Rabu, 28 Mei 2014

Klenteng Hok Tek Bio

Dalam setiap daerah yang banyak terkonsentrasi orang Tionghoa, dipastikan bahwa daerah tersebut biasanya merupakan daerah kekuatan ekonomi yang ada di dalam daerah tersebut. Kebanyakan orang akan menyebutnya sebagai Pecinan.
Dalam kawasan Pecinan, biasanya akan dijumpai klenteng sebagai tempat peribadatannya. Besar kecilnya sebuah klenteng akan tergantung pada kekuatan umatnya untuk membiayai pembangunan dan pemeliharaannya. Di Kota Bogor, kawasan Pecinannya di seputaran Pasar Bogor atau yang dulu dikenal dengan Handelstraat atau yang kini menjadi Jalan Surya Kencana, menggambarkan hal tersebut. Di daerah tersebut terdapat sebuah tempat peribadatan orang Tionghoa yang dinamakan Klenteng Hok Tek Bio. Nama Hok Tek Bio berasal dari kata Hok yang berarti rezeki, Tek berarti kebajikan, dan Bio adalah rumah ibadah, sehingga Hok Tek Bio memiliki rumah ibadah mendatangkan rezeki dan kebaikan.


Klenteng Hok Tek Bio terletak di Jalan Surya Kencana No. 1 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi klenteng ini berada di samping Plasa Bogor atau di sebelah selatan Pintu 1 Kebun Raya Bogor.
Bangunan klenteng ini didirikan pada tahun 1872 yang semula hanya berukuran 180 m, namun kemudian diperluas hingga mencapai bentukmya seperti sekarang dengan luas bangunan 635,50 m² di atas lahan seluas 1.397 m². Pada awalnya, Klenteng Hok Tek Bio merupakan sebuah klenteng yang dibangun oleh orang Tionghoa sebagai tempat peribadatan kepercayaan Kong Hu Chu. Akan tetapi, pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba), klenteng ini mengalami tekanan sehingga pihak klenteng harus merelakan nama klentengnya diubah menjadi Vihara Dhanagun agar keberadaannya tetap diperbolehkan.
Ketika Orba tumbang dan digantikan oleh kepemimpinan baru, yaitu Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, angin segar mulai menyejukkan kembali pihak klenteng karena pada masa pemerintahan Gus Dur, diterbitkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 6 Tahun 2006 tentang pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967, nama Klenteng Hok Tek Bio boleh digunakan kembali dan berbagai perayaan masyarakat Tionghoa lainnya juga diperbolehkan, seperti perayaan Imlek, Cap Go Meh dan atraksi barongsai.
Klenteng yang memiliki gaya arsitektur khas perpaduan budaya (China, Indonesia, dan Belanda) ini, terdiri atas beberapa bagian, yaitu halaman, bangunan utama, dan bangunan tambahan. Halamannya yang luas bisa digunakan untuk parkir umatnya yang akan melakukan sembahyang, maupun untuk acara lainnya. Sedangkan bangunan utamanya, dibagi dalam tiga bagian, yaitu teras, ruang tengah, dan ruang suci utama. Pada bagian belakang bangunan utama terdapat bangunan yang berfungsi sebagai ruang makan rohaniwan, ruang dapur, dan toilet.
Pada tembok klenteng yang berada di halaman sebelah selatan yang berbatasan dengan tembok halaman Plaza Bogor, terpasang sebuah peringatan berdasarkan Monumenten Ordonantie dan Undang-Undang (UU) RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Hal ini sengaja dipasang oleh pengurus klenteng untuk memberitahukan agar semua pengguna klenteng sudi menjaga dan tidak merusak kelestarian bentuk klenteng. *** [120514]

0 komentar:

Posting Komentar