Senin, 16 Desember 2013

Tari Tidi

Tidi dalam bahasa setempat memiliki arti tari. Kata tidi hanya menguatkan klasik tariannya. Dari busana, gerakan tari, formasi tari, dan alat tari, semuanya bernilai moral sehingga tarian ini tidak dibenarkan direkayasa. Mengubah busana, gerakan dan formasi berarti merubah makna.
Tidi lahir sejak zaman pemerintahan Raja Eyato pada 1672, ketika syiar agama Islam menguat di Kerajaan Gorontalo. Sesuai dengan falsafah adat bersendi syara’, dan syara’ bersendikan Kitabullah (Al-Qur’an), maka makna busana, gerakan, formasi, dan tetabuhan rebana, disesuaikan dengan nilai agama Islam (syari’at) dan nilai moral serta nilai didik.
Sehingga makna busana adat dan semua atribut serta aksesorisnya harus melambangkan lima keterikatan, yaitu keterikatan dalam menjalankan syari’at Islam, keterikatan sebagai ratu rumah tangga, keterikatan dalam menjalin kekerabatan antar keluarga, tetangga dan masyarakat, keterikatan dalam pergaulan sehari-hari, dan keterikatan dalam menjalankan hak dan kewajiban dalam struktur rumah tangga sesuai adat dan syara’ menuju rumah tangga sakinah mawaddah warrahmah.
Menurut Farha Daulima dan Reiners Bila dalam bukunya, Mengenal Tarian Daerah Tradisional dan Klasik Gorontalo, disebutkan bahwa ada tujuah jenis tidi yang ada di Gorontalo yaitu:

Tidi Da’a
Sejak tahun 1960, Tidi Da’a dengan tidak merubah gerakan, busana dan nilai klasiknya, oleh seniman tari Gorontalo, Chirna Monoarfa, diciptakanlah sebuah lagu untuk member makna gerakan tersebut lewat syair lagu. Namun pemakaian lagu ini diserahkan kepada si pelaksana adat. Yang masih menghendaki keasliannya tetap menggunakan iringan musik kalsik tanpa lagu, sedangkan yang menginginkan memakai lagu akan diiringi dengan syair lagu tersebut.
Dalam Tidi Da’a ini, penarinya berasal dari puteri raja yang menjadi pengantin perempuan dengan didampingi dari kerabat istana. Busana ada yang dikenakan adalah bili’u lengkap terbuat dari emas, yang berasal dari warisan turun temurun.

Tidi Lo Polopalo
Tidi Lo Polopalo versi tari keluarga Kaluku di Telaga, sejak tahun 1950 masih diiringi lagu Bismila Dulanaru hingga pengembangannya versi Bulango sejak tahun 1970, menggunakan lagu yang diciptakan oleh keluarga Gobel, yaitu Popotolimowa mayi polopalo.
Ketika tahun 2002, Tidi Lo Popopalo dimainkan di Jakarta, keluarga Kaluku mengembalikan pada aslinya memakai lagu Bismila Dulanuru. Bagaimanapun kita mengembangkan tarian klasik ini, tidak mengubah nilai klasiknya, tetapi bermaksud memperjelas makna gerakannya.
Dalam Tidi Lo Polopalo ini, penarinya berasal dari puteri bangsawan, wali-wali mowali, yang saat ini mencakup pejabat-pejabat negeri dengan didampingi dua orang. Busana adat yang digunakan adalah bili’u dengan huwo’o (rambut) yang dilambangkan dengan kotak-kotak terbuat dari perak bersepuh emas lima susun bagi pengantin puteri.

Tidi Lo Tihu’o
Tihu’o artinya rantai yang terangkai dari manik-manik dengan warna adat liango (tila batayila), yaitu warna kuning, merah, hijau dan ungu. Tidi ini bermakna menjalin persatuan atau “buhuta wawu walama.”
Dalam Tidi Lo Tihu’o ini, penarinya berasal dari puteri bangsawan, wali-wali mowali, yang saat ini mencakup pejabat-pejabat negeri dengan didampingi oleh 2, 4 sampai dengan 6 orang. Busana adat yang dikenakan adalah bili’u dengan huwo’o (rambut) yang dilambangkan dengan kotak-kotak terbuat dari perak bersepuh emas yang terdiri dari lima susun bagi pengantin puteri.

Tidi Lo O’ayabu
O’ayabu artinya kipas. Makna kipas adalah ketegaran seorang ratu rumah tangga dalam melayani suami dan anak-anaknya serta anggota keluarga lain. Kipas adalah penyejuk, pendingin suasana. Hal ini yang dimaksudkan adalah kebijakan dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap tantangan.
Lahirnya tarian ini di kalangan istana, sebagai tarian penyambut tamu dari kerajaan lain, dan acara syukuran keberhasilan kerajaan dalam kegiatan pembangunan atau pemerintahan.
Dalam Tidi Lo O’ayabu ini, penarinya berasal dari puteri bangsawan, wali-wali mowali, yang saat ini mencakup pejabat-pejabat negeri atau para tokoh dengan jumlah penari sebanyak 5 orang. Busana adat yang digunakan adalah madi pungu dengan lima tangkai sunthi di atas konde.

Tidi Lo Tonggalo
Tonggalo artinya penyangga. Tidi ini menggambarkan bagaimana peranan seorang calon ibu rumah tangga untuk saling menopang suaminya dalam membantu lancarnya biduk rumah tangga. Menopang bukan berarti meninggalkan hak dan kewajiban sebagai isteri, tetapi tetap dalam koridor aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan syari’at.
Dalam Tidi Lo Tonggalo ini, penarinya berasal dari puteri bangsawan, wali-wali mowali, yang saat ini mencakup pejabat-pejabat negeri dan puteri para tokoh masyarakat dengan jumlah penari sebanyak 5 orang. Busana adat yang dipakai adalah madi pungu, dengan lima tangkai sunthi di atas konde.

Tidi Lo Malu’o
Malu’o artinya ayam. Ada dua makna yang terkandung di dalamnya. Pertama, bermakna bahwa puteri raja atau puteri bangsawan dinikahi oleh putera raja atau bangsawan dari negeri seberang, maka Tidi Lo Malu’o dilakukan pada acara resepsi pernikahan. Pada malam pertunangan dapat dapat menyelenggarakan tarian Tidi Da’a yag diperuntukkan bagi puteri raja, dan Tidi Lo Palopalo bagi puteri bangsawan dan wali-wali mowali.
Dulu, apabila ada Tidi Lo Malu’o maka rakyat negeri atau tuwango lipu mengetahui bahwa pengantin putera berasal dari negeri seberang.
Kedua, bermakna bahwa dalam rumah tangga bersifatlah seperti ayam. Artinya, mengayomi seluruh anggota keluarga sebagaimana ayam melindungi anaknya di bawah sayap. Sedikit atau banyak yang didapat oleh seekor induk ayam, anak-anaknya yang didahulukan.
Dalam Tidi Lo Malu’o ini, penarinya berasal dari puteri bangsawan, wali-wali mowali, dan puteri tokoh masyarakat dengan jumlah penari sebanyak  5 orang, termasuk pengantin puteri. Busana ada yang dikenakan adalah madi pangu, dengan lima tangkai sunthi di atas konde untuk pengantin bili’u.

Tidi Lo Tabongo
Tabongo artinya ikhtiar, mewaspadai sesuatu dalam rumah tangga maupun dalam negeri. Sebagai ratu, gambaran kendala-kendala yang dihadapi dan bagaimana jalan keluarnya dilukiskan pada formasi dan gerakan. Antara lain, mempertahankan kehormatan negeri, kehormatan suami, kehormatan martabat keluarga dan kehormatan diri sendiri. Tidi ini memiliki tujuh gerakan utama yang divariasikan dengan gerakan-gerakan lain.
Dalam Tidi Lo Tabango ini, penarinya berasal dari puteri raja atau bangsawan, wali-wali mowali dan puteri tokoh masyarakat dengan jumlah penari sebanyak bilangan gasal dari 5 hingga 7 orang. Jika dilakukan oleh pengantin puteri raja, maka jumlah penari cukup 3 orang saja. Busana adat yang digunakan adalah bili’u untuk pengantin puteri, madi pungu untuk penari lainnya dengan lima tangkai sunthi di atas konde. Sunthi adalah bunga seruni.

0 komentar:

Posting Komentar