Di antara keramaian Malioboro, terdapat sebuah benda tua yang sering dilewatkan oleh wisatawan. Ia berada di sisi utara pintu timur Stasiun Yogyakarta, bertahan di tepi Jalan Margo Utomo. Bentuknya mirip lokomotif kuno dengan cerobong asap, roda besi besar, dan bodi hitam pekat yang mencerminkan kesan industri masa lalu. Banyak orang mengira itu kereta tua, padahal ia bukanlah lokomotif rel yang biasanya melintas membawa penumpang.
Benda bersejarah itu adalah Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta, sebuah lokomotif uap Marshall Britannia yang menjadi saksi bisu perkembangan industri di Jawa pada masa kolonial. Kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa Yogyakarta bukan hanya kota budaya dan wisata, tetapi juga pernah bersentuhan erat dengan denyut revolusi dunia industri.
![]() |
| Monumen Lokomotif Uap Stasiun Yogyakarta di Jalan Margo Utomo No. 1 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta |
Sekilas tampilannya memang menyerupai kereta api kecil. Namun sebenarnya mesin ini adalah mesin uap portabel satu silinder buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., perusahaan asal Gainsborough, Inggris, yang terkenal sebagai produsen mesin industri dan pertanian berbasis tenaga uap. Mesin semacam ini dikenal dengan istilah “lokomobil” karena dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan roda tanpa memerlukan rel.
![]() |
| Cerobong asap lokomobil buatan Marshall, Sons & Co. Ltd., Inggris |
Belanda kemudian mendatangkan berbagai mesin uap portabel dari Eropa untuk mendukung produksi gula. Salah satunya adalah lokomobil Marshall Britannia yang kini dipamerkan di Stasiun Tugu. Di Yogyakarta, mesin ini lazim digunakan untuk menggerakkan alat penggilingan dan pengolahan tebu di pabrik gula.
![]() |
| Plakat nama produsen mesin uap portabel Marshall, Sons & Co. |
Lokomobil di Stasiun Yogyakarta ini bekerja menggunakan bahan bakar batubara atau kayu bakar. Uap panas dari ketel menghasilkan tekanan tinggi yang menggerakkan piston dan roda gaya besi besar di bagian samping mesin. Putaran itu lalu diteruskan menggunakan sabuk ke mesin penggilingan atau alat produksi lainnya. Seluruh tubuhnya terbuat dari besi dengan balutan cat hitam khas mesin industri era kolonial, menghadirkan kesan kokoh sekaligus artistik.
![]() |
| Bodi hitam pekat mesin uap portabelMarshall, Sons & Co.yang mencerminkan kesan industri masa lalu |
Kini, lokomobil Marshall Britannia itu memang tak lagi mengepulkan asap atau menggerakkan mesin penggilingan tebu. Namun keberadaannya di halaman Stasiun Tugu menyimpan jejak penting tentang bagaimana teknologi industri pernah ikut membentuk sejarah Yogyakarta. Di antara kereta modern yang datang dan pergi setiap hari, mesin tua itu seolah terus bercerita tentang masa ketika tenaga uap menjadi penggerak utama peradaban. *** [170526]











Tidak ada komentar:
Posting Komentar