The Story of Indonesian Heritage

Klenteng Hoo Tong Bio: Jejak Perlindungan dan Kebangkitan di Ujung Timur Jawa

Selepas mengurus disposisi perpanjangan izin penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environemtal Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi pada Selasa (07/04), perjalanan saya belum benar-benar usai. 

Di atas boncengan motor milik Field Supervisor COM-B, Andhika Krisnaloka, S.Sos., saya menyelipkan satu persinggahan singkat menuju sebuah bangunan bersejarah di Jalan Gurami No. 54, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. Di sanalah, Klenteng Hoo Tong Bio - klenteng tertua di Jawa Timur dan Bali - berdiri, menunggu untuk disapa, meski hanya sejenak.

Klenteng Hoo Tong Bio di Jalan Gurami No. 54, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Nama “Hoo Tong Bio” berasal dari dialek Hokkien, bermakna “Kuil Perlindungan Orang Tionghoa.” Sebuah nama yang bukan sekadar simbol, melainkan cerminan dari fungsi historisnya. Tempat ini pernah menjadi pelindung yang secara harfiah dan spiritual, bagi komunitas Tionghoa yang terdampar di ujung timur Jawa, setelah melarikan diri dari tragedi berdarah di Batavia pada tahun 1740, atau yang dikenal dengan Tragedi Angke/GegerPecinan.

Kisah itu berawal dari pelarian sekelompok orang Tionghoa yang dipimpin Tan Hu Cin Jin, seorang kapiten yang menyelamatkan kaumnya dari kekerasan akibat kebijakan kolonial. Kapal yang mereka tumpangi tak sampai ke tujuan semula; nasib membawanya terdampar di Blambangan. Dari keterasingan itulah, sebuah komunitas tumbuh. Tan Hu Cin Jin kemudian dihormati, bahkan ditahbiskan sebagai dewa dan leluhur oleh masyarakat Tionghoa setempat, sebuah bentuk ingatan kolektif yang menjelma keyakinan.

Klenteng ini awalnya berdiri sederhana di wilayah Lateng, sebelum akhirnya dipindahkan ke Karangrejo pada kisaran tahun 1765 hingga 1774. Perpindahan itu bukan tanpa sebab. Tekanan kolonial, perampasan tanah, serta perubahan pusat pemerintahan Blambangan ke Banyuwangi kota. Prasasti tertua yang masih tercatat bertahun 1784 menjadi jejak paling awal yang menandai eksistensinya. Seiring waktu, bangunan ini mengalami pembaruan pada 1848.

Men lou wu atau pintu gerbang utama menuju ke dalam halaman persil Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Namun perjalanan klenteng ini tidak selalu mulus. Pada masa Orde Baru, identitasnya ditekan. Namanya diubah menjadi Nara Raksita, praktik ibadah dibatasi, bahasa Mandarin dilarang, dan ajaran Kong Hu Cu tidak diakui. Klenteng ini sempat “padam”.

Baru pada awal 2000-an, angin perubahan berembus. Larangan dicabut, nama aslinya dikembalikan, dan pembangunan besar-besaran dilakukan antara 2003 hingga 2008. Hoo Tong Bio bangkit, menjelma menjadi salah satu klenteng terbesar dan tertua di Jawa Timur.

Namun ujian belum selesai. Pada 13 Juni 2014, kebakaran hebat melalap hampir seluruh bagian penting bangunan. Api yang berasal dari altar Dewa Bumi, diperparah oleh minyak kelapa, menghancurkan patung-patung dewa, prasasti kuno, hingga dokumen bersejarah. Yang tersisa hanyalah abu, dan ingatan.

Bangunan utama Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Rekonstruksi dimulai beberapa bulan kemudian. Bangunan baru dirancang lebih tinggi, dari 4 meter menjadi 9 meter, sebuah adaptasi terhadap risiko kebakaran di masa depan. Dana miliaran rupiah dihimpun dari gotong royong umat dan dukungan pemerintah. Pada akhirnya, klenteng ini kembali berdiri. Bukan sebagai replika masa lalu, melainkan sebagai kelanjutan sejarah itu sendiri.

Memasuki gerbang men lou wu yang megah, dengan ornamen kepiting bertengger di atasnya, suasana berubah seketika. Aroma dupa menyambut perlahan, berpadu dengan warna merah dan kuning yang mendominasi ruang. Atap melengkung, ukiran kayu yang rumit, serta simbol naga, singa, dan phoenix menghadirkan nuansa yang sakral sekaligus artistik.

Sepasang singa batu (shi zi) berjaga di depan, seolah menjadi penjaga tak kasat mata. Di belakangnya, tiang-tiang berhias naga melilit (chan long zhu) menjulang kokoh. Di sisi kiri, bangunan menyerupai pagoda menambah dimensi visual yang khas. Sementara di puncak atap, ornamen mutiara bola api (huo zhu) diapit naga berjalan (xing long) menjadi sebuah simbol harmoni antara kekuatan dan kebijaksanaan.

Gedung Serbaguna Tridharma Grha Abikasamasta milik Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Di samping bangunan utama, berdiri Grha Abikasamasta, gedung serbaguna yang namanya menyiratkan makna filosofis: sebuah ruang menuju keseluruhan, menuju semesta. Ia melengkapi fungsi klenteng, sebagai ruang perjumpaan sosial dan budaya.

Meski yang tampak hari ini adalah hasil rekonstruksi pasca kebakaran, ruh dari klenteng ini tetap terjaga. Ia menyimpan lapisan-lapisan sejarah, tentang pelarian, ketahanan, penindasan, hingga kebangkitan. Di sinilah ajaran Tridharma (Buddha, Khonghucu, Tao) berakar dan berkembang di Bumi Blambangan.

Hoo Tong Bio bukan sekadar destinasi. Ia adalah narasi panjang yang ditulis ulang oleh waktu, oleh manusia, dan oleh keyakinan. Di tempat seperti ini, perjalanan tidak hanya soal berpindah ruang, tetapi juga tentang memahami makna tentang bagaimana manusia bertahan, percaya, dan terus membangun kembali, bahkan setelah semuanya pernah menjadi abu. *** [230426



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami