Senin, 23 Juli 2012

Naskhi

Naskhi berhubungan dengan kata nuskhah atau ‘naskah’ mengingat banyaknya digunakan untuk penyalinan naskah-naskah umum, baik buku-buku, surat kabar, majalah, maupun brosur. Bahkan, kini, mushaf Al-Qur’an ditulis keseluruhannya hanya dengan khat Naskhi.
Khat Naskhi merupakan kreasi Al-Ahwal Al-Muharrir yang dikembangkan dari khat Riyasi. Namun, peletak dasar-dasar kaidahnya adalah Ibnu Muqlah di Irak (338 H). Naskhi mencapai puncak keelokannya di zaman kekuasaan Dinasti Atabeki (545 H) hingga dikenal adanya aliran Naskhi Atabeki yang lazim kita gunakan sekarang. Dengan jenis ini pula, seluruh mushaf Al-Qur’an di abad pertengahan Islam di wilayah Turki ditulis, menggeser tempat Kufi. Demikian pula pada masa kekuasaan Al-Aiyubi di Mesir dan Syam (Syiria), tulisan Naskhi dan Sulus muncul sangat dominan sampai abad keenam Hijriyah, “mengubur” khat Kufi untuk penulisan Al-Qur’an.
Naskhi sangat mudah digoreskan. Agaknya ini pula salah satu alasan populernya Naskhi untuk penulisan segala keperluan. Bisa ditulis lebih cepat daripada Sulus.
Rumus-rumus yang digunakan dalam penulisan khat Naskhi, menurut tarikh klasik Islam, sama dengan rumus-rumus Sulus dengan standar kira-kira lima titik untuk alif. Persamaan jarak bagi setiap huruf Naskhi dengan Sulus, menurut Al_Ustadz Mahmud Yazir dari Turki, adalah karena akrabnya bentuk Naskhi kepada Sulus.
Selain untuk teks-teks biasa, Naskhi juga popular digunakan untuk titel-titel Koran dan majalah. Bahkan dunia iklan kerap menggunakan Naskhi sebagai master huruf pada brosur. Untuk kebutuhan tersebut, lahir gaya khas Naskhi padat mirip dengan Kufi, yang popular disebut Naskufi, maksudnya gabungan dan kombinasi Naskhi dengan Kufi. ***

0 komentar:

Posting Komentar