Senin, 23 Juli 2012

Khazanah Al-Qur’an Nusantara

Penyalinan Al-Qur’an dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat Islam, baik para penyalin profesional, santri, maupun para ulama. Pada awal abad ke-19 Abdullah bin Abdul Kadir al-Munsyi memperoleh uang dari menyalin Al-Qur’an. Para santri di berbagai pesantren menyalin Al-Qur’an terutama untuk kepentingan pengajaran. Sementara, beberapa ulama terkenal dikatakan pernah menyalin Al-Qur’an. Penyalinan juga dilakukan oleh para ulama atau pelajar yang tengah memperdalam ilmu agama di Mekkah. Sejak abad ke-16 sampai 19 M, Mekkah selain berfungsi sebagai tempat menunaikan haji, juga merupakan pusat studi Islam.
Dewasa ini, lebih dari 200 naskah Al-Qur’an Nusantara telah tercatat, kebanyakan di simpan di lembaga-lembaga pemerintah di Malaysia, Indonesia, Belanda, serta di beberapa tempat lain. Namun, di antara kekayaan Al-Qur’an Nusantara itu, naskah-naskah di Indonesia diperkirakan tetap merupakan yang terbanyak, dimiliki baik oleh pribadi, museum, masjid, maupun pesantren.
Inventarisasi dan penelitian mengenai Al-Qur’an yang dilakukan di berbagai daerah oleh Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, sejak tahun 2003 hingga 2005, serta data lainnya, memperlihatkan bahwa naskah Al-Qur’an di Indonesia dapat dikatakan masih cukup banyak, yaitu sekitar 300 naskah. Keberadaan Al-Qur’an di berbagai wilayah dan lapisan masyarakat itu menunjukkan bahwa penyalinan Al-Qur’an pada masa lampau cukup merata di Nusantara. ***

0 komentar:

Posting Komentar