Senin, 21 Juli 2014

Kampung Batik Jetis

Kampung Batik Jetis adalah salah satu kampung yang memiliki warisan budaya membatik. Di dalam Kampung Jetis tersebar rumah para perajin batik yang merupakan salah satu sentra batik terbesar di Sidoarjo. Di kampung ini akan ditemukan bangunan-bangunan dengan arsitektur kolonial yang cukup menarik dengan jendela besar dan jeruji besi yang antik. Dapat kita bayangkan pada masa jayanya daerah ini cukup ramai dan banyak terdapat rumah para juragan batik beserta perajinnya menempati daerah tersebut.
Kampung Batik Jetis terletak di Dusun atau Lingkungan Jetis, Kelurahan Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi kampung tersebut berada di seberang jalan utama menuju Stasiun Sidoarjo.


Konsep pembentukan Kampung Batik Jetis muncul dari gagasan masyarakat Jetis itu sendiri. Tujuannya tidak lain adalah sebagai sarana pemberdayaan potensi kampung binaan Pemkab setempat.
Menengok jauh ke belakang, batik tulis tradisional Sidoarjo yang berpusat di Jetis telah ada sejak tahun 1675, setahun setelah Masjid Jamik dibangun. Masjid tersebut kini bernama Al Abror, berada di Kauman (belakang Toserba Matahari). Kala itu, seorang yang konon masih keturunan raja dikejar-kejar penjajah dan lari ke Sidoarjo. Sayangnya sampai sekarang belum ada data akurat, siapa sebenarnya dan dari kerajaan mana pria yang menyamar sebagai pedagang, dan dikenal dengan sebutan Mbah Mulyadi tersebut. Makamnya masih ada di masjid yang kini telah mengalami pemugaran di Kawasan Kauman tersebut.
Bersama para pengawalnya, Mbah Mulyadi mengawali berdagang di “Pasar Kaget” yang kini dikenal dengan nama Pasar Jetis. Selain memberi pelajaran mengaji dan mempelajari Al Qur’an serta selalu mengajak shalat berjamaah, Mbah Mulyadi juga melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat dengan memberikan pelatihan ketrampilan membatik.
Seiring dengan perkembangan penduduk, serta kian ramainya perdagangan di Pasar Jetis, kawasan ini banyak didatangi para pedagang dari luar daerah. Pedagang asal Madura yang semakin banyak berdagang di Pasar Jetis sangat menyukai batik tulis buatan warga Jetis. Mereka sering memesan batik tulis dengan permintaan motif dan warna khusus khas Madura. Itu sebabnya, batik tulis asal Jetis ini kemudian juga dikenal orang sebagai batik corak Madura.


Batik tradisional Jetis, atau yang biasa disebut dengan Batik Jetisan, memiliki khas ragam corak dan warna yang cerah seperti hijau, kuning, dan merah. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta berwarna coklat dan hanya memakai motif dua warna. Motif batik Jetis Sidoarjo sudah terkenal sejak tahun 1920an (tahun masa keemasan Batik Jetisan). Hal ini diakui sejumlah kolektor batik yang berkunjung ke Kampung Batik Jetis. Bahkan, para kolektor memiliki batik Jetis yang berumur 80-100 tahun.
Motif batik Jetis pada umumnya didominasi oleh flora dan fauna khas Sidoarjo yang memiliki warna-warna cerah, di antaranya kembang tebu, beras wutah, pecah kopi, kembang bayem, maupun burung merak. Secara filosofi, motif kembang tebu muncul karena Sidoarjo memiliki banyak pabrik gula. Motif beras wutah dilatarbelakangi adanya dua penggilingan padi di Sidoarjo di masa lalu namun tetap saja kurang dibandingkan kebutuhan masyarakat akan beras. Motif pecah kopi lahir dilandasi oleh banyaknya masyarakat Sidoarjo pada waktu dulu bercocok tanam kopi. Motif kembang bayem muncul karena dulu Sidoarjo merupakan daerah pemasok sayur-sayuran terutama bagi masyarakat Surabaya. Sedangkan, motif burung merak diperkirakan muncul lantaran dulunya di daerah Sidoarjo banyak dihuni oleh burung merak ketika masih berupa hutan.
Namun, nama Sidoarjo itu tidak pernah muncul dikarenakan hampir semua batik karya perajin Sidoarjo dipakai oleh orang Madura, sehingga disebut dengan istilah batik Madura. Padahal, sebutan batik Madura itu berlaku untuk motif saja. Sedangkan pembuatnya adalah perajin Sidoarjo. Baru sekitar tahun 2008 usai peresmian Kampung Batik Jetis oleh Bupati yang menjabat pada saat itu, sebutannya diganti dengan sebutan batik Sidoarjo. Sehingga, seiring berjalannya sang waktu, batik Jetisan Sidoarjo mulai dikenal dan semakin populer. Karya Kampung Batik Jetis tersebut kini kian dikenal di Jakarta dan luar daerah lainnya, bahkan sampai ke manca negara. *** [180414]

1 komentar: