The Story of Indonesian Heritage

Rumah Sakit Kadipolo Solo

Bekas Rumah Sakit Kadipolo (RS Kadipolo) mencuat menjadi pemberitaan lagi setelah terjadi sengketa lahan pada tahun 2018. Kasus ini bermula dari penjualan aset keluarga Cendana (Sigit Harjoyudanto) berupa bekas  RS Kadipolo seluas 22.550 meter persegi kepada PT Sekar Wijaya (SW).
Karena RS Kadipolo telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) di Surakarta, atau dikenal dengan Kota Solo, akibatnya PT Sekar Wijaya tidak bisa melanjutkan pengurusan perizinan berupa IPR (Izn Penggunaan Ruang) dan IMB. Impiannya untuk mendirikan apartemen megah di Kota Solo kandas sudah. Lalu, PT Sekar Wijaya membatalkan jual beli tanah itu dan meminta kepada Sigit Hajoyudanto alias Sigit Soeharto mengembalikan uang muka pembelian tanah senilai Rp 21,5 miliar lantaran pihak Sigit dinilai tidak jujur. Namun, sampai sekarang uang belum dikembalikan Sigit Soeharto hingga melakukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Solo.
Kabar terakhir, lahan bekas RS Kadipolo itu sudah diblokir oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Solo selagi sengketa itu belum usai, atas permintaan kuasa hukum PT Sekar Wijaya. Hal ini dimaksudkan agar tanah sengketa ini tidak berpindah tangan ke orang lain.

Foto Lawas Rumah Sakid Kadipolo (Sumber: http://bedah.fk.uns.ac.id/)

Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengomentari perihal sengketa tanahnya tapi lebih kepada kisah historis dari RS Kadipolo tersebut, yang terletak di Jalan Rajiman, Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi rumah sakit ini berada di sebelah timur Kantor Kelurahan Panularan, dan tak jauh dari perempatan Baron.
Dalam buku, DR. KRT. Rajiman Wedyodiningrat: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1998) diterangkan dengan gamblang bagaimana rumah sakit itu didirikan. Awalnya dokter Rajiman Wedyodiningrat adalah seorang dokter pribumi yang diangkat menjadi dokter Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1899, bulan Januari, ia menjadi pegawai Gubernemen Belanda dan bertugas di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (Pelayanan Kesehatan Rakyat Pusat) Betawi (RSUP Dr. Cipto Mangkunkusumo) sebagai dokter pada bagian bedah mayat. Tahun 1899, bulan Mei, ia pindah ke Banyumas, dengan tugas memberantas penyakit cacar di Kalirejo-Purworejo. Tahun 1900, ia ditugaskan di Semarang, memegang bagian chirurgie dan bedah mayat. Tahun 1901 sampai 23 Desember 1902, ia ditugaskan di Rumah Sakit Umum Madiun (Jawa Timur).
Kemudian pada tahun 1903-1904, ia ditugaskan kembali ke Betawi menjadi Assistent Leraar di STOVIA ( d sini, dokter Rajiman sambil studi di STOVIA lagi). Tahun 1904-1905, ia ditugaskan di Sragen sebagai dokter umum. Tahun 1905-1906, ia ditugaskan di Lawang (Jawa Timur) di Rumah Sakit Jiwa. Tahun 1906, ia mengajukan permohonan berhenti dari Gubernemen, dan kemudian dari tahun 1906 hingga tahun 1934 dokter Rajiman Wedyodiningrat bekerja sebagai dokter Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X atau Sri Susuhunan Pakubuwono X. Sri Susuhunan Pakubuwono X (PB X) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1893 hingga tahun 1939. PB X diyakini sebagai Raja Besar Terakhir Trah Mataram Surakarta.

Bekas Bangsal RS Kadipolo. Dipotret pada 30 Juli 2014 dari sebelah barat

Selama mengabdi sebagai dokter kraton, dokter Rajiman memelopori pembangunan di bidang kesehatan khususnya pelayanan kesehatan untuk para abdi dalem dalam kraton.
Pada tahun 1915-1917 atas usahanya Kraton Surakarta membuka apotek sendiri dengan mendatangkan seorang apoteker dari negeri Belanda. Apotek itu kemudian diberi nama Panti Hoesodo. Inilah pertama kali ada suatu kraton memiliki apotek, sehingga sudah barang tentu akan memperlancar pelayanan kesehatan, khususnya penyediaan obat-obatan yang cukup memadai. Pendirian apotek ini dianggap amat penting karena di samping akan menunjang profesinya juga ilmu yang dimilikinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena tanpa penyediaan obat-obatan yang cukup memadai, keahliannya kurang cukup untuk menolong penderita. Jadi, pendirian sebuah apotek ini merupakan suatu keberanian pada saat itu, mengingat tenaga ahli untuk itu memang belum ada. Tetapi keahliannya dalam dunia kedokteran menuntut adanya sarana tersebut.
Keberanian dokter Rajiman dalam melaksanakan gagasannya tidak berhenti di situ. Tahun berikutnya, dia mengusulkan kepada pihak kraton untuk dapat didirikan sebuah rumah sakit yang dapat melayani para abdi dalem kraton. Mendengar gagasan tersebut, PB X amat menyetujui. Langkah ini penting sekali bagi dokter Rajiman, sebab dengan berdirinya rumah sakit akan sangat membantu pengembangan dan peningkatan pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Dokter Rajiman menyadari, betapapun keahlian yang beliau miliki dalam dunia kedokteran, semuanya mustahil dapat dinikmati oleh masyarakat luas bila tanpa adanya suatu rumah sakit.
Beliau tidak puas kalau ilmunya hanya dapat dinikmati oleh lingkungan keluarga raja. Rumah Sakit ini kemudian diberi nama Panti Rogo yang teletak di daerah Kadipolo, atau yang dalam sumber litetatur Belanda dikenal dengan Ziekenhuis”Pantirogo” te Soerakarta. Sebagai seorang pendiri rumah sakit tanggung jawabnya memang berat dan hal tersebut menuntut kecermatan, ketekunan, kepemimpinan dan keahlian, baik dalam bidangnya sendiri maupun manajemen. Pengelolaan rumah sakit memang membutuhkan keahlian khusus. Di sinilah tampak bakat kepemimpinan dokter Rajiman.

Kondisi depan RS Kadipolo. Dipotret pada 30 Juli 2014 dari utara

Dalam kegiatannya yang memuncak tersebut, ternyata menjelang usia 55 tahun dokter Rajiman menderita penyakit “encok” dan untuk pencegahannya, beliau mengajukan permohonan pensiun kepada PB X serta setelah mempertimbangkan segala alasannya akhirnya Raja Kasunanan tersebut mengabulkannya.
Sebagai penggantinya, sesuai yang tercatat dalam Regeering Almanak Voor Nederlandsch-Indië 1941 adalah Kanjeng Raden Tumenggung Dr. Mangoendiningrat, yang dalam tugasnya dibantu oleh petugas kesehatan Raden Ngabehi Prodjohoesodo dan Raden Pandji Prawirohoesodo. Setiap yang menjabat sebagai direktur rumah sakit tersebut, oleh Kraton Surakarta diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) seperti halnya dengan Dokter Kanjeng Raden Tumenggung Rajiman Wedyodiningrat.
Setelah Indonesia merdeka, Kraton Surakarta menyatakan diri menjadi bagian dari negara Republik Indonesia (RI). Hal ini sekaligus mengakhiri kraton sebagai Pangreh Praja (Inlandsch Bestuur). Sejak itu, kraton tak lagi mempunyai biaya untuk fasilitas publik yang dulu telah didirikan. Pada tahun 1948, pengelolaan RS Panti Rogo diserahkan kepada pemerintah Jawa Tengah dalam kondisi bahwa keluarga kerajaan dan pegawai yang dirawat di rumah sakit menerima bantuan berupa keringanan pembiayaan rumah sakit.
Awal tahun 1960, pihak Kraton menyerahkan sepenuhnya RS Panti Rogo, baik bangunan dan seluruh tenaga kesehatannya kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Surakarta, dan semenjak itu nama rumah sakit berubah menjadi RS Kadipolo.
Kemudian untuk menghemat biaya uang negara usai mengalami perang, pada 1 Maret 1960 direncanakan untuk mengintegrasikan tiga rumah sakit menjadi satu unit organisasi di bawah direktur dengan nama Rumah Sakit Surakarta, dan akhirnya terwujud pada 1 Juli 1960.
Rumah Sakit Surakarta terdiri dari tiga rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Mangkubumen, Rumah Sakit Kadipolo dan Rumah Sakit Jebres. Untuk mengintegrasikan dan meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, kemudian dilakukan spsesialisasi di masing-masing fungsional di rumah sakit tersebut. RS Kadipolo disebut Rumah Sakit Kompleks A spesialis untuk layanan penyakit internal. RS Mangkubumen disebut Rumah Sakit Kompleks B dengan spesialis untuk radiologi, kelamin dan kulit, gigi, mata, THT, neurologi maupun korban kecelakaan. Sementara itu, RS Jebres disebut Rumah Sakit Kompleks C dengan spesialis untuk perencanaan obstretic dan ginekologi, anak dan keluarga.
Dalam perkembangannya, RS Kadipolo (Kompleks A) menunjukkan kurang efisien dan tidak lagi memenuhi syarat sebagai rumah sakit, sehingga rumah sakit ini dengan semua peralatan medis dan perelngkapan kemudian dipindahkan ke RS Mangkubumen pertengahan Januari 1977. Sejak itu rumah sakit ini tidak lagi berfungsi sebagai institusi pelayanan kesehatan.
Lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo ini kemudian ditempati oleh Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) besamaan dengan berdirinya sekolah tersebut pada 24 April 1977. Kampus SPK ini hanya mampu bertahan selama 5 tahun karena pada Februari 1982 Departemen Kesehatan (Depkes) Pusat memerintahkan untuk pindah ke kampus baru yang berada di kawasan Mojosongo.
Selang tiga tahun, lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo berubah menjadi mess dan markas klub sepak bola Arseto. Arseto adalah klub besar kompetisi Galatama. Arseto pernah menjadi juara Galatama pada musim 1990-1992. Kejayaan Arseto terus menggelora hingga luar negeri. Arseto pernah menjuarai Kejuaraan Antarklub ASEAN pada tahun 1993, dan melaju ke babak 7 besar Liga Champion Asia di tahun yang sama.
Pada masa menjadi mess Arseto, lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo menjadi terawat dengan baik. Tanah lapang yang berada di belakang, disulap menjadi lapangan sepak bola dengan rumput yang berkualitas. Mess pemain bujang dan berkeluarga dipisah. Ada juga mess untuk pemain diklat. Belum lagi fasilitas fitness yang membuat Arseto  tak perlu kesulitas untuk berlatih. Konon, mess dan markas Arseto di Kadipolo itu menjadi salah satu basecamp klub termegah di Indonesia.
Namun ceritera tentang masa kejayaan Arseto serta kompleks Lapangan Kadipolo mulai memudar setelah Arseto dibubarkan pada tahun 1998. Lahan dan bangunan menjadi tak terawat, lapangan “mahalnya” berubah menjadi semak belukar yang banyak ditumbuhi ilalang.
Bagi orang awam, kepergian Arseto dari lahan dan bangunan bekas RS Kadipolo itu mereka pikir masyarakat kemudian bisa menggunakan lapangan tersebut untuk bermain dan berlatih sepak bola, ternyata tidak. Karena ternyata lahan dan bangunan hibah dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kepada Pemda Surakarta tidak amanah (baca: Wali Kota pada waktu itu). Bekas RS Kadipolo itu ternyata sudah dimiliki oleh klub Arseto milik putra mendiang Presiden Soeharto sejak dijadikan basecamp Arseto, dan sekarang dalam masa sengketa jual beli lahan dan bangunan yang telah menjadi cagar budaya, baik tingkat Surakarta maupun Jawa Tengah. *** [080520]

Kepustakaan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1998). Dr. KRT. Rajiman Wedyodiningrat: hasil karya dan pengabdiannya. Ed. III. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Regeerings almanak voor Nederlandsch - Indie 1941. (1941). Batavia : Landsdrukkerij.
http://bedah.fk.uns.ac.id/?page_id=2&lang=id_ID
https://bolaskor.com/post/read/cerita-mistis-mes-peninggalan-klub-keluarga-cendana-bernama-arseto-solo
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami