Senin, 23 Juli 2012

Pesanggarahan Langenharjo

Pesanggrahan Langenharjo terletak di Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, ± 6 Km dari Solo kea rah selatan, dan sebelum jembatan Bacem menuju ke arah barat ± 1,5 Km lagi kita akan sampai di tempat tersebut.
Bangunan yang sudah kelihatan kurang terawat itu, masih meninggalkan kesan penuh keagungan dan keanggunan.
Lingkungan yang nyaman dengan pepohonan yang besar dan rindang serta kondisi lingkungan yang diwarnai dengan Sungai Bengawan Solo yang terkenal itu pantaslah apabila tempat itu dahulu merupakan tempat peristirahatan raja beserta permaisuri dan keluarganya, sebagai tempat untuk berekreasi dan menghibur diri.
Apabila kita menyimak sejarah tahun dibangunnya Pesanggrahan Langenharjo itu oleh Paku Buwono IX (PB IX) pada tahun 1870, bangunan ini sudah dapat dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sehingga perlu memperoleh perhatian untuk pelestariannya.

Awal Mula Pembangunan Pesanggrahan Langenharjo
Pesanggrahan berarti tempat untuk beristirahat dan bersenang-senang bagi raja beserta keluarganya. Pesanggrahan seperti ini banyak dibangun raja-raja umumnya di Indonesia, khususnya raja-raja di Jawa.
Pemilihan tempat selalu dilakukan dengan seksama dan penuh perhitungan. Udara yang nyaman, lingkungan yang mendukung, bahkan tidak jarang masih disertai pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan spiritual, dijadikan persyaratan baku apakah tempat itu layak untuk pesanggrahan seorang raja.
Raja-raja Surakarta semenjak PB IX senang membangun pesanggrahan. Di Boyolali, ada Pesanggrahan Paras, di Klaten ada Pesanggrahan Tegalgondo, di Karangpandan, di Parangjoro, Sukoharjo, kita dapati pesanggrahan tinggal puing-puingnya saja. Hanya Langenharjo yang hingga kini masih kelihatan tapak-tapak bangunannya yang masih utuh.
Pesanggrahan seperti layaknya Langenharjo pada umumnya dibangun di luar Kraton, dan berfungsi sebagai tempat untuk rekreasi raja beserta keluarganya, juga untuk bersemedi (meditasi), agar dapat mengadakan kontak spiritual dengan para leluhurnya.
Di pesanggrahan ini pulalah kadang-kadang seorang raja mengambil keputusan yang bersifat kebijaksanaan dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Mungkin dari pesanggrahan ini Sang Raja mendapat wisik ataupun ilham yang di dapat dari Sang Pencipta, sehingga keputusan-keputusan yang diambil oleh raja dapat tepat serta bermanfaat.
PB IX, putra dari PB VI telah membangun Pesanggrahan Langenharjo di samping terdorong oleh kebutuhan lahiriah, PB IX juga suka sekali meninjau keadaan rakyatnya, dan juga tidak pernah meninggalkan kesenangan beliau untuk prihatin (tirakat) dengan laku kungkum. Kungkum itu merendam diri di sungai/di kedung (bagian yang paling dalam dari sebuah sungai).
Pada suatu ketika PB IX tengah melakukan meditasi sambil kungkum di Kedung Ngelawu, sebelah selatan Pesanggrahan Langenharjo (± 3 Km), telah mendapat wisik dari Tuhan untuk membangun sebuah pesanggrahan.
Di balik itu semua sebenarnya tekad PB IX untuk membangun pesanggrahan itu diilhami dari cerita yang didapatnya tentang ilham yang pernah diperoleh ayahandanya yaitu Gusti Sapardan yang kemudian naik tahta bergelar PB VI.
Diceritakan setiap putra mahkota yang dicalonkan menduduki tahta kerajaan, pasti suka tirakat di tempat-tempat yang keramat, dan sepi dari keramaian.
Demikian diceritakan waktu itu Gusti Supardan sedang “nepi” untuk mencari wahyu di lereng Gunung Merapi. Alhasil dari usahanya itu mendapat wisik dari Yang Maha Pencipta bahwa kelak akan menjadi raja, tetapi tidak berlangsung lama. Setelah menerima “wisik” tersebut, Sang Gusti belum dapat menafsirkan secara sempurna atas wisik tersebut dan masih penuh tanda tanya. Mengapa justru menjadi raja tidak bertahta lama? Kemudian Sang Gusti pada suatu ketika “nepi” lagi di perbukitan Selo, dan dari situ mendapat wisik dari Kyai Selo, yang memberikan petunjuk bahwa Sang Gusti bisa menjadi raja dalam waktu yang lama asal mau membangun pesanggrahan. Kemudian PB VI dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya PB V pada tahun 1823.
Beberapa tahun kemudian PB VI diasingkan oleh Belanda ke Ambon. PB VI yang dikenal Sinuwun Bangun Topo, karena memang suka prihatin, dan dikenal sebagai raja yang anti Belanda itu kemudian wafat dan dimakamkan di Ambon.
Kepahlawanan PB VI yang gigih melawan Penjajah Belanda, akhirnya beliau diangkat oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.
Cerita tentang wangsit ayahandanya itu selalu terngiang di telinga PB IX yang bercita-cita hendak membangun pesanggrahan kelak apabila sudah menjadi raja. PB IX tak pernah mengalami belaian kasih sayang seorang ayah, karena sejak masih di dalam kandungan sudah ditinggal ayahnya, maka kemudian terkenal dengan raja yang suka tirakat (gentur topo: Jawa) dan sampai beliau dinobatkan menjadi raja masih senang melakukan tirakat dan terutama dengan menggunakan sarana air, seperti kungkum, tidur di atas bibir sumur hanya dengan selembar papan, dan dengan cara-cara lain.
Kegemaran Sinuwun untuk tirakat itu diikuti jejaknya oleh putranya yaitu PB X yang semenjak umur 3 tahun, PB X telah dinobatkan menjadi putra mahkota yang kelak dipersiapkan akan mengganti menduduki tahta kerajaan ayahandanya. “Tunjangan” Putra Mahkota yang cukup besar itu terus ditabungnya, oleh karena itu tak heran apabila PB X akhirnya terkenal sebagai Raja Surakarta yang kaya, sehingga banyak bangunan-bangunan seperti gapura-gapura, pesanggrahan, dan lain-lain yang dibangun paa zamannya dan selalu diberi tanda tulisan PB X, seperti Gapura Keraton dan Pagelaran, Gapura Batas Kota Solo dari arah timur, barat dan selatan.
Pembangunan Pesanggrahan Langenharjo oleh PB IX dipersiapkan layaknya membangun keraton kecil, karena bangunan pesanggrahan itu sendiri ternyata penuh dengan gaya arsitektur Jawa yang mengandung nilai-nilai filosofis. Seperti layaknya bangunan keraton zaman dahulu pasti dikelilingi oleh “jagan” atau selokan yang memungkinkan orang tidak bisa langsung masuk ke istana dengan jalan darat. Dengan cara seperti ini, upaya deteksi dini terhadap kemungkinan datangnya musuh sudah dapat ditanggulangi.



Bangunan Yang Ada di Pesanggrahan Langenharjo
Pesanggrahan Langenharjo ternyata memiliki nilai-nilai filososfis, baik dalam tata ruang, tata bangunannya maupun tata lingkungan yang kesemuanya telah berhasil diciptakan oleh PB IX dan tang kemudian dikembangkan oleh PB X.
Apabila kita amati tata ruangnya, diawali dari arah timur (arah terbitnya matahari) yang dianggap sebagai lambang dari sumber segala kegiatan manusia. Ujud bangunan di bagian timur ini berupa kuncungan (kanopi) menghadap ke timur (arah matahari), kemudian pada bangunan tengah untuk kegiatan semi sakral, dan untuk kegiatan yang bersifat sakral disediakan bangunan-bangunan yang memiliki unsur-unsur magis di bagian barat.
Bagian atas dari pesanggrahan ini berupa atap berbentuk hampir mempunyai kesamaan dengan bangunan Keraton Surakarta.
Demikian diceritakan selanjutnya PB IX yang suka meninjau/mengunjungi daerah, sampailah ke bagian Bengawan Solo di Desa Ngelawu di pinggir bengawan itulah di Kedung Ngelawu, PB IX mendapat wisik untuk segera membangun pesanggrahan yang bagus, dan diperintahkanlah untuk membuka hutan Klajeran yang akhirnya tempat itu diberi nama Langenharjo hingga sekarang.
Bagian-bagian penting dari Pesanggrahan Langenharjo yang mengandung falsafah itu dapat diceritakan di sini, sebagai berikut:
a.       Plataran/halaman luar yang begitu luas ini berada di depan pintu gerbang yang merupakan lambang awal perjalanan bagi siapa saja yang ingin menghadap raja. Pada plataran ini dihiasi dengan pohon beringin berjajar dua yang dikenal seperti halnya di alun-alun utara Keraton Surakarta “Ringin kurung sakembaran”. Pohon beringin yang dilingkari dengan bangunan semacam bingkai.
Pohon beringin yang ditanam di situ selain melambangkan pengayoman bagi raja terhadap rakyatnya, juga menandakan bahwa tempat tersebut tempat yang “ayem”, karena bersifat dingin, dan sifat dingin ditandai bahwa di sekitar pohon beringin itu pasti terdapat sumber air yang cukup. Bagi kita orang hidup itu kalau sudah dekat dengan air tak mungkin mati, karena dengan air kita bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup ini.
Dari sisi ini kita sebenarnya sudah dapat memetik ajaran nenek moyang kita yang menjurus kepada upaya pelestarian lingkungan hidup.
Gemarlah menanam pohon-pohon besar seperti beringin yang mempunyai daya serap 12 kali lipat terhadap air dalam tanah jika dibanding dengan pohon-pohon lain.
Nenek moyang kita yang bijaksana sebenarnya sudah mampu memberikan pelajaran-pelajaran dengan memberikan contoh-contoh yang mudah ditiru.
Dari bentuk plataran yang luas dan pepohonan yang hijau dan sejuk itu dikandung maksud hendaknya siapa saja yang hendak bertemu dengan rajanya dengan maksud yang baik, harus berpandangan yang luas tak pernah rasa was-was dan disertai rasa senang dan tenang. Sehingga terwujudlah rasa manunggal antara rakyat dan rajanya (manunggaling kawula lan Gusti).
b.      Plataran dalam yang melambangkan sebagai tempat kegiatan menemui tamu secara informal yang sifatnya terbuka. Ini semua melambangkan adanya sifat keterbukaan antara rakyat dan rajanya.
Rakyat akan dengan segala suka cita menghadap kepada rajanya. Sebelum pendopo dibangun kanopi (kuncungan).
c.       Pendopo Depan (Probosono) yang ada di bagian depan dengan segala komponennya adalah tempat untuk menerima  tamu-tamu terhormat lebih dari derajat masyarakat biasa, dan di tempat ini acara-acara resmi dilakukan, dan sebagai akhir perjalanan yang diawali dari plataran depan (pintu masuk), merupakan lambang dari kemuliaan dan keluhuran jiwa.
d.      Kamar tamu yang dibangun di bagian utara Pendopo Depan Probosono ini menunjukkan keterbukaan dan ketulusan jiwa dalam menerima tamu-tamu negara.
e.      Dapur Pitono yang dibangun di bagian selatan dari Pendopo Depan Probosono ini merupakan tempat yang melambangkan keagungan rakyat (abdi dalem) dalam mempersiapkan jamuan bagi para tamu.
Pada bagian ini dilengkapi dengan sumur dan ruangan-ruangan yang lain sebagai pendukung fungsi dapur itu sendiri.
f.        Bangsal Keprajuritan, dulunya terletak di bagian selatan/tenggara, namun bangunan itu sekarang sudah tidak ada lagi, di samping sudah lapuk di makan usia, juga karena akibat terkena proyek pelurusan Bengawan Solo.
g.       Dalem Ageng bagian dalam yang merupakan faktor tertinggi kegiatan-kegiatan yang bersifat kenegaraan yang merupakan inti acara kenegaraan.
Pada bagian atas dari Dalem Ageng ini juga terdapat ruang untuk semedi yang digunakan raja apabila ingin mengadakan kontak spiritual dengan Nyai Loro Kidul.
h.      Ruang Keputren. Ruang ini memang dikhususkan bagi putera-putera raja/kerabat keraton paling dekat, yang melambangkan kemuliaan pribadi.
i.         Dalem Pungkuran merupakan ruangan tertutup untuk menyelenggarakan pertemuan kenegaraan yang bersifat terbatas dari keluarga keraton, lambang dari keakraban tertutup, sekaligus juga lambang pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
j.        Sanggar Pamujan/Ruang Semedi ini dapat lebih leluasa digunakan bukan bagi pribadi raja, akan tetapi bagi putera-putera raja yang memerlukannya. Hingga kini ruang semedi tetap tertutup untuk umum, dan masih aktif digunakan oleh raja dan keluarganya, tidak untuk umum. Dari keunikan yang ada, Pesanggrahan Langenharjo nampaknya memungkinkan untuk rekreasi meditasi.
k.       Pemandian Air Hangat ini dibangun di bagian belakang dan disekat dengan pagar. Air hangat ini mengandung kadar belerang yang cukup tinggi dan hangat, sehingga airnya dianggap bertuah untuk menyembuhkan penyakit kulit.
Air yang diambil dengan sistem artesis perpipaan ini dari kedalaman 100 m, kemudian ditampung dalam bak penampung dan dialirkan ke bak-bak mandi dalam ruangan yang tertutup.
Bangunan kolam pemandian air hangat ini konon dibangun oleh PB X (1893-1939) dan merupakan salah satu komponen yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Lingkungan yang sejuk dan dihias dengan pepohonan besar dan plataran yang luas telah dimanfaatkan bagi wisatawan yang hendak mandi/habis mandi untuk duduk bersantai sambil menikmati sajian makanan khas seperti nasi pecel, nasi liwet dan makanan khas yang lain. Dahulu tempat ini mestinya dijadikan tempat rekreasi raja beserta keluarganya.
Pada tahun 1985 telah mendapat dana rehabilitasi dari Provinsi Jawa Tengah, untuk merehab kamar-kamar mandi dan ada salah satu ruangan yang tetap dipertahankan keasliannya yang terletak pada deretan utara. Air hangat yang mengandung belerang yang sangat berkhasiat itu memiliki kandungan mineral. ***

Kepustakaan:
  • RT. Soehadi Darmodipuro & Drs. Soeharto Hartoto, 1993, Pasanggrahan Langenharjo, Sukoharjo: Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tingkat II Sukoharjo




0 komentar:

Posting Komentar