Sabtu, 08 Agustus 2015

Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya

Tak begitu jauh dari situs peninggalan Sendang Tirta Kamandanu yang berjarak sekitar 500 meter arah barat daya, terdapat petilasan tempat muksa atau pamuksan Prabu Jayabaya yang dikenal dengan sebutan Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya.
Loka Muksa ini terletak di Dusun Menang RT.02 RW.03 Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi petilasan ini berada di pinggiran pemukiman yang bernuansa perladangan atau persawahan sehingga bila tidak banyak bertanya, pengunjung akan kesulitan menemukan lokasi tersebut. Hal ini karena minimnya penanda ke lokasi tersebut.
Untuk menuju Loka Muksa ini, pengunjung bisa menyusuri jalan dari Kota Kediri menuju Pare. Sesampainya di pertigaan Gurah, lalu belok kiri sekitar 3 Km hingga menemui Kantor Camat Wates. Dari depan Kantor Camat Wates, lurus sampai ada tulisan Kawasan Petilasan Sri Aji Jayabaya.
Menurut ceritera yang beredar di masyarakat setempat, seorang bernama Warsodikromo yang pada suatu malam di tahun 1860 bermimpi bahwa dalam sebuah areal gundukan tanah yang telah menjadi rawa yang dikelilingi semak belukar dulunya adalah tempat bertahta dan sekaligus muksa Raja Kediri yang kesohor, yaitu Prabu Jayabaya. Mimpinya tersebut kemudian diceriterakan kepada penduduk di sekitarnya. Atas petunjuk dari mimpi tersebut, seluruh penduduk secara gotong royong mengadakan pencarian lokasi yang ada dalam mimpi tersebut.
Akhirnya dengan dibantu oleh paranormal, petilasan tersebut berhasil diketemukan. Jadi, awalnya petilasan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya ini semula hanyalah berupa seonggok tanah bernisan yang tertutup semak belukar dan batu-batu berserakan yang berada di bawah naungan sebuah pohon kemuning (Murraya paniculata) besar yang rindang.


Sejak saat itu, tempat yang tidak begitu luas yang berada di tengah rawa mulai ramai dikunjungi orang. Mereka merasa bahagia sekaligus terharu. Bahagia karena berkesempatan dapat mengunjungi petilasan seorang Raja Panjalu (Kediri) yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai raja besar atau ratu gung binathara di Tanah Jawa (1130 – 1157) yang menjadi titisan Bathara Wisnu. Sedangkan, terharu karena melihat keadaan petilasan yang tidak sepadan dengan kebesaran Prabu Jayabaya.
Keluarga Besar Hondodento dari Yogyakarta berhasil memugar petilasan tersebut secara gotong royong. Proses pemugarannya memakan waktu lebih kurang satu tahun, yaitu sejak dari peletakan batu pertama pada tanggal 22 Februari sampai dengan tanggal 17 April 1976. Luas tanah yang dipugar meliputi lahan seluas 1.650 m², yang penggunaannya atas persetujuan pihak pimpinan desa atas dasar keputusan kumpulan desa melalui musyawarah desa yang disahkan dengan Keputusan Kepala Desa Menang tertanggal 20 Februari 1975 Model E Nomor 24.
Ketika selesai dan diresmikan, petilasan ini diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Kediri dan menjadi aset tersendiri bagi kepariwisataan di daerah ini, khususnya bagi peminat wisata spiritual. Ada tiga bangunan pokok yang berada di Kompleks Petilasan ini, yaitu Loka Muksa (lokasi Prabu Jayabaya menjalani muksa, yaitu jiwa dan raganya kembali ke alam keabadian secara bersama-sama), Loka Busana (tempat busana Prabu Jayabaya diletakkan sebelum muksa), serta Loka Makuta (tempat mahkota diletakkan sebelum muksa).
Dari ketiga bangunan tersebut, yang menjadi inti dari petilasan ini adalah Loka Muksa. Bangunan Loka Muksa terdiri dari bangunan lingga dan yoni yang menyatu dengan sebuah batu manik berlobang tembus di atasnya, serta seluruhnya dikelilingi pagar beton bertulang yang tembus pandang yang dilengkapi tiga buah pintu.
Mengunjungi kompleks petilasan Prabu Jayabaya memang memiliki motivasi yang beragam bagi pengunjungnya. Ada yang ingin melakukan tirakat atau perjalanan spiritual terhadap leluhur maupun ada yang penasaran dengan kompleks tersebut. Lepas dari motivasi pengunjung, ada yang menarik untuk disimak, yaitu mengenai sosok Prabu Jayabaya itu sendiri.
Prabu Jayabaya merupakan raja dari Kerajaan Kediri yang menggantikan Raja Jayawarsa, putra Airlangga bertahta menjadi raja pertama di Kerajaan Panjalu. Jadi, Jayabaya merupakan cucu dari Airlangga. Ketika Kerajaan Jenggala dikalahkan oleh Kerajaan Panjalu, maka wilayah Kerajaan Jenggala dipersatukan dengan Kerajaan Panjalu, sehingga terbentuklah sebuah kerajaan baru di wilayah Jawa Timur, yaitu Kerajaan Kediri pada abad ke-11 Masehi.
Raja Jayabaya bertahta di Kerajaan Kediri dari tahun 1135 – 1157 M. Seperti tradisi kekuasaan yang ada di Kerajaan Kediri, umumnya raja-raja yang memerintah Kerajaan Kediri memiliki lencana atau lambang sendiri. Demikian juga dengan Raja Jayabaya, raja ini menggunakan lencana Narasingha, yaitu bentuk setengah manusia dan setengah singa. Sedangkan, gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaannya yang juga menghasilkan banyak karya sastra, seperti kitab Bharatayudha, kitab Gatotkacasraya, dan kitab Hariwangsa. Tetapi yang paling terkenal di masa pemerintahan Raja Jayabaya ini adalah Jangka Jayabaya, yaitu ramalan tentang masa depan Pulau Jawa yang ditulis oleh Ronggowarsito. *** [240515]

0 komentar:

Posting Komentar