Di halaman depan Stasiun Yogyakarta sisi selatan, tepatnya di kawasan Jalan Pasar Kembang, Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, saya melihat sebuah lokomotif tua yang dipajang anggun sebagai monumen sejarah.
Di tengah hiruk-pikuk wisatawan dan lalu lalang kendaraan, lokomotif berseri D 301 61 27 itu berdiri diam, seolah menjadi penanda bahwa Stasiun Yogyakarta bukan sekadar tempat datang dan pergi kereta, melainkan juga ruang penyimpan jejak panjang perjalanan perkeretaapian Indonesia.
Lokomotif jadul tersebut kini dikenal sebagai Monumen Lokomotif yang menjadi ikon bernuansa sejarah dari Stasiun Yogyakarta, atau yang akrab disebut Stasiun Tugu. Kehadirannya menghadirkan suasana nostalgia, mengingatkan orang pada masa ketika lokomotif diesel hidrolik menjadi tulang punggung layanan kereta api di berbagai jalur cabang di Jawa.
Lokomotif D 301 61 27 yang dipamerkan di halaman depan Stasiun Tugu sisi selatan ini merupakan bagian dari lokomotif diesel hidrolik seri D 301 yang didatangkan ke Indonesia sebanyak 80 unit.
![]() |
| Lokomotif D 301 61 27 yang menjadi monumen sejarah di halaman Stasiun Tugu Yogyakarta sisi selatan |
Dua digit berikutnya, yakni 61, merujuk pada tahun lokomotif tersebut mulai dinas atau dioperasikan, yaitu tahun 1961. Sedangkan dua digit terakhir, 27, menunjukkan nomor urut lokomotif dari keseluruhan armada yang didatangkan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Lokomotif D301 ini merupakan lokomotif langsir atau shunting locomotive dan layanan jarak pendek yang diproduksi oleh Fried Krupp Lokomotivfabriek Essen, Jerman. Krupp sendiri dikenal sebagai pabrik industri berat yang memproduksi berbagai kebutuhan militer, lokomotif uap, gerbong, kereta, hingga aneka produk berbahan dasar baja. Perusahaan keluarga yang berdiri sejak tahun 1811 itu didirikan oleh Friedrich Krupp melalui Krupp Gusstahlfabrik, sebuah pabrik pengecoran baja di dekat Sungai Ruhr, Jerman.
![]() |
| Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi timur |
Pada masanya, lokomotif ini diperkirakan pernah melayani lintas Yogyakarta–Magelang–Secang maupun Yogyakarta–Srandakan–Ngabean–Palbapang serta Ngabean–Pasargedeh–Pundung. Karena sering melintasi jalur yang berdampingan langsung dengan jalan raya, kecepatan maksimum lokomotif ini dibatasi hanya sekitar 25 kilometer per jam.
Lambat memang, tetapi justru dari kelambatan itulah masyarakat zaman dulu dapat menyaksikan kereta api sebagai bagian akrab dari kehidupan sehari-hari, yang melintas dekat pasar, menyapa anak-anak kecil, dan membelah kampung dengan bunyi peluit yang kini tinggal kenangan.
![]() |
| Wajah lokomotif D 301 61 27 dari sisi barat |
Barangkali itu sekadar kekeliruan penulisan yang luput dari perhatian. Sebab manusia, sehebat apa pun merawat sejarah, tetap memiliki kemungkinan alpa dalam mencatat detail-detail kecil. Namun justru di situlah sejarah menjadi menarik. Ia tidak selalu hadir sebagai kisah yang sepenuhnya rapi dan sempurna. Kadang ada angka yang tertukar, huruf yang terlewat, atau prasasti yang tak sepenuhnya sejalan dengan kenyataan di depannya.
Akan tetapi, lokomotif tua itu tetap berdiri tegak, seolah ingin mengajarkan bahwa nilai sebuah perjalanan tidak ditentukan oleh sempurnanya catatan, melainkan oleh jejak pengabdian yang pernah dilaluinya. Dan mungkin, sebagaimana kereta yang terus berjalan meski rel kadang berderit, sejarah pun tetap melaju meski sesekali manusia keliru menuliskan angka di batu peringatan. *** [150526]










Tidak ada komentar:
Posting Komentar