang menggambarkan Bodhisatva, yaitu di dinding sisi timur, Dewi Tara di dinding sisi utara, dan relief-relief dalam bentuk flora. *** [201112]

Sumber:
  • Brosur Candi Mendut dari Kantor Pariwisata Pemerintah Kabupaten Magelang.

0 komentar:

Posting Komentar