Monday, December 16, 2013

Kota Jin

Ketika diajak teman untuk melihat Kota Jin, sepintas terlintas bayangan yang seram, menakutkan dan mencekam. Nama yang tidak lazim ini, ternyata memang benar-benar ada di suatu daerah di Bumi Gorontalo.
Kota Jin merupakan salah satu situs taman purbakala yang berada di Desa Kota Jin Utara, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Lokasi ini berbatasan dengan Laut Sulawesi di bagian utara, berbatasan dengan Desa Monggupo dan Pinotoyonga di bagian selatan, berbatasan dengan Sungai Andagile di bagian timur, yang menjadi tapal batas dengan Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara atau sekitar 100 kilometer dari Kota Gorontalo.
Kota Jin merupakan tumpukan batu yang memiliki goa di dalamnya. , atau dalam bahasa setempat disebut Ota lo jin. Ota berarti benteng atau istana, sedangkan lo jin adalah miliknya para jin, sehingga Ota lo jin berarti benteng atau istananya para jin.
Farha Daulima dan Hapri Harun dalam bukunya, Mengenal Situs/Benda Cagar Budaya di Provinsi Gorontalo (2007), mengisahkan bahwa  perkampungan Kota Jin semula berupa dataran yang menyatu dengan lembah sebuah pegunungan, dan sebagiannya masih berupa lautan. Pada 1800, ketika lautan itu kering, maka hamparan yang dulunya berupa lautan berubah menjadi rawa-rawa yang ditumbuhi semak belukar.
Tahun 1850, mulailah berdatangan orang-orang dari luar wilayah untuk membuka ladang dan perkebunan. Kesuburan tanah membuatnya bertambahnya penduduk, sehingga dataran tersebut berubah menjadi sebuah perkampungan.


Pada 1868, perkampungan tersebut menjadi satu desa di bawah pemerintahan raja Andagile, Raja Yahya van Gobel. Namun ketika itu namanya bukan Desa Kota Jin, melainkan negeri Kota Jin dengan pimpinannya bernama Wannopulu (Wala’opulu).
Menurut cerita turun temurun dari masyarakat setempat, penduduk asli di daerah ini berasal dari Ternate yang ikut dengan dua orang putera raja Ternate, Mosambe dan Sanggi Bula yang pergi meninggalkan kerajaan lantaran kecewa karena tidak terpilih menjadi raja. Malahan adiknya yang bungsu, Sanggi Bulawa, yang terpilih dan dinobatkan menjadi raja Ternate. Hal ini tidak terlepas dari intervensi Belanda kala itu. Ceritanya bermula dari kopiah  yang dikirim oleh Belanda kepada raja Ternate yang sudah tua sebagai penentu siapa di antara ketiga putera raja tersebut yang bakal menjadi raja. Apakah Mosambe, Sanggi Bula ataukah Sanggi Bulawa. Siapa yang tepat dengan ukuran kepalanya, dialah yang berhak menjadi raja, menggantikan ayahandanya yang sudah tua.
Ternyata kopiah itu tepat ukurannya dengan kepala Sanggi Bulawa, sehingga Sanggi Bulawa dinobatkan menjadi raja Ternate.Kedua saudaranya, Mosambe dan Sanggi Bula sangat kecewa. Lalu, mereka membawa sebagian penduduk kerajaan Ternate yang setia kepada mereka menuju ke Pulau Batang Dua, sebagian lagi ke Pulau Lembe (Bitung), lalu ke Manado, Bolaang Mangondow, Suwawa, Bulango hingga ke Atinggola.
Di Atinggola, mereka mulai membuka hutan untuk bercocok tanam, membaur dengan penduduk asli, dan kemudian ada yang menikah dengan penduduk asli di daerah tersebut sehingga kemudian mereka menetap di Kota Jin sampai beranak pinak.
Secara geologis, bongkahan batu besar yang berada di tengah sawah milik penduduk yang diyakini sebagai istana jin, terbentuk oleh alam secara alamiah. Batu karst (batu kapur) mengalami pelarutan dengan terbentuknya goa-goa kecil paska muncul di daratan usai lautan kering. Namun bagi mereka yang masih kental dengan kepercayaan animisme, mereka mengandalkan tumpukan batu “yang dihuni oleh jin tersebut” dapat menyembuhkan orang yang sakit, dan sekaligus melindungi mereka dari jin-jin pembawa penyakit. Maka mereka tak segan-segan meletakkan sesaji (sajen) di depan goa sebelum beraktivitas.
Ota lo jin berada di pinggir jalan Trans Sulawesi sekitar 500 meter, terlihat tumpukan batu yang berdiri kokoh di tengah sawah, dan di tengahnya terdapat mulut goa sebagai pintu masuk. Di dalam ruangan situs purbakala ota lo jin ini terdapat Sembilan kamar yang terbuat dari batu alam dan sepasang meja-kursi yang terbuat dari bebatuan yang bahannya berupa stalagtit dan stalagnit.


Melalui jalan masuk dalam goa tersebut terdapat hamparan bersih, yang konon merupakan tempat para jin tersebut berzikir. Ketika syiar Islam berkembang di daerah tersebut sekitar tahun 1880, goa ini pernah menjadi tempat berkhalwat bagi para penyebar agama Islam. Itulah sebabnya bagi yang memiliki indera keenam, dapat mendengar lantunan zikir.
Pernah ada kunjungan dari sekolahan dalam rangka wisata, anggota rombongan siswa masuk ke dalam goa ini. Ketika mereka keluar, salah seorang temannya tertinggal di dalam. Ketika dicari di dalam goa tersebut, ternyata ia masih khusyu’ berzikir di atas batu altar tersebut.
Menurut siswa tersebut, ia tidak sendirian di dalam goa, namun banyak para Syech yang bersorban putih dan hijau juga khusyu’ berzikir. Salah seorang dari mereka lalu mengajak siswa tersebut duduk bersama mereka untuk melantunkan zikir.
Kota Jin akan sangat meriah jika dikunjungi pada hari Rabu di akhir bulan Safar, karena seluruh penduduk Desa Kota Jin dan masyarakat Atinggola pada umumnya akan melakukan ritual Mandi Safar di Sungai Andagile yang menjadi batas antara Provinsi Gorontalo dengan Provinsi Sulawesi Utara. Menurut kepercayaan setempat, hari Rabu di akhir bulan Safar adalah hari naas yang harus dibersihkan dengan cara mandi di sungai. *** [221113]


0 comments:

Post a Comment