Tuesday, May 29, 2018

Jembatan Talang Kepanjen

Sepulang dari pertemuan dengan Co-Project Manager SMARTHealth Extend Indonesia di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, saya pulang melalui Jalan Kawi yang mengarah ke Jalan Bromo di Kepanjen. Ketika melintas jembatan Sukun sambil menoleh ke kiri dari arah timur, saya menyaksikan bangunan kuno yang masih berdiri kokoh di atas Sungai Sukun. Bangunan lawas tersebut dikenal dengan Jembatan Talang Kepanjen.
Jembatan ini berada di dua kelurahan – Kelurahan Kepanjen dan Cepokomulyo - dalam wilayah Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi jembatan ini berada di sebelah selatan jembatan Sukun, atau di belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Malang.



Sesuai judulnya, kata Jembatan Talang Kepanjen terdiri atas 3 kata, yaitu jembatan, talang, dan kepanjen. Jembatan, dalam istilah ilmu teknik sipil, adalah sebuah struktur yang sengaja dibangun untuk menyeberangi jurang atau rintangan seperti sungai, lembah, rel kereta api maupun jalan raya. Sehingga, jembatan itu berfungsi untuk menghubungkan dua bagian wilayah yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan tersebut.
Talang merupakan salah satu bangunan persilangan yang dibangun untuk mengalirkan debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya terpotong oleh lembah dengan bentang panjang atau terpotong oleh sungai. Bangunan talang berupa saluran terbuka yang dipasang membentang dari tebing yang satu ke tebing yang lainnya, yang fungsinya untuk menyeberangkan debit air. Sedangkan, Kepanjen adalah sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Malang. Jadi, Jembatan Talang Kepanjen maksudnya adalah saluran irigasi berbentuk jembatan di atas Sungai Sukun di Kepanjen.



Jembatan Talang ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Berdasarkan tulisan yang ada di pilar utama dari bangunan itu, jembatan ini dibangun pada tahun 1903. Pembangunannya berbarengan dengan pengerjaan Syphon Metro yang berada di sebelah baratnya berjarak sekitar 600 meter. Secara historis,  bangunan Jembatan Talang ini merupakan bagian dari proyek pembangunan Daerah Irigasi Molek yang panjangnya sekitar 20 kilometer, di mulai dari Bendung (Dam) Blobo di Dusun Blobo, Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen sampai ke Dusun Krajan, Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung. Masyarakat sekitar Daerah Irigasi Molek menyebut saluran irigasi ini dengan sebutan Sungai Molek.
Pembangunan Sungai Molek sendiri diperkirakan antara tahun 1888 hingga tahun 1903, dan menyedot tenaga kerja yang cukup banyak. Tenaga kerja yang mengerjakan proyek besar tersebut tidak hanya datang dari daerah Malang tapi juga didatangkan dari daerah Jawa Tengah.



Daerah Irigasi Molek ini mampu mengaliri areal persawahan dengan luas 3.971 hektar dari saluran irigasi yang diairi dari Bendung Blobo yang membendung Sungai Brantas dengan debit antara 6811,106 lt/dt sampai 7563,47 lt/dt serta mendapat suplesi dari Sungai Palaan.
Bangunan irigasi peninggalan pemerintah Hindia Belanda ini dulunya dibangun untuk menyuplai air ke hampir seluruh areal lahan persawahan yang ada di empat kecamatan yang mengalami kelangkaan air. Empat kecamatan itu adalah Kecamatan Kepanjen, Kromengan, Ngajum, dan Sumberpucung. Pemerintah Hindia Belanda merespon kelangkaan air dengan membangun Sungai Molek ini, karena sebagian besar penduduk di empat wilayah kecamatan itu dulunya bermatapencaharian sebagai petani, di samping juga untuk mengembangkan perkebunan-perkebunan besar yang telah dirintis oleh orang Belanda maupun Eropa di daerah Malang selatan sebelumnya.
Selain berfungsi sebagai jembatan saluran air, Jembatan Talang ini juga dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki yang menghubungkan antara Cepokomulyo yang berada di sebelah timur jembatan dengan Kepanjen yang berada di sebelah barat jembatan. Mereka umumnya menyeberangi jembatan dengan memanfaatkan trotoar dari saluran irigasi Sungai Molek tersebut yang berada di kiri kanannya. *** [280518]

0 comments:

Post a Comment