Senin, 10 Agustus 2015

Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri

Sebagai kota tua, Kediri menyimpan memori sejarah yang cukup banyak. Salah satunya adalah kawasan pecinan (China Town) yang banyak dihuni oleh orang Tionghoa. Dalam literatur sejarah, orang Tionghoa terkenal sebagai orang yang ulet dalam berdagang sehingga setiap daerah yang ada permukiman Tionghoa pada umumnya memiliki basis ekonomi yang kuat dan sekaligus terhubung dengan dunia luar. Hal ini karena terkait dengan supply chain komoditas yang diperjualbelikan yang menjadi andalan orang Tionghoa.
Selain itu, di daerah ini juga berdiri sebuah tempat ibadah bagi pemeluk Tri Dharma yang masih cukup megah yang bernama Klenteng Tjoe Hwie Kiong.  Klenteng ini terletak di Jalan Yos Sudarso No. 148 RT.15 RW.03 Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di tepi Sungai Brantas, persis di tikungan Jalan Yos Sudarso.
Klenteng ini penulis kunjungi setelah terlebih dahulu mengunjungi gedung lama Bank Indonesia Kediri, dan sholat sebentar di Masjid Agung Kediri. Setelah selesai sholat, mobil Daihatsu Hijet 2000 balik arah kembali menyusuri Jalan Dhaha terus belok ke kanan menuju Jalan Yos Sudarso yang digunakan sebagai jalur satu arah. Tepat berada di tikungan, pintu gerbang klenteng (pai lou) sudah terlihat. Pintu gerbang klenteng ini tidak seperti pada klenteng umumnya yang berbentuk paduraksa, melainkan menyerupai benteng yang didominasi warna merah dan kuning. Pada pintu gerbang tersebut ditempeli tulisan “Revitalisasi Cagar Budaya Klenteng Tjoe Hwie Kiong Di Bawah Pengawasan dan Arahan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur”. Tulisan ini jelas menunjukkan bahwa klenteng tersebut telah berumur tua.


Menurut informasi yang didapat, Klenteng Tjoe Hwie Kiong dibangun pada tahun 1895 oleh warga Tionghoa yang telah bermukim di Kediri. Mereka menggalang dana dengan menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk mewujudkan tempat ibadah pada waktu itu. Pada waktu itu, banyak orang Tionghoa yang berasal dari Fujian, Tiongkok yang meninggalkan negerinya untuk mengadu nasib di tempat lain. Termasuk di antaranya ada yang menuju ke Kediri melalui Sungai Brantas.
Dulu, Klenteng straat sudah menjadi kawasan yang ramai. Klenteng straat, yang sekarang berubah menjadi Jalan Yos Sudarso merupakan bagian dari kota lama di wilayah Kota Kediri yang banyak dihuni oleh orang-orang Tionghoa. Deretan rumah khas Tiongkok yang membentuk hunian pemukiman, banyak menghiasi daerah ini. Mereka berjualan segala kebutuhan masyarakat, mulai dari sembako, pakaian hingga perlengkapan lainnya di sepanjang hampir dua kilometer jalan tersebut. Pemukimannya pun sudah cukup padat. Hal ini dikarenakan daerah ini dekat dengan Sungai Brantas yang dulu merupakan jalur transportasi utama dari Kediri menuju Surabaya atau sebaliknya.
Memasuki halaman klenteng yang begitu luas ini terlihat bangunan utama klenteng berikut bangunan pendukung lainnya. Sebelum masuk bangunan utama, tepat di depan pintu terdapat hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Di sebelah kiri dan kanan pintu masuk ada kan chuang (jendela rendah yang dapat memberikan pemandangan keliling dan berbentuk bulat. Di atas wuwungan, terlihat huo zhu (mutiara api berbentuk bola) ditaruh di atas kepala orang dan diapit oleh dua xing long (naga berjalan). Sedangkan, di kanan di depan bangunan utama terdapat kim lo (tempat pembakaran kertas persembahyangan).


Lanjut ke dalam, akan dijumpai beberapa altar untuk memuja para dewa, di antaranya altar Tri Nabi Agung. Altar sebelah kiri yang berlogo Yin-Yang berisi rupang Lao Tze yang digunakan sebagai altar pemujaan penganut Tau. Di tengah ada altar berlogo Swastika berisi rupang Buddha Sakyamuni yang diperuntukkan bagi penganut Budda, dan yang di sebelah kanan berupa altar berlogo Genta adalah rupang Kong Hu Cu yang digunakan bagi penganut Kong Hu Cu.
Keluar dari bangunan utama searah mata memandang ke barat, Anda akan melihat bangunan mirip rumah panggung berukuran kecil bercat merah. Panggung ini digunakan untuk pertunjukkan wayang potehi. Anda bisa menonton sambil duduk yang telah disediakan oleh pengurus klenteng. Wayang ini akan dilakonkan pada sore (15.00 WIB – 17.00 WIB) maupun malam hari (19.00 WIB-21.00 WIB) tapi tidak setiap hari. Pagelaran wayang Potehi ini berdasarkan pemesanan dari jemaatannya.
Tepat di belakang panggung wayang Potehi, berdiri menjulang patung  Makco Thian Siang Sing Boo. Patung seberat 18, 7 ton dengan tinggi 5 meter ini sengaja didatangkan dari Desa Buthien, Tiongkok, yang diyakini sebagai asal Makco pada 9 Oktober 2011. Makco, di kalangan orang Tionghoa dikenal sebagai dewi penolong yang welas asih. Sehingga, harapan dipasangnya patung Makco yang menghadap langsung ke Sungai Brantas ini adalah untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kedamaian masyarakat Kota Kediri.
Selain bangunan utama klenteng yang menghadap ke barat atau Sungai Brantas, di sebelah kanan terdapat gedung Mitra Graha berlantai 2. Gedung ini digunakan untuk mendukung bagi bangunan klenteng secara keseluruhan. Sedangkan, di sebelah kiri klenteng terdapat gedung Pasada Graha. Gedung ini dibangun oleh PT. Gudang garam Tbk pada 24 Mei 2011. Selain untuk acara yang berhubungan dengan agenda klenteng, gedung berlantai 3 ini juga bisa disewakan untuk umum. *** [240515]

0 komentar:

Posting Komentar