The Story of Indonesian Heritage

People’s Park Complex: Mutiara Urban di Antara Lorong Chinatown

Architecture is a visual art and the buildings speak for themselves” – Julia Morgan

Keluar dari Chinatown Heritage Centre, langkah kaki seolah belum ingin beranjak jauh dari riuh sejarah Chinatown atau Pecinan di Singapura. Pemandu Free Singapore Tour mengajak menyusuri lorong-lorong yang masih menyimpan denyut lama kota. Di persimpangan Trengganu Street dan Temple Street, pandangan tiba-tiba tertarik ke arah barat laut, sebuah gedung menjulang, tegas, dan tak terbantahkan kehadirannya.

Dari arah Rest Chinatown Hotel, bangunan itu tampak mendominasi cakrawala dengan warna merah yang mencolok. Pada fasadnya, tiga aksara Tionghoa (hanzi) berukuran besar - 珍珠房 - menjadi penanda yang tak mungkin terlewat. 

Dibaca Zhēnzhū fáng, istilah ini memuat makna puitis, yaitu zhēnzhū berarti mutiara, sementara fáng dapat dimaknai sebagai rumah atau ruang. Sebuah “rumah mutiara” - metafora yang terasa tepat bagi bangunan yang memantulkan begitu banyak fungsi dan kehidupan di dalamnya.

Namun, bagi kebanyakan orang, gedung ini lebih dikenal sebagai People’s Park Complex, atau Kompleks Taman Rakyat. Nama yang sederhana, tetapi menyimpan lapisan sejarah urban yang kompleks.

Menurut catatan National Library Singapore [1], kompleks ini rampung pada 1973, berdiri setinggi 102,7 meter di atas lahan sekitar satu hektar. Pada masanya, ia bukan sekadar bangunan tinggi melainkan sebuah eksperimen kota. Inilah pusat perbelanjaan terbesar di Singapura kala itu, sekaligus pelopor konsep atrium terbuka pertama yang disebut sebagai “ruang kota” di dalam bangunan.

Gedung People's Park Complex yang ikonik di Chinatown dilihat dari pertemuan antara Trengganu Street dan Tempel Street, atau dari depan Rest Chinatown Hotel (Sumber: Potret dari Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.)

Konsepnya terinspirasi oleh gagasan Metabolist Movement dari Jepang, sebuah visi arsitektur yang memandang kota sebagai organisme hidup yang dapat tumbuh dan beradaptasi. 

Di tangan para arsitek seperti William Lim, Koh Seow Chuan, dan Tay Kheng Soon dari Design Partnership, visi itu diterjemahkan menjadi struktur bergaya Brutalism, dengan garis tegas, beton ekspos, dan komposisi geometris yang jujur.

Di sinilah gagasan “kota vertikal” mulai berdenyut. Podium ritel, ruang kantor, hingga apartemen 25 lantai disatukan dalam satu tubuh bangunan yang menantang konsep zonasi tunggal yang lazim saat itu. 

Sebuah “jalan di udara” (street in the air) tercipta, menggemakan pengaruh pemikiran Le Corbusier. Bahkan arsitek Jepang Fumihiko Maki pernah memuji kompleks ini sebagai realisasi nyata dari teori urban yang selama ini hanya hidup dalam gagasan.

Namun sebelum menjadi ikon modern, lahan ini pernah berfungsi sebagai taman publik, lalu berubah menjadi Pasar Taman Rakyat, hingga akhirnya dilalap kebakaran besar pada 1966. 

Dari abu itulah pembangunan dimulai kembali pada 1967, melalui program penjualan lahan pemerintah. Podium dibuka pada 1970, disusul menara hunian tiga tahun kemudian. Dibangun oleh Low Keng Huat dengan biaya sekitar S$12 juta, perjalanan awalnya pun tidak mulus di man pernah terjadi pemadaman listrik dan getaran sempat menjadi persoalan.

Meski demikian, tidak seperti proyek saudaranya, Katong People’s Complex, yang kehilangan relevansi dan akhirnya dijual, People’s Park Complex tetap bertahan sebagai jangkar identitas Chinatown. Berdiri di antara Eu Tong Sen Street dan New Bridge Road, ia menjadi penanda visual sekaligus sosial.

Kini, akses menuju kompleks ini begitu mudah. Ia hanya sepelemparan batu dari Chinatown MRT Station, serta dekat dengan Outram Park MRT Station dan Clarke Quay MRT Station. Terhubung pula dengan jaringan jalan utama seperti AYE, CTE, dan MCE, menjadikannya simpul mobilitas yang efisien di jantung kota.

Namun lebih dari sekadar lokasi strategis atau inovasi arsitektur, People’s Park Complex adalah narasi tentang transformasi tentang bagaimana ruang publik, perdagangan, dan kehidupan urban berkelindan dalam satu struktur. Ia adalah mutiara yang terbentuk dari tekanan sejarah dan ambisi modernitas.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Julia Hunt Morgan (1872–1957), arsitek wanita pelopor California di Amerika Serikat: 

“Arsitektur adalah seni visual dan bangunan-bangunan itu berbicara sendiri.”

Dan di sudut Chinatown ini, People’s Park Complex masih terus berbicara, tentang masa lalu yang terbakar, masa depan yang dibayangkan, dan masa kini yang tetap hidup di antara keduanya. *** [050526]


Kepustakaan:

[1] Lee Hong Hwee, M. (n.d.). People’s Park Complex. National Library Singapore. Retrieved May 04, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=3cc85ca4-650c-47be-b933-ed3241f93e38



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami