Selasa, 12 Mei 2015

Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Malang

Gereja merupakan salah satu bangunan tua yang bernilai historis. Perlunya belajar sejarah melalui gereja dikarenakan gereja merupakan peninggalan sejarah dan menjadi saksi dari kolonialisme Belanda di Kota Malang. Beberapa gereja tua yang mencetak sejarah Kota Malang memang wajib untuk dikunjungi oleh para wisatawan. Salah satu gereja lawas yang memiliki memori historis adalah Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus, atau biasa disebut sebagai Gereja Kayutangan. Disebut Gereja Kayutangan karena gereja ini berdiri menjulang di ujung timur kawasan Kayutangan.
Gereja ini terletak di Jalan Monseigneur Sugiyopranoto No. 2 Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di sebelah utara Mall Sarinah atau bersebarangan dengan Toko Oen.
Gereja Katolik Paroki Hadi Kudus Yesus dibangun pada akhir tahun 1905 dan merupakan gereja tertua di Kota Malang. Bangunan gereja ini merupakan hasil rancangan arsitek Ir. Marius J. Hulswit. Hulswit adalah arsitek tamatan Kunstniverheidschool Quellinus (Sekolah Seni Rupa Quellinus) di Amsterdam. Pada tahun 1876, ia bekerja di firma arsitektur milik Petrus Josephus Hubertus Cuypers (paman dari Eduard Cuypers yang kelak menjadi rekan kerjanya di Hindia Belanda). Di Belanda, Hulswit terlibat dalam pembangunan Rijkmuseum Amsterdam, dan juga mengajar di Sekolah Seni Rupa Quellinus yang dikepalai oleh P.J.H. Cuypers.


Pada tahun 1880, Hulswit pergi ke Hindia Belanda selama lima tahun, kemudian pada tahun 1890 ia kembali lagi ke Hindia Belanda. Ia sempat menetap di Surabaya sampai tahun 1895, sesudah itu ia pindah ke Batavia yang kemudian mendirikan biro arsitek bersama rekan-rekannya. Sebelum tergabung ke dalam biro arsitek, ia merancang Gereja Katedral (1901) di daerah yang dulu bernama Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Setelah menyelesaikan Gereja Katedral tersebut, Hulswit pergi ke Malang untuk mengerjakan Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus.
Sebelum dijadikan sebuah gereja, Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus merupakan tempat darurat yang sewaktu-waktu dapat digunakan apabila diperlukan. Kemudian pada bulan Juni 1897 stasi Malang secara resmi lepas dari stasi Surabaya dan usaha perbaikan gereja dilakukan agar dapat menampung orang-orang yang pergi ke gereja, di saat Malang masih menjadi daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan.
Dilihat dari fasad bangunannya, gereja ini mengambil gaya Neo-Gothic sebagai ide gagasan desainnya. Sementara Neo-Gothic sendiri adalah gaya arsitektur yang berkembang di Belanda pada saat itu. Langgam Neo-Gothic ditunjukkan dengan penggunaan lancet, tracery, rose window, pointed arch dan menara. Namun, di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus ini juga terdapat penyesuaian arsitekturalnya dengan kondisi geografis lokal. Keindahan arsitekturnya sangatlah memukai mata.
Pada tampilan depan tampak pintu utama gereja yang tinggi dengan lengkungan yang khas. Di kanan kiri pintu tersebut terdapat dua tower ciri khas gereja Neo-Gothic. Pada waktu awal pembangunan gereja ini belum memiliki menara, namun pada tanggal 14 Desember 1930 didirikan dua menara dengan pemberkatan dari Monseignur Clemens van der Pas.
Di dalam gereja terdapat prasasti yang ditulis dalam bahasa Belanda yang artinya “Gereja ini dipersembahkan kepada hati Kudus Yesus, didirikan berkat kemurahan hati Monseigneur Edmundus Sijbrandus (ES) Luypen, dirancang oleh Marius J. Hulswit dan semasa penggembalaan romo-romo Godefriedus Daniel Augustinus (GDA) Joncbloet dan FB Meurs pada tahun 1905, dilaksanakan pemborong YM. Monseigneur ES Luypen, Uskup Tituler dari Eropa, Vikaris Apostolik dari Batavia”.
Sampai saat ini, Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus ini masih berdiri kokoh dan menjulang. Sejak awal didirikan hingga saat ini bangunan gereja tersebut tidak mengalami perubahan, bentuk bangunan dan gaya arsitekturalnya tetap sama seperti awal berdirinya. Nilai historis yang dimilikinya telah mewarnai dan sekaligus menjadi landmark tersendiri bagi Kota Malang. *** [250415]

Kepustakaan:
Andrei Yusuf Ajie Wibowo, 2008. Kajian Fenomenologi Rose Window pada Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Malang, dalam DIMENSI INTERIOR Vol. 6 No. 1, Juni 2008
Idham Maulana, 2009. Bentuk dan Gaya Bangunan Panti Asuhan (weeshuis) Vincentius Putra Jakarta, dalam Skripsi di Program Studi Arkeologi, FIB UI
Malang Documentary Board, Yayasan Inggil 2007

0 komentar:

Posting Komentar