Sabtu, 19 Desember 2015

Pura Meru Cakranegara

Awal mula pembentukan kota Cakranegara adalah sebagai kota kerajaan Hindu di Pulau Lombok, yang pada masa itu merupakan koloni Kerajaan Hindu Karangasem di Pulau Bali. Kota Cakranegara dibangun pada tahun 1691 dan ditata berdasarkan kaidah kosmologi Hindu-Bali.
Semula Cakranegara disebut sebagai Kerajaan Singasari yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Karangasem Sasak. Menjelang akhir tahun 1838, Kerajaan Mataram Lombok yang berkuasa pada waktu itu menyatukan kerajaan-kerajaan lainnya yang berada di Pulau Lombok dan memindahkan kota kerajaannya ke wilayah Karangasem Sasak dan pada tahun 1866 mengganti nama Singasari menjadi Cakranegara.
Cakranegara sebagai kota kerajaan Hindu di Pulau Lombok, pada masa itu merupakan koloni Kerajaan Hindu Karangasem di Pulau Bali. Sehingga, kawasan Cakranegara ini dulunya juga dibangun berdasarkan kaidah kosmologi Hindu-Bali dan pada kondisi eksisting beberapa cirinya masih dapat dilihat dari kebertahanan artefak kota dan bangunan cagar budaya ada di dalamnya.
Salah satu warisan budaya umat Hindu di Lombok yang berupa bangunan pura banyak terdapat di wilayah Cakranegara, Mataram, Pagesangan, Pagutan, dan sekitarnya. Pura-pura ini merupakan peninggalan yang memliki nilai penting bagi perkembangan tradisi dan budaya. Salah satu pura yang menjadi bagian dari sejarah keberadaan umat Hindu di Lombok adalah Pura Meru Cakranegara.


Pura ini terletak di Jalan Selaparang, Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi pura ini berada di sebelah selatan Taman Mayura ± 100 meter.
Pura Meru ini didirikan pada tahun 1720 oleh Kerajaan Singasari yang juga dikenal dengan Kerajaan Karangasem Sasak. Pembangunan Pura Meru ini, di samping sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan juga bertujuan untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara penguasa di masing-masing kerajaan kecil yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan.
Pura Meru memiliki ukuran tapak datar dengan panjang ± 174 meter dengan lebar 51 meter, atau memiliki luas sekitar 8.873 m². Pada tahun 1979 dilakukan pemugaran, khususnya pada candi bentar dan bale kulkul yang memberi petunjuk (sepertinya) bentuk dan ragam hiasnya sudah mendapat penyempurnaan motif pepalihan dan ukiran Bali menurut Lontar Asta Kosala Kosali. Adanya pemugaran ini juga sedikit mengubah konsep arah masuk utama dari luar pura. Yang pada mulanya posisi candi bentar berada pada sumbu simetri yang sama dengan aksis kori agung, dulu candi bentar ini dari barat lurus ke Jeroan, sampai utara begitu pula kedudukan bale kulkul yang sekarang dibangun pada sudut barat laut halaman terluar pura.
Tapak (site) Pura Meru memanjang ke arah timur-barat yang terbagi atas empat bagian peruntukan (mandala) secara berturut-turut, yaitu utama mandala, madya mandala, nista mandala, dan legar mandala. Antara mandala yang satu dengan lainnya memiliki perbedaan ketinggian tanah yang dibatasi oleh tembok penyengker sesuai dengan makna tingkat kesuciannya. Utama mandala berada pada posisi yang paling tinggi, disusul kemudian makin rendah dari madya, nista sampai legar.


Pada halaman legar mandala terdapat bale kulkul dan candi bentar yang berada di sisi utara (sebelah kanan), rumah penjaga dan toilet. Candi bentar berada di sebelah utara menjulang tinggi memiliki sejenis peletasan yang berada di sisi dinding tembok sebelah utara.
Sebelum memasuki areal madya, pada as tembok pembatas antar halaman terdapat gelung kori, yang di sisi kiri kanannya (dekat paduraksa tembok samping) terdapat pemedal alit, sebelah arca raksasa. Pada halaman madya ini hanya berjejer dua buah gugus bangunan, yang disebut dengan bale petandakan dan bale gong. Di sekitar bale petandakan dan bale gong, terdapat beberapa pohon cempaka dan kamboja.
Menuju ke wilayah utama mandala harus melewati kori agung yang berada pada as tembok pembatas, yang di sebelah kiri kanannya juga memiliki pemedal alit. Di utama mandala berjejer tiga buah bangunan meru bertumpang sebelas sebagai simbol lambang Siwa, bangunan meru bertumpang sembilan sisi selatan simbol Brahma, dan bangunan meru bertumpang sembilan sisi utara merupakan simbol Wisnu. Meru tumpang sebelas beratap ijuk, dan di ruang-ruang di setiap tumpang terbuat dari bahan kayu. Sedangkan, pada meru bertumpang sembilan menggunakan bahan genteng yang pada list plank-nya menggunakan ring-ring. Dalam utama mandala selain berjejer dua buah bangunan meru bertumpang sembilan dan sebuah bangunan meru bertumpang sebelas, di hadapan bangunan ini juga terdapat tiga buah pelinggih, yaitu padmasana, ngerurah dan sanggar agung. Ketiganya tidak beratap, bentuk menyerupai padma dengan bebaturan berbentuk segi empat panjang. Pelinggih yang paling kecil berada di tengah-tengah (ngerurah). Di depan persimpangan ini terdapat sebuah sumur berdiameter sekitar satu meter, memiliki dua buah pilar dan sebuah balok yang bertumpu pada kedua pilar tadi. Di sebelah sumur terletak bale payuman (tempat banten) bertiang empat yang juga beratap genteng, kemudian di sebelah selatannya terdapat bale tenget bertiang enam, digunakan bila menyajikan tari-tarian sakral maka sekaa gong metabuh di sana. Hampir sepanjang sisi kanan dan belakang area utama mandala, berjejer sanggar atau persimpangan Ida Bathara yang melinggih. Semua bangunan yang disebut sanggar ini merupakan gugus bangunan kecil bertiang enamm terbuat dari kayu di cat putih beratap ijuk. Keseluruhan berjumlah 29 buah, 13 sepanjang sisi utara menghadap ke selatan dan 16 sisi timur menghadap ke barat, yang berada di belakang bangunan meru. *** [161015]

Kepustakaan:
Joko Prayitno, 2013. Status Pura Meru Cakranegara dalam Perspektif Teologi, dalam Shopia Dharma Vol. I Edisi Nomor 1 Juli-Desember 2013

0 komentar:

Posting Komentar