Senin, 10 Agustus 2015

Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang

Gereja merupakan bangunan ibadat umat kristiani yang mewadahi kegiatan spiritual bagi jemaatnya. Berbagai bentuk desain gereja telah tercipta sejak lama dan beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi aset sejarah. Salah satu dari sekian karya arsitektur yang dapat memperlihatkan ekspresi dari pengungkapan manusia dan lingkungannya serta dapat berkomunikasi karena di dalam karya tersebut banyak memperlihatkan simbol-simbol yang akrab dengan manusia dan lingkungannya adalah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang.
Gereja ini terletak di Jalan Raya Puhsarang RT.01 RW.02 Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gereja ini berada di depan Wisma Mbah Kung, dan berada di sebuah bukit kecil yang di bawahnya mengalir sungai berbatu-batu dengan sekelilingnya penuh pepohonan bambu.


Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang atau Gereja Puhsarang didirikan atas prakarsa dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek Ir. Henri Maclaine Pont. Henri Maclaine Pont, seorang arsitek kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) pada 21 Juni 1885 dari seorang Ibu yang keturunan Bugis, dan Ayah yang orang Belanda.
Romo Wolters meminta kepada Maclaine agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam merancang gereja di stasi Puhsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu. Corak lokal Gereja Puhsarang tercetus, ketika konsep Romo Wolters yang diajukan tersebut bertemu dengan konsep sang arsitek Henri Maclaine Pont. Sehingga muncul keunikan dalam hal ke-Jawa-an, kekatolikan, lokalitas, sekaligus universalitas yang setiap bagiannya berguna untuk sebuah pengajaran serta tempat untuk melakukan perenungan akan arti sebuah misteri iman.
Peletakan batu pertama dalam pembangunan gereja ini dilakukan oleh Monseignor Theophile de Backere CM pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan Sakramen Maha Kudus. Bangunan gereja ini selesai pada tahun 1937.


Secara fisik, bangunan utamanya menyerupai sebuah tenda atau sebuah kubah besar yang ditopang pada keempat sudutnya oleh soko guru. Bentuk tenda dan soko guru merupakan esensi dari arsitektur Jawa. Kompleks Gereja Puhsarang ini terdiri atas bangunan induk, pendapa, gapura mirip candi, gapura Santo Yusuf, menara Santo Henrikus, ruang gamelan, ruang terbuka dan patung Kristus Raja. Dalam membangun gereja ini, Maclaine selalu menggunakan bahan-bahan lokal dan tenaga lokal serta bangunannya disesuaikan dengan situasi setempat.
Gereja Puhsarang, kini menjadi landmark atau tetenger dari kawasan tersebut, dan sekaligus mempunyai arti yang cukup penting bagi masyarakat sekitar. Hal ini dapat terjadi karena fasilitas yang terdapat di sekitar gereja cukup dapat mewadahi kegiatan-kegiatan pokok dari masyarakat setempat. Fasilitas tersebut seperti ruang terbuka, sekolah serta makam, sehingga fasilitas tersebut menjadikan lingkungan gereja menjadi pusat kegiatan umum masyarakat sekitar gereja maupun masyarakat Desa Puhsarang pada umumnya. *** [240515]

Kepustakaan:
Maria I. Hidayatun dan Christine Wonoseputro, 2005. Telaah Elemen-Elemen Arsitektur Gereja Puhsarang Kediri Sebuah Pengayaan Kosa Kata Arsitektur Melayu (Nusantara), dalam International Seminar on Malay Architecture as Lingua Franca Jakarta, June 22-23 2005

0 komentar:

Posting Komentar