Sabtu, 18 Januari 2014

Masjid Rahmat Surabaya

Sesuai permintaan Ratu Dwarawati, seorang putri dari Campa, dan atas persetujuan suaminya yaitu Raja Bhre Kertabumi (Prabu Brawijaya V), maka berangkatlah rombongan Sayyid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) menuju Ampel Denta yang terletak di Kadipaten Surabaya.. Selama dalam perjalanan itu, beliau melakukan dakwah pada penduduk dusun yang dilaluinya. Dakwah yang dilakukannya cukup unik. Beliau membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan anyaman rotan. Kipas-kipas itu dibagikan kepada penduduk setempat secara gratis. Para penduduk hanya cukup menukarnya dengan bacaan kalimat syahadat saja.
Penduduk yang menerima kipas itu merasa sangat senang. Terlebih setelah mereka mengetahui kipas itu bukan sembarang kipas. Akar yang dianyam bersama rotan itu ternyata berdaya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit batuk dan demam. Dengan cara itu semakin banyak orang yang berdatangan pada Raden Rahmat.
Pada saat demikianlah, beliau memperkenalkan keindahan agama Islam sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Cara itu terus dilakukan hingga rombongan memasuki Desa Kembang Kuning yang termasuk dalam wilayah pinggiran Kadipaten Surabaya. Kala itu, di daerah Kembang Kuning masih banyak hutan dan rawa-rawa.


Lantas, Raden Rahmat dan rombongannya mbabat alas Kembang Kuning serta mendirikan tempat sembahyang (langgar) yang sangat sederhana. Langgar ini menyerupai cungkup yang terbuat dari bambu. Meski langgar yang dibangun masih sangat sederhana, namun kala itu langgar ini dijadikan sebagai pusat syiar Islam di kawasan Kembang Kuning. Bahkan bisa dikatakan, langgar inilah yang pertama kali didirikan. Konon langgar ini dibangun hanya butuh waktu semalam dan di kawasan sekitar bangunan langgar banyak tumbuh bunga berwarna kuning. Sehingga pada pagi harinya masyarakat sangat terkejut dengan keberadaan langgar tersebut. Maka masyarakat sekitar kemudian menyebutnya Langgar Tiban (Langgar Kembang Kuning).
Lalu, langgar ini dipercayakan untuk diasuh oleh salah satu muridnya yang bernama Wirosroyo karena Raden Rahmat mau melanjutkan perjalanannya menuju Ampel Denta (yang kelak bergelar Sunan Ampel). Ki Wirosroyo sebelumnya beragama Hindu.
Langgar yang didirikan Raden Rahmat dengan rombongannya inipun akhirnya tak terurus dan tertutup hutan belantara sepeninggal Ki Wirosroyo, dan baru beberapa puluh tahun kemudian, ditemukan kembali oleh penduduk sekitar, dan dipergunakan kembali. Dari tahun ke tahun, langgar yang dulu terbuat dari bilik bambu ternyata mengalami pemugaran dan dijadikan masjid. Masjid kecil berdiri sekitar tahun 1950-an sedangkan bangunan yang ada saat ini dibangun di tahun 1963 dan berdiri hingga sekarang, dan dinamakan Masjid Rahmat serta bentuk langgar sebelumnya diabadikan dalam ukiran semen yang diletakkan di dinding depan di serambi sebelah kanan.
Masjid Rahmat ini dibongkar menggunakan dana bantuan Yayasan Semesta Berencana dan bertahan hingga tahun 2004. Sayangnya, beberapa bentuk bangunan aslinya kini sudah tidak lagi bisa ditemui di masjid ini. Bahkan beberapa sumur yang diyakini keramat juga ditutup untuk umum. Renovasi total ini sengaja dilakukan karena takut akan adanya pengkultusan yang dikhawatirkan mendekati syirik.
Masjid yang terletak di Jalan Kembang Kuning 79-81 Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur ini, telah ditetapkan benda cagar budaya sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 dengan nomor urut 47. Sehingga, masjid yang merupakan salah satu masjid tertua di Surabaya ini harus dilindungi, dan dijaga kelestariannya. *** [180114]

0 komentar:

Posting Komentar