The Story of Indonesian Heritage

Singgah Tak Sengaja di Klenteng Tik Liong Tian: Menyusuri Jejak Istana Naga Bajik di Rogojampi

Sambil menunggu jemputan dari Field Supervisor COM-B saat bertugas di Banyuwangi dalam NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC-NCDs & EC) pada Kamis (02/04), saya duduk di selasar Stasiun Rogojampi, dengan mengisi waktu berselancar di Google. 

Niat awal hanya mencari referensi kuliner di sekitar stasiun, tapi tanpa sengaja saya menemukan informasi tentang sebuah klenteng yang letaknya ternyata tak jauh dari sini, hanya sekitar 550 meter saja. 

Rasa penasaran langsung muncul. Nama tempat itu adalah Klenteng Tik Liong Tian, yang beralamat di Jalan Raya Rogojampi No. 69 Pancoran Kulon, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, tepat di depan Pasar Rogojampi.

Kebetulan, perjalanan menuju basecamp Purwodadi memang melewati jalur tersebut. Saya pun meminta kepada Field Supervisor COM-B, Andhika Krisnaloka, S.Sos. untuk mampir sejenak. Kesempatan seperti ini rasanya sayang untuk dilewatkan saat menemukan jejak sejarah di sela perjalanan kerja.

Fasad Klenteng Tik Liong Tian Rogojampi, Banyuwangi

Klenteng Tik Liong Tian merupakan satu dari sembilan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) yang memuja Yang Mulia Kong Co Tan Hu Jin atau Chen Fu Zhen Ren. Pemujaan terhadap Kong Co ini tidak hanya ada di Banyuwangi, tetapi juga tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa, Bali, hingga Lombok. Di Banyuwangi sendiri, selain Tik Liong Tian, terdapat pula Hoo Tong Bio yang memiliki junjungan serupa.

Klenteng yang juga dikenal sebagai Klenteng Rogojampi ini didirikan pada tahun 1915. Awalnya, tempat ini hanyalah kuil pribadi milik seorang pendatang bernama Liem Kim Hong. Kisah pendiriannya cukup menarik. 

Konon, Liem pernah bermimpi bahwa Chen Fu Zhen Ren berada di Watu Dodol. Ia pun mendatangi lokasi tersebut dan menemukan dua arca batu yang diyakini sebagai representasi sang dewa. Arca itu kemudian ditempatkan di altar rumahnya, hingga akhirnya ia membangun kuil kecil di belakang rumah sebagai tempat pemujaan.

Seiring waktu dan bertambahnya kemampuan ekonomi, kuil tersebut berkembang. Pada tahun 1958, rumah sekaligus kuil itu diserahkan kepada Perhimpunan Warga Tionghoa dan resmi dibuka untuk umum dengan nama Klenteng Tik Liong Tian. Sejak saat itu, pengelolaan klenteng dilakukan secara terorganisir. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1970, menandai perkembangan fisik sekaligus sosialnya.

Halaman depan Klenteng Tik Liong Tian Rogojampi

Nama “Tik Liong Tian” sendiri berasal dari dialek Hokkien, sementara dalam pelafalan Mandarin modern dikenal sebagai De Long Dian (德龙殿), yang berarti “Istana Naga Bajik”, sebuah nama yang sarat makna kebajikan, kekuatan, dan kemuliaan.

Secara visual, klenteng ini menampilkan arsitektur tradisional Tionghoa yang kental. Dominasi warna merah dan kuning emas langsung mencuri perhatian, lengkap dengan ornamen naga yang sarat simbolisme. Struktur bangunannya memperlihatkan prinsip simetri dan keseimbangan ala feng shui, dengan elemen-elemen khas seperti halaman tengah, selasar penghubung, serta detail penyangga atap tradisional.

Bangunan utama berbentuk persegi panjang dengan satu pintu utama dan tiga pintu samping berukuran lebih kecil. Di bagian wuwungan terlihat ornamen mutiara Buddha (huo zhu) yang diapit xing long (naga berjalan), sebuah simbol klasik dalam budaya Tionghoa. Area depan klenteng berupa halaman terbuka yang dilengkapi tungku pembakaran berbentuk pagoda, serta sepasang patung singa batu (shi zi) yang menjaga gerbang.

Memasuki area dalam, suasana terasa semakin sakral. Teras digunakan untuk sembahyang, sementara ruang utama menjadi pusat altar bagi Chen Fu Zhen Ren beserta pengawalnya. Di bagian tengah terdapat kolam dengan jembatan kecil, dikelilingi altar dewa-dewi lain, termasuk representasi tiga ajaran besar, yaitu Buddha, Khonghucu, dan Tao.

Fasilitas bangunan kantor Tri Dharma yang berada di samping kanan Klenteng Tik Liong Tian

Salah satu ciri khas paling mencolok dari klenteng ini adalah keberadaan kolam ikan serta altar Hu Shen atau Dewa Harimau, yang dikenal sebagai tunggangan dari dewa rezeki. Menariknya, di dekat altar tersebut terdapat awetan harimau dan macan tutul asli dari Jawa Barat, yang disimpan dalam kotak kaca. Detail pengerjaannya begitu hidup hingga memberi kesan seolah mata hewan tersebut terus mengikuti setiap gerakan pengunjung.

Di bagian belakang, terdapat tungku pembakaran lain berbentuk paviliun segi delapan, dihiasi simbol-simbol Ba Xian. Meski lebih pendek dari tungku depan, kapasitasnya justru lebih besar.

Kini, Klenteng Tik Liong Tian tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial komunitas Tionghoa di Rogojampi dan sekitarnya. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari area parkir, kantor sekretariat, perpustakaan, aula, dapur, hingga bangunan pendidikan dan penginapan.

Singgah sebentar di klenteng ini memberi pengalaman yang berbeda. Di tengah aktivitas harian dan perjalanan kerja, ada ruang untuk melihat bagaimana sejarah, kepercayaan, dan budaya berkelindan dalam satu tempat yang sederhana namun sarat makna. *** [120426]

Kepustakaan:

Ciberindo. (n.d.). Klenteng Tik Liong Tian| Wihara. Wihara. Retrieved April 10, 2026, from https://www.wihara.org/listings/klenteng-tik-liong-tian/366

Edi (posted). (n.d.). SERBA SERBI TRIDHARMA: Tik Liong Tian - Rogojampi. Blogspot. https://tradisitridharma.blogspot.com/2014/11/tik-liong-tian-rogojampi.html

ibcindon. (2011, December 04). Istilah-istilah arsitektur tradisional Tionghoa, Chinese vernacular architecture terms. | Klenteng Indonesia, temple as symbols of Chinese culture. Klenteng Indonesia, Temple as Symbols of Chinese Culture. https://templesymbolchineseculture.wordpress.com/2011/12/04/istilah-arsitektur-tradisional-tionghoa-chinese-vernacular-architecture-terms/



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami