Senin, 10 Agustus 2015

Rumah Sakit HVA Toeloengredjo

Diajak teman – Mugi Gumanti namanya - nyadran ke Kediri memberi pengalaman tersendiri. Menginap di Pare semalam dulu sebelum mengunjungi makam orangtua teman di Kota Kediri. Jarak antara Pare dengan Kota Kediri sekitar 25 kilometer, namun karena perjalanannya dikemas dengan acara berkeliling Kota Kediri maka perjalanan tersebut makin mengasyikan saja. Banyak yang bisa disaksikan sepanjang perjalanan dengan menggunakan mobil.
Ketika lepas dari Kampung Inggris, mobil melintasi bangunan kuno yang khas dan menarik perhatian kami. Bangunan kuno tersebut adalah Rumah Sakit (RS) HVA Toeloengredjo. Rumah sakit ini terletak di Jalan Achmad Yani No. 25 Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah sakit ini berada di pinggir jalan raya menuju ke Jombang.
Menurut catatan historis yang ada, RS HVA Toeloengredjo didirikan pada tahun 1908 oleh perusahaan pedagangan di bidang perkebunan swasta milik orang Belanda yang bernama NV. Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). Sesuai yang membuatnya, maka nama rumah sakit tersebut dinamai RS HVA Toeloengredjo. Artinya, rumah sakit yang dibangun oleh NV. Handels Vereeniging Amsterdam yang berlokasi di Tulungrejo.


Perusahaan Handels Vereeniging Amsterdam merupakan perusahaan perdagangan di bidang perkebunan yang memfokuskan usaha bisnisnya pada industri gula, molase dalam bentuk alkohol yang digunakan untuk rumah sakit, spiritus, dan tembakau. Kediri saat itu menjadi kota strategis karena menjadi pusat pertanian, perkebunan dan industri. Perusahaan HVA ini memiliki beberapa perusahaan pabrik gula (PG) yang berada di Kediri, yaitu PG Meritjan dan PG Pesantren. Hal inilah yang menjadikan RS HVA ini didirikan di Pare, Kediri karena memang dibangunnya rumah sakit tersebut digunakan untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan bagi karyawan pabrik gula maupun perkebunan milik HVA yang ada di Kediri.
Seiring perjalanan sang waktu, RS HVA Toeloengredjo kini menjadi rumah sakit milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. PTPN X didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 15 tanggal 14 Februari 1996 tentang pengalihan bentuk Badan Usaha Milik Negara dari PT Perkebunan (Eks PTP 19, Eks PTP 21-22 dan Eks PTP 27) yang dilebur menjadi PTPN X (Persero) dan tertuang dalam Akte Notaris Harun Kamil, SH No. 43 tanggal 11 Maret 1996 yang mengalami perubahan kembali sesuai Akte Notaris Sri Eliana Tjahjoharto, SH No. 1 tanggal 2 Desember 2011. Namun terhitng mulai tanggal 19 januari 2013, RS HVA Toeloengredjo resmi menjadi salah satu Strategic Business Unit (SBU) PTPN X yang dikelola oleh PT Nusantara Medika Utam, yang juga membawahi RS Gatoel di Mojokerto dan RS Perkebunan di Jember.


Sebagai SBU PTPN X, RS HVA Toeloengredjo diarahkan menjadi suatu unit perusahaan yang berdiri sendiri dan diukur atau dihitung dalam arti profit/lose mengarah ke profit center. Oleh karena itu, RS HVA Toeloengredjo sekarang ini tidak hanya menangani pasien dari karyawan pabrik gula atau karyawan lainnya yang berada di bawah PTPN X sebagai penjelmaan Handels Vereeniging Amsterdam (baca: nasionalisasi) seperti awal berdirinya tapi menjelma menjadi rumah sakit umum. Sehingga, RS HVA Toeloengredjo berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Berbagai keunggulan rumah sakit ini terus dikembangkan, di antaranya layanan dokter 24 jam, dokter spesialis on call 24 jam, peralatan modern, layanan ambulance 24 jam, UGD dan layanan penunjang medis serta apotek 24 jam. Selain itu, RS HVA Toeloengredjo juga merupakan pusat rujukan Bedah Orthopedi, Bedah Urologi dan Bedah Plastik. Poli Spesialis lengkap serta didukung oleh dokter spesialis yang profesional dan on call 24 jam. Maka wajar, bila RS HVA Toeloengredjo saat ini merupakan salah satu rumah sakit terbaik di Pare.
Mengunjungi RS HVA Toeloengredjo ini memang terasa nuansa kolonialnya. Karena rumah sakit yang memiliki luas bangunan 9.907 m² yang berdiri di atas lahan seluas 25.111 m² ini masih mempertahankan bangunan peninggalan di masa Hindia Belanda tersebut meski ada beberapa penambahan di areal tersebut namun tanpa menghilangkan bentuk aslinya.
Nuansa klasik ini memang sengaja masih dipertahankan oleh pihak pengelola agar rumah sakit tersebut tidak hilang sisi historisnya sebagai warisan budaya di masa Hindia Belanda. Hanya saja pihak pengelola juga jeli terhadap para konsumennya, untuk menghilangkan kesan seram oleh bagian tata ruang diberikan ornamen-ornamen modern yang indah dengan tujuan menghilangkan kesan “wingit” tersebut tanpa menghilangkan kesan klasiknya. Bisa dikatakan rumah sakit ini memiliki nuansa hotel dengan beragam tipe kamar sesuai kebutuhan pasien. Ruang kamar didesain sedemikian rupa untuk kenyamanan pasien dan juga keluarga.
Melihat perjalanan historis yang dimiliki, RS HVA Toeloengredjo ini tergolong bangunan cagar budaya (BCB) yang perlu dijaga kelestariannya karena sarat nilai penting akan sejarah Pare, dan kedepannya bisa dikembangkan menjadi wisata heritage (heritage tourism) di Kabupaten Kediri. *** [240515]

1 komentar:

  1. Artikel-nya bagus sekali

    Jangan lupa kunjungi halaman ini
    http://mesinantrianmakingsolution.blogspot.co.id
    http://alatskpberkualitas.blogspot.co.id
    --------------------------
    IT Marketing
    PT Cendana Teknika Utama
    0813 1020 7780

    BalasHapus