Sabtu, 19 Desember 2015

Masjid Qubbatul Islam Mataram

Pada malam hari (16/10), saya berkesempatan makam malam bersama Tim dari lembaga donor di Lesehan Taliwang Irama yang cukup terkenal di Kota Mataram. Esok harinya, saya mendampingi mereka kembali untuk membeli ayam taliwang sebagai oleh-oleh pulang ke Jakarta. Karena ke sana pada pagi hari, saya bisa berkeliling di sekitar rumah makan tersebut. Ternyata tidak jauh dari rumah makan tersebut, terdapat sebuah masjid lawas dengan menara khasnya. Masjid tersebut bernama Masjid Qubbatul Islam.
Masjid ini terletak di Jalan Ade Irma Suryani, Lingkungan Karang Taliwang, Kelurahan Karang Taliwang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi masjid ini berada di sebalah timur laut R.M. Lesehan Taliwang Irama ± 100 meter.
Keberadaan masjid ini tidak terlepas dari sejarah berdirinya Karang Taliwang itu sendiri. Dikisahkan bahwa antara abad 17 hingga abad 18 terjadi perseteruan antara Kerajaan Karangasem (Bali) dengan Kerajaan Selaparang (Lombok). Perseteruan itu semakin menjadi akibat melarikan dirinya putra mahkota Kerajaan Karangasem ke Selaparang setelah dituduh melakukan pelanggaran adat, dan bergabungnya Arya Banjar Getas ke Kerajaan Karangasem lantaran istrinya mau dinikahi oleh Raja Selaparang. Intrik-instrik tersebut menyebabkan terjadinya perang terbuka antara Kerajaan Karangasem dan Kerajaan Selaparang.


Pada masa itu pasukan Kerajaan Taliwang didatangkan ke Lombok untuk membantu Kerajaan Selaparang yang mendapat serangan dari Kerajaan Karangasem Bali. Dalam sejumlah literatur disebutkan bahwa Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Taliwang memiliki satu garis keturunan dengan Kerajaan Banjar di Kalimantan. Merasa bersaudara, Kerajaan Taliwang mengirimkan pasukan yang terdiri atas orang-orang mumpuni ke medan pertempuran. Pasukan Kerajaan Taliwang pun bergabung dengan pasukan Kerajaan Selaparang di suatu wilayah di mana pasukan dua kerajaan ini membangun markas yang berhadapan langsung dengan pasukan Karangasem. Lokasi inilah yang sekarang dikenal dengan Karang Taliwang. Makanya sampai saat ini, bahasa Taliwang (Sumbawa Barat) dengan Karang Taliwang (Lombok) memiliki kesamaan.
Dalam misi itu, ikut serta para pemuka agama Islam, juru kuda maupun juru masak untuk mendampingi pasukan Kerajaan Taliwang. Pemuka agama bertugas memberi tuntunan kehidupan masyarakat dan melakukan pendekatan dengan Raja Karangasem agar korban berjatuhan bisa dihindari. Juru kuda bertugas menjaga dan memelihara kuda pasukan Kerajaan Taliwang. Juru masak bertugas menyiapkan makanan untuk pasukan Kerajaan Taliwang.


Setelah Kerajaan Selaparang bisa dikalahkan oleh Kerajaan Karangasem pada tahun 1692 maka tamatlah riwayat Kerajaan Selaparang atas daerah kekuasaannya. Meski demikian, Kerajaan Karangasem tidak serta merta juga mengusir orang Islam yang telah bermukim di Karang Taliwang, baik dari Kerajaan Selaparang maupun Kerajaan Taliwang. Ikatan tali sejarah yang erat antara Puri Karangasem di Bali yang telah lama hidup berdampingan secara rukun dengan umat Hindu, diadopsi oleh Kerajaan Karangasem untuk membina hubungan baik dengan umat Islam di Lombok.
Selain membangun Pura Meru (1720), Taman Narmada (1927), dan Taman Mayura (1744) di Cakranegara, Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem juga sangat memperhatikan kehidupan umat Islam di bawah kekuasaannya. Salah satunya dengan cara membangunkan sebuah masjid yang akan digunakan sebagai tempat peribadatan umat Islam. Maka dibangunlan masjid di Karang Taliwang dengan nama Masjid Qubbatul Islam. Qubbatul Islam bila dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia berarti Kubah Islam. Kubah merupakan atap yang melengkung, yang berfungsi untuk menaungi, sedangkan Islam menunjuk kepada umat yang melakukan shalat di bawah kubah yang menaunginya tersebut.
Masjid ini diperkirakan didirikan pada tahun 1750, namun kemudian direnovasi oleh Belanda atas permintaan Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem ketika masih berkuasa. Setelah direnovasi, masjid ini terlihat lebih tinggi dari sebelumnya. Jendela-jendelanya pun lebar-lebar. Bangunan utamanya ditopang oleh 4 tiang (soko). Di atas mihrab, atapnya berbentuk kubah, sedangkan bangunan utamanya beratapkan tumpang satu.
Sekarang ini, bangunan masjid tampak semakin luas setelah ditambahi teras di samping kiri, kanan dan di depan pintu utama masjid. Teras-teras tersebut membentuk selasar masjid yang cukup luas.
Masjid Qubbatul Islam ini merupakan masjid lawas yang memiliki sejarah panjang. Umur masjid ini hampir bersamaan dengan berdirinya daerah Karang Taliwang itu sendiri. *** [161015]

0 komentar:

Posting Komentar