Wednesday, July 11, 2018

Istana Gebang

Mendampingi ibu-ibu kader Kepanjen berkeliling Blitar dengan naik sepeda motor memang mengasyikan. Banyak spot-spot bersejarah yang mereka kunjungi, di antaranya adalah Istana Gebang. Istana ini terletak di Jalan Sultan Agung No. 57-59 dan 61, Kampung Gebang RT. 03 RW. 07 Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi istana ini berada di depan Kantor Dinas Pendidikan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten dan Kota Blitar, atau tenggara Taman Kebon Rojo ± 400 meter.


Istana Gebang ini semula merupakan kediaman atau rumah keluarga Soekarmini, kakak kandung Bung Karno. Rumah ini dulu dibeli oleh Raden Poegoeh Reksoatmodjo, suami dari Soekarmini, pada tahun 1917 dari seorang Belanda bernama C.H. Portier, seorang pejabat jawatan perkeretaapian Hindia Belanda di Blitar. Sedangkan, Raden Poegoeh Reksoatmodjo sendiri pada waktu itu adalah seorang pegawai Dinas Pekerjaan Umum di Malang. Tapi bangunan rumah ini sendiri sesungguhnya telah berusia tua karena konon, pembangunannya beriringan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar.
Dalam documentary board yang dipasang di muka bangunan induk, dijelaskan bahwa Istana Gebang ini dulunya menjadi rumah bagi masa kecil hingga remajanya Bung Karno. Karena semenjak ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodiharjo, dipindah ke Blitar dari Mojokerto pada tahun 1917, mereka tinggal bersama dengan Soekarmini di rumahnya.


Ketika kuliah di Technische Hogere School di Bandung (sekarang ITB), Bung Karno pun masih harus sering berkunjung ke Istana Gebang baik di saat sedang liburan maupun meminta uang kuliah dan pemondokan kepada orangtuanya dan kakaknya Soekarmini. Demikian pula selepas kuliahnya di masa memimpin pergerakan kemerdekaan, Bung Karno masih sering ke Blitar untuk silaturahmi dengan orangtua dan keluarganya. Baru setelah masa pembuangan di Ende an Bengkulu, Bung Karno terpisah dengan rumah ini, orangtua, saudara dan handai taulannya.


Pada masa pendudukan Jepang, Bung Karno masih mengunjungi rumah ini meskipun tidak terlalu sering karena kegiatannya mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia dari rumahnya di Pergangsaan Timur No. 56 Jakarta. Ayah dan ibu Bung Karno sempat diboyong dari Blitar untuk tinggal di Jakarta menjelang Guntur Sukarnoputra lahir di tahun 1944, namun pada  8 Mei 1945 ayah Bung Karno berpulang kepada Sang Pencipta dan dimakamkan di pemakaman Karet (kemudian dipindah ke Blitar pada tahun 1978 bersamaan dengan pemugaran Kompleks Makam Bung Karno).
Ibu Bung Karno, Ida Aju Njoman Rai Sarimben, sepeninggal suaminya diboyong pulang ke Blitar oleh Soekarmini yang telah bersuamikan Wardojo sebagai suami keduanya yang menikah sejak tahun 1943, dan untuk selanjutnya ibu Bung Karno menjadi pepunden di rumah ini.


Rumah ini senantiasa dikunjungi oleh Bung karno setelah menjadi Presiden hingga ibunya meninggal pada 13 September 1958. Kunjungan Bung Karno ke rumah ini terus berlanjut untuk berziarah ke makam ibunya sampai awal tahun 1965 yang merupakan kunjungan terakhirnya ke rumah ini karena pergolakan perebutan kekuasaan dari tangan Bung Karno ke Soeharto yang memaksa Bung Karno untuk menjalani tahanan rumah di Wisma Yaso sampai meninggalnya pada 21 Juni 1970.
Pada tahun 2012, Istana Gebang yang dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Dalem Gebang ini resmi diambil alih kepemilikan dan pengelolannya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dengan membelinya seharga Rp 35 miliar dari para ahli warisnya. Dana sebanyak Rp 35 miliar diambil dari APBD Pemprov Jatim dan Rp 10 miliar dari APBD Pemkot Blitar.


Setelah menjadi milik Pemkot Blitar inilah yang semula dikenal dengan Dalem Gebang berubah menjadi Istana Gebang. Penamaan istana ini merujuk pada nama-nama tempat yang berkaitan dengan kegiatan Presiden Pertama Republik Indonesia seperti Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Batu Tulis, Istana Cipanas, dan istana-istana lainnya.
Istana Gebang memiliki luas lahan 17.000 m² ini terdiri dari 9 bangunan, yaitu rumah induk, bangunan belakang, rumah cikal bakal, paviliun, balai kesenian, dapur belakang, rumah pembantu, bekas kandang kudan, dan lumbung. Pada waktu dibeli oleh Pemkot Blitar masih 14.000 m² luasnya, kemudian lahan di samping kanan Istana Gebang juga dibeli dan disatukan dengan halaman istana tersebut.
Kini, Istana Gebang terbuka untuk umum, dan setiap harinya dijadikan tujuan wisata dan pendidikan. Banyak sekali peninggalan keluarga Bung Karno yang bisa ditemui di Istana Gebang, termasuk foto-foto keluarga, lukisan, perabotan kuno, dan mobil kepresidenan. Juga, terdapat pula replika Gong Perdamaian Dunia di area ini.
Pada peringatan hari-hari besar nasional, Istana Gebang selalu ramai kegiatan, baik oleh masyarakat setempat maupun tamu-tamu dari luar daerah. Di sini, pengunjung bisa merasakan atmosfer kehidupan Bung Karno kecil dan kentalnya ingatan sejarah tentang Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut. *** [100718]

0 comments:

Post a Comment