![]() |
| Stasiun Sei Bejangkar (Foto: Hendrik Nugroho/25-02-2026) |
Rabu siang (25/02), pukul 12.46 WIB, sebuah foto muncul ke layar ponsel saya. Dikirim lewat WhatsApp oleh Hendrik Nugroho, S.E., enumerator SurveyMETER yang tengah bertugas survei PAUD di Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara.
Di balik foto itu berdiri tenang sebuah stasiun kecil bernama Stasiun Kereta Api Sei Bejangkar, sebuah bangunan lawas yang seakan memanggil ingatan pada masa ketika rel-rel besi menjadi nadi utama perkebunan di pesisir timur Sumatra.
Terletak di Desa Sei Bejangkar, Kecamatan Sei Balai, Kabupaten Batu Bara atau tepatnya berada di depan Kantor Pos Cabang Sei Bejangkar, stasiun berketinggian +9,30 meter ini tergolong stasiun kelas III/kecil dan berada dalam wilayah kerja Divisi Regional I Sumatra Utara dan Aceh. Secara geografis, ia menjadi stasiun paling selatan di Kabupaten Batu Bara, yang menjadi sebuah penanda sunyi di jalur yang pernah begitu sibuk.
Bangunannya merupakan peninggalan masa Hindia Belanda. Ia lahir bersamaan dengan pembangunan jalur rel Bamban–Rantau Laban–Kisaran–Tanjungbalai–Teluk Nibung sepanjang 141 kilometer, proyek ambisius yang digarap oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).
DSM sendiri adalah perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di sekitar pesisir timur Sumatra, terutama wilayah Deli (Medan), dan menjadi motor penggerak infrastruktur rel sejak awal abad ke-20.
Pengerjaan lintasan tersebut dilakukan bertahap dalam proyek besar jalur Timur Sumatra kategori spoorweg 2e klasse. Segmen Bamban–Rantau Laban dibangun antara 20 September 1901 hingga 2 Maret 1903. Lalu Rantau Laban–Tanjungbalai dikerjakan dari 14 September 1912 sampai 6 Agustus 1915. Adapun jalur Tanjungbalai–Teluk Nibung dirampungkan pada 1 Februari 1918.
Tepat pada 6 Agustus 1915, bersamaan dengan peresmian jalur Rantau Laban–Tanjungbalai, Stasiun Sei Bejangkar resmi dibuka dan menjadi simpul kecil dalam jaringan rel kolonial yang terus merambat ke selatan.
Namun rel-rel ini tak sekadar proyek transportasi. Ia adalah jawaban atas desakan para pengusaha perkebunan di tanah Deli. Sejak akhir abad ke-19, geliat ekonomi perkebunan, seperti kelapa sawit, karet, dan tembakau, yang menuntut akses cepat menuju pelabuhan ekspor, terutama Teluk Nibung.
Pada 1881, manajer Deli Maatschappij menggagas pembangunan jalur kereta api penghubung kebun dan pelabuhan. Gagasan itu disokong para pemilik kebun yang tergabung dalam Deli Planters Vereeniging, hingga akhirnya pada pertengahan 1883 lahirlah DSM untuk merealisasikan pembangunan rel di Sumatera Timur.
Sejak dimulai pada akhir 1883, jaringan rel DSM berkembang pesat. Pada 1937, lintasannya telah membentang dari Medan hingga Rantau Prapat, mengikat kawasan-kawasan perkebunan dengan pelabuhan ekspor.
Di tengah arus liberalisasi perdagangan pasca 1870, ketika kebijakan tanam paksa dihapus dan diganti sistem swasta, perkebunan di Sei Bejangkar pun berkembang. Wilayah ini menjelma sentra produksi karet dan tembakau yang digerakkan tenaga kuli kontrak, menjadi bagian dari mata rantai ekonomi global yang terhubung oleh rel baja.
Stasiun Sei Bejangkar sendiri dahulu memiliki empat jalur. Jalur 2 merupakan sepur lurus, sementara jalur 4 adalah sepur badug, yakni jalur buntu tempat rangkaian berhenti. Kini, jalur 3 dan 4 telah dibongkar, menyisakan dua jalur aktif. Dari arah barat, rel menghubungkannya ke Stasiun Lima Puluh; ke arah timur dan selatan, rel membawa perjalanan menuju Stasiun Tebing Tinggi.
Meski usia bangunannya telah melampaui satu abad, denyut kehidupan belum benar-benar padam. Penumpang masih naik dan turun di peronnya yang sederhana. Kereta ekonomi KA Putri Deli tetap singgah, menghubungkan Medan dan Tanjungbalai, seolah menjaga kesinambungan antara masa lalu dan masa kini.
Foto yang saya terima siang itu bukan sekadar gambar bangunan tua. Ia adalah potret tentang bagaimana sejarah ekonomi kolonial, geliat perkebunan, dan perkembangan transportasi modern bertemu dalam satu lanskap kecil di Kabupaten Batu Bara.
Stasiun Sei Bejangkar mungkin hanya stasiun kelas III, tetapi dari peronnya yang sunyi, kita bisa mendengar gema panjang perjalanan Sumatera: tentang rel, tentang kebun, dan tentang manusia-manusia yang pernah menggantungkan harapan pada bunyi peluit kereta. *** [250226]
Kepustakaan:
Indera. (2006). “Diversifikasi Usaha Deli Spoorweg Maatschappij: Studi Sejarah Perusahaan di Sumatera Timur, 1883-1940”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta, 14-17 November 2006.
Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer-Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.
Rivai, M., Damanik, E. L., Lubis, H. S. D., & Harahap, A. (2022). Railway Transport Development in East Sumatra, 1880s-1930s. ICIESC. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4108/eai.11-10-2022.2325400








Tidak ada komentar:
Posting Komentar